Ateng

Karya . Dikliping tanggal 18 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
SETIAPKALI melihat anak-anak atau remaja bermain sepak bola di tanah lapang, entahlah, aku selalu teringat pada Ateng.
Ah, bukan. Ia bukan pemain bola dari kesebelasan kampung manapun. Ia cuma seorang bocah kecil penjual es bungkus batangan yang selalu menjajakan dagangannya bila ada anak-anak bertanding bola di lapangan SMP St. Yosef, tempatku bersekolah dulu.
Selain digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga, mulai dari sepakbola, senam, atletik, hingga kasti, lapangan rumput yang berbatasan dengan hutan dan kebun milik warga itu juga dipakai untuk upacara bendera setiap hari Senin. Kendati luasnya hanya separo lebih dari Lapangan Hijau–lapangan sepakbola kebanggaan kota kecamatan kami– tapi itu sudahlah cukup bagi anak-anak SD dan SMP (juga anak-anak sekitar lainnya) bermain bola dengan riang hampir saban sore setelah sekolah bubar. Tanpa alas kaki, sebagian bertelanjang dada.
Ya, Ateng selalu berada di sana dengan termos besar berisi es dagangan. Es itu bikinan ibunya sendiri. Enak dan tidak memakai pemanis buatan, ukurannya pun lebih panjang dari yang dijual orang lain. Ada bermacam-macam rasa; mangga, limun jeruk, cincau, kacang hijau, sirsak, juga durian jika sedang musimnya. Dan setiapkali bisa dipastikan ia akan pulang dengan termos yang sudah kosong. Es jualannya itu ludes tak bersisa lantaran dijadikan sebagai taruhan. Baik oleh dua kelompok anak-anak yang bertanding maupun antarpenonton. Ya, sudah menjadi ketentuan, pihak yang kalah wajib mentraktir yang menang dengan es dagangan Ateng….
Karena itulah jika ada “pertandingan besar”, seringkali ia mengajak serta adik perempuannya yang tampak terhuyung-huyung menenteng termos besar ke pinggir lapangan. Kami sebut “pertandingan besar” lantaran laga itu sudah diumumkan sejak jauh hari dari mulut ke mulut. Biasanya karena ada satu kelompok yang menantang kelompok lainnya. Tentu saja dibumbui dengan sedikit ejek-mengejek, saling memanasi. Sehingga pertandingan itu pun menjadi laga yang ditunggu-tunggu dan mengundang lebih banyak penonton.
Anehnya, Ateng tidak punya saingan sama sekali. Memang awalnya ada satu anak penjaja es lain yang ikut berjualan kalau ada pertandingan. Tapi karena esnya hampir tak laku, lama-kelamaan anak itu tak pernah muncul lagi. Ah, entahlah. Seolah-olah sudah disepakati bersama–oleh kelompok mana pun yang bermain bola di sana, juga setiap penonton yang datang–hanya es jualan Atenglah yang boleh dipakai untuk taruhan!
***
AKU tak pernah bermain bola di sana kecuali saat pelajaran olahraga, meskipun ingin sekali. Apa boleh buat, aku tidak punya kesebelasan. Teman-teman akrabku tak cukup sebelas orang untuk membentuk satu tim. Di antara kami, hanya Fa Siu yang pernah bermain dalam pertandingan sore hari di lapangan itu karena ia bergabung dengan tim sepupunya yang jadi kapten. Aku dan beberapa kawan lainnya harus puas hanya menjadi penonton di pinggir lapangan sembari berteriak-teriak menyemangati kesebelasan yang kami dukung dengan taruhan sebatang es Ateng.
Toh kami juga punya pertandingan sendiri di garasi rumah trio kakak-beradik A Ha – A Li – A Wen yang lumayan luas. Garasi itu tidak terpakai lagi sejak mobil Panther metalik ayah mereka dijual. Cukup menggunakan bola plastik kecil dengan sandal jepit sebagai pengganti tiang gawang, kami bermain dua lawan dua atau tiga lawan tiga. Atau, kalau sudah agak sore ketika jemuran telah diangkat, kami bisa bermain di halaman rumah mereka yang berpasir dengan menambah dua pemain lagi dan menggunakan bola plastik lebih besar. A Nen, anak tetanggaku kadang kala ikut denganku bermain di sana.
