Barnabas Ingin Bicara

Karya . Dikliping tanggal 12 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

DI sebuah desa, Kalimantan Barat. Ratusan orang Suku Dayak telah berkumpul di jalanan sebelah utara, siap menyerbu dan membakar perkampungan suku pendatang yang berada di sebelah selatan mereka. Jalanan berdebu dan panasnya yang tak terkira itu semakin membakar semangat mereka untuk segera melepaskan kepala dari leher orang-orang di sebelah sana.

Ratusan orang Suku Dayak telah mengikatkan kain merah di kepala mereka. Setiap tarikan simpulnya menandakan bahwa mereka telah siap memburu setiap kepala. Ratusan orang Suku Dayak telah siap dengan mandaunya yang telah mengilap, licin dan tajam, yang ketika mereka ayunkan dengan sekali tebasan, setiap kepala akan melayang.
“Siapa yang melakukan itu Barnabas? Agar kita tidak salah membunuh orang,” tanya sang kepala suku.
Barnabas, anak berusia empat belas tahun itu tidak menjawab. Bibirnya hanya bergetar tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Ia memalingkan pandangannya dari mata kepala suku itu. Tampaknya ada sesuatu yang hendak ia katakan. Namun, ketakutan sepertinya hanya bisa membuat dirinya pergi dari kerumunan.
“Jika mereka tidak menyerahkan pembunuh itu, kita bunuh saja semua orang yang memakai celurit di sana!” Seorang pemuda di sebelah kepala suku berteriak. Ratusan orang itu mengiyakannya.
**
DUA hari lalu, Barnabas dan ibunya pergi ke sungai –yang berlokasi di dalam hutan– untuk mencuci pakaian. Sesampainay di sana, ibunya mencuci, sedangkan Barnabas pergi untuk berjalan-jalan. Tak lama berselang, bocah itu mendengar teriakan. Itu teriakan sang ibu, maka Barnabas pun segera berlari menghampirinya. Ketika tiba di sana, Barnabas mendapati ibunya telah terkapar tak berdaya. Di hadapannya, ada seorang lelaki yang memegang celurit yang sudah berlumuran darah. Sosok itu tak asing bagi Barnabas.
Lelaki itu menoleh ke arahnya kemudian bergegas menuju ke semak belukar. Barnabas terpaku kebingungan, tak percaya dan tak tahu harus berbuat apa. Dalam ketakutan, ia berlari menuju perkampungan. Di dekat gerbang, ia bertemu seseorang. Barnabas pun segera menarik lengan seseorang itu untuk ikut bersama dengannya. Semua orang yang menyaksikan tingkah Barnabas penasaran. Mereka berbondong-bondong pergi mengikuti Barnabas ke sungai. Sesampainya mereka di sungai, ibu Barnabas telah terkapar tak bernyawa dengan luka robek di perut. Mereka kaget dan marah dengan apa yang terjadi terhadap ibu Barnabas.
Dengan tiba-tiba, kepala suku muncul. Entah dari mana, mereka tak tahu. Ia muncul begitu saja.
“Luka diperutnya seperti luka sabetan celurit!” seru kepala suku kepada rakyatnya. Dengan seketika, pikiran mereka tertuju pada pelaku yang sama. Pendatang itu.
“Mereka memang tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Harga diri kita telah diinjak-injak oleh mereka.” Wajah sang kepala suku memerah menahan amarah.
**
JAUH sebelum ibu Barnabas ditemukan mati di tepi sungai, suku mereka memang sudah tidak suka dengan para pendatang itu. Mereka menganggap para pendatang itu tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih atas kebaikan mereka karena telah memberi izin untuk tinggal di tanahnya. Para pendatang itu telah dianggap memukul gong perseteruan. Soalnya, kaum pendatang itu selalu pergi ke manapun dengan menyandang celurit di pinggang. Menurut mereka, membawa senjata hanya mereka lakukan ketika akan pergi berburu atau berperang. Mereka pun beranggapan bahwa lahan pekerjaan mereka telah direbut oleh suku pendatang itu. Mereka merasa tersaingi dalam segala bidang, dimulai dari berebut lahan pertanian.
Walaupun bukti mengenai pembunuhan itu belum jelas, tanpa perlu disepakati, pembunuh itu telah resmi tertuju pada para pendatang itu.
“Kendati indu Barnabas tidak mati dibunuh, perkampungan itu memang sudah lama harus dibinasakan,” kata kepala suku kepada rakyatnya.
“Cepat kau temui kepala suku mereka, kau jelaskan! Jika pembunuh itu tidak diserahkan dengan segera, maka rakyat kami akan murka.” Kepala suku memerintahkan salah seorang pemuda di desanya untuk pergi.
Tak lama kemudian, pemuda itu datang dengan raut muka yang hampa.
“Apa kata mereka?” tanya kepala suku.
Pemuda itu menjelaskan dengan gaya persis sama dengan kepala suku di seberang sana.
