Ayah

Karya . Dikliping tanggal 5 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
BAHKAN sang Iblis pun tak dapat melepaskan anaknya dari cengkeraman nasib.

“Tapi ia bisa membawakanmu sebotol anggur, bukan?” begitu kata Ayahku di telepon. “Jadi bagaimana? Sore ini kau ada di rumah, ya?”
Demi meyakinkan ia bahwa aku menyetujui tawarannya maka kukatakan,”Ya.”
Sore itu hujan cukup deras, nyaris aku tak mendengar ketukan di pintu. Seperti apa dia sekarang? Sudah sepuluh tahun kami tak bertegur sapa. Mau bagaimana lagi? Perselisihan itu demikian hebatnya. Aku mengikuti cintaku dan Ayah tak setuju. Ternyata begitulah: sebagai makhluk dengan banyak dimensi, Ayah tahu banyak tentang rahasia semesta. Termasuk umur perkawinanku dan kematian bayiku. Dan ia tak bisa mengatakannya kepada anaknya yang tetap saja menjalani pilihannya. Dan ia terus bertengkar dengan dirinya demi masalah sepele: ia tak mengijinkan perkawinanku. 
“Aku sudah hidup sebelum waktu mengada,” begitu keluhnya, “tapi masih harus menghadapi persoalan ini.” Lalu ia berdecak, “Sudahlah.”
Dan kini ia berdiri di depan pintuku. Air menetes-netes dari rambut dan jaketnya, dan sebagian celananya tampak basah. Jarak dari tempat ia memarkir mobil ke rumahku (aku tak punya garasi) cukup membuatnya kuyup dan Ayah tidak pernah bergegas. Ia abadi. Untuk apa ia bergegas?
Sebenarnya kami tak akan pernah tahu lagi alasan mengapa kami dulu bertengkar; setidaknya aku merasa tak seharusnya aku bertindak seperti itu. Ayahku kembali ke wujud aslinya dalam kehidupan sehari-hari, kalau ia tidak sedang bertugas, ia lebih suka tenggelam dalam koran-koran dan buku-buku. Ia sungguh menyukai tulisan.
Kalau sudah begitu, seluruh semesta seperti harus menunggu perhatian darinya. Ia tak pernah memperhatikan apa pun ketika tenggelam dalam tulisan di koran-koran atau di buku-buku. Di koran-koran, misalnya, tentulah ia tidak mencari berita-berita obituari; seperti halnya orang lain, ia menyukai berita utama, hiburan, dan iklan.
Ada kebiasaan Ayah yang kusuka tiap kali ia selesai membaca buku, terutama buku sejarah. Ia menyorongkan bibir bawahnya ke depan, mencibir, lalu menggumam. “Hmmm. Tidak seperti itu yang kutahu, tapi biarlah.”
Ia sendiri tak pernah mau banyak bicara soal pekerjaannya. “Urusan goda-menggoda itu hanya sebagian kecil dari pekerjaanku,” begitu ia pernah berkata di sebuah warung pecel lele, jauh sebelum pertengkaran tentang perkawinanku itu. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tisu gulung yang sebenarnya untuk mengusap pantat.
“Kalau kau ingin membandingkan sesuatu, maka kau akan menggunakan tanda sebanding,” ia berkata sambil membuat tanda sebanding “~” imajiner di udara dengan telunjuknya.
“Supaya tanda sebanding bisa kau ganti dengan tanda sama dengan, maka kau memerlukan konstanta di depan bilangan yang berada di ruas sebelah kanan tanda sama dengan itu.”
Ia mengambil bolpoin dan kertas dari saku bajuya. “Ini,” ia berkata sambil menuliskan sesuatu di kertas tu.
Dan dua persamaan muncul di kertas itu:
A ~ B

A = k.B (dengan k adalah ‘konstanta’)

Baca juga:  KTP
Aku mengangkat bahu. Matematika selalu membuatku pusing.