Trio A Ho-A Li- A Wen selalu berebutan jadi penyerang, tapi lebih suka menjadi kiper. Tanganku memang terlalu kecil dan kurus untuk menahan tendangan bola kulit yang berat; jari tengahku pernah terkilir dan bengkak seminggu lebih saat menepis bola kulit pada sebuah pertandingan di sekolah. Tetapi menangkap bola plastik, akulah jagonya! Dan percayalah, gawangku tak mudah dibobol lawan. Bola tinggi, tengah maupun rendah, bahkan tendangan yang paling deras sekali pun sudah bisa kuhalau dengan baik.
Ah, di depan gawang dari tumpukan batu, sandal, atau reranting, waktu itu aku kerap membayangkan diriku sebagai Sergio Goycoechea, sang penyelamat Tim Tango Argentina dalam Piala Dunia 1990. Juga Hans van Breukelen dan David Siemen…
Ateng juga tak pernah ikut bermain bola di lapangan sekolah itu seperti halnya diiriku. Kalau ia bermain, kukira ia bakal dijuluki Maradona. Mungkin Maradona dari Panji Pasir, karena rumahnya berada di kampung Panji Pasir.
Namun begitu, kerap kali ia dengan rela menjadi pemungut bola out yang melayang ke dalam hutan atau terpental masuk ke kebun warga. Bahkan tak segan-segan Ia terjun ke dalam kolong kecil yang terletak di belakang salah satu gawang untuk mengambil bola yang jatuh ke dalam air. Selain itu, kadang-kadang ia juga suka mengggratiskan sebatang-dua batang esnya pada beberapa anak yang jadi kapten tim. Bahkan A Fuk nyaris tak pernah membayar jika membeli esnya di luar pertandingan.
Anak SMP YPN yang berseberangan dengan sekolahku itu dikenal bintang lapangan yang haus gol. Bermain sebagai penyerang, idolanya adalah Marco van basten. Itulah sebabnya, terkadang Ia mengenakan kaos bernomor punggung sembilan ke lapangan, walau bukan berwarna oranye. Ia juga punya tiga lembar poster pemain terbaik Eropa itu; tertempel di dinding kamar dan ruang tamu rumahnya.
Ah, bagi kami ketika itu, pamor A Fuk tidaklah kalah dengan Sudrajat pemain Mantung atau Aan pemain Kampung Sungai Ketok yang selalu menjadi momok bagi tim-tim lawan di Lapangan Hijau pada setiap turnamen Agustusan…
***
ORANG-orang Tionghoa di kota kecilku sebetulnya  tak terlalu menggilai sepak bola. Daripada bermain, mereka memang lebih suka bertaruh bola. Setiapkali TVRI –yang ebrkat iuran televisi Anda dan bekerjasama dengan SDSB– menyiarkan siaran langsung pertandingan sepak bola, niscaya di mana-mana bakal kau temukan mereka sedang memasang taruhan. Tidak tua, tidak muda. Dari seribuan hingga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Bahkan warung-warung kopi pun ramai dengan pembicaraan tentang bola, lengkap dengan segala analisis dan predisksi. Apalagi ketika turnamen-turnamen akbar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa berlangsung.
Tapi tidak demikian halnya dengan basket. Hampir setiap kampung Tionghoa di kota kecamatan ini memiliki sebuah klub basket. Malahan ada satu kampung yang memiliki sampai tiga klub. Para tukang ikan dan penjual daging babi pun punya klub basketnya sendiri-sendiri. Nama kedua klub itu simpel saja: Pasar Ikan dan Pasar Babi Belinyu. Yang terakhir sering disingkat PBB.
Selain mengikuti turnamen Agustusan atau camat Cup, klub-klub yang rajin berlatih itu juga kerap menyelenggarakan turnamen antarkampung. Seolah tak mau kalah dengan sepak bola. Setahuku, biasanya mereka mengumpulkan iuran dari warga kampung masing-masing. Klub basket Kelabang Merah dari Hoi Nam Kai (Jalan Melati)–seingatku–yang paling sering mengadakan turnamen Piala Kelabang Merah.
