Aru-Aru

Karya . Dikliping tanggal 6 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

SUARA azan magrib sayup-sayup terdengar, tapi Ampo tahu pasti ke mana ia akan melangkah. Ia terlihat sangat kacau. Benar-benar kacau dari seorang pemuda yang telah menghamili anak gadis orang. Seakan, ada sebuah sendok besar yang sedang mengaduk nira dalam belanga kepalanya. Lama-lama semakin pekat, dan lekat. Sementara lembab malam mulai datang selapis demi selapis. Suara keluang terdengar begitu mengiris.

Ampo tak memperlambat langkahnya sama sekali. Tangannya begitu erat memegang tali ember yang sengaja diambilnya dari belakang rumah. Awalnya ia sempat ragu untuk mengakhiri hidup dengan cara begini, karena teringat anaknya yang belum genap satu tahun. Tapi cepat-cepat ia buang keraguan itu, sama seperti ketika ia membuang keraguan untuk menikah di usia muda.

Tak ada jalan lain. Telah sepanjang hari Ampo berpikir harus memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara apa, pekerjaan tak ada. Bukannya tak ada, tapi ia tak punya keahlian apa-apa. Sebab bersekolah pun ia tidak. Pernah ia coba jadi penambang pasir. Tapi apalah daya, ia tak bisa berenang, terpaksa hanya bermain di tepian sehingga pasir yang terkumpul tak banyak. Lalu ia juga pernah sebagai kuli angkut, tapi upahnya terlalu sedikit dan itu pun harus berebutan dengan kuli lain. Jangankan untuk membeli susu anaknya, makan pun tak cukup, belum lagi biaya persalinan istrinya yang masih belum lunas. Ingin mengadu, tapi ia tak tahu akan ke mana dan kepada siapa. Ia dan istrinya hanyalah orang pendatang. Akhirnya, ia terpaksa mengutang sana-sini. Kini, utang itu telah melilit pinggang.

Ampo menarik napas dalam. Ia lihat pohon di depannya cukup besar dan kuat. Lalu ia perhatikan kiri dan kanan, kalau-kalau ada orang yang lewat. Namun, di celah matanya ada gerakan yang berkelebat. Ia mulai cemas, detak jantungnya berubah jadi kencang.

“Siapa di sana?”
Sesaat hening, hanya pekik keluang yang menyahut bersama desir daun digoyang angin. Karena tidak ada jawaban, ia beranikan untuk melihat sekeliling. Ia terkejut, dan hanya berdiri lurus, tak bergerak. Di depan matanya berdiri seorang perempuan. Rambutnya panjang tergerai, aromanya harum bunga rampai, perempuan itu tersenyum ke arahnya. Perempuan itu lalu mengulurkan tangan ke arah Ampo. Seperti seorang bocah yang diberi permen, Ampo berjalan mendekati perempuan itu. Tapi perempuan itu juga berjalan ke arah lain, dan Ampo begitu saja mengikuti.

Ampo sempat berpikir ia sedang berada di mana? Dan siapa perempuan itu? Sebab di pelupuk matanya hanya perempuan itu yang terlihat, tak lebih. Pohon-pohon di hutan tak lagi terlihat, kecuali kabut begitu tebal, bergumpal-gumpal.

Ampo tak tahu entah berjalan selama apa dan sejauh mana mengikuti perempuan itu. Namun, ia telah sampai di depan sebuah sebuah rumah, sangat besar sekali. Pagarnya mengilat. Dengan terheran-heran ia berjalan melewati pagar. Pintu rumah terbuka. Ia terkejut melihat isi rumah itu, tirai-tirainya bergelantungan emas dan permata, kain-kain kelambunya dari sutra. Bukan hanya itu yang membuat Ampo terpana, di dalam rumah ada banyak orang, begitu ramai dan isinya perempuan semua. Sama cantiknya, sama harumnya, sama senyumnya.

