Bagian Dari Kinanti – Pandansari – Persinggahan – Di Pendapa Datuk Bahni

Karya . Dikliping tanggal 6 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Bagian Dari Kinanti

Tiba di hutan Bagor tiga pengembara
Menunaikan salat Magrib hingga Isya

Gempa mengguncang ketika penguasa
Hutan datang

Demikianlah, ketiganya terpesona melihat
Perempuan sangat cantiknya duduk menunduk

Memohon dirawat pada sangat tamu: Ratu
Trenggana Wulan, demit penguasa hutan
Tak ada angin tak ada hujan
Pengetahuan tentang bintang-bintang
Teruraikan di bawah bintang-bintang
“Keringkan darahnya, gerus dengan bawang
Merah beserta adas lalu rendam dalam
Air di wadah mangkok putih
Itu obat mata.”
Polo pan kinarya pupuh
Ing netra pan datan keri
Ing lalamur sawabira
Jajantungipun binukti
Sawabira saron gampang
Sabarang ingkang kinapti

Nun, Nabi Sulaiman menguraikan kasiat
Burung pelatuk bawang, Ratu Trenggana
Wulan menjabarkan
Kepala untuk obat
Mata untuk penglihatan
Agar jelas tak akbur
Makanlah jantungnya, khasiat
Memudahkan sembarang yang
Dikerjakan
Kerik jengkerik, suara katup bunga
Nangka mendengar ujaran putri Prabu
Brawijaya itu tentang burung pelatuk
Gagak, dan prenjak
Menjelang Subuh ratu lenyap
Meninggalkan aroma wangi di sekitar
Telaga Sugihwaras yang tak berwaris
Magelang, 2015

Pandansari

Bende ditabuh menjelang Subuh
Seusai prajurit yang putus asa
Kalah perang dibekali emas, pakaian
Warna-warni, dan makanan yang resepnya
Diramu Ratu Pandansari
Di atas tandu istri Pangeran Pekik
Memekikkan perang kedua dengan
Semangat bertalu-talu. Kaki-kaki pasukan
Berderak menggetarkan tanah Giri
“Setelah emas perhiasan kalian sematkan
Pada istri, jangan luput menjamin tungku
Mengepul selalu. Kini keris, tameng, dan
Tombak siap menggempur prajurit Endrasena
Mualaf Cina yang tempo hari menggetarkan
Nyali kalian yang menggugurkan nyawa
Di antara kita!”
Berdiri di depan pasukan, tangan kanan
Menggenggam sepucuk pistol yang pada
Waktunya menembus telapak tangan kanan
Kiri dan kaki Senopasti Giri bermata sipit
Yang giris dan gesit
Magelang, 2015

Persinggahan

Rubiyah telah menghidangkan nasi pulen
Sebakul, dendeng daging rusa, bayam, ati ayam
Gudangan, irisan timun. Ada pula siwalan
Kelapa muda, air gula nira
Di langgar, Ki Lurah menyilakan tamu
Mencecap hidangan menyantap masakan istri
“Paman, saya santri. Mengembara mencari dua
Adik terkasih yang hilang. Menurut saja kaki
Dilangkahkah.”
Pukul tujuh langit di Pakel ungu
“Setiap kita, Kisanak, adalah pencari
Adakah telah menemu sesuatu telah sampai
Di mana kaki berpijak?
Hidup sekedar mampir menenggak air
Menikmati hidangan di persinggahan
Di depan rumah pokok pakel menjulang
Di samping kiri-kanan tumbuh sepasang durian
Jika berbuah diantar ke Mataram
Tiga ekor singa berjaga di pekarangan
Magelang, 2015

Di Pendapa Datuk Bahni

Datuk Bahni dari Merapi
Mengusap sumber api dengan
Telapak kaki. Padam
Kelam lalu menyala kembali
Api di tengah sawah
Yang dijaga beringin kembar
Tiga tamunya terpana
Di Mataram, pusat kekuasaan Jawa, pekerjaan
Hajatan, dan kegiatan dihitung dengan pilihan
Penanggalan
Inggih bagus dhasar nyata
Sanadyan ing dhusun ngriki
Saben ayun darbe karya
Sami tatanya mring sami
Wulan ingkang prayoga
Kangge andhaupaken sunu
Piridan saking Arab
Miwah etangipun Jawi
Pun kinumpul supadi manggih widada*

“Tidak baik menggelar hajatan
Di bulan Muharam dan Ramadan
Jangan bersenggama berdiri
Jangan bersenggama fajar hari
Jangan bersenggama ditimpa matahari
Jangan bersenggama sambil ngerumpi
Bersenggamalah di malam Selasa malam Jumat
Dengan menyebut Allah Yang Maharahmat.”
Panjang cerita penanggalan
Panjang cerita pantangan
Panjang cerita tentang langit Mataram
Di pendapa telah sedia nasi ketan
Panggang ayam, dimasak santan kanil
Diwadahi daun panjang ilang
Sambal windu dari kemiri diolah
Dalam bambu petung. Tersaji pula gula
Siwalan, wedang kembang sridenta
Pengetahuan ditebar
Dusun Gubug di Merapi bertabur bintang
Magelang, 2015

*Sinom, dari Serat Centhini

Hasta Indriyana, lahir di Gunung Kidul, 31 Januari 1977. Buku-buku puisinya adalah Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003), dan Piknik yang Menyenangkan (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran  Tempo” edisi akhir pekan, 5-6 Maret 2016