Arti Sesak di Dada Fahrie

Karya . Dikliping tanggal 12 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Dekade 90-an tenggelam dan dasawarsa selanjutnya naik ke permukaan. Perkembangan teknologi bergerak perlahan, kemudian semakin cepat. Penemuan baru hampir tiap tahun hadir di sisi kehidupan, tidak seperti sebelumnya yang membutuhkan waktu lebih lama. Kertas bertintakan kabar-kabar berbalas mulai tak menemukan ruang di masa ini. Bentuk perhatian seakan menyesuaikan perubahan zaman.

Di pinggir jalan raya, telepon umum memang masih terjamah pelanggan setianya. Akan tetapi, sentuhan teknologi memermak perangkat telepon menjadi lebih mungil, serta-merta nyaman dalam genggaman dan dapat terselip di saku celana. Jarak bisa dipangkas entah dari mana saja. Segenap manusia berhak memiliki, tak terkecuali Aida.

Kebutuhan tengah mengembang dalam kehidupan Aida. Tatkala ia harus menerima atau memberi kabar sesegera mungkin. Itulah sebabnya ia harus sering mampir ke sebuah penyedia layanan pulsa elektrik untuk memenuhi syarat sebagai pelaku informasi melalui ponselnya. Tanpa ia terka, Tuhan menyediakan ruang pertemuan tanpa hiasan janji-janji sebelumnya. Bahkan, perkiraan terlalu jauh dari pikiran mereka.

“Halo, apa kabar?” Sapaan seorang lelaki yang baru saja datang dan mendahului pembicaraan pada siang itu. Ia menyeret satu kursi duduk lalu meletakkannya di sebelah Aida.

Aida mengangkat kepala yang sebelumnya tertuju pada layar mini seluler, memastikan saldo pulsa sudah terisi. “Hai Fahrie, kabarku baik, kau sendiri bagaimana?” jawab Aida semringah sembari memperhatikan raut wajah Fahrie.

Mereka sudah lama tak mengadu tatapan sejak lulus dari sekolah menengah. Memang tak ada yang berubah dari paras Fahrie, hanya panjang kakinya yang telah melebihi dirinya.

“Kalau kau baik, berarti aku juga baiklah hahaha. Kau sudah lulus kuliah?” jawab Fahrie diselingi tawa. Fahrie sempat menanyakan perihal Aida kepada seorang teman.

Jadi, meskipun baru dipertemukan, ia bisa memapah pembicaraan ke arah mana saja dengan bekal keterangan yang telah ia himpun.

Saat pertemuan dengan Fahrie di usianya yang menginjak dua puluh tiga ini, Aida telah lulus dari dunia perkuliahan dan tak lama menganggur. Ia berkesempatan mengajar di sekolah swasta bernuansa religius. Setiap hari ia bertemu dengan anak-anak yang menggemaskan.

Mereka pun hanyut menikmati tanya jawab yang terlempar kepada satu sama lain. Selayaknya teman sejawat melepas rindu, yang juga mengenang masa lalu. Semua perihal yang telah berlalu terasa lucu untuk diingat, sekalipun menyakitkan di masa itu. Sekelumit canda yang merebak di antara mereka, mengundang tawa terbahak-bahak. Setelah waktu lampau sudah memuaskan, pokok bahasan mulai mengacu pada kenyataan, masa kini.

“Tak terasa ya, kita telah berada di usia sekarang. Aku yakin beberapa teman kita sudah menikah. Lalu, apa kau akan segera menikah dalam waktu dekat?” kata Fahrie diiringi berbagai dugaannya.

“Doakan untuk segera. Sekarang belum ada calonnya hehe. Kau mau mendahuluiku?” balas Aida terkekeh berlanjut mengintimidasi.

“Haha aku pun belum punya pasangan untuk diajak ke sana. Bukannya teman dekatmu se-abreg ya, apa tak ada yang memenuhi kriteriamu?” kata Fahrie mengelak yang diteruskan tanya yang menggoda.

