Balung Kere

Karya . Dikliping tanggal 30 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

(Bagian 1)

DI sebelah kanan jembatan kereta Balung Kere, yang menyeberangkan rel yang merentang lurus dan melajukan kereta dari timur ke barat, tersiletak kuburan rahasia—yang tidak bernisan dan tak diberi tetenger nama. Hanya ditandai pohon kiara, yang setelah lima puluh tahun menjadi besar, tinggi, rimbun, dan menaungi pangkal palung dangkal sepanjang tujuh puluh tujuh meter dari jembatan kereta, ke hilir, ke jembatan jalan antar kecamatan di utara. Tegakan berdedaunan rimbun yang menaungi kolong jembatan kereta Balung Kere dalam remang—mengesankan pagi selalu kekal sampai tersentak dan buru-buru menarik senja untuk membawakan kelam malam.

Tapi, orang-orang kampung tahu: siapa yang telah dikuburkan diam-diam di situ. Bahkan kenapa ia dikuburkan diam-diam, bagaimana dikuburkannya, dan siapa yang dimintakan pertolongannya untuk menguburkan si yang dirahasiakan.

Ada tiga orang, yang dengan bersumpah darah berjanji akan tutup mulut, meskipun setelah dua puluh tahunan ada yang berani diminta bersaksi. “Tapi,” kata Argadil, yang mengesankan ia sedang mewakili yang lainnya, “kalau keadaan telah memungkinkan…” Persyaratan yang membuat semua orang kampung menarik napas lega, bersepakat untuk mencatat isyarat itu sebagai rahasia bersama dalam bungkam si orang tak berdaya.

Karena itu, (dulu) diam-diam mereka menyelenggarakan salat mayat—dengan si dana yang disiapkan Sukrojendra—, bahkan selalu menyebut namanya bila mereka ada menyelenggarakan slametan apa saja—sesuai adat Jawa sesuai rujukan tradisi Islam di pedalaman.

Bahkan, empat tahun kemudian, dan berlangsung sampai kini, diam-diam menyelenggarakan sebuah acara pendhak taun hari kematian dari dia yang nyaris dikuburkan secara jahiliah—tanpa tata cara Islami. Meski yang serius mendanai semua lelaku adat Jawa itu adalah keluarga serta turunan dari si yang melakukan pembunuhan serta penguburan rahasia. Semacam permintaan maaf secara berkomplot dari si orang yang merasa bersalah serta si yang di saat itu teramat tak berdaya—yang gelisah menunggu tibanya masa untuk mengungkapkan kebenaran.

Kenapa? Apa yang membuat mereka kalah?

***

KATA beberapa orang, di bawah pohon kiara itu sesungguhnya tidak ada mayat yang dikuburkan secara rahasia, setelah ia dibunuh dengan darah dingin. Kata Gojek, “Awalnya memang diperintahkan dikuburkan di sana, lantas diam-diam dipindahkan…” Orang-orang kampung ternganga. Antara percaya dan tak percaya. Meski mereka sepakat: Pembunuhan itu terjadi cuma karena orang itu berani datang untuk menuntut pertanggungjawaban Gegrasana—yang baru dilamarkan Maksaiti. Anak Sukrojendra, raden tuan tanah yang menguasai hamparan sawah dan ladang. Dari jembatan Balung Kere itu: ke utara sampai Lawung Tuwak, ke selatan sampai Pilang Bango, ke barat sampai Wana Lambe, dan ke timur sampai Tegal Lingsang. Meskipun tak seluruhnya, bisa dibilang kekayaannya mencakup tujuh kampung di dua desa.

Si yang nyakrawati di kampung Tinggrantul, satu setengah kilometer dari posisi jembatan Balung Kere—lebih tepatnya jembatan mobil, bukan jembatan kereta—, kata beberapa orang, siang itu sengaja bertamu ke rumah Sukrojendra dengan naik dokar—diantar Krajet, tukang dokar dari kampung Pring Purwa, yang di setiap hari biasa mangkal di depan Pasar Awu-Awu Lor. Krajet telah dibayar borongan dan ia sebenarnya: disuruh menunggu sebelum kembali ke Pasar Awu-Awu Lor, tapi (kemudian) disuruh pergi sambil tutup mulut. Dan menurut pengakuannya—setelah diancam akan dibunuh banyak orang—, sehingga terpaksa menyembah-nyembah minta supaya semua orang jangan membocorkan rahasianya, karena ia telah diancam Sukrojendra.

Krajet terpaksa pergi meski telah dibayar penuh dengan harga borongan, setelah Sukrojendra bilang: kalau tamu perempuan itu tanggung jawabnya Gegrasana, kalau Gegrasana sendiri yang (nanti) akan mengantarnya pulang ke Sauryaba—kemudian di pagi harinya ia didatangi dan diancam Glugu Kepruk, yang memintanya supaya tidak banyak omong kalau masih ingin selamat. Usai mendengar tuturan itu, si orang-orang kampung termangu, menelan ludah basi, serta pelan manggut tidak berdaya. Percaya—karena memang begitu (pola) kebiasaannya Sukrojendra. “Siapa wanita itu? Orang mana?” sergah si kamituwa Pring Purwa. Krajet cuma menggeleng-gelengkan kepala. Hanya bilang, bila si perempuan itu turun dari dokarnya Wragil, yang mangkal depan Pasar Kecamatan Sarwa Doyong, pos semua bis Sauryaba-Napagara atau Napagara-Sauryaba biasa menaikkan dan menurunkan penumpang—empat kali dalam sehari.

