Balung Kere (Bagian 2-Habis)

Karya . Dikliping tanggal 7 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

“SIAPA yang njerat?”

“Den Sukrojendra. Pakai dadung sapi, leher dijerat, ditarik sekuat tenaga dengan satu kaki disetumpukan di kuduknya—talinya disentakkan. ‘Kamu itu pengen dikawini anakku? Ndak bisa, ia akan kawin dengan Maksaiti, anak perempuan Silitijo, cucunya Kucurbasi,’ katanya. Mereka membungkus tubuhnya dengan seprai, mengangkat serta menyimpannya di kandang—Mbok Tenan disuruhnya mengganti seprai. Membungkus sarung bantal dan guling, jarit, dan kebaya, sandal dan tas. Memasukkannya ke dalam goni dan dibakar di kebun bersama daun kering, sisa kotoran, serta sampah kandang. Lepas tengah malam, aku, Glugu Kepruk, dan Blandar Setan menggotong mayatnya ke tegalan di kanan jembatan kereta Balung Kere, setelah bakda Isya Gondo Blesur diam-diam menggali lubang di pinggir Bengawan Jayanem.”

Tepat di mana pohon kiara diam-diam ditanam dan tumbuh perkasa—kata Mbok Tenan—, dan pohon itu sengaja ditanam Sukrojendra setelah mayat si wanita itu digali lagi—serta dipindahkan. Benarkah? Ke mana? Tak ada yang tahu. Meski ada si orang kampung yang bersumpah kalau penggalian itu memang ada—oleh orang-orang asing yang datang senja serta pulang pagi di Tinggrantul. Sekaligus memaksa orang kampung untuk percaya bahwa di tegalan itu mungkin pernah ada makam wanita misterius pacar Gegrasana, yang pelan diiyakan oleh semua orang kampung—yang nafkah hidupnya bergantung kemurahan Sukrojendra, pemilik sawah dan ladang tak terukur itu.

***

KARENA tak bisa melacaknya, semua orang kampung pun memilih cerita bahwa si wanita misterius itu dikuburkan di sana, masih terkubur di kanan jembatan kereta api Balung Kere. Dan kalau sisa tubuhnya telah dipindahkan, rohnya pasti kekal menghuni peritanda kubur yang berujud pohon kiara. Pohon wingit tumbuh subur, merimbun di tepi Bengawan Jayanem, menaungi pangkal palung dangkal seberang jembatan kereta, merentang sepanjang tujuh puluh tujuh meter—melampaui kolong jembatan mobil. Di mana ikan-ikan liar hidup bebas tanpa seorang pun yang berani menangkapnya. Karena semua orang kampung percaya bahwa ikan-ikan itu—bahkan ular itu—mainan si wanita yang entah bernama siapa dan entah berasal dari mana. Dianggap harus tetap anonim, tak bernama dan tak punya asal usul, tak peduli beberapa orang tahu dan berkeras ada mengabarkan bahwa si wanita itu bernama Ayulia atau Ayu Titing.

Kemisteriusannya tetap dipertahankan—dan tegalan sepanjang tujuh puluh meter dan selebar dua puluh lima meter itu jadi liar ditumbuhi semak, dan katanya menjadi sarang ular. Tak pernah diinjak serta didatangi orang. Meski beberapa tahun kemudian si beberapa orang yang senang melakukan olah batin kejawen menyempatkan diri buat bertapa di bawah pohon kiara itu dan bilang: Di sana tidak ada apa dan siapa. Kosong seperti pohon turi pinggir sawah atau pisang di ladang belakang rumah. Melompong. Tapi, tak ada orang kampung yang percaya. Dan karena si wanita misterius itu—yang disebut dengan panggilan Mbah Nganu yang tinggal di bawah kiara jembatan Balung Kere—tetap disebut bersama leluhur lain di tiap doa saat ritual slametan dan kenduren diselenggarakan. Bahkan tetap disebut ketika doa menjelang awal puasa—lalu khusus diselenggarakan acara pendak tahun kematiannya.

“Ya,” kata Katok Blentong—adik Blandar Setan—, “di sana memang tak ada apa-apa. Tapi, apakah itu penting bila kami percaya Mbah Nganu masih di sana.” Menurut beberapa orang yang bisa dipercaya, di lima malam setelah pemakaman itu, dari bakda Isya sampai tengah malam: Kuburan itu digali lagi. Lalu, mayat si wanita misterius itu dikeluarkan dan diam-diam dibawa pergi. Mula-mula digotong, lalu dinaikkan ke atas truk dan dibawa ke selatan, ke Ngiwa Purwa.

Dan, katanya, sejak saat itu diam-diam Sukrojendra menyelenggakan slametan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun, dua tahun, seribu hari, empat tahun, lima, enam, dan seterusnya—di tegal kanan jembatan kereta Balung Kere. Seperti menandaskan bahwa di sana—kemudian di bawah kiara itu—dikuburkan seorang wanita tanpa nama. Nun. Tapi, dibawa ke mana mayat wanita itu? Kenapa dipindah? Ada apa?

Tidak ada yang tahu. Sejak malam itu—seusai mengantarkan surat ke rumahnya kamituwa Wana Lambe, Gegrasana tak pernah ada terlihat lagi di Tinggrantul, di Desa Jakra, dan bahkan di Kecamatan Sarwa Doyong. Bahkan, di tujuh minggu kemudian, keluarga Sukrojendra pindah ke rumah warisan Nyi Mas Tibaniah di Ngiwa Purwa—nun di selatan, berbeda kabupaten. Alasannya ingin tetirah, meski ia dan istrinya tidak pernah sakit apa-apa.

