Baruna

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

TERLAHIR sebagai seorang buta tidaklah begitu buruk. Setidaknya bagiku. Aku masih bisa merasakan hangatnya sinar mentari di permukaan kulitku, juga masih mampu meminta tambah untuk setiap masakan Simbok. Aku tak terlalu menderita. Selama hidungku masih dapat menghirup udara seberapa pun yang kumau, aku masih terhitung bahagia.

Aku tak tahu sejak kapan aku buta. Mama dan Simbok tak pernah mau membahasnya. Kata mereka, tak penting membicarakan yang sudah-sudah, kecuali jika keadaan bisa diubah. Jadi aku menurut saja. Toh, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya bisa melihat, jadi tidak terlalu berguna juga untuk sakit hati karena ini.

Mamaku, seorang perempuan tentunya. Ia yang melahirkanku, tetapi Simbok yang membesarkanku. Simbok merupakan anak dari kepala asisten rumah tangga di rumah Mama ketika masih kecil. Katanya, ketika Mama mengandungku, Simbok yang sudah tiga kali kawin-cerai dan tak punya anak pun jadi iba, lalu memutuskan untuk tak pernah menikah lagi dan membantu membesarkanku. Aku tak tahu mengapa Simbok iba pada Mama kala itu. Mungkinkah karena setiap janin membawa petaka, tanyaku padanya. Simbok tergelak sedikit, kemudian berkata bahwa aku adalah keberuntungannya. Sejak saat itu aku tahu, aku tak boleh lagi bertanya seperti itu.

Rutinitas di rumahku konstan sama setiap hari. Mama dan Simbok bangun pagi. Kemudian Mama berangkat ke kantornya dan Simbok membereskan rumah sebelum membangunkanku. Setelahnya aku bersiap dan menunggu di teras sampai guru privatku tiba. Mama mungkin bisa saja memasukkanku ke sekolah khusus, tapi nyatanya tidak.

Guruku seorang laki-laki. Pertama ia mengajariku membaca dengan huruf Braille di usiaku yang genap enam tahun, dilanjutkan dengan teori gravitasi Newton ketika umurku sepuluh tahun dan teori Comte tentang tiga tahap perkembangan intelektual ketika umurku lima belas. Sempat kukira ia pacar Mama, ayahku mungkin. Dan ia terdengar mendengus kesal sambil berkata, “Mamamu lebih tua dariku.”

Aku tak tahu apa yang salah jika mamaku lebih tua darinya. Kalaupun memang betul ia pacar Mama, aku tidak keberatan. Itu artinya mamaku akan punya teman dan tidak sendirian lagi.

Tapi, tidak. Aku bohong. Aku terbiasa dengan Mama yang bersikap seadanya cenderung dingin. Tak dapat kubayangkan jika suatu hari nanti Mama berubah hangat karena hal yang disebut cinta. Dan lagi, memangnya apa itu cinta?

“Kamu membenci ayahmu?” tanya guruku.

“Aku tidak membencinya, hanya tidak mencintainya.”

“Mengapa begitu?”

“Sama seperti melihat, aku tak pernah merasakan punya ayah. Aku tidak bisa membenci apa yang tak pernah kumiliki. Memangnya kenapa? Kau ayahku, atau kau mau jadi ayahku?”

Dan ia tertawa. Keras sekali, lalu terdiam. “Mamamu lebih tua dariku,” ulangnya untuk kesekian kali. “…, dan aku terlalu muda untuk jadi ayahmu.”

Perlu kuakui ia terkadang bodoh. Ia tidak pandai berhitung jadi ia tak pernah mengajariku. Ini buktinya. Usinya hanya tiga tahun di bawah Mama, dan beraninya ia berkata bahwa ia terlalu muda untuk jadi ayahku!

Dari cerita yang kudengar, Mama bertemu dengan guruku di kantor tempat Mama bekerja–dulu ia rekannya. Mama dulu prihatin melihat guruku–yang saking pintarnya–katanya jadi kacung bos-bos besar. Mama bilang, “Kau terlalu pintar untuk diperintah bandot-bandot tua itu. Lebih baik kau keluar, lalu mengajar anakku di rumah. Anakku buta, tapi kujamin ia tidak kalah cerdas dari anak normal di luar sana. Ia bisa mendeskripsikan warna dengan baik, kau tahu.”

Harusnya ia tahu kalau Mama hanya bergurau. Namun, keesokan harinya ia memutuskan untuk keluar dari kantor, lalu sebagai gantinya ia datang ke rumahku. Selama hampir dua belas tahun tanpa satu hari pun alpa, Sabtu dan Minggu tidak dihitung tentunya. Padahal, upah yang didapatkan dari mengajarku tidaklah sebanding dengan gaji yang diterimanya dari kerja kantoran. Entah kenapa ia begitu betah. Mungkin ia betulan naksir Mama, atau lidahnya sudah kecanduan masakan Simbok sepertiku. Bisa jadi juga ia menderita penyakit kronis yang sama denganku; kesepian stadium akhir. Sebagai sesama orang kesepian, tentulah kami harus saling menemani.