“Wragil hanya bilang: Kang, wanita ini minta diantar ke rumahnya Gegrasana—anaknya Sukrojendra. Ongkosnya terserah, ia minta ditunggu, karena masih ngejar bis terakhir. Drop saja di Pasar Sarwa Doyong sana. Tak jelas: apa akan ke Napagara apa akan ke Sauryaba.”

“Kau tak omong-omong?”

“Nggak berani. Dia tamunya Sukrojendra!”

***

Balung KereKATA Mbok Tenan, pelayan rumah Sukrojendra, wanita itu teman sekolah dan pacarnya Gegrasana. Hubungannya sangat intim sehingga hamil. Karena itu sengaja ditinggalkan Gegrasana, karena setelah lulus berijazah dari Sekolah Dagang itu ia ada ditunangkan dengan Maksaiti, anak ragil Camat Silitijo. Karena itu, dari Sauryaba, ia sengaja datang ke Tinggrantul—untuk meminta pertanggungjawaban Gegrasana. Dan setelah selama semingguan bertanya ke sana kemari, ke semua teman Gegrasana di Sauryaba: Ia nekat melacak. Salah satu teman Gegrasana hanya bilang, rumahnya di Tinggrantul, jauh ke pedalaman setelah bis antarkota berhenti di Sarwa Doyong—titik di antara Ngunjak dan Damiun, Napagara. Cuma memberi ancer-ancer masuk jalan kampung yang sebelah kiri.

“Pokoknya,” kata Mbok Tenan, perlahan menirukan omongan si tamu perempuan Gegrasana itu, “aku naik dokar, lalu bilang ingin bertemu dengan Gegrasana, anaknya Sukrojendra.” Orang-orang mengangguk paham. Dibawa Wragil ke Pasar Awu-Awu Lor, dan dibawa Krajet ke Tinggrantul, ke rumah Sukrojendra dan bertemu dengan si Gegrasana. Dan memang, dengan kalimat seperti itu akan banyak yang menunjukkan arah sekaligus akan banyak dokar yang dengan sukacita akan mengantarkannya. Dan di siang itu si wanita diterima langsung oleh Gegrasana, kemudian disitemui Nyi Mas Tibaniah, ibunya Gegrasana –disuruh mandi, berganti pakaian dengan yang disiapkan, makan, dan beristirahat. Dijanjikan akan dipertemukan dengan Sukrojendra yang saat itu kebetulan sedang mengurus jual beli sapi. “Mereka kelonan,” bisik si Mbok Tenan—maksudnya si wanita itu bercinta dengan Gegrasana, di siang bolong di rumah orang yang mungkin menerima dan tidak menerimanya sebagai menantu.

Menjelang ujung petang—padahal telah sengaja dikabari oleh Nyi Mas Tibaniah—Sukrojendra baru muncul. Tanpa suara, tidak ribut seperti biasanya. Menyelinap ke kamar induk, dan berbisik-bisik membuat satu permufakatan dengan istri. Kemudian menyuruh Mbok Tenan agar memanggil Glugu Kepruk—tukang kepruk Sukojendro—, Argadil, dan Blandar Setan—si pencoleng kayu Perhutani. Menjelang Magrib mereka berbisik-bisik di pojok kandang. Gegrasana pun dipanggil bapaknya, disuruh pergi ke rumah kamituwa Wana Lambe—mengantar surat penting sehingga disuruh menungu jawaban. “Jangan sampe ndak ketemu, jangan ndak bawa balasan,” kata Sukrojendra sambil menyerahkan kunci sepeda dan lampu senter. Sepuluh menit setelah Gegrasana pergi, keempat orang itu menyelinap ke kamar Gegrasana.

Menyergap si wanita—tak berpakaian lengkap, bergelung di dalam selimut kain panjang, setengah terlelap setelah persetubuhan yang berulang setelah berpisah enam minggu. Menyergapnya agar tidak kuasa berontak, lalu menjeratnya dengan tambang pengikat sapi –tanpa suara, tanpa keributan. Hanya suara jerit tersitahan, debup suara rontaan di ranjang, dan bunyi gelas pecah setelah bunyi tutup gelas terbanting karena tersenggol di kelam ruang tak berpenerangan. Dan malam itu petromaks tak dinyalakan di rumah Sukrojendra—hanya ada lampu sentir yang sumbunya ditarik pendek. Suram. Mencekam. Sunyi. Perempuan itu segera kaku, matio dikeroyok empat lelaki—di dua puluh dua tahun kemudian Argadil memerinci: Ia menerkam kakinya, Glugu Kepruk menekan tangan dari bahu kirinya, sedang Blandar Setan menekan tangan serta bahu kanannya. Hanya ada rontaan kaget terjaga, lalu suara tercekat dari leher yang dijerat, dan bau sperma kering bekas persetubuhan sebelumnya. (bersambung)

Catatan:
tetenger
: pertanda, maksudnya tulisan pada nisan;
slametan: kenduri kirim doa minta keselamatan kepada Allah dan leluhur;
pendhak taun: temu tahun, ritual slametan setahun hari kematian;
nyakrawati: tinggal dan berkuasa;
lor: utara;
kamituwa: kepala dusun, membawahkan beberapa kampung;
Sekolah Dagang: sekolah kejuruan dengan spesialisasi ekonomi di era pascakolonial Belanda, dekade 1950-an, setara dengan SMEA di dekade 1960-an ke atas.
ragil: anak bungsu
kelonan: tidur bareng, maksudnya bersanggama

Beni Setia, pengarang.


[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 28 Oktober 2018