Bangun Tidur – Menyapu – Sarapan – Sebelum Tidur Siang – Bangun Tidur Siang

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Bangun Tidur, 1

Doa mulai menyala
Lampu kamar masih sengaja mati
Ia mengajakku tuk menyapa
Pada pagi dengan jalan kaki
Ia tak kenal selatan utara
Atau barat timur
Yang dikenalnya hanya
Katakata dibangunkan dari tidur

Bangun Tidur, 2

Pagi mulai bicara
bersama kaki, tangan, mata, dan telinga
berjalanjalan menempuh doa
tak butuh terjemahan bahasa

Menyapu

Embun telah pergi
aku masih menyapu halaman
meminggirkan masa lalu
kembali lagi pada diriku
ibu berangkat lebih dulu
mengais masa depan
meninggalkan aku
terjebak masa lalu dan kini

Sarapan

Nasi kemarin masih belum lalu
di meja makan aku sarapan
sambil membangun sendu
sendirian.
Aku masih sarapan
dengan lauk bandeng
tersiram sayur kangkung
diam.
Nasi, bandeng, dan sayur kangkung
pasrah. Tetap diam
padaku, tanpa membangkang.
mereka belum sarapan

Sebelum Tidur Siang

Sebelum datang jauh kematian
ada yang bilang, “Kamu bacalah doa”
Aku menurutinya.
Doanya memungut sisasisa
kehidupan

Bangun Tidur Siang, 1

Aku masih bisa merasai kehidupan
datang pertama kali dari sepi
aku menyapa lewat katakata ringan:
“selamat tak sendirian lagi”

Bangun Tidur Siang, 2

Ibu pulang menyapa rumah
diamdiam membawa marah
aku menuju ke kamar mandi
cepatcepat membasuh mimpi

Bangun Tidur Siang, 3

Rodaroda di jalanan masih
menggelinding
bersama sopir maupun penumpang
aku memikir ulang
barangkali mereka mengejar uang
tak seperti aku, masih saja berdoa pada
siang
Budiawan Dwi Santoso, lahir di Sukoharjo, 04 Januari 1986. Buku puisinya berjudul Sekejap ( 2013). Ia menulis esai, puisi, cerpen, dan resensi. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media nasional.
Ia mendirikan Komunitas Tanda Tanya. Ia belajar di Bilik Literasi Solo. Puisi-puisinya juga tarmuat dalam antologi Menguntum (Jagat Abjad, 2011) dan antologi puisi Pendhapa 13 (TBJT, 2012). Selain
menulis puisi Budiawan juga menulis esai dan cerpen. (92)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budiawan Dwi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 25 Oktober 2015