“Kau tak sopan, Meer. Harusnya kau panggil aku ‘Pak Guru’, ‘atau ‘Kak’. Bukan hanya memanggil namaku,” tiba-tiba ia memecah keheningan di antara kami. Aku hanya diam karena tak tahu apa yang harus kukatakan padanya.

Aku tak tahu bagaimana caranya bersikap sopan terhadap orang lain selain Simbok dan Mama. Aku meniru apa pun yang mereka lakukan. Saat pertama kali bertemu dengannya, Mama memperkenalkan dengan seorang pria bernama Baruna, bukan Pak Guru. Ayolah, aku tidak bodoh. Aku tahu ia adalah guruku. Namun, di mataku yang hanya bisa melihat hitam ini, ia tetaplah Baruna, guruku –bukan Pak Guru, guruku. Toh, Mama dan Simbok juga tidak pernah meralat panggilanku terhadapnya.

Satu-satunya teman yang kupunya adalah Baruna. Mama sibuk bekerja, Simbok lebih rajin mempelajari resep baru ketimbang mengobrol denganku. Baruna baik. Tubuhnya tinggi, dan jika matahari sudah terlalu menyengat dan menyilaukan, ia langsung pasang badan di depan jendela agar aku tidak terkena sinar matahari langsung. Sungguh, sangat menyenangkan berada di dekatnya. Kali ini aku jujur, aku tidak keberatan ia jadi ayahku.

***

Rutinitasku yang sama setiap hari berubah di satu hari yang sejak awal kurasa janggal. Baruna menghentikan pelajaran sebelum waktunya dan Simbok membuatkan sop ayam yang keasinan sampai aku ragu apakah itu betul buatan Simbok atau bukan.

Semuanya terasa berlalu begitu lamban. Aku bosan luar biasa. Kesal juga karena masakan Simbok tumben-tumbennya tidak ada yang terasa lezat. Aku meringkuk di dalam selimutku, merasa terlalu gelisah untuk keluar. Baruna belum pergi, aku tahu. Mama biasanya pulang larut, masakan Simbok sedang tidak enak, dan suasana hatiku tidak secerah biasanya untuk diajak tertawa bersama. Jadi entah apa yang membuatnya begitu betah di rumahku hari itu.

Kegundahanku mereda sudah saat Mama datang lebih awal dari waktunya. Mama membawa seseorang, hal yang tak lazim Mama lakukan kecuali saat tiba giliran rumah kami yang jadi tuan rumah arisan kompleks. Seorang laki-laki yang bertubuh tak kalah tinggi dari Baruna, karena tubuhnya menghalangi sinar matahari untukku. Wangi parfumnya sungguh maskulin dan suara decit sepatunya yang beradu dengan ubin membuatku ingin bertaruh kalau pasti malam sebelumnya sudah disemir sampai mengilat.

Lelaki itu menjabat tanganku, juga Simbok dan Baruna. Tangannya bergetar karena licin karena keringat. Ia lalu duduk di sampingku, dan tanpa kuduga-duga menangis. Isaknya terdengar jelas meski seusahanya diredam. Tubuhnya yang berguncang juga ikut mengguncang sofa tempat kami duduk. Aku sungguh merasa tidak nyaman.

Laki-laki itu bilang, ia adalah ayahku. Ia meminta maaf karena hampir tujuh belas tahun tak pernah berusaha bertemu denganku. Salahnya karena meninggalkan aku dan Mama, membawa segala ketidakpercayaan dirinya belasan tahun yang lalu. Malamnya, aku tidak bisa tidur sama sekali memikirkan sosok yang tak pernah kupedulikan keberadaannya tiba-tiba datang. Aku tidak siap.

Hari-hari selanjutnya, ayahku rutin datang berkunjung tiap sore Dibawakannya susu kedelai kesukaanku tiap hari dan sekeranjang buah segar di akhir minggu. Ayah bilang, dulu ditinggalkannya Mama yang sedang hamil besar karena ia malu, hanya bisa menafkahi calon bayinya dengan sufor murahan. Sungguh alasan yang tak bisa kutolerir, tetapi tetap kumaafkan karena ia adalah orang yang sebenarnya menyenangkan.

Aku menawarinya untuk tinggal di rumah. Tidak, katanya. Untuk menemui Mama dan aku saja butuh rasa tak tahu malu yang besar, apalagi untuk tinggal bersama kami. Ah, andai dari dulu aku tahu betapa serunya mempunyai seorang ayah, aku pasti tak keberatan jika tumbuh besar hanya dengan minum sufor murahan.

Tak ada perubahan yang begitu drastis sejak kehadiran Ayah di hidupku. Mama tetap pulang sore dan sikapnya masih seadanya cenderung dingin. Masakan Simbok hanya tidak enak di satu hari janggal nan istimewa itu, setelahnya tetap menjadi candu untuk lidahku. Yang berbeda hanyalah berkurangnya intensitas kedatangan Baruna ke rumahku seperti sebelum kehadiran Ayah.

