Baluembidi

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Terjemahan
KETIKA BAYANGAN MENINGGI di tanah, kami masih berjalan sambil menendang-nendang kerikil. Dek Gam merangkul sepotong bambu kering sebesar ibu jari. Celana pendeknya melorot ke bawah, membuat belahan pantatnya kelihatan. Matanya nyaris tak berkedip.
“Jangan tendang lagi, Banta. Kau membuat mereka ketakutan. Mereka ada di sini.” Dek Gam berjongkok dan menggeser sebuah batu sebesar kepala bayi. Seekor lipan hitam melarikan diri ke sela-sela bebatuan.
Ada banyak potongan kayu kering berserakan di tepi Sungai Arakundo. Dek Gam mengambil salah satunya dan mulai menggali. Setiap ia menghantamkan kayu ke tanah, ingus kental mengalir dari hidungnya yang pesek. Dek Gam putus sekolah, tidak tamat SD. Ia tiga tahun lebih tua dariku yang kelas empat SD. Tetapi kata ibuku, kami terlihat sebaya. Ia teman yang selalu mengajakku bermain ke sawah atau ke sini.  
Sungai masih terlihat meluap. Batu besar tempat orang biasanya duduk memancing sudah tidak kelihatan. Dua batang pohon hanyut dan tersangkut pada bengkolan sungai. Aku melihat seekor kerbau mencoba menyeberang ke tepi.
Aku ingin pulang memberi tahu Macut bahwa kerbaunya hendak dibawa arus. Tapi kata Dek Gam kami sudah dekat. Dek Gam bilang ikan gabus di sana besar-besar. Kalau kami pulang hanya untuk itu, nanti waktu kembali matahari sudah terbenam dan kami tidak bisa keluar lagi. Kolonel telah mengumumkan jam malam. Pun kata Dek Gam, walau terseret-seret, kerbau tidak akan tenggelam. Kerbau bisa berenang.
Dulu aku dan teman-teman juga senang berenang. Aku belajar berenang dari Dek Gam. Di kampungku, kalau kau tidak bisa berenang, kau akan dikatai bencong. Dek Gam juga mengajariku cara menyelam. Sesekali kami bertanding siapa yang paling lama bisa menahan napas dalam air. Tapi itu kami lakukan diam-diam.
Suatu hari ibuku tahu gara-gara ia melihat aku pulang dengan mata memerah. Ibu lalu bercerita padaku, di sungai itu ada jin jahat, Baluembidi namanya. Hampir tiap tahun jin itu mengisap darah manusia. Sepuluh tahun yang lalu, ada anak laki-laki tenggelam. Lima hari kemudian, mayatnya yang pucat dan kembung mengapung seperti batang pisang.
“Kau tahu Baluembidi, Dek Gam?”
Dek Gam menggeleng dan terus menggali. Kuku jemarinya menghitam.
“Kata ibuku, di bawah jembatan sana banyak Baluembidi.” Aku memicing mata dan menunjuk sebuah jembatan besi tua. “Kadang-kadang ia menyerupai tikar. Ketika manusia merabanya, ia akan menggulung dan membenamkan tubuh kita ke dalam air. Waktu darah kita sudah habis dihisapnya, baru tubuh kita dilepas.”
Dek Gam memicing mata, “Tapi aku sering ke sana. Tidak ada Baluembidi.” Ia mengelap ingusnya. Bulir-bulir keringat keluar di tengkuknya.
Dari kejauhan tampak Bukit Lhee Reutôh berundak-undak seperti buah dada perempuan. Ibu bilang, di bukit itu hantu-hantu beranak-pinak. Mereka hinggap di pohon-pohon tua yang besar. Hantu itu kemudian menguasai setiap jengkal sungai yang mengalir. Ia bersembunyi di balik air yang tenang. Tangan-tangannya menjulur panjang seperti selendang raksasa.
 ***
Ilustrasi oleh Idrus bin Harun | InteerSastra
SEMALAM HUJAN TURUN deras sekali. Berbantalkan lengan, aku berbaring di kamar sambil memperhatikan tetes air hujan jatuh melalui atap yang bocor. Aku telah menaruh kaleng cat bekas dan mendengar bunyi air jatuh seperti suara detak jarum jam.
