Api Di Mata Sengkuni

Karya . Dikliping tanggal 30 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
Semua orang dibuat tertegun dan seakan tak percaya menyaksikan apa yang dilakukan oleh Patih Sengkuni. Dengan merendahkan dirinya dan penuh santun, laki-laki yang selama ini dikenal sombong dan angkuh itu menyampaikan permintaan maaf di hadapan Pandawa bersaudara. Dia mengakui kekhilafannya karena telah menyebarkan kabar kematian Bimasena di sungai Gangga ditelan ular raksasa.
Kabar itu sempat mengguncang hati Dretarastra yang sangat menyayangi keponakannya. Hampir saja raja Hastinapura itu akan mengadakan upacara perkabungan, tapi tiba-tiba Bimasena muncul. Adik Yudhistira yang terkenal temperamen itu sangat murka dan hampir meremukkan kepala Sengkuni dengan gadanya. Namun pernyataan maaf yang disampaikan Sengkuni secara terbuka itu meluluhkan hatinya.
Dretarastra sendiri yang tadinya sempat murka tak jadi menghukum saudara iparnya itu.

“Sebagai wujud permintaan maaf saya akan mengundang Dewi Kunti dan putra-putranya untuk merayakan acara Andrawina saat purnama sidhi nanti di Bale Sigala-gala. Saya akan mengadakan pesta meriah untuk menghibur anak-anak Pandawa,” kata Sengkuni dengan takzim.

