Aromakopi Malam 

Karya . Dikliping tanggal 11 Maret 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Aromakopi Malam

kopi malam, hangat menyedu aroma tubuhmu
hitam sewarna, legit pahit serasa, sehitam legit nasib
kuhirup dalam diksi dan imaji puisi, mengurai mimpi, janji buah
kuldhi

kepul asap-gairahnya adalah wangi peluh tanpa parfum gincu
menggoda dan menggubah kisah purba
tentang bulan yang purnama di atas pelaminan
bersanding sepasang kembar mayang
tentang cinta, beban alam yang dihias sejuta imaji khayalan
bersanding dengan nyanyian, asmaradahana kasmaran
menjadi manusia
mengurai memakna jalan cinta

2015

Aromakopi Malam 2

kopi malam, hangat menyedu aroma tubuhmu
kita tidak tahu, dari mana musti mulai menyeruput mencicipi
tahu-tahu sudah berbaring jengah lelah, lelap mimpi

dan terbangun oleh rengek bayi minta disusui, disuapi
meminta baju dan memanggil guru mengaji dan mengkaji
berbiaya tinggi yang menguras sungsum, menggores hati

dan memutar otak, kadang vertigo, kadang pusing kanan-kiri
dan terpana, menjadi manusia, mengaji kisah makna dewasa
menjadi orang tua, yang lelah, lemah, lena
tak terpikir lagi diri sendiri
apalagi diksi dan imaji puisi, mengurai mimpi dan janji buah
kuldhi

sampai tahu-tahu, kopi malam tinggal ampas pahitnya
mengerak di dasar cangkir jiwa
ketika kopi malam menyedu aroma dengkur nafasmu
bersanding tanpa tegur sapa, berguling tanpa sentuhan

karna aroma kopi malam telah leleh-lelah
menjelma puja-puji doa kasih sayang
lalu sepi, menjadi manusia
menamatkan puisi, jalan cinta

2015

Imaji Secangkir Kopi

secangkir kopi kembali menyedu hitam
cuaca sunyi menyeruput aroma mimpi, gelap kembali
sepi, ranjang tak merangsang ditiduri, meski
gadis-gadis geli dikelitiki, dikili-kili imaji emansipasi-liberasi
buah kuldhi, tetapi bulan tak kunjung datang bertandang
kecuali sejumlah imaji, melayang-layang
secangkir kopi kembali menyeruput aroma pahit mimpi
malam kembali sulit, gelap menjadi slilit, ranjang tak lagi legit
gadis-gadis terbirit-birit, bermimpi ular menggigit
menjerit-jerit karena dicubit-cubit nasib yang melilit-lilit

secangkir kopi kembali menyeruput aroma hitam
malam kembali legam, gelap menjadi rajam, ranjang enggan
dipejam
mata ngungun diam, menyaksi, gadis-gadis yang berubah
langgam
tak tahu lagi pakem-pakeliran, drupadi tetap menyimpan dendam
darah dijamaskan, seiring kopi meninggalkan ampas
pekat, nasib yang terbata tak lagi terbaca!

2015

Percakapan Gelas Gelas Sunyi

Percakapan malam-malamku adalah gelas-gelas sunyi
menyedu kopi
lalu berkisah tentang pahitnya, ketika gelap setakdir waktu
ketika bibir kelu bernikotin menyeruputnya

“Jangan!” kata gelas sunyi
“Mengapa?”
“Terlalu pahit untuk dimaknai dan dieja dalam setanggi kisah
dan semakna doa?”
“tak mengapa, bisa ditambah gula!”

“Apalagi tambah gula” Rajuk gelas sunyi
menghiba, aku takut kadar manisku naik dan mata-mata silau
terpesona melihatnya!”
“Lagian aku tak mau dengar omel obat-obatan yang tak rutin
disapanya!”
“Terus?” tanya bibir gelas, gerah gelisah

“Jika kopi menyedu diri, cari dan nikmati saja legitnya
jika suka, jika tidak, biarkan saja pahit merana
sendirian, merenungi takdirnya. karena ia tahu kemana tujuan
dan doa-doa dipanjatkan!”

Bibir pun kian kelu, ketika percakapan gelas-gelas kian sunyi
tak lagi mampu memakna takdir waktu
dan kopi yang lemas, tak tersedu

“Ah, kesepianku…”ujar gelas sunyi, adalah pahit-legit kopi
yang kian tak mampu memakna diri, lalu sunyi
sesunyi dingin takdir diri yang kian misteri!

Yogyakarta., 26119


[1] Disalin dari karya Otto Sukatno CR
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 10 Maret 2019