Tapi, mereka tak pernah kembali ke Tinggrantul. Seluruh sawah dan ladang—kecuali tegal di kanan jembatan kereta Balung Kere, yang dipusokan itu—digarap penduduk dalam sistem paro. Dan kalau panen, semua bagiannya Sukrojendra disuruh disetor ke Babah A Hiuk, yang akan mengirimkan semua duit pembeliannya lewat bank. Tentu saja—setahun sekali—uang buat slametan bagi pendak tahun langsung diserahterimakan oleh Babah A Hiuk. Apa arti semua itu?

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Balung KereBERTAHUN kemudian, kata si beberapa orang: Di RSJ Jiwan Dawa, di Nglama, ada paviliun khusus yang dibangun secara pribadi di halaman belakang RSJ itu—lebih tepatnya di tanah yang dibeli khusus dan tepat ada di balik tembok halaman belakang. Daerah eksklusif yang dikeliling tembok dengan taman yang terawat—sehingga tidak sembarang orang leluasa mendatanginya, meski tidak dijaga sangat ketat. Katanya, itu bangunan tambahan untuk pasien privat khusus, yang keluarganya merupakan donatur yang menyubsidi separo biaya operasional setahun RSJ Jiwan Dawa. Pasien yang tak pernah terdaftar dan yang tidak pernah diketahui siapa dan dari mana. Pasien yang tak pernah dijenguk keluarga, pasien yang hanya terlongo sepanjang siang tapi selalu ada bercakap sendiri sepanjang malam—dan berkali-kali selalu mengerang orgasme.

Lima puluh tahun ia dirawat di sana. Sampai meninggal normal dan diam-diam dijemput keluarganya, dan lewat jalan belakang dibawa ke Ngiwa Purwa lewat Mbojang. Dan bertahun kemudian Raksesiani—mengutip apa yang dituturkan Mbok Junub, pembantu kepercayaan Nyi Mas Tibaniah—bilang itu Gegrasana. Dan ia dikuburkan diam-diam selepas tengah malam. Dikuburkan di sebuah makam tua yang tidak diberi nisan—tidak bertanda nama dan saat kematian atau sekadar kelahiran—, lahad tua yang diam-diam kembali digali. Lantas, Gegrasana yang telah dimandikan dan dikafani itu disandingkan di sisi sosok mayat wanita yang utuh membatu—kafannya melapuk dan karena itu dimandikan dan dikafani lagi—, meskipun telah terkubur lima puluh tahun. Kemudian, liang lahad itu ditimbun dan diberi nisan—tetenger yang berbunyi: Gegrasana-Nunukrawu—tidak terpisahkan ajal.

Tapi, benarkah wanita itu bernama Nunukrawu—bukannya Ayulia seperti yang dihebohkan banyak orang di Sarwa Doyong, dan terutama di Tinggrantul, serta lebih terutama di Balung Kere. Meski begitu, nisan itu tetap tanpa titimangsa. Meski—kata Raksesiani—, di setiap malam dari kuburan yang dinaungi pohon kiara kawak itu selalu terdengar suara orang bercakap, bercumbu, serta cekikikan suara kenikmatan perempuan di antara suara erang orgasme lelaki. Meski tak seorang pun yang berani mengecek, sekadar ingin tahu dengan mengecek apakah memang di belakang rumah keluarga Nyi Mas Tibaniah itu ada kuburan angker semacam itu. Tak ada seorang pun di seantero Ngiwa Purwa yang tahu akan hal itu, bahkan kalau di sana pernah ada satu prosesi pemakaman misterius seperti itu—mungkin karena si yang melakukan prosesi pemakaman rahasia tersebut cuma keluarga.

Begitu kata Raksesiani. Dan dikutip semua orang kampung di Sarwa Doyong, di Tinggrantul, dan Balung Kere, meski itu kini hanya seperti obrolan iseng di warung kopi atau ketika jaga malam—tidak banyak yang tahu persis akan si peristiwa awalnya. Tapi, apa memang ada peristiwa seperti itu? Yang terjadi di tahun 1952 serta berakhir lima puluhan tahun kemudian? Sayang, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa itu telah meninggal, tinggal keturunannya, si generasi kedua yang mengatakan cerita dari ingatan samar tentang semua detail yang pernah didengar dari cerita orang tuanya. Dan terkadang justru si pihak luar yang punya banyak cerita, tapi semuanya didapatkan dari cerita si orang lain. Samar. Kabur. Tidak bisa diverifikasi. Ataukah, dicoba untuk ada ditelusuri secara mistik dengan ritual memanggil roh. Apa ceritanya valid? Tapi, untuk apa sebuah kesahihan bila peristiwa itu telah terjadi lima puluh tahun lalu? Kata orang, fakta mengabur—dan titik postulat hanya berkah bagi sastrawan. (*/habis)

Beni Setia, pengarang.

Catatan:

dadung: tali, biasanya dari jalinan ijuk yang dipilin;
sentir: lampu minyak
wingit: angker, dianggap berpenghuni setan
jarit: kain panjang perlengkapan busana wanita;
paro: menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil 50:50
kawak: tua


[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 4 November 2018