Batu

Karya . Dikliping tanggal 16 Desember 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
BEGINI, Saudara, kuceritakan semuanya secara berurut saja. Betul, ini tentang lelaki yang kini menggegerkan kampung kita itu. Maaf kalau cerita ini membuat tidak enak Saudara yang kebetulan kerabat, kawan kental, atau kolega lelaki itu. Ketimbang banyak gosip menyembul seperti bisul, izinkan aku membeberkan kisah yang betul.
Mula-mula, kalau tak salah sejak tujuh hari lalu, lelaki itu tak bisa tidur. Setiap telentang di ranjang, plafon rumahnya terbuka. Dan di langit, ia melihat sesosok perempuan telanjang tersenyum. Saudara bisa bayangkan bagaimana perasaan lelaki itu, bukan? Apalagi perempuan itu memancing dengan senyuman. Nah…
Batu

Berkali-kali begitu. Dan, di hari ketujuh, menjelang dinihari, lelaki itu tak kuat lagi. Ia pun memutuskan pergi ke pantai. Di pantai belakang kompleks perumahan kita itulah ia tiba-tiba tertumbuk sebongkah batu—batu hitam kehijau-hjauan. Sang batu, setidaknya menurut dugaan lelaki itu, bukan batu sembarangan. Dan, sesungguhnya, dari batu itulah cerita ini bermula. Saudara tahu, lelaki itu yakin betul kalau sang batu baru saja jatuh dari langit.

