Badai Laut Malam Bagi Sahi Hisa

Karya . Dikliping tanggal 19 November 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
(1)

Sejak itu suaminya mati di tangan para bajing. Sahi Hisa berani datang ke rumah Sahria seorang diri ketika perempuan itu tengah dalam perjalanan pulang dari laut.
“Tiram-tiram cinta,” ucap Sahi Hisa sembari tertawa kecil. “Boleh kubeli tiramnya?”
“Untuk dimakan,” jawab Sahria.
“Sendiri?”
“Sendiri,” jawab Sahria lagi.
“Kau kesepian di sini, Sahria. Apa arti makan enak kalau sendirian.” Sahi Hisa lalu duduk di samping Sahria. Janggutnya yang pendek diusap-usap. 
Sahria bergeser sedikit. Menjauh dari tubuh Sahi Hisa.

“Ah kau bagai anak remaja,” kata Sahi Hisa.

“Bukankah sebaliknya?” 
Sahi Hisa tertawa.
“Aku selalu menjadi remaja ketika di dekatmu, Sahria.”
“Kau sungguh bajingan kepadaku,” kata Sahria.
“Hei, lebih bajingan mana: aku apa suamimu? Kau perempuan Sahria. Tak pantas dipanggang di tengah laut. Menafkahi lelaki yang kamu anggap suamimu itu? Lelaki itu hanya bisa ceramah di gardu-gardu. Protes kalau ada orang kerja.”
Sahria nyaris tidak percaya Sahi Hisa mengucapkan kata itu. Suaminya demikian adanya. Lelaki yang dijodohkan dengan dirinya oleh almarhum gurunya memang tak pandai pegang perabot kasar. Menikah di usia 25 tahun hingga batas umur suaminya tak ada perubahan apapun pada kondisi rumah atau pada badan dirinya. 
“Kau pernah hamil kan?” tanya Sahi Hisa.
“Bukan urusanmu.”
“Hei. Kau tahu, cabang bayimu mati karena lelaki itu tak mau bekerja keras. Lalu kau menjadi korban. Bayimu jatuh dan hancur,” kata Sahi Hisa.
“Kau kurang ajar kepadaku!”
“Lebih kurang ajar siapa: aku apa suamimu? Lelaki itu menyembunyikan rahasia darimu. Malam hari, sepulang dari masjid lelaki itu masuk ke rumah anak gadis Santoso. Kurang ajar sekali kan dia berpura-pura jadi dukun beranak.”
Sahi Hisa berdiri. Lalu duduk kembali.
“Aku tidak habis pikir, Sahria.”
(2)

Ketika umurku empat tahun, Sahria berumur empat puluh tiga tahun dengan tiada satupun keluarga yang bertahan hidup dengannya. Saat itu suaminya telah meninggal setahun yang lampau dibunuh oleh sekelompok bajing tengkulak ikan. Sahria hidup sendirian. Kalau laut sedang surut ia akan pergi mencari tiram di lekat batu-batu tajam.
Baskom putih sudah setengah isi. Tangannya terus menghantam batu yang berisi tiram. Sahria hidup dengan sepenggal kata: lawan. Apapun. Kematian suaminya juga butuh dilawan. Kau tahu Teman, suami Sahria tak salah apa-apa. Ia seorang moralis di kampung. Namun tidak sampai mendirikan sebuah langgar perguruan karena diancam sekelompok bajing
(3)

Sekelompok bajing itu lahir di suatu sore yang murung saat orang-orang mengerumuni rumah bertingkat Sahi Hisa. Orang-orang meminta bayaran atas ikan-ikan milik mereka karena belum dibayar. Kewalahan, campur takut kalau-kalau para nelayan itu melemparkan batu ke rumahnya. Sahi Hisa akhirnya menelpon mantan napi di kampung itu untuk mengusir massa di depan rumahnya. Seperti itulah kelahiran sekelompok bajing milik Sahi Hisa seorang tengkulak yang licik. Orang-orang kabur ketika salah satu dari mereka diamuk dengan celurit.
Sahria saat kejadian itu tengah ada di laut sedang mengambil tiram. Setiap biji tiram yang didapatkan selalu terbayang wajah buruk Sahi Hisa. Kalau dijual tiram-tiram itu akan dihargai mahal oleh Sahi Hisa. Tidak dengan penjual yang lain. Sahria sedang dalam target incaran Sahi Hisa untuk dinikahi.
(4)
Aku yang waktu itu lugu tahu-tahu punya inisiatif untuk mengintai rumah Sahria. Rumahnya dekat dengan laut. Mudah saja aku tiba di sana. Aku mendengar sebuah suara Sahi Hisa. Cakap-cakap itu terjadi di dalam rumah Sahria.
“Kau masih belum siap menerima aku, Sahria?” kata Sahi Hisa. Sahria lalu menjawab, “Aku siap-siap saja. Tapi tidak akan pernah kalau denganmu.”
Sahi Hisa tertawa. Tawa yang ditahan. Suasana sepi di sekitar rumah Sahria. Aku tidak bisa menaksir apa yang terjadi di sana.
“Rupanya kau lebih memilih untuk melarat ya?”
Tak ada suara setelah itu. Aku menduga Sahi Hisa telah melakukan sesuatu kepada Sahria. Tapi, kata-kata itu sebuah ancaman. Tidak mungkin.
(5)
Benar rupanya. Sahi Hisa seorang lelaki tua yang licik dan setia menepati janji. Tiram-tiram Sahria tak dibelinya. Sahria pada suatu malam sakit perut karena lapar menjelma kuda pacu dalam perutnya. Beras dalam kantong tinggal beberapa butir. Tak mungkin ia bertahan sampai esok pagi. Wajah Sahi Hisa terbayang bersamaan dengan panasnya perut yang dirasakannya.
“Cinta dan kekuasaan seringkali datang bersamaan. Tanpa diduga,” rintih Sahria.
“Aku akan ke kamar mandi,” ujarnya. “Masih adakah air di bak itu?” lanjutnya. Lebih tepatnya ia bertanya pada kesepian. Dan malam itu, Sahria tidak bisa berharap Sahi Hisa datang ke rumahnya karena dia terlanjur menyakiti perasaannya.
“Lelaki ternyata mudah meyerah.”
(6)