Ketika dingin mulai mencucuk tulang, aku menarik selimut. Dan aku mulai bermimpi lagi tentang Kolonel. Dalam mimpiku, Kolonel tidak memakai baju loreng. Rambutnya kelihatan putih. Ia berdiri di pintu kamar ibuku. Kolonel merayu ibuku dan menarik Ibu ke dalam pelukannya. “Ayolah…” Tangannya yang berbulu menjalar membuka kancing baju Ibu. Aku berdiri dengan kedua lutut bergetar. Aku menutup mata dengan kedua tangan. Sambil terisak, aku mendengar Ibu menjerit.
Jeritan itu datang bersamaan dengan gelegar halilintar yang membuatku terjaga. Aku tidak dapat melihat apa-apa. Semuanya gelap seperti tinta. Aku masih mendengar suara hujan yang mulai sedikit reda.
Lalu di sela-sela itu telingaku menangkap suara aneh lagi. Aku mendengar suara orang-orang berteriak panjang. Lambat laun teriakan itu halus dan memudar, menghilang, dan tiba-tiba muncul lagi.
Beberapa malam sebelumnya aku juga mendengar itu. Aku mendengar suara orang menangis, mirip suara perempuan. Di lain waktu ia merintih seperti suara anak-anak seusiaku yang sedang ditindih batu.
Aku tak sanggup mendengar, aku menutup telinga rapat-rapat dan meringkuk seperti angka lima. Dan ketika aku menutup telinga, aku mendengar suara lain lagi. Ayah pernah bilang, kalau kaututup telinga rapat-rapat, kau akan mendengar suara bara api neraka. Aku takut sekali. Tapi aku menutup telinga. Seekor tikus menyelinap masuk ke dalam selimutku dan bersembunyi di sana.
Aku bergeming, tidak tahu apa yang terjadi dengan telingaku. Suara-suara itu membuat dadaku sesak sekali. Di balik bantal aku mulai sesenggukan.
Ketika pagi tiba, aku menemui Ibu di dapur. sambil memicing mata saat meniup tungku, Ibu berkata padaku, “Tidak ada suara apa-apa, Banta. Ibu tidak mendengar suara apa-apa. Kau diganggu Baluembidi itu. Baluembidi akan menyelinap dan mengganggu anak-anak yang nakal.”
Ibu tak mendengar suara itu. Tak ada yang mendengar suara itu kecuali aku sendiri. Tiba-tiba aku merasa seperti sedang hidup sendirian. Lalu agar tidak teringat pada suara-suara itu lagi, aku meninggalkan Ibu. Di luar pengetahuannya aku tidak pergi ke sekolah. Aku berlari keluar menuju rumah Dek Gam.
***
MAGRIB BELUM MENJELANG. “Lihat!” Dek Gam menaruh seekor cacing sebesar kelingking di atas telapak tangannya. Cacing itu menggeliat seperti ekor kucing. Dek Gam bangkit mengambil sehelai daun keladi, menaruh segenggam tanah, dan meletakkan cacing-cacing itu ke dalamnya.
“Pegang ini.” Dek Gam menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia seperti tak mendengar apa yang kukatakan tentang Baluembidi. Ia mengambil seekor cacing dan memotongnya dengan kukunya yang hitam. Dek Gam meludah beberapa kali pada mata kail. Tampak awan seperti kapas bergerak pelan. Seekor elang berputar-putar dan melengking.
“Ikan di sana besar-besar. Kemarin aku dapat seekor ikan sebesar paha ayahku.”
Aku mengikuti Dek Gam. Ia meninggalkan jejak kakinya yang kurus di belakang. Dek Gam tidak pernah memakai sandal.
“Kalau Baluembidi ada, kenapa ia tak memakan ikan-ikan itu?” Dek Gam membuang ingus yang meleleh pada hidungnya.
“Mungkin ikan itu ikan jelmaan, Dek Gam.”
“Tidak. Aku sudah memakannya. Tidak ada apa-apa. Ikan itu besar-besar karena tak ada lagi orang yang pergi memancing, Banta.”
Ketika hampir sampai dekat jembatan besi tua itu, kami berhenti. Dekat sungai ada sebuah tembok bekas jembatan lama. Dek Gam menyuruhku memegang kail. Ia memanjat beton itu. Aku menyusul di belakangnya.
