Asta Tinggi – Tinta Air Mata – Aku Ingin Berbisik Kepadamu – Potre Koneng – Sumekar – Joko Tole

Karya . Dikliping tanggal 17 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Asta Tinggi

Sebelum aku gagal menikahi masa lalu
Pernah aku tanam nazar di tengah nisanmu
Tapi detik yang aku jalani
Tidak seetrjal hari risau ini
Kerinduan kerap jadi hantu
Memantul dari dalam batu
Sumenep, 2015

Tinta Air Mata

-buat Gus Zainal AT

Aku ingin membangun rumah dalam puisi
Dengan sepuluh kamar yang sepi
Dan kelak bakal gembira aku beristirah di 
dalamnya
Sebelum lembaran naapsku terbakar sisa usia
Aku ingin membeli mobil dengan puisi
Sebab aku hanya anak seorang petani
Dan esok bila sepotong inspirasi datang
kepadaku
Puisi-puisiku akan menggoncang langit biru
Aku ingin menapaki dunia kewat puisi
Mengendarai kapal imaji di bandara sunyi
Sebab darahku bukan tetesan para kiaia
Otak dan hati mungkin saja serpihan besi
Dan aku ingin menjadi ada meski tak ada
Terlukis putih di langit dada
Malang, 2015

Aku Ingin Berbisik Kepadamu

– buat Pak Parno penjual nasi

Aku ingin berbisik kepadamu
Kali ini utangku tak kunjung lunas
Lantaran kesabaran kau menunggu
Tak mungkin wajahku mampu memelas
Sebab aku sudah menghapal senyummu
Di antara doa-doa pecah di rahim waktu
Nanti malam sambil menunggu gerhana bulan
Sebutir telur mari berdua kita pecahkan
Malang, 2015

Potre Koneng

Mandi airmu di kolam itu
Konon bakal menjelma putri salju
Kupu-kupu terbang menembus cahaya
Menembangkan kisah-kisah purba
Tapi kini, dalam rimba dan waktu
Angin melenyapkan amsa lalu
Potre Koneng tak lagi menari
Sebagai penghuni Sumekar abadi
Fajar pun pecah di hati pagi
Sumenep, 2015

Sumekar

Sumekar adalah perahu berlayar
Sekaligus darahku pernah terbakar
Tapi aku masih punya seribu impian
: ziarah ke tubuh para Pahlawan

Joko Tole

Berjalan di atas bumi
Barangkali tak enak jika sendiri
Kesetiaan yang kuajarkan pada matahari
Bercahaya bagai wajah seorang bayi yang terberkati
Wangi tanah menebar melati
Gamelan ditabuh dalam nurani
Maka kupinta mawar segera mekar
Agar kesetiaanmu tak mudah berpencar
Sementara aku berlari menuju senja
Mengajar laju kecemasan jiwa
Hingga lahir air sejuta gelombang
Menghanyutkan segala bimbang
Tapi bukan karena risau
Aku hanya ingin bercerita tentangmu sampai
parau

Muang Sangkal*

Barangkali petaka pecah di langit pijar
Berhambur menjadi senyum mawar
Sebab beras kuning yang kau tabur
Senantiasa kuharap memanjangkan rahasia
umur
Di sini aku melihat rampa’ naong beringin korong
Menyatukan darah kampung menjadi settong
Peradaban berangsur dari keyakinan
Dari tradisi menjelma kebudayaan
Suatu ketika bila dadaku membuncah
Lalu air mata memecah merah
Ibu, buanglah snagkalku dalam doa dan tarianmu
Sebab dalam hening aku takut takdir memburu
Lalu pohon-pohon kamboja pun melambai
Menyeru angin segera usai
Aku tak ingin matahari padam dalam diri
Hingga tubuh ringkihku akan sepi
Sumenep, 2015
*Muang Sangkal = Mmebuang sial/petaka (Sumenep Madura)
Subaidi Pratama: lahir di Sumenep 11 Juni 1992. Mahasiswa Unitri Malang. Begiat di komunitas Malam Reboan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Subaidi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 17 Mei 2015