Di sana ia dikasih minuman, diberi makanan, ia dijamu layaknya seorang raja. Setiap dari mereka bibirnya bergerak-gerak. Tapi Ampo tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Yang terdengar olehnya hanya keheningan. Ia coba lebarkan telinganya, meyakinkan kehengingan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, tangan perempuan-perempuan itu lebih dahulu meyakinkan belaian pada tubuh Ampo. Sangat lembut dan begitu perlahan-lahan sehingga Ampo dibawa hanyut.

***

Aru-Aru“Ampo…!”

“Mpoo…!”

“Pooo…!”

Suara itu terus diteriakkan. Tiada henti, sampai-sampai suara itu saling tutup-menutupi, tumpang tindih. Tapi tak satu jawaban pun keluar, satu balasan pun terdengar. Di tengah hiruk pikuk teriakan, cuaca berangsur gelap. Lantai hutan mulai terasa lembap. Rembesan cahaya mulai mengirap.

Sudah 3 hari Ampo tak pulang. Istrinya cemas. Ia telah mencari ke warung tempat Ampo berutang. Tapi yang ditemukan bukanlah suaminya, melainkan celotehan dari pemilik warung yang malah menagih utang. Istrinya hanya diam ketika sorot mata pengunjung warung melihat ke arahnya. Dengan berat muka ia langkahkan kaki meninggalkan warung.

Biasanya, jika tak pulang, Ampo selalu mengatakan kepada istrinya. Sebab, Ampo tahu, jika hidup miskin, cinta dan kasihnya tak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama dengan nasibnya. Itulah yang membuat istri Ampo begitu tergila-gila kepadanya dari dulu.

Tapi, sekarang masa untuk mengingat keromantisan yang pernah dilakukan Ampo bukanlah yang terpenting, melainkan keberadaannyalah yang paling utama dalam pikiran istrinya. Keberadaan suami yang membuat ia bertahan menjalani hidup miskin di rantau orang.

Pencarian ini dilakukan istrinya karena ada seorang peladang yang tak sengaja melihat Ampo berjalan memasuki hutan tepat sebelum matahari terbenam. Dan prasangka orang kampung sudah banyak yang tidak mengenakkan masuk ke dalam telinga istrinya. Ada yang mengatakan ia telah dimangsa hewan buas, ada yang bilang ia telah masuk hutan terlarang mencari emas sebesar kuda demi melunasi utang, ada yang bilang ia pergi menuntut ilmu hitam, macam-macam. Tak ada yang membuat hati istri Ampo senang. Semuanya hanya yang buruk-buruk.

Namun, sudah seharian pencarian, belum ada tanda-tanda keberadaan Ampo. Meskipun sudah menyebar, agar pencarian lebih meluas. Ada yang pergi menyusuri aliran sungai, ada yang mencari sampai ke kaki bukit, ada yang memeriksa ke lembah sempit. Dan teriakan juga sudah dilakukan. Mata sudah diterang-terangkan. Tak ada bertemu bahkan sehelai benang pun tanda keberadaan Ampo. Begitu sunyi pencarian.

“Sebaiknya pencarian dilanjutkan besok!”

“Betul, kita tak ada bawa alat penerangan.”

“Jangan-jangan Ampo dilarikan Aru-aru?”

Sontak jadi hening, dan angin bertiup cukup kuat, menggoyang pepohon menggugurkan daunnya. Terasa dingin hutan menyentuh kulit, membuat bulu-bulu berdiri. Istri Ampo berubah pucat, matanya memutih dan tergolek tak sadarkan diri.

“Jaga mulutmu!”

“Kan, bukan sekali kasus seperti ini di kampung kita!”

“Hus… Jangan semakin memperkeruh suasana!”

“Cepat bantu!”

“Kasihan aku melihatnya.”