Toh, bukan berarti tak ada sama sekali orang Tionghoa yang berkecimpung dalam sepak bola level Lapangan Hijau. Meskipun jumlahnya barangkali bisa kau hitung dengan jari. Salah satunya adalah A Liung, tentangga sebelah rumahku. Ia bermain sebagai bek untuk kesebelasan kampung Padang lalang, diajak oleh Pardi temannya di STM YPN yang mayoritas anak Melayu. Kendati penampilannya biasa-biasa saja, ia pun menjadi salah satu pujaan kami, anak-anak Tionghoa, setiap kali timnya berlaga di Lapangan Hijau.
Ya, speerti yang telah kukatakan sebelumnya, Lapangan Hijau adalah lapangan sepak bola kebanggaan kota kecamatan kami. Tempat perhelatan berbagai turnamen antarkampung. Mulai dari turnamen Agustusan, Piala Lurah Kutopanji, Piala Haji Amrin (yang ini seorang pengusaha Melayu fans Inter Milan), hingga tiga kali Camat Cup.
Karena itu, wajar saja jika anak-anak yang hobi bermain bola selalu bermimpi untuk tampil di sini. Walaupun–ya, seperti halnya lapangan bola sekkolahku–lapangan yang terletak di daerah Perumnas ini juga jauh dari layak. Tanahnya tidak rata dan terdapat sisa-sisa akar pohon di sejumlah titik. Dan pada saat-saat menjelang sebuah turnamen, sibuklah panitia memotong rumput-rumputnya yang meranggas liar.
A Fuk, bintang lapangan sekolahku itu, tentunya juga ingin sekali bermain bola di sini.
Namun orangtua kami kerap melarang kami menonton pertandingan di Lapangan Hijau. “Nanti kalian berkelahi dengan anak-anak Melayu,” kata ayahku. “Atau dipukul preman!” tambah ibuku dengan mimik serius. Tapi kami selalu mengindahkan larangan itu. Tetap saja kami bertandang ke Lapangan Hijau. Kalau soal berkelahi, para pemain juga kerap berkelahi di tengah lapangan, pikirku. Sudah terlalu sering kami melihat wasit dikejar-kejar dan dipukuli. Bahkan perkelahian massal di antara suporter acapkali terjadi sampai polisi harus turun tangan.
Ya, meskipun beberapa kali ada teman-temanku yang dipalak anak-anak Melayu, kami tak pernah kapok. Pertandingan-pertandingan itu terlalu seru untuk dilewatkan. Apalagi jika kesebelasan Sungai Ketok main. A Nen pernah sampai nangis-nangis dikurung ayahnya di kamar karena tak bisa menyaksikan sundulan kepala Aan. Bagi kami, dengan rambutnya yang panjang (meski tak gimbal), ia seperti Ruud Gullit.
Pertandingan bakal kian seru lagi apabila ada kesebelasan yang mencarter pemain dari luar kota. Dan ini sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang mencarter pemain dari Sungailiat, ada yang dari Pangkalpinang atau Mendo Barat. Tentu saja pemain-pemain yang cukup ternama. Bahkan kesebelasan Gunung Muda pernah pencarter pemain dari PS Bangka, Rudi Botak. Penonton benar-benar membludak waktu itu. Kendati ujung-ujungnya mereka harus menelan kekalahan telak 1-3 dari Kumpai. Sehingga membuat Mang Sardi–sang kepala desa yang sering berbelanja ke toko ayahku– mencak-mencak smapai dua minggu lebih.
“Huh! Apanya yang pemain PS Bangka?! Masih bagusan menantuku main bola!” gerutunya dengan wajah memerah. Hampir semua penggemar sepak bola di kota kecilku tahu siapa Aswin, menantunya yang dijuluki Ricky Yakob Belinyu itu. Tapi setelah menikahi seorang gadis Palembang, Bang Aswin ikut bersama istrinya hengkang ke seberang. Ai, entahlah berapa banyak uang yang sudah mereka keluarkan untuk membayar Rudi Botak.
Ketika itu ayahku cuma senyum-senyum saja memaklumi. Toh, Ia juga tak mengenal satu pun pemain sepak bola di kota kecil kami, apalagi pemain PS Bangka. Juga tidak peduli. Tapi kalau para pemain klub-klub tenar Eropa, jangan ditanya. Ia hampir hafal semuanya.