Masih terukir jelas dalam kepala Fahrie, bahwasanya Aida merupakan dambaan setiap lelaki di masa sekolah menengah. Tak heran jika beberapa di antaranya pernah mengisi harinya. Hal itu juga berlaku ketika berada di lingkungan tempat tinggalnya. ‘Kembang Desa’ bahkan patut disematkan dalam julukannya. Barang kali ia masih menyandang nama itu hingga saat ini, pikir Fahrie.

“Belum ada yang berani serius. Kau sebagai lelaki bisa santailah, tak dikoyak oleh usia. Kalau wanita sudah masuk usia dua puluh lima dan belum ada calonnya bisa ketar-ketir,” jawab Aida yang mulai memakai sudut pandang gendernya.

“Bukannya takdir itu masing-masing? Jadi, ya kita tak perlu menyesuaikan waktu kita untuk sama dengan waktu mereka,” sahut Fahrie beserta pendapatnya mengemuka.

Perdebatan kecil menyeruap di sela pembicaraan mereka berdua. Mulai dari kehidupan secara garis besar, hingga mengerucut pada perihal waktu yang ideal untuk menikah. Pelanggan di warung elektrik itu silih berganti datang dan pergi, tetapi hanya sedikit memengaruhi keintiman mereka.

Berselang kesempatan, Fahrie mengambil papan kayu pengapit kertas yang tergeletak di meja pesanan. Kertas berisi puluhan nomor pelanggan itu disingkirkan, kemudian Fahrie menggoresnya dengan pulpen di cengkeraman jemarinya. Sembari menerangkan gagasan yang terlintas di pikirannya dengan cakap, sesekali Fahrie meminta Aida untuk menengok ke papan agar keduanya mencapai kesepahaman.

Aida memang sering kali menggunakan papan bor untuk memperjelas penyampaiannya kepada murid kesayangan. Namun, kali ini Aida harus bertukar posisi, ia bukan sebagai guru ketika berada di tengah penjelasan Fahrie.

“Kalau misalnya seperti ini, bagaimana?” tanya Fahrie meminta pendapat.

Senyuman bergurat dari wajah Aida karena tak mampu menahannya. Ia meringis gemas melihat Fahrie yang sok imajinatif mengubah papan kayu seolah menjadi surat perjanjian. Meskipun, dua kali anggukan kepala Aida ialah gestur yang menyiratkan persetujuan di antara mereka.

Sore kala terasa terik, benda-benda bersama bayangannya di sebelah timur tampak kala ditembak sinar surya. Tak terasa obrolan bisa berlangsung selama hitungan jam. Mereka pulang setelah pembicaraan santai cukup untuk mengisi waktu senggang di hari itu. Entah bagaimana pun juga, inti dari percakapan tadi hanyalah gurauan pengusik penat masing-masing.

***

Waktu berjalan lekas, cepat menggilas dua tahun berlalu. Tak ada perubahan mendalam pada masa ini selain anak band yang mulai mendominasi blantika musik Tanah Air. Mereka kerap memenuhi layar kaca stasiun televisi lokal di waktu tertentu. Kaset pita mulai tergantikan dengan piringan. Karya musisi beredar dan bisa ditemukan di titik keramaian dengan status bajakan.

Pagi hingga siang Aida mengajar. Malam hari merupakan sela waktu baginya untuk membaca bermacam jenis buku, seraya mendengar lagu kesukaannya. Ia berusaha memperdalam ilmu demi menjadi guru yang baik. Kesibukan lainnya tak lain ialah mengoreksi tugas murid-muridnya, memberi nilai yang sesuai serta menyiapkan materi keesokan harinya.

Sudah dua kali ia menyaksikan anak didiknya lulus melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Bangga sekaligus sedih dirasakan saat melepas mereka, menyisakan kenangan indah yang telah melekat dalam ingatan. Ia harus terbiasa. Momentum seperti itu akan terus terulang dalam kurun waktu pengabdiannya sebagai pendidik.