“Kau akan kuberi wujud,” ia berkata, “biar bumi tahu, kau termasuk batu yang sujud.”
Alamak, puitis betul. Tapi memang demikian, Saudara. Mohon Saudara mengerti, lelaki ini, seperti yang kita ketahui bersama, selain gandrung pada patung dan kopi, juga pecandu puisi. Ia bahkan mengaku pernah didatangi Haujal, jin yang sejak zaman Arab-Jahiliah dipercaya sebagai pembimbing para penyair untuk menciptakan puisi cemerlang, begitu cemerlang hingga seperti buah kata yang dipetik dari langit. Maka, jangan heran bila ia sering mencibir penyair yang gemar membikin puisi ruwet, seolah penyair demikian memang anak buah Huwair, jin yang menyesatkan para penyair pada keruwetan bahasa hingga puisi mereka seperti belantara gelap dan sekali-kali tak bisa dimengerti, kecuali oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Nah, begitulah, Saudara. Tentang pandangannya terhadap puisi, kiranya tak perlu saya beberkan lebih rinci lagi. Puisi barangkali sekadar renik kecil yang turut andil atas raibnya lelaki itu. Dan marilah kita kembali pada batu. Yaitu, batu yang dengan susah-payah digotong ke rumahnya. Lelaki itu seperti Sisyphus gendeng dan sempat membikin si ibu yang pulang subuhan pagi itu kaget lantaran melihat ia berjalan sempoyongan dan ngos-ngosan.
Seperti yang Saudara ketahui bersama, para tetangga memang sering heran akan tabiat si lelaki yang kerap jadlab itu. Tapi kali ini, ketika fajar jauh dan burung-burung belum keluar sarang, ibu yang kakinya pincang sebelah itu sungguh dibuat kaget. Kaget betul, Saudara.
Bagaimana tidak kaget? Jam-jam begini, mestinya maling yang pulang menggotong TV atau peti colongan. Tapi yang ia dapati malah si lelaki semprul sedang menggotong batu. Mata si ibu pun mengekor lelaki itu sampai menekuk di ujung gang. Kaki kirinya yang pincang nyaris terperosok ke got. Dan ketika si ibu tahu, lelaki itu memasuki rumah no. IX—tujuh rumah dari jajaran kiri rumahnya yang no. II—barulah si ibu pincang ini maklum dan tak perlu menduga-duga untuk apa kiranya sebongkah batu buat lelaki yang oleh warga dicap senewen.
Sampai di rumah, si lelaki sangat hati-hati menaruh batu itu di atas ranjang. Semula ia berniat menaruh batu itu di kamar mandi agar sang batu bisa segera dicuci. Ketahuilah, Saudara, lelaki itu amat menghormati batu itu. Ketika mendapati kamar mandinya berantakan, ia berpikir keras agar sang batu beroleh tempat paling nyaman. Dan tempat paling nyaman di rumah lelaki itu tak lain adalah kamarnya, yang ia namai Abqorie. Kata lelaki itu, Abqorie adalah aran pemberian Haujal. Dan kalau tak salah ingat, seorang kiai pernah bilang bahwa abqorie adalah sejenis hunian jin.
Di kamarnya yang lembap, ia amati batu itu dengan teliti. Ia menerka-nerka umur batu itu yang mungkin setua nenek dari neneknya, atau bahkan tujuh juta kali lebih tua ketimbang nenek dari neneknya. Entahlah. Yang jelas, melihat wujud sang batu, mereka yang pernah mempelajari jenis batuan akan sepakat jika umur sang batu pastilah amat tua. Mereka yang entah sejak kapan gemar pada perkara takhayul itu percaya sang batu pastilah memiliki semacam tuah. Tak terkecuali lelaki itu.
“Wahai batu,” lelaki itu berkata, “kita memang berjodoh. Puji Tuhan Yang Maha Cermat, kau diturunkan pada tangan yang tepat.”
Lelaki itu lalu membuka peti kayu. Seperti semua perabot rumahnya yang tampak kuno, peti itu juga tampak kuno. Lelaki itu mengeluarkan semua isi peti: ada palu, palet, pisau, tata, dan betel. Seperti peti itu, seperangkat alat pahat itu juga tampak kuno. Beberapa berwujud keemasan dan beberapa lagi cokelat tua kehitaman.
Lelaki itu lalu mengambil bak besar. Bak itu ia isi air. Dan air itu ia taburi kembang tujuh rupa. Air dan kembang itu ia aduk ke kanan tujuh kali. Ke kanan. Dan bukan ke kiri, Saudara.
Saudara tahu, kembang memang selalu ada di rumah lelaki itu. Saudara sekalian yang gemar keluar-masuk pasar pastilah pernah memergoki lelaki itu berburu kembang. Jangan heran. Ini kebiasaan turunan belaka. Kedekatan dengan kembang itu rupa-rupanya diwarisi dari neneknya dari garis ayah yang selalu menaruh boreh, mawar, dan kenanga di tiap likat rumah. Konon, si nenek gemar makan melati untuk menjaga keharuman badan.
Lelaki itu mulai menyalakan dupa. Dan wangi dupa pun menyebar. Pelan-pelan, lelaki itu memandikan—maksudku mencuci—batu itu. Mungkin “memandikan” lebih tepat. Kukatakan “memandikan” sebab gerak-gerik lelaki itu memang sangat telaten dan hati-hati, seperti memandikan bayi, bukan mencuci sebongkah batu.
Mula-mula, ia turunkan batu itu dari ranjang. Lalu, dengan khusyuk lelaki itu menuang sampo. Ia ratakan busa sampo ke sekujur batu. Setelah sampo ia bilas dengan kembang, kini giliran sabun. Pelan-pelan ia ratakan sabun ke sekujur batu. Pelan-pelan. Ia hampir memekik ketika menemukan dua tonjolan aneh pada batu itu. Dan ketika ia menyabun bagian bawah, entah bagaimana mulanya, telunjuk lelaki itu tiba-tiba menemukan semacam celah. Lelaki itu semakin yakin, sang batu pastilah jelmaan perempuan yang tiap malam tersenyum di langit itu.
Kini, lelaki itu mengerti kenapa sang batu terasa hangat saat ditemukan. Dan ia tak heran akan perihal yang demikian. Dari pelajaran fisika ia ingat, di langit sana sang batu pastilah menebar cahaya seperti batu-batu langit pada umumnya. Dan, menurut tafsiran lelaki itu, jika nantinya ia memberi rupa sang batu dengan wujud perempuan, sebetulnya tangan si lelaki sekadar pahat dan palu yang digerakkan oleh tangan Tuhan. Soal keterlibatan Tuhan pada perkara yang demikian, salah satu dari Saudara pasti