Hanya beberapa orang Tionghoa dewasa yang kerap terlihat di pinggiran Lapangan Hijau. Itu pun karena rumah mereka memang tak jauh dari Perumnas. Ya, tidak seperti turnamen basket Agustusan di SMP YPN yang senantiasa penuh sesak dengan orang-orang Tionghoa. Besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan.
Orang Tionghoa olahraganya basket, sepak bola adalah olahraga orang Melayu! Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana tradisi ganjil ini bermula di kota kecilku. Seakan-akan ada tembok pemisah di antara ekdua olahraga itu yang tak kelihatan. Seingatku, barulah pada tahun 2000-an ada klub basket Melayu yang dibentuk oleh anak-anak rantauan yang pulang liburan kuliah dari Bandung atau Jakarta.
Setelah dipikir-pikir sekarang, kukira hal ini bukanlah karena orang Tionghoa tidak suka bermain dan menonton sepak bola di Lapangan Hijau. Namun barangkali lantaran mereka takut berkonflik dengan orang Melayu dan memilih menghindar…
***
ATENG tentunya juga tak pernah berjualan es di pinggir Lapangan Hijau. Mungkin tepatnya tidak berani. Jika tidak ada pertandingan bola di lapangan sekolahku, ia akan menjajakan es dagangannya sepanjang jalan, dari rumah ke rumah, ke setiap pintu toko.
Ya, kembali ke lapangan yang selalu tergenang setiapkali hujan di belakang SMP St Yosef itu: ketika aku naik ke kelas tiga SMP, pihak sekolah membangun dua buah gawang permanen untuk menggantikan tiang-tiang gawang dari bambu. Dan tidak lama kemudian, berlangsunglah Uskup Cup yang melibatkan hampir semua SMP Katolik di bawah wilayah Keuskupan Pangkalpinang. Termasuk yang bertanding dari Belitung dan Kepulauan Riau. Suasana begitu meriah. Aku datang setiap sore ke lapangan dan es dagangan Ateng pun laris-manis meskipun tak ada kesebelasan yang bertaruh. Aku sduah lupa sekolah mana yang keluar jadi pemenang kala itu, tapi yang pasti sekolahku gugur di babak penyisihan.
Selepas itu, ada beberapa kali turnamen antarsekolah yang diselenggarakan di sana. Namun rasanya pertandingan-pertandingan dengan taruhan es Ateng–“Ateng Cup!” seloroh A Li suatu kali–tetap saja tak tergantikan. Lebih menggairahkan. Jerit kesakitan ketika tulang kering sengaja diadu, teriakan amrah karena di-tackle keras dari depan maupun belakang, diving mencolok di depan mata, badan yang berlumuran lumpur, umpatan-umpatan jorok dari penonton, dan tentu saja perkelahian-perkelahian kecil. Semua itu seakan memberikan sensasi tersendiri yang tak kami dapatkan dari pertandingan-pertandingan turnamen.
Bahkan seiring waktu, berbagai laga “Ateng Cup” kian menegangkan. A Fuk yang putus sekolah akhirnya memutuskan keluar dari timnya dan menjadi pemain carteran. Tentu saja kali ini ia dengan uang. Berapa harganya, itu tergantung kepada yang nego. Hanya saja, ia cuma bisa bertanding pada hari Minggu. Karena setelah putus sekolah ia harus bekerja sebagai pegawai toko kelontong di pasar dari pagi sampai sore.
Beberapa kesebelasan juga mulai mencarter para pemain Melayu, bahkan anak-anak Madura dari kampung Air Asem. Sejumlah nama yang masih kuingat antara lain: Bujang, Hasan, si Dul alias Fuad, Mursid, Mujab, Fauzi, Mahwi, Ali Fakih…
Entahlah, apakah mereka memang begitu hebat (si Dul misalnya, meliuk-liuk speerti Romario setiap menggiring bola) atau karena lawan yang sudah keder duluan saat berhadapan, yang jelas kelompok yang mencarter mereka hampir bisa dipastikan akan keluar jadi pemenang. Kecuali Jun Loi si Franco Barresi dari Sin Cong (kampung Karang Lintang) dan A Kok, tak ada yang berani beradu tulang kering atau men-tackle mereka, apalagi sampai menarik kaos. Sehingga, untuk mempecundangi mereka–ah, entah siapa pulayang mencetuskan gagasan sinting ini–solusi satu-satunya adalah: diam-diam oleskan minyak babi pada bola!