Beberapa kali ragam pertanyaan seputar pernikahan atau sejenisnya dilayangkan kepada Aida. Sebanyak itu pula permintaan doa ia sematkan di akhir kalimat sebagai jawaban. Bukan berarti tak ada ikhtiar, seorang pria dari perantara bahkan pernah mengisi hatinya dalam dua tahun ini. Namun, kecocokan tak sekadar memiliki hobi yang sama atau kemampuan finansial. Menurutnya, menjalin hubungan suci pun tak lepas dari lika-liku meskipun cinta telah menjadi landasannya. Dan, Tuhan belum membiarkan Aida bersua dengan takdirnya, mungkin di lain hari nantinya.

***

Dua kalender sudah ditanggalkan. Fahrie menjelma seorang pekerja yang tidak bisa jauh dari sepeda motor. Ia tidak mendiami satu tempat seharian, tetapi berpindah-pindah untuk meliput beragam kejadian. Tatkala jam istirahat pun ditinggalkan kala panggilan telepon menghendakinya untuk pergi. Dalam sehari, ia harus mengirimkan beberapa tulisan untuk melengkapi konten media cetak yang terbit harian. Ia sangat menikmati kehidupannya yang selalu dikejar tenggat waktu.

Pekerjaan Fahrie memungkinkan ia untuk bertemu dengan orang-orang baru dalam hidupnya. Penggalian informasi dilakukan kepada narasumber dengan berbagai macam karakter. Tak jarang jika Fahrie mendapatkan perlakuan atau sekadar perkataan yang kurang berkenan di hati. Untungnya ia sudah kebal. Hanya kebaikan yang akan diingat olehnya. Namun, ia masih belum sempat memikirkan cinta.

Empat jam menuju pergantian hari, pertanda bagi Fahrie untuk bergegas pulang dari kantor. Waktu itu ia sedang bebas. Pekerjaan sudah terselesaikan dan tak ada kencan dengan teman seperti biasanya. Namun, ia harus mampir mengisi saldo pulsa untuk selulernya. Semenjak menjadi pekerja, ia lebih sering menggunakan telepon layaknya suatu kebutuhan bagi dirinya.

Sesampai di tempat yang ia tuju dan memastikan sepeda motornya tertata semestinya, Fahrie memperhatikan perempuan dengan penutup mulut dan pria yang duduk di sebelahnya. Tak butuh waktu lama untuk menerka, dari lilitan kain jilbab yang khas dikenakan, ia pun mengetahui siapa pemilik wajah di balik masker itu.

“Hai Aida, selamat malam untukmu,” kata sapa Fahrie menghampiri dan masih berdiri.

Perubahan tak luput dari bangunan tempat ini. Warna cat semakin memerah disertai model iklan yang melekat pada satu sebelah dinding. Sejumlah kursi berjajar di depan meja kaca tembus pandang. Tersisa satu dua pelanggan pada jam-jam malam, berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya. Penyedia layanan serupa kian merajalela, dapat ditemui dalam setiap kilometer jalan raya. Itu sebabnya tempat ini tak seramai dahulu kala.

“Iya selamat malam juga. Kok kamu bisa tau kalau aku?” kata Aida heran yang sedang tak menampakkan seluruh parasnya.

“Iyalah, sorot matamu hanya satu-satunya di dunia ini,” bual Fahrie menggombal.

“Dan, selamat malam untuk Mas tampan ini. Calonnya Aida ya pasti?” lanjut Fahrie yang hendak menjalin perkenalan dengan lelaki di samping Aida.

“Waduh.. bukan Mas, saya ke sini beli pulsa aja dan tidak saling kenal dengan Mbak ini,” sambut lelaki menerangkan yang sesungguhnya.