“Benarkah apa yang kamu katakan itu, Sengkuni? Jangan-jangan kamu menyimpan niat busuk di belakangnya?” Dretarastra masih meragukan niat baik Sengkuni.
“Tidak, Prabu! Bagaimana mungkin saya akan mengotori acara Andrawina yang dimuliakan para dewata?”
Dretarastra manggut-manggut. Acara Andrawina merupakan perayaan bagi seluruh rakyat dari semua golongan yang berlangsung saat puncak bulan purnama. Seluruh rakyat negeri merayakannya dalam suasana suka cita. Pada hari itu juga dilarang membunuh atau mencelakai sesama. Jadi Dretarastra percaya Sengkuni tidak akan macam-macam.
“Bagaimana, Prabu?”
“Terserah Kunti dan anak-anaknya!”
Semua menoleh kepada Kunti dan putra-putranya. Tapi mereka hanya diam saja. Mereka sudah mengetahui bagaimana watak dan perangai Sengkuni. Sudah berulangkali laki-laki licik itu berlaku buruk dan merendahkan kehormatan mereka. Tapi kali ini hati mereka bimbang, karena Sengkuni dengan terbuka mengungkapkan permintaan maaf dan meminta dengan rasa hormat.
Sangat tidak etis bila menolak sebuah undangan tanpa ada alasan yang bisa diterima akal sehat. Karenanya Kunti dan putra-putranya bingung apa yang harus dikatakan. Yudhistira yang dituakan diantara Pandawa bersaudara mencoba menjawabnya dengan kalimat diplomatis. “Baiklah, jika tidak ada halangan kami akan penuhi undangan Paman Patih.”
Sengkuni dan anak-anak Kurawa tersenyum senang mendengar jawaban Yudhistira. Mereka tahu, Yudhistira bukan orang yang suka mengingkari janji.
Sementara itu, sepulang dari istana Hastinapura, Pandawa bersaudara berembug membahas undangan Sengkuni. Sebagian menyayangkan sikap Yudhistira yang tidak tegas, tapi sebagian lain bisa memaklumi.
“Kenapa kakang tidak langsung menolak undangan Sengkuni. Kita semua tahu, siapa dia? Ular berkepala dua! Dia bisa mematok kita dari belakang!” ujar Bimasena sambil mendengus.
“Benar, Kakang! Sengkuni orang yang tidak bisa dipercaya!” sambung Arjuna sependapat dengan sikap Bimasena.
“Aku tahu perasaan kalian. Tapi sebagai kaum bangsawan tentu kita punya tata krama. Aku tidak bisa langsung bilang tidak. Aku hanya bilang jika tidak ada halangan. Berarti masih ada kemungkinan kita tidak datang, asal kita bisa memberikan alasan karena ada halangan,” kata Yudhistira menjelaskan.
“Apa yang dikatakan kakang Yudhistira tidak salah,” ucap Nakula.
“Tapi biar bagaimana kita mesti hati-hati dan waspada. Kita tidak tahu, apa yang tersembunyi di balik undangan Patih Sengkuni itu!” tandas Sadewa.
Ketika Pandawa sedang sibuk menerka-nerka apa motif dibalik undangan Sengkuni, tiba-tiba datang Widura. Paman Pandawa yang menjadi punggawa kerajaan Hastinapura itu hendak memperingatkan para keponakannya atas undangan Sengkuni.
“Aku sangat mengenal Sengkuni. Dia orang paling licik dan culas. Dia ahli politik dan strategi perang yang sangat handal. Dia punya seribu satu cara untuk menyerang lawan-lawannya. Jadi aku sarankan kalian tidak menghadiri undangan ke Bale Sigala-gala!” tegas Widura.
“Tapi paman Sengkuni mengutarakan undangannya dengan sangat santun dan terhormat. Bahkan hal itu disampaikannya di hadapan khalayak ramai. Rasanya tidak patut kalau kita menolaknya. Apa kata orang kalau kita tidak menghadiri undangannya. Nanti kesannya kita yang angkuh dan sombong!” sahut Yudhistira berdalih.
“Orang bersikap santun dan terhormat belum tentu mencerminkan kepribadian yang baik. Penjahat dan orang-orang yang hatinya busuk bisa pura-pura bersikap manis, santun, dan baik. Tapi lihatlah cara hidup dan sepak terjangnya. Jadi jangan pernah tertipu oleh manusia seperti itu. Mereka tak ubahnya serigala berbulu domba!”
“Jadi apa yang sebenarnya akan dilakukan Sengkuni?” tukas Arjuna.
“Aku curiga Sengkuni akan mencelakai kalian dengan cara halus. Mungkin dengan meracuni makanan, membuat kalian mabok, atau membuat kalian lengah sehingga mudah menusuk kalian dari belakang. Biar pun kalian para kesatria, tapi kalian juga punya kelemahan. Bimasena yang tak tahan bila disuguhi minuman arak, Arjuna yang mudah terbius wanita cantik, dan kamu Yudhistira yang sebenarnya tak pandai berjudi tapi mau saja diajak berjudi.”
Kelima anak Pandawa jadi tersipu mendengar kritikan Widura.
“Tapi aku rasa kita tidak perlu harus menolak undangan itu, Paman. Jika memang patih Sengkuni berniat buruk pada kita, maka kita harus siap menghadapinya. Aku dan saudara-saudaraku berjanji akan berusaha menahan diri tidak tergoda rayuan mereka. Kita akan lawan jika mereka menyerang. Sebagai kesatria pantang bagi kita mundur!” tandas Yudhistira.
Widura bisa memahami sikap Yudhistira. Memang tidak layak bagi kesatria bersikap lemah dan mundur dari pertarungan. Bagi mereka undangan Sengkuni menyimpan muatan politis mengajak berperang.
“Baiklah, aku hargai sikap kalian. Nanti aku akan bantu kalian dengan mengerahkan orang-orangku jika sampai terjadi sesuatu yang buruk!” ujar Widura meyakinkan.
Sementara di tempat lain Sengkuni, Duryudana, dan anak-anak Kurawa lainnya sedang merayakan kemenangan yang seakan sudah ada di depan mata. Mereka yakin Pandawa akan terjebak oleh umpan Sengkuni. Pandawa telah menyanggupi datang ke Bale Sigala-gala. Sengkuni berencana akan membakar Bale megah itu saat Pandawa terbuai oleh pesta yang memabukkan.
Sudah terbayang di mata Sengkuni tubuh Kunti dan anak-anaknya terbujur gosong di dalam Bale Sigala-gala. Bahkan api itu sudah menyala-nyala di mata Sengkuni, membakar gairah dalam jiwanya. Namun Sengkuni lupa bahwa manusia yang eling lan waspada akan selamat dari mara bahaya. Dan Pandawa tanpa sepengetahuannya telah mempersiapkan hal itu! (*)
Eko Hartono: tinggal di Tegalombo RT 02 RW 04 Banyakprodo Tirtomoyo Wonogiri 57672
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Hartono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 28 Juni