Kejadian orang hilang dikampung ini memang bukan yang pertama kalinya. Orang-orang percaya mereka dibawa Aru-aru. Jika telah dibawa, jarang sekali yang bisa kembali pulang. Kalau ada yang kembali, harus cepat-cepat dibalikkan bajunya, dihadap keluarkan jahitannya, untuk mengembalikan ingatannya. Begitulah cerita yang beredar. Tapi belum ada yang pernah mencoba. Lalu bagi yang tidak kembali, mereka akan terkurung dalam dunia Aru-aru, dunia yang berada dalam batang kayu. Jika ada yang menebang sebatang kayu, kemudian kayu itu mengeluarkan getah berwarna merah, mengalir deras dan sangat banyak. Diyakini itu adalah darah orang yang telah dibawa Aru-aru, bisa jadi orang baru, atau yang hilang sekian tahun lalu. Siapa yang tahu? Dan yang terpotong bukannya batang kayu, tapi tubuh seseorang.

***

Ampo terjaga, kepalanya terasa berat, dan badannya lemas. Ia tak tahu entah berapa lama tergolek di sana. Ia lihat sekelilingnya. Perempuan-perempuan yang menari, menyanyi, tertawa, dan membelainya telah bergelimpangan tertidur pulas di lantai. Ia coba bangkit, menarik kakinya. Sungguh berat dan kaku. Dengan tergopoh-gopoh ia mencari jalan keluar. Tapi ia terkejut, ketika ia sadari dirinya tanpa bayangan. Kakinya, tangannya, kepalanya, badannya, semuanya tak ada bayangan. Begitu juga semua perempuan itu. Tak ada bayangan.

Ia langkahi tubuh-tubuh perempuan yang bergelimpangan di lantai. Sesekali tangannya meraih tirai-tirai emas dan permata dan memasukkannya dalam saku celana. Lalu, ia terus berlari, melewati pagar dan dari depan ada kabut tebal yang siap menelannya.

Samar-samar ia lihat ada yang berjalan jauh di depan. Sangat ramai. Ia coba memanggil dengan berteriak, tapi suaranya menghilang, tak mau keluar. Terus ia berusaha, terus pula orang-orang itu berjalan. Menjauh. Ia terus mengejar, tapi akar pohon menghalangi langkahnya. Ia terjatuh. Pandangannya berputar, lalu mulai kabur dan akhirnya gelap.

Ampo mencoba membuka mata. Ia perhatikan sekitar, tak ada siapa-siapa, selain pepohonan. Ia yakin, bahwa ia belum berada dalam alam kematian. Ia lalu teringat kejadian sebelumnya. Perempuan-perempuan cantik itu, rumah besar berpagar mengilat, tirai emas dan permata yang kini sudah di dalam sakunya. Darahnya mendesir dan jantungnya langsung berdetak kencang, dan segaris senyum melengkung di bibirnya. Senyuman itu bagai setangkai bunga, bunga jadi cahaya, cahaya menerangi pikirannya. Sesegera mungkin Ampo bangkit dan berlari pulang.

“Emas, permata, aku kaya, istriku.”

Istrinya yang sedang menggendong anak, terkejut. Suami yang telah menghilang tiga hari, pulang. Suami yang telah dicari-cari tak bertemu, akhirnya muncul begitu saja. Tak karuan perasaan istri Ampo. Campur aduk. Entah senang entah sedih, sebab di tangan Ampo hanyalah semak-semak belukar.

“Lihatlah istriku tercinta, kita kaya! Di tanganku ini, emas dan permata.”

Ampo lalu berlari keluar rumah, mengacung-acungkan semak-semak belukar itu sambil berkata, “Emas, permata. Kaya!” Sampai malam membubung, ia tak kembali kecuali sebagai suara-suara yang menggema di telinga sang istri. (M-2)

Padang, 2018

Roby Satria, lahir di Payakumbuh, 1995. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Ranah Performing Art Company.


[1] Disalin dari karya Roby Satria
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 5 Mei 2019