Manjur? Aku tidak tahu. Tapi Mursid berkali-kali gagal mengeksekusi tendangan penalti, dan Hasan, di boncel ikal dari Wasre, suatu kali terkena (bukan kartu merah, tapi) malaria sehabis bertanding!
***
NAMUN segalanya tiba-tiba berubah. Itu sebelum aku dan beberapa kawan mulai mengkliping gambar-gambar sepak bola dari berbagai koran dan tabloid olahraga.
Hmm, semuanya bermula dari suat hari–satu sore yang cerah–ketika semua pemain dari kesebelasan yang memenangkan laga mendadak sakit perut dan mencret-mencret sesampai di rumah. Tak terkecuali Jun Loi dan si Dul yang hari itu dicarter! Bahkan A Fen yang sekelas denganku dua hari tidak masuk sekolah.
Kami semua gempar. Apa yang terjadi? Otak kami langsung berputar dengan cepat. Hanya satu jawabannya: Ateng!
Ternyata dugaan kami memang tidak meleset, meskipun awalnya ia menyangkal mati-matian. Adalah A Fat, salah satu pemain lawan yang diam-diam datang ke rumah Jun Loi dan membocorkan semuanya. Lantaran sudah tahu bakal kalah, demikianlah A Fat–yang merasa berhutang budi karena pernah diberi contekan oleh Jun Loi saat ulangan umum–mengaku, Chin Kwet Ngian, sang kapten tim, dan beberapa kawannya menyuap Ateng untuk mencampurkan air sabun ke dalam sejumlah es jualannya yang dijadikan taruhan.
Ya, sudah bisa ditebak ceritanya, Jun Loi dan anak-anak lain yang menjadi korban marah bukan kepalang. Perkelahian tak terhindarkan. Seketika lapangan bola itu pun menjelma menjadi arena baku-hantam. Aku tidak tahu kelompok mana yang keluar sebagai pemenang kali ini. Aku sendiri tidak menyaksikannya. Tampaknya sih sama-sama bonyok!
Dua hari kemudian, kudengar Ateng dicegat beramai-ramai di tengah jalan saat sedang berjualan. Ia dipukul sampai babak-belur dan meraung-raung minta ampun. Aku hanya bisa menghela nafas ketika itu, merasa beruntung tidak ada kawan-kawan akrabku yang terlibat.
Ah, semenjak kejadian itulah, ia tak pernah lagi tampak berjualan es di pinggir lapangan sekolahku. Meski anak-anak tetap bermain bola saban sore, tetap memasang taruhan. Hanya saja taruhannya bukan lagi es bungkus, melainkan uang! Penonton pun semakin ramai, termasuk orang-orang dewasa.
Tetapi setelah masuk SMA, lambat-laun aku kian jarang menonton pertandingan bola di lapangan itu. Dan akhirnya nyaris tak pernah bertanding lagi. Terakhir kali aku mendengar tentang Ateng adalah dua tahun silam ketika aku pulang kampung. Kabarnya ia cukup sukses di Tangerang.
“Ia punya showroom motor di sana. Aku nyaris pangling saat ia menyapaku. Badannya gemuk dan putih,” kata A Fuk yang kini berjualan sayur di pasar, lalu menambahkan. “Ia memberiku uang. Kau tahu berapa? Tiga juta saat kubuka amplopnya!”
Aku hanya tersenyum. Terbayang lagi olehku serang anak kurus-kecil berkulit legam dengan rambut acak-acakan sedang menenteng termos di pinggir lapangan. Hm, sampai sekarang, aku tak pernah tahu, siapa namanya yang sebenarnya….
Setahuku, sejak dulu, sejak aku mengenalnya, semua orang sudah memanggilnya Ateng. Karena tubuhnya yang boncel mengingatkan kami pad apelawak yang cukup populer pada masa itu. (*)
Jokokaryan, Yogyakarta, Juni-Juli 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 16 Agustus 2015