Kami duduk berdampingan. Angin berhembus menerpa rambut dan wajah kami. Air di sini tampak tenang. Dek Gam bersiul dan melempar kailnya. Jauh di seberang sungai tampak beberapa ekor bangau sedang minum.
“Dekat batu itu Kolonel hampir mati.”
“Ditarik Baluembidi?”
“Bukan.”
“Laki-laki bodoh itu tak bisa berenang.” Dek Gam cekikikan.
“Oh ya?”
“Sayang sekali ia tak jadi mati.”
Sejak Kolonel datang dua tahun silam, ayahku, ayah Dek Gam, dan hampir semua laki-laki tidak lagi pergi mengurus sawah. Mereka lari dan bersembunyi di hutan-hutan.
Aku tidak mengerti kenapa Kolonel harus memburu ayah-ayah kami seperti ayah-ayah kami memburu tikus-tikus di sawah. Ibu bilang, anak buah Kolonel telah mencatat hampir semua nama laki-laki di sini. Katanya laki-laki di kampung ini tidak patuh. Ibu bilang, kalau aku tidak patuh, mereka juga akan mencatat namaku.
Ketika pertama mendarat di sini, Kolonel dan anak buahnya berkeliling berjalan kaki. Kalau ada ayam jago atau burung beo di rumah-rumah orang kampung, mereka mengambil dan membawanya ke markas. Mereka lalu memberi nama baru untuk burung-burung itu dengan nama ayah-ayah kami.
Suatu sore, waktu Dek Gam pergi sendiri ke sungai ini, ia berpapasan dengan Kolonel. Sambil berkelakar dengan anak buahnya Kolonel bertanya, “Kau punya kakak, tidak? Cantik, tidak?” Begitu Dek Gam bercerita padaku. Di hari yang lain, kudengar bisik-bisik beberapa anak muda sebelum mereka menghilang dari kampung. Kata mereka, “Kolonel dan anak buahnya tak cuma mencari burung. Tapi ‘burung-burung’ mereka juga mencari gadis-gadis kampung.” Aku tidak mengerti apa maksud mereka.  
Aku melihat mega merah di ufuk. Matahari mulai condong dan hampir sejajar dengan   bukit. Bayangan Baluembidi masih belum pergi dari kepalaku. Tiap aku memejamkan mata kulihat Baluembidi dalam benakku sendiri. Ia bertubuh besar, berekor panjang, dan berwarna hijau. Gigi-giginya runcing seperti gigi ikan hiu, dan matanya yang merah dan besar menjorok keluar.
“Kalau ibarat ikan, Kolonel itu seperti ikan asin, tidak bisa berenang.” Dek Gam terkikik. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ketika hampir ke tengah sungai, ia berteriak, tolong… tolong….” Dek Gam meniru logat Kolonel yang aneh.
“Ssst. Jangan besar-besar suara. Mereka ada di pucuk sana,” kataku. Telinga mereka peka sekali dan membuat kami takut bahkan pada dinding rumah sendiri. Di atas sana, tak jauh dari jembatan, mereka membuat markas. Mereka menyuruh orang kampung meyusun goni berisi pasir. Kata mereka, pasir kebal serangan dan tidak tembus peluru. Dan di atasnya mereka menaruh senjata laras panjang dengan penopang mirip huruf V terbalik. Moncongnya mengarah ke jalan.
“Tak ada Baluembidi di sini, Banta. Kolonel yang tidak bisa berenang saja tak diambil oleh Baluembidi. Apalagi kita. Kau tak percaya?”
Belum sempat aku menjawab, kail Dek Gam ditarik oleh sesuatu. Benang kail semakin dekat. Aku merasa jantungku berdegup lebih cepat. Dek Gam mencoba menariknya, tetapi gagal. Napasku tertahan di tenggorokan sampai kemudian seekor ikan gabus sebesar betis orang dewasa menggantung di udara.
“Asyik!”
Aku melepasnya dari mata kail. Satu per satu ikan-ikan terperangkap. Aku memasukkannya ke dalam keranjang rotan.
Sebelum matahari terbenam, ikan-ikan sudah memenuhi keranjang. Ikan gabus terakhir yang kami dapat masih terkelepar-kelepar ingin kembali ke air. Bau amis menguar. Sudah lama aku tidak melihat ikan-ikan sebesar ini. Ketika aku sedang menghitung, Dek Gam turun perlahan dari atas beton dan menuju tepian sungai. Ia membuka baju dan turun ke air.
