Antologi sebelum Menemukan Rumahmu – Abad Yang Selalu Bahagia

Karya . Dikliping tanggal 17 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas, Media Indonesia

Antologi sebelum Menemukan Rumahmu

1.
jam begini aku masih hendak terus menemukan kamu; entah aku beranjak dari alamat mana?
jalan-jalan dan tikungan-tikungan yang bergerak melintasi tubuhku, pikiranku perasaanku atas kamu -aku tak pernah tak berdaya. segala pencarianku bukanlah?
mudah berhenti ditentukan waktu, sebab jarak menguatkan otot-ototku untuk berjalan memandang hanya ke depan?
2.
nama jalan tak pernah kuhapal hanya nama tinggalmu kurapal?
perjalanan teramat panjang ini?
adalah pangkal ketika diri?
dibenturkan oleh bahasa yang disampaikan rindu, melubangi dadaku yang tajamnya mematahkan ulangan-ulangan?
ingatan ??
3.
menuju rumahmu tak akan bisa ditebus?dengan doa yang biasa-biasa?
air mata yang biasa-biasa?
atau puasa;?
sebuah usaha keras dilakukan seperti menaklukkan kata-kata?
sebelum dibentuk sajak?
yang matang benar?
sebuah silih mesti dirayakan seperti itikad seorang penyair memilih?
sendiri, sembunyi dari keramaian abad 
4.
rumahmu melebihi apa yang pernah kutemukan di dunia; melebihi kepercayaan-kepercayaan?
aku akan masuk surga?
jika aku rajin mengumpulkan pahala?
-ah! surga yang mana?
sebab mengucap sumpah adalah kamus bebal dari orang abad yang tak berani menepati janji dan demi hidup yang maha penyair, izinkanlah segala kelelahan ini?
jatuh mencium tanah rumahmu? 

Abad Yang Selalu Bahagia

ia seka wajahnya yang terhimpit tingkap 
gedung-gedung 
roda-roda jalan, asap, limbah liar yang tumpah, 
dan jadwal 
penggusuran. perayaan-perayaan 
yang tumbuh meriah 
di antrean mimpi-mimpi orang yang terbukti 
kesejahteraannya, 
di antaranya kesakitan kiri berjejal 
di tubuh-tubuh kemudi 
atas rasa cemas terhadap matahari masa depan.
udara abu 
menempel di pipinya saban kali ia menengok ke k
anan, 
sebab di hadapannya setiap rumah menjadi tempat 
ibadah, 
dan batu-batu yang dibuang oleh para tukang 
bangunan 
menjadi hiasan sepanjang sejarah yang 
disembunyikan dari 
catatan rahasia sebuah rezim.
sebuah abad yang selalu bahagia; dari orasi 
Aristoteles sampai 
rama dalam kacamata Gandhi, ketika masing-masing 
kemiskinan yang miris kembali untuk menatap 
matanya; 
sebab katanya, itu semua surga yang merdeka dari 
cinta 
luka-luka batin nenek moyangnya 

Ganjar Sudibyo, penyair tinggal di Semarang.Alumnus psikologi Universitas Diponegoro. Kini, dia sedang merampungkan buku terbarunya Psikologi Seni.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ganjar Sudibyo
[2] Pernah tersiar di suratkabar “Media Indonesia” pada 17 Mei 2015