Asma’ Pengasahan – Memandai Keris – Jaza’ Kelambiomar

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Asma’ Pengasahan

perkenalkan namaku pendekar asma’
keturunan orang-orang antipeluru
leluhur pangeran yang rebah di alam pertapaan
beraabad lama sebagai petapa
Bujuk-Bujuk kukenal dalam silsilah
kini berjumpa lewat warisan jaza’
kupanggil roh-roh sanad tertitah

hayyu hata hayyu hata
asma’ kurapal malam buta
langit kukepal penuh tenaga

hayyu yumi hayyu yumi
kutepuk-tepuk nisan Bujuk-Bujuk
menggendam sepi taji ngasah sunyi belati

hayyu yuwi hayyu yuwi
dari pinggang kutarik keris
muncul anak pammor Mpu Bratajetis

Hayyu yuli hayyu yuli
empat puluh satu hari kupantang nasi
seribu ilham bertumpu satu diksi

kuasah sepi-sepi taji
kupandai sunyi-sunyi belati

2015

Memandai Keris

besi-besi dingin hatiku
dikecup kabut pagi harimu
kudentang pukulan pandai
dalam pengapian seperti tiga malam

hati itu besi
kita mengasahnya setajam lotot mata tuhan
yang mengintai dari urat ayat dalam kerongkongan
nanti perang akan datang
kita kan bersaksi bahwa tiada perisai
selain hasil besi yang perpandai

awan-gemawan jatuh ke asap kandang
rembulan ditombak besi bara terpanggang
dentang-dentang bunyi pandai
besi dan api menggilas nyali

kita adalah mpu bagi zaman nanti
pamor apa kira-kira yang kan
diukir pada keris kita?

kini musim telah mengajak kita bertapa
mengasah besi
jangan sampai jiwa karat sendiri

nanti perang kan dimulai
ketika galaganjur bertalu dari mulut badai

2015

Jaza’ Kelambiomar

nak, aku punya cerita
di kepalaku dulu batu-batu
badannya dingin
bahkan sangat dingin
ketika itu aku masih seusiamu
dan belum menjadi pendekar asma’

dulu guru madrasahku coba menghancurkannya
dengan parang tapi tak hablur jua
dulu ibuku mengutuknya menjadi air
tapi kepalaku batu terlalu dingin
ketika itu aku masih seusiamu
hanya pandai berpuisi
bertmain-main diksi

tapi, nak, lihatlah kini
kelalaku kini sepanas bara besi
yang dipandai mpu bermantera api
kelak kan ada suatu perang
kau akan mati di medan laga
tapi asma’ memberimu nyawa
dan bertaji selamanya

2015


Raedu Basha. Kelahiran Bilapora Sumenep, 3 Juni 1988. Mahasiswa Pascasasrjana S2 Ilmu Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 11 Oktober 2015