“Banta, lihat!”
“Jangan, Dek Gam!”
Dek Gam tertawa dan berlari menuruni bebatuan. Ia membuka celana dan terjun ke sungai. Kemudian ia mengangkat kepala dari dalam air dan berkata dengan terengah-engah, “Tidak ada Baluembidi, Banta. Ayolah….”
Dek Gam menyelam dan mengapung. Ia mengepak-ngepakkan air dengan kedua kakinya. Sudah lama aku tidak mandi di sungai. Hampir setengah jam Dek Gam berenang dan tidak terjadi apa-apa. Aku tak kuasa menahan dorongan untuk mandi. Dingin akhirnya merambat ke seluruh tubuhku. Dalam beberapa menit aku mendapati diriku sudah ada dalam air.
Dek Gam memercikkan air ke wajahku. Aku membalas memercik ke wajahnya. Kami tertawa cekikikan.
“Di sini Kolonel hampir tenggelam.”
Sekilas dalam pikiranku berkelibat cerita Ibu bahwa Baluembidi menarik kaki terlebih dulu kemudian membenamkan tubuh manusia dan baru melepasnya setelah dua atau tiga hari.
Tapi aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada yang menarik kakiku. Tidak ada Baluembidi. Ibu sengaja menakuti agar aku tidak main di sungai. Dek Gam mengajak melakukan hal yang sudah lama tidak kami lakukan: siapa yang paling lama bisa menahan napas dalam air. Sementara aku menyelam, Dek Gam memperhatikan sambil berhitung dalam hitungan detik. Di kedalaman, aku melihat sesuatu terbungkus.
“Ada sesuatu di bawah sini!”
“Ada apa?”
Dek Gam berenang ke arahku dan mulai menyelam. Aku melihat gelembung-gelembung udara bermunculan di atas permukaan air. Sekuat tenaga Dek Gam menarik sesuatu yang berat dan tergopoh-gopoh mendorongnya ke tepi.
Sebuah goni bertuliskan nama seseorang yang aku tidak tahu. Ketika membukanya, lutut Dek Gam tergetar. Bibirnya pucat seketika. Aku melihat sewujud lelaki telanjang dengan tangan dan kaki terikat tali. Aku melihat jasad itu sudah mengembung dengan dahi berlubang.
“Ada banyak goni lain di bawah sana!” Suara Dek Gam terdengar parau.
Dek Gam menengadah ke langit. Ia juga mendapati jasad ayahnya ada dalam salah satu goni-goni itu kemudian. Wajahnya memerah. Suaranya tersedak. Ia berusaha menahan air mata. Tapi kemudian ia tersedu-sedu sambil memukul-mukul pasir. Suara tangisannya itu berubah menjadi seperti rintihan panjang yang kudengar tiap tengah malam setelah sore itu.
Kerongkonganku seperti tercekik. Dadaku sesak sekali. Air mata tak sanggup kutahan. Aku teringat Ibu. Baluembidi ada ternyata. Baluembidi punya senjata. Baluembidi yang telah menembak ayah-ayah kami, memasukkan  mereka ke dalam goni, memberinya batu pemberat, dan menenggelamkan ayah-ayah kami ke dasar sungai ini.
Catatan:
*Baluembidi: menurut mitos di Aceh, jin jahat yang tinggal di air dan menghisap darah manusia
**Dek Gam: panggilan untuk anak laki-laki di Aceh
***Macut: bibi (adik ibu)

Putra Hidayatullah was born in Pidie, Aceh, 1988. He is active in Tikar Pandan Literary Community. He is one of the young curators of Jakarta Biennale 2015. His writings and curatorial works are focused on issues of political violence, he is particularly interested in human rights violation in Aceh from 1976 to 2005. In 2014 he held an exhibition, titled Puing Perang (Debris of War) in TIM arts complex, in collaboration with RuangRupa and Jakarta Arts Council. Since 2013 he has served as a curator for Cang Pilem film festival in Episentrum Ulee Kareeng.
Keterangan:
Cerpen ini ditulis oleh Putra Hidayatullah dan telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris oleh Linda Lingard, dengan editor Marjie Suanda, berjudul “Baluembidi”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putra Hidayatullah

[2] Pernah tersiar di situs intersastra.com pada 9 Januari 2016