Aku tidak kesepian karena Ayah sekarang menemani tiap sore. Hanya aku takut ia ternyata menghindari Mama karena cemburu dengan Ayah. Bagaimanapun juga, ia sosok yang cukup berarti di hidupku. Aku tak mau membiarkannya sedih, jadi kutelepon dia di suatu malam setelah berminggu-minggu tak lagi datang.

“Kau tak pernah datang lagi. Kau cemburu pada Ayah? Tenang saja, kalaupun nanti kedua orangtuaku bersama lagi, pasti waktunya akan cukup lama untuk mereka berdua bisa saling menerima satu sama lain. Kesempatanmu masih banyak.” Aku berusaha menghibur Baruna di ujung sana. Ayah akan tetap jadi ayaku, tapi ia belum tentu jadi pasangan Mama lagi. Jadi kesempatan bagi Baruna akan selalu terbuka lebar, kan?

Namun yang kudapati hening di ujung sana. Cukup lama. Terdengar beberapa kali helaan napasnya sampai akhirnya ia bertanya, “Sameera, kau sayang ayahmu atau aku?”

Kali ini aku yang terdiam. Sepertinya cukup lama juga. Aku belum menyayangi ayahku karena kehadirannya di hidupku baru hitungan minggu. Mungkin saja aku menyayangi Baruna, tapi aku tak tahu bagaimana cara menyayanginya jadi belum bisa terlalu yakin.

“Aku suka ada ayahku. Dia baik dan menyenangkan,” jawabku akhirnya.

Tak sampai semenit kemudian, sambungan telepon diputus dari seberang.

***

PAGI ini aku bangun lebih awal, tepat saat kudengar suara mesin mobil Mama pergi meninggalkan pekarangan. Malam sebelumnya, Simbok sudah memberi tahuku kalau dia mungkin akan pergi ke pasar dalam waktu yang lama. Tenang saja, katanya, makanan sudah disiapkan di kulkas dan Ayah akan datang menemaniku sampai Simbok pulang.

Kuputuskan untuk bergelung saja di tempat tidur hingga Ayah datang. Aku sebetulnya ingin sekali buang air kecil, tapi kutahan karena aku tak berani keluar kamar tanpa seorang pun membantu. Tolong jangan salahkan kebutaanku.

Hening. Semenit, dua menit, lalu belasan menit. Akhirnya terdengar suara langkah kaki seseorang di teras. Baguslah, aku ingin cepat-cepat ke kamar mandi.

Pintu kamarku dibuka perlahan. Aku refleks duduk dan tersenyum. Kuulurkan tanganku–berharap segera dibantu ke luar, sebelum kutarik lagi. Ia bukan Ayah, wangi parfumnya berbeda. Ditambah samar-samar bau amis memuakkan yang ditangkap indera penciumanku.

“Baruna.” Aku hafal aroma parfum Baruna.

Ia hanya diam, tetapi terus berjalan mendekat. Tanganku meraba-raba di udara sampai menyentuh kemejanya. Basah dan dingin, juga tercium amis yang makin menyengat. Ia duduk di sampingku. Sebelah tangannya memelukku, sebelahnya lagi kurasa menjatuhkan sesuatu di lantai. Terdengar seperti logam yang berdenting di bawah sana.

“Ayahmu di luar,” bisiknya. “Maaf.”

Tubuhku seketika menggigil saat pelukan Baruna semakin erat. Lama-lama seluruh ototku jadi mati rasa, Baruna juga tak kunjung bergerak. Amis yang menempel pada kemeja Baruna membuatku pusing. Sepertinya aku mengompol karena celanaku basah.

Baruna kesepian, sama sepertiku. Ia dibesarkan neneknya karena kedua orangtuanya terlalu sibuk bertengkar lalu lupa memperhatikannya. Selama tahunan ia bolak-balik ke psikiater, sampai aku tak ingat kapan tepatnya terakhir ia pergi menebus obat. Ia bilang ia sudah bahagia meski kadang masih kesepian. Jadilah kami sebagai sesama orang kesepian harus saling menemani.

“Tahukah kau, Meer, nenekku pernah bilang kalau Baruna artinya penguasa lautan. Mamamu juga bilang, namamu –Sameera, diambil dari kata ‘meer’ yang berarti laut dalam bahasa Jerman. Aku bersyukur kita bertemu, Meer.”

Demi Tuhan, aku dapat mendengar senyuman di kalimatnya.

 

Meutia Swarna Maharani, biasa disapa Ara, lahir di Jakarta pada 6 September 2001. Sekarang bersekolah di SMA Negeri 1 Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sudah menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpan anak pada tahun 2011 berjudul Melukis Pelangi dan sebuah novel berjudul Langkah Kecil di tahun 2017. Mengikuti Kelas Cerpen Kompas 2017.

Gilang Muhammad Ajiswara, lahir di Garut 9 Januari 1979. Berdomisili di Bandung. Menyelesaikan pendidikan S-1 – Seni Lukis, jurusan Seni Rupa Murni di FSRD ITB (1998-2004). Sekarang berprofesi sebagai pengajar di bidang Seni Rupa di ITB.

 

[1] Disalin dari karya Meutia Swarna Maharani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 26 Agustus 2018