Seorang lelaki yang duduk di sebelah Aida hanyalah pelanggan di lapak pengisian pulsa elektrik itu. Setiap orang memungkinkan untuk dipertemukan pada waktu yang sama di tempat itu. Aida mematung, mendapati sikap Fahrie yang tak berubah selama mereka tak bersemuka. Prasangka, praduga, segala perkiraan tetap liar dalam dirinya. Kendati Aida terkadang menganggapnya sebagai ulah jenaka yang memicu gelak tawa.

Seusai transaksi menuai keberhasilan, lelaki yang tak sesuai persangkaan Fahrie ini pun beranjak pamit dan pergi entah ke mana. Kursi kosong yang ditinggalkan segera diisi oleh Fahrie. Perbincangan perihal kabar tak terelakkan sembari mereka memenuhi keperluannya masing-masing.

“Lalu, bagaimana tentang asmaramu?” celetuk Fahrie yang sudah mulai menjurus.

“Belum dipertemukan dengan yang semestinya. Doakan untuk segera. Kau sendiri?” sahut Aida menyelipkan permintaan doa.

“Hahaha bahkan aku tak sempat memikirkan hal itu,” jawab Fahrie berleha-leha.

Sambil berceloteh, Fahrie tersadar jika kemungkinan sebuah papan kayu pengapit kertas berada dalam cengkeramannya sedari tadi. Kala menemukan jeda di sela pembicaraan, Fahrie pun membalikkan kertasnya dan mengeja setiap kalimat dilengkapi bagan penjelasnya di papan kayu yang tak lagi mulus. Meskipun demikian, tinta masih membekas samar dan bisa diterjemahkan oleh Fahrie. Ia pun memperlihatkannya kepada Aida.

“Jika di usia dua puluh lima masing-masing dari kita belum menemukan pasangan, maka kita akan bersama. Dengan catatan, perjanjian ini dibatalkan jika salah satu dari kita telah menikah sebelum menginjak usia yang telah disebutkan.”

Sebuah paragraf tersebut tak sukar untuk diingat oleh Aida. Janji yang tercetus dari gagasan absurd Fahrie dua tahun terlampau. Aida pun tak mengasa jika pada akhirnya papan kayu itu menjadi awal ke terikatan dirinya terhadap Fahrie dalam jalinan yang serius. Tuhan mempersatukan mereka di luar sudut dugaan Aida, beriringan dengan cinta yang mulai bersemi di hatinya.

***

Arti Sesak

Kamar di rumah kontrakan berukuran 4 X 3 meter lengang ketika langit hitam membungkus hari. Sudah sebulan mereka menjalani hubungan layaknya suami istri, menikmati perduaan di ranjang yang sama. Namun, cinta bukan pangkal ikatan, melainkan sebuah janji.

Fahrie terbiasa mengajukan pertanyaan kepada seseorang dalam pekerjaannya, tetapi tidak untuk perihal isi hati Aida, ia masih menyimpannya rapat-rapat. Ia hanya berharap Tuhan menaburkan benih cinta dalam hati mereka.

Pada suatu malam mereka terenyak dalam lamunan masing-masing, sebelum menutup mata dengan doa. Baru saja terpejam, suara khas membangunkan Fahrie sebaliknya Aida sudah terlelap. Sumber bunyi itu berasal dari ponsel yang tergeletak tak jauh dari ranjang mereka. Fahrie menghampiri untuk memungutnya dan membuka pesan dari nomor tak bernama, serta-merta mengeja teks yang tertulis pada layar kecil itu “Selamat malam, mimpi indah Aida!”

Berjarak beberapa spasi, tertera nama seseorang. Seingat Fahrie, nama itu ialah salah satu mantan kekasih Aida semasa sekolah menengah. Fahrie pun terdiam memaknai nyeri yang sekejap hinggap di dadanya. Tak lama berselang ia telah mengartikannya, cinta mulai tumbuh menjulang dan mengarah pada teman sekamarnya ini. ■

Muhammad Nur Iskandar. Penulis aktif menghasilkan cerita pendek dan puisi. Karyanya dimuat di sejumlah media massa.


[1] Disalin dari karya Muhammad Nur Iskandar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 09 Desember 2018