Sahria samar-samar ingat setelah tahu dirinya tidak berada di dalam rumahnya yang tua.
“Kau kutemukan tidak berdaya di depan kamar mandi.”
Sahria menoleh. Sahi Hisa didekatnya.
“Kau lemas sekali. Kau belum makan kan?”
Sahria ingin bangkit. Ia tidak bisa melakukan itu. Suaranya pun terasa tiada. Akhirnya ia mau menerima dua teguk air setelah Sahi Hisa membantunya. Saat Sahi Hisa mendekatkan satu sendok makanan ke mulut Sahria, ia mendorongnya.
“Kau egois. Aku tidak mau masuk penjara karena kau mati di rumahku.”
Apa boleh buat. Sahi Hisa benar. Kata-katanya serupa peluru pada senapan yang ditodongkan. Sahria makan dengan lahap. Ia malu tapi sebenarnya lapar terlebih dahulu dirasakannya. Sepiring makanan habis. Ia merasa Sahi Hisa telah membantu dirinya dari kematian yang panjang. 
(7)


Teman, aku salah menilai Sahi Hisa. Kukira lelaki tua itu sejahat yang kubayangkan. Sekejam ketika pisau itu disayatkan ke leher Hosaidi, suami Sahria oleh para bajing. Tidak. Aku salah menilai Sahi Hisa.
Apapun yang terjadi, tidak dengan tangan Sahi Hisa suami Sahria nyawanya melayang. Hanya saja para bajing itu yang buru-buru menusukkan pisaunya. Sahi Hisa tidak mau itu terjadi. Sahi Hisa mau suami Sahria cukup diberi peringatan. Itu saja.
Nasi telah jadi bubur. Dan bubur tak habis-habis dalam hidup Sahria. Seperti usaha Sahi Hisa untuk mendapatkan kesediaannya menjadi istri untuk kali terakhirnya.
(8)

“Aku sudah berjanji. Ini kali terakhir aku serius dengan perempuan,” kata Sahi Hisa di atas balkon rumahnya menikmati suasana senja hari. Matahari beberapa menit lagi akan tenggelam. Dan saat itu mereka dengan serius menyambut malam.
“Tak usah begitu. Tak ada gunanya berjanji padaku,” kata Sahria.
Sayup-sayup angin. Sahi Hisa telah menyebar kabar tentang pernikahannya dengan Sahria. Bau asin laut. Tiram-tiram di laut bersemayam. Sahria dan Sahi Hisa menikah malam itu. Pestanya tidak terlalu besar. Tapi tamu-tamu Sahi Hisa datang berjubelan. 
Lalu terdengar koar-koar badai di tengah laut. Orang-orang hampir histeris mendengar suara itu. Kemudian Sahi Hisa menenangkan mereka.
“Badai akan tiba. Ia gelisah karena tidak bisa mendapatkan Sahria.”
(9)


Istri-istri Sahi Hisa merestui hubungan suaminya dengan Sahria. Sahi Hisa kini berkepala enam. Malam hari yang dingin saat Sahi Hisa bercinta dengan Sahria, Hosaidi bangkit dari dalam tanah dibantu seberkas cahaya yang menerangi jalan kebangkitannya. Angin beliung begitu kencang saat Hosaidi benar-benar tengah berdiri di atas kuburan. Wajahnya bercahaya. Lebih tepatnya, wajahnya itu sebenarnya berwarna putih pucat dengan bola mata yang kelam. Bibirnya terkatup rapat dan berwarna putih. Ilalang-ilalang tertiup dan dilipat. Orang-orang yang jauh dari pemakaman terkaget ditandai dengan meregangnya bulu kuduk mereka. Orang-orang keluar dari rumahnya masing-masing. Salah satu dari mereka berkata, “kehidupan baru saja dimulai.”

Baca juga:  Jalan Suriah
“Bukan, pertanda dunia ini akan berakhir!”
Yogyakarta, 2 November 2014
Mawaidi D. Mas kelahiran Sumenep 14 Oktober 1993. 
Pernah menjadi santri di Pondok  Annuqayah Guluk-Guluk , Sumenep, Madura

Catatan:
Terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kami haturkan kepada Mawaidi D. Mas yang telah mengirimkan  karyanya, untuk selanjutnya kami dokumentasikan kembali pada situs klipingsastra ini. Tabik

Rujukan
[1] Disalin dari karya Mawaidi D. Mas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 16 November 2014