“Pembunuh? Tidak ada pembunuh di perkampungan ini. Jikapun ada, mereka membunuh dalam pertempuran, tidak pengecut seperti itu. Kami memang para pendatang, tetapi kami tahu hal seperti apa yang harus kami lakukan. Tidakkah kalian sadari, orang yang telah terbunuh itu adalah anak saya sendiri, istri dari anak kepala sukumu sendiri? Rakyatku tidak mungkin membunuh saudaranya. Kami tahu, kalian menganggap kami tidak punya harga diri. Akan tetapi, tidakkah kalian lihat, harga diri kami telah kami buang untuk menciptakan persaudaraan ini? Jika kalian tetap memandang kami sebagai orang rendahan, maka kami akan bersedia menunggu mandau kalian.”
Kepala suku itu tambah naik pitam.
“Memang tak tahu diri! Mereka melakukan ini pasti karena mereka tidak menyetujui indu-nnya Barnabas menikah dengan anakku. Mari kita singkirkan orang-orang biadab itu dari tanah kita.
**
MATAHARI di ufuk barat telah sedikit menenggelamkan dirinya ke dalam kegelapan. Hari yang panas telah berubah menjadi hari senja dan kekuningan. Di seberang jalan sebelah utara itu, telah berkumpul orang-orang. Walaupun berjumlah tak mencapai ratusan, mereka tak sedikit pun memperlihatkan kecemasan. Orang-orang itu memegang celurit yang ujungnya sangat tajam, seakan jika diayunkan akan memaksa isi perut lawannya keluartanpa dapat dibatalkan. Sampingnya telah mereka ikatkan di pinggang. Setiap tarikan simpulnya menandakan bahwa mereka siap kembali menjadi para ksatria pembela kebenaran.
Di seberang jjalan selatan, ratusan orang menari seperti keranjingan. Kaki mereka berjingkat, memuja para eyang. Mandau-mandau itu mereka acungkan. Mereka berteriak dengan tangan pada mulut yang mereka katupkan. Tak sedikit pun kegentaran mereka perlihatkan. Seakan panglima perang kamang tariu berada di tengah-tengah pertempuran.
“Wuwwwwwwuwwwwwu…” upacara ngayau segera dilaksanakan.
Tepat di jalan selatan, orang-orang yang jumlahnya tak sampai ratusan saling bertatapan. Sama halnya dengan orang-orang di seberang, tak sedikitpun kegentaran mereka perlihatkan, seakan Kek’Lesap berada di tengah-tengah pertempuran. Dengan penuh semangat mereka berteriak lantang.
“Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata!” upacara carok segera dilaksanakan.
Teriakan kedua kubu menggentarkan jalanan. Matahari yang sedari tadi mengintip di balik bukit sekarang telah menenggelamkan seluruh dirinya karena ketakutan.
Mereka berlari seakan tak ada tujuan lain, kecuali melakukanpembinasaan. Mereka melebur menjadi satu kesatuan. Mandau dan celurit saling bergesekan menciptakan nada-nada yang memilukan.
**
DI sisi lain sebelah utara dan selatan, Barnabas yang sedari tadi tenggelam bersama kesedihan kini terenyak. Mukanya semakin pucat dan penuh keringat. Ia seperti dibangunkan oleh teriakan-teriakan itu, oleh suara mandau dan celurit yang bergesekan. Ia teringat akan teriakan ibunya. Terbersit sebuah ingatan pada kejadian di tempat pembunuhan. Barnabas yang sedari tadi hanya diam, sekarang matanya berbinar dan bibirnya bergetar seperti ingin bicara. Ia segera berlari menuju jalanan.
Namun, ratusan orang telah terkaparmenjadi seonggok daging yang tak bernyawa. Kepala-kepala sudah terlepas dari lehernya. Isi perut telah dipaksa keluar. Darah telah membuat jalanan menjadi merah. Ibu bumi yang sedari tadi melihat keganasan-keganasan manusia akhirnya mencucurkan air matanya untuk membasuh setiap darah yang bersimbah.
Betapa pun, semuanya sudah terlambat. Sudah terlambat bagi Barnabas untuk berbicara. Orang yang merobek perut dan membunuh ibunya di tepi sungai adalah kakeknya sendiri yang –tak lain dan tak bukan– adalah kepala suku adanya.***
Rifal Nur Goib, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia 
GLOSARIUM:
1. Mandau; senjata tradisional Suku Dayak
2. Celurit; senjata tradisional suku Madura
3. Indu; ibu dalam bahasa Dayak
4. Wuwuwuwu…” ; nyanyian suku Dayak sebelum berperang
5. “Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata” ; prinsip Suku Madura, berarti “lebih baik mati daripada malu.”
6. Kamang tariu; leluhur Suku Dayak
7. Kek’Lesap; leluhur Suku Madura
8. Ngayau; upacara adat Suku Dayak untuk memburu kepala musuh.
9. Carok; upacara adat Madura untuk membela harga diri dan wanita.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rifal Nur Goib
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 10 April 2016