Ayah lalu menghentikan kuliahnya.
“Nah, kurang lebih akulah yang harus mencari suatu persamaan yang benar, berikut konstantanya, dan juga berbagai bilangan-bilangan di ruas kiri dan ruas kanan itu. Jadi, kita memang perlu tanda sama dengan itu. Kita perlu persamaan untuk mencari kesetimbangan. Semesta ini selalu mencari kesetimbangan. Aku pesan soto ayam juga,” katanya. Kurinci bahwa 44 dari 49 kata-katanya untukku. Sisanya untuk si abang penjual soto dan pecel lele.
Dan kini ia berdiri di depanku. Matanya sekilas berkilat merah seperti batu rubi, tapi kemudian kembali menjadi mata manusia biasa. Di tangannya ia menenteng kantong kertas berisi sebotol anggur.
Ia mengangkat kantung kertas itu dan menyeringai bahagia 
“Lusi,” katanya, lirih dan hangat. Ini terasa seperti kalau engkau meminum segelas coklat panas sesudah hujan-hujannya. 
Ia memelukku erat. Dan aku pun sebaliknya. Sepuluh tahun. Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain, itu pun kalau kematianku wajar (dan sialan, Ayah tak mau memberitahuku perihal itu); aku akan mati karena usia tua, karena organ-organ tubuhku gagal berfungsi. Sepuluh tahun bagiku adalah waktu yang lama, tapi juga sebentar rasanya. Kadang lebih sebentar lagi jika aku berada bersama suamiku yang kini entah di mana.
Sedangkan bagi Ayahku sepuluh tahun atau seribu tahun sudah tak berarti lagi. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup abadi. “Percayalah, kau tak akan mau hidup abadi,” begitu Ayahku kerap berkata padaku.
Soal keabadian bisa dibahas nanti. Kini tentu saja aku senang bahwa Ayah datang. Tiba-tiba kusadari bahwa aku merindukannya dan ingin menceritakannya kepadanya banyak hal.
Tapi pertama-tama tentu saja yang kudengar adalah suara terbahak-bahak Ayah ketika ia masuk dan melihat tanda pentagram yang kubuat dengan kapur. Ada lilin-lilin besar di tiap sudut pentagram itu.
“Kau benar-benar rindu ya,” katanya setelah tawanya reda.
Aku mengangguk. Ya, aku rindu, dan egoku sudah menghalang-halangi diriku untuk memanggilnya. Dan akhirnya, ketika seluruh duniaku seperti runtuh habis-habisan tadi malam, maka aku memanggil Ayah. Apa yang akan kuceritakan padanya? Ayah pernah menghadiahi aku sebuah buku catatan harian. 
“Karena engkau harus menuliskannya sendiri,” begitu katanya. “Apa pun itu. Aku bisa menuliskannya sendiri untukmu. Karena kau tak bisa mengingat setiap kejadian sebagaimana kau mengalaminya. Sungguh beruntung Maria: ada yang menuliskan pengalamannya dan pengalaman anaknya. Engkau, anakku, tak akan pernah seperti itu. Cobalah kau tulis sedikit, aku ingin lihat.”
Dan tadi malam buku yang sudah terselip di antara buku-buku lain itu aku cari-cari. Aku obrak-abrik seluruh rumahku. Aku jungkirbalikkan semua laci dan lemari. Aku tak pernah membuang buku itu. Semua pemberiannya tak pernah kubuang, juga setelah kami bertengkar hebat tentang perkawinanku.
Dan tentu saja kemudian kutemukan buku harian itu. Ia sudah kisut dan lusuh. Isi pertama buku itu ternyata sebuah gambar. Kemudian aku seperti bisa mengingat semuanya.
Aku ingat ketika pertama kali membuka buku pemberian Ayah itu.
“Mana garis-garisnya? Di mana aku menulis?” begitu tanyaku bingung karena buku itu seperti buku gambar.
“Kau bikin saja garis-garis sendiri kalau kau mau, di mana saja. Kau harus membuat garismu sendiri,” kata Ayah.
