Arloji Bang Olo

Karya . Dikliping tanggal 8 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
SUDAH lama kau idamkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri Bang Olo. Malam itu idamanmu terwujud.
Bang Olo tiba-tiba sudah berada di rumah kontrakanmu. Kau agak kaget saat membuka pintu dan ia ada di sana. Malam itu, seperti malam sebelumnya, kau pulang dalam keadaan setengah sadar. Pengaruh alkohol membuat objek yang kau pandangan bergoyang-goyang. Kau lihat seseorang meringkuk dalam gelap, menyandar ke dinding. “Jangan nyalakan lampu itu!” pintanya.
Bang Olo! Kau kenal suaranya. Kau mendekat, mencoba memastikan. Tidak salah lagi, ia Bang Olo. “Ada apa, Bang? Apa yang terjadi dengan Abang?” “Aku tertembak.” Tertembak! Kau kaget. Cerita yang selalu kau dengar, kulit Bang Olo tidak terlukai benda apa pun. Ia sering dibacok, tapi selalu membal.
Golok yang dipakai membacoknya sering somplak. Puluhan peluru acap menghantamnya, tapi ia tetap berdiri.
“Tertembak?!” tanyamu. “Siapa pelakunya?” “Ssssst. Kecilkan suara kau. Mereka di luar sana. Aku sengaja masuk ke mari.” Bang Olo menggeser pantat, tapi tetap menyandar ke dinding. Ia meringis menahan sakit. “Aku rasa ini akhir segalanya,” katanya.
Kau lihat ia begitu kepayahan.
Wajahnya pucat, kentara kalau ia kesakitan. Tiba-tiba kau ingat pada arlojinya. Sudah lama kau ingin memilikinya. Kau pikir inilah kesempatan emasmu. Kau harus bisa merebutnya. Tapi, kau harus hati-hati karena Bang Olo punya kesaktian luar biasa. Selama ia masih sadar, ia tetap akan menjadi masalah.
Dalam keadaan tertidur pun ia bisa menjadi masalah.
Ilustrasi oleh Pata Areadi
“Jangan bicara begitu, Bang.” Kau mencoba menenangkannya. “Coba aku lihat luka Abang.” “Tidak. Percuma saja. Mereka memakai peluru emas. Itu pantanganku.” “Mereka tahu pantangan Abang? Siapa mereka?” “Kecilkan suara kau!” Bang Olo menggeram. “Kemari…lebih dekat lagi!” Kau mendekat. “Ada apa, Bang?” Lamban gerakan tangan kanan Bang Olo saat melepaskan arloji warna perak itu dari pergelangan tangan kirinya. Wajahnya penuh kerut menahan rasa sakit akibat timah panas yang bersarang di dadanya, meski ia tidak mengeluh.
Ia sodorkan arloji itu kepadamu. Kau menatap benda itu.
“Ambillah!” suaranya terbata-bata. “Sekarang arloji ini kau yang pegang.” Arloji itu sangat berharga bagi Bang Olo.
Mustahil benda itu terpisah dari dirinya kalau tidak ada apa-apa. Ia dan benda itu bersenyawa.
Apakah Bang Olo….
Dalam hati kau bersorak. Inilah yang kau inginkan. Kau tak perlu melakukan hal-hal konyol hanya untuk merebut arloji itu.
“Tapi, Bang….” “Terimalah!” * Arloji itu tidak sekadar jam, tapi juga benda yang selama ini telah memberikan segalanya bagi Bang Olo: kekuatan, kejayaan, kharisma, dan kekuasaan. Segala hal yang diidamkan manusia dimiliki Bang Olo lantaran arloji yang dipakainya.
Arloji itu jimat. Setiap orang ingin memilikinya.
Banyak yang mengincarnya. Tapi, benda itu tak pernah lepas dari tubuh Bang Olo, selalu melekat di kulitnya.
Ada yang nekat menantang Bang Olo berduel hanya untuk merebut arloji itu. Satu lawan satu. Tentu akibatnya fatal. Bang Olo tidak tertaklukkan. Tak terlukai oleh benda apa pun. Si penantang bukan saja babak belur, tapi dihabisi tanpa ampun.
Bang Olo punya prinsip, lawan tak pernah dicari, tapi kalau ketemu harus ditumpas tanpa ampun.Pengampunan adalah tindakan konyol, karena suatu saat lawan akan menyusun kekuatan baru.Satu per satu lawan dihabisinya. Ia menjadi menakutkan. Tak ada yang berani kepadanya.
Sudah lama kau mendengar tentang Bang Olo.Ia telah menggemparkan semua orang di setiap sudut Tanjung Balai ini. Di pelabuhan, orang membicarakan dirinya seperti membicarakan malaikat maut. Orang takut didatanginya. Tapi, kau justru sengaja ingin menemuinya. Awalnya kau ingin membuat perhitungan. Ia telah merenggut sebagian besar rezekimu. Kau harus menyetorkan sebagian penghasilanmu sebagai penjaga keamanan gudang-gudang di pelabuhan kepada Bang Olo. Kalau tidak, Bang Olo akan memusuhimu.
Sebagai centeng, awalnya kau bersikap keras.Orang-orang yang mengaku suruhan Bang Olo, satu per satu kau hajar. Mereka babak-bingkas.Lari lintang-pukang. Tapi, Bang Olo tak pernah datang setelah kejadian itu. Kau justru penasaran, ingin menjajal kemampuan Bang Olo. Namun, keberanianmu jadi surut ketika setiap orang menceritakan tentang kekejaman Bang Olo pada musuh-musuhnya. Kau membayangkan dirimu sebagai musuh Bang Olo, maka terbayang olehmu nasib buruk yang akan menderamu.
Kau pikir, tidak mungkin bersikap konyol menantangnya berduel. Sudah banyak contoh orang-orang nekat yang habis di tangannya. Kau memutar otak, mempelajari segala sesuatu, dan akhirnya kau temukan cara paling tepat. Kau akan mendekatinya. Apa pun caranya, kau harus bisa membuat Bang Olo percaya padamu. Jika itu terwujud, kau bisa saja mengambil arlojinya suatu saat.
Konon arloji itu pemberian almarhum ayah Bang Olo. Pertama kali menerima dari almarhum ayahnya, saat Bang Olo masih belasan tahun. Ia hanya seorang remaja nakal yang meresahkan banyak orang. Tak seorang pun menghargainya, apalagi memperhitungkannya. Ketika arloji itu menjadi miliknya, tibatiba saja segala hal yang dimiliki almarhum ayahnya sudah menjadi miliknya. Tiba-tiba saja… “Kau pegang arloji ini agar kau bisa melupakan waktu,” katanya.
“Itu pesan almarhum ayahku. Kau tahu, aku berhasil melakukannya selama ini.” Mata yang selalu tajam dan menakutkan itu menatapmu.
Masih ragu, kau terima arloji itu. Bersamaan dengan itu, ia tersenyum. Segala sesuatu menjadi senyap.
Kau menatap tubuh yang tak bernyawa itu. Lalu menatap arloji yang baru kau terima.
Kau pakai arloji itu di tangan kirimu, sama seperti Bang Olo memakainya. Tiba-tiba kau merasa ada sesuatu yang mengalir di tulang pungungmu, lalu seperti meledak di kepalamu. Tubuhmu mendadak ringan.
Kau berdiri dengan sikap gagah.
Bersamaan dengan itu terdengar suara gedoran di pintu. “Siapa di dalam!” teriak seseorang. Kau tak gentar, melangkah ke pintu dan membukakannya.
“Ada apa!?” bentakmu.
Eh, Bang Sahat. Maaf, Bang, ada Abang lihat tadi laki-laki masuk ke sini.” “Laki-laki? Siapa?” “Bang Olo.” “Ada di dalam.” Kau memberi tahu mereka.
“Ada urusan apa kalian sama Bang Olo?” “Dia masuk DPO kami. Kami memburunya dan saya berhasil menembaknya. Kami pikir dia hanya bisa bersembunyi.” “Bang Olo sudah mati. Dia ada di dalam.” Kau bicara sambil melangkah meninggalkan rumah.
“Jangan lupa tutupkan rumahku kalau kalian sudah selesai.” * Sejak memakai arloji milik Bang Olo, kau merasa seperti Bang Olo. Kau bangga dengan dirimu. Kau merasa begitu hebat. Kau memamerkan arloji itu kepada siapa saja. Kau lebih-lebihkan kenyataan yang ada, bahwa kau berhasil merebut arloji itu dari Bang Olo dalam sebuah duel yang adil. Kau bilang Bang Olo kalah, dan kau harus menghabisinya agar kelak Bang Olo tak bisa menyusun kekuatan untuk melawanmu.
Saat mendengar cerita bualan itu, orangorang memujimu. Apalagi setelah mereka dengar kabar tentang Bang Olo ditemukan tewas di rumah kontrakanmu. Polisi pun tak berani menangkapmu atas pembunuhan itu.
Namamu segera menjadi buah bibir. Orang-orang menganggapmu sebagai pengganti Bang Olo, dan kau menuntut dilayani seperti orang-orang melayani Bang Olo.
Tapi, sangat disayangkan, kau tak pernah tahu satu hal tentang arloji itu. Akulah yang memberikannya kepada almarhum ayah Bang Olo—begitulah Kalian memanggil Raja Oloan— beberapa tahun lalu. Aku jatuh kasihan kepada kawanku itu karena ulah anak tunggalnya.
Anak itu sangat bandel, tak bisa dinasihati, dan merasa dirinya sangat hebat. Ia melakukan apa saja yang terlintas dalam kepalanya, tak pernah memikirkan apa dampaknya. Ia tak pernah merasa salah, dan akan sangat marah kalau dipersalahkan. Kalau marah, ia lebih mirip setan dari neraka yang mewujud manusia.
Nasihat sudah lebih dari cukup. Masuk kuping kiri, melesat keluar dari kuping kanan. Tak satu nasihat pun dapat mengubah kelakuan buruknya.
Ayahnya hilang akal. Ia sering memukuli anaknya. Tapi, cara itu ternyata membuat si anak bertambah nakal. Bahkan mulai berani melawan.
Suatu hari ia mendatangiku dan mengeluhkan soal anaknya. Saat itulah aku serahkan arloji itu, dan menyuruhnya agar memberikan arloji kepada Raja Oloan. Dengan memakai arloji itu, saya berharap Raja Oloan akan tahu waktu; agar ia sadar bahwa waktu harus dimanfaatkan. Ajaib.
Sejak memakai arloji itu Raja Oloan berubah total.
Ia tak pernah lagi membuat ulah. Ia menjadi lebih kalem. Aku sendiri tidak mengerti kenapa. Tibatiba semua orang sangat menghormatinya.
Entah siapa yang menyebarluaskan kabar burung itu, semua orang menjadi yakin bahwa arloji itu adalah jimat. Orang-orang semakin takut pada Raja Oloan. Di sisi lain, banyak yang mengincar jimatnya. Tapi, kau tahu, siapa pun yang mengincar arloji itu akan bernasib buruk jika berani mengajak Raja Oloan berduel.
Terakhir aku dengar kau pun mengincarnya.
Tapi, kau yakin tak akan sanggup berduel dengan dirinya, hingga kau mengajak polisi untuk menghancurkannya.
“Kau siapa?” tanyamu.
“Aku bisa membunuhmu dengan mudah.” “Kau mengancamku?” “Aku sudah menguasaimu.” “Apa maksudmu?” Aku tertawa. Suara tawaku memenuhi kepalamu. Kau kebingungan dan mencaricari. Kau baru sadar, akulah yang melingkar di pergelangan tangan kirimu.
Budi Hatees, lahir 3 Juni 1972 di Tapanuli Selatan. Cerpennya tersiar di sejumlah media
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Hatees
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 7 Juni 2015