Maka seperti yang dikerjakan anak-anak kecil lainnya, yang kubuat pertama kali adalah figur mirip ranting. Satu kepala bulat, satu garis lurus tegak di bawahnya, yang kemudian bercabang. Seperti huruf Y terbalik. Kemudian, sepasang garis yang kupikir adalah tangan. Di bagian wajah, aku membuat dua titik, satu garis tegak dan satu busur. Aku kemudian sadar bahwa aku harus menuliskan—atau menggambarkan—satu mata lagi di dahi Ayah. Mata ketiga. Ia selalu lupa menutup mata ketiganya. Aku tertawa menunjuk mata ketiga itu. Dan Ayah segera menutup mata ketiganya agar orang-orang lain tidak gemetar melihatnya.
Lalu supaya lebih meyakinkan lagi, di bawahnya kutulis kata “Ayah”. Sesudah itu kosong, kosong belaka; aku tak pernah mengisi buku harian itu lagi. Selalu saja ada alasan. Tugas-tugas sekolah, tugas-tugas kuliah (menggambar, lalu melukis di studio); lalu pergantian dari tulisan tangan ke komputer; lalu berkas-berkas formulir kartu-kartu identitas, paspor, dan pengajuan pinjaman ini-itu yang harus kuisi; lalu berbagai lukisan dan gambar yang kubuat besar-besar baik di kanvas atau di kertas; lalu status tidak jelas di Facebook yang kububuhkan seringkali—semua itu membuatku tak pernah lagi menengok buku harian itu.
Dan kini, sekian puluh tahun kemudian, apa yang harus kutuliskan di situ? Aku tertawa sendiri. Gila, sulit amat menuliskan sesuatu. Kumulai saja dengan “Ayah, aku rindu.” Kemudian aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Tak pernah aku menangis di tempat psikolog yang kukunjungi setelah perkawinanku berakhir. Atau ketika bayiku mati saat dilahirkan. Aku mendatangi psikolog seolah aku mendatangi bar: jika di bar aku mabuk dan menceracau oleh minuman keras, maka kata-kata psikolog itu juga berlaku sebagai minuman keras bagiku. Dengan itu, tak ada hasil yang bisa kucapai, tak ada ketenangan yang bisa kuraih. Aku hanya ingin terus mabuk, terus bercerita. “Barangkali kau kurang sabar dan kurang berusaha,” seorang teman berkata. Sampai saat ini aku tak pernah bertemu dengannya lagi; nomor teleponnya aku hapus, dan pertemanan di Facebook aku buang. Bahkan aku ingin membunuhnya. 
Aku tak mengenal ibuku. Kata Ayah ia meninggal seketika melahirkanku. “Tapi kau pasti baik-baik saja,” begitu selalu kata Ayah.
Tentu ia berkata sembarangan saja, sebab hidupku tidak baik-baik saja. Hidupku adalah serombongan kisah sedih yang diperciki kisah-kisah bahagia, dan tentu saja percikan-percikan itu segera menguap. Pernah aku ingin membunuh diri. 
Bahkan sang Iblis pun tak dapat melepaskan anaknya dari cengkeraman nasib.
Lalu kupanggil Ayah dengan gambar pentagram dan mantra kuno. Menurut Ayah memang ada mantra terbaru, tapi ia lebih suka yang kuno.
Dan di antara kain kanvas yang bergulung-gulung, kertas-kertas yang berceceran, batang-batang arang dan pastel, tube-tube cat minyak, dan juga barang-barang yang masih berantakan yang kukeluarkan dari laci dan dari lemari ketika mencari buku catatan itu, Ayah dan aku terduduk. Ia menuang anggur untukku dan untuknya. Hujan turun deras di luar. “Seperti di awal banjir besar,” kata Ayah. Aku mengambil selembar kertas dan mencelupkan segumpal kapal ke dalam anggurku. Aku ingin menggambar wajah Ayah, sementara ia bercerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. “Aku ingin menuliskannya,” kataku.
Ayah mengangguk. Lalu ia mengulangi lagi ceritanya. “Hujan di malam itu begitu deras, dan air naik begitu cepat….”
Dinar Rahayu tinggal di Bandung. Buku-bukunya adalah Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (novel, 2002) dan Lacrimosa (kumpulan cerita pendek, 2009).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dinar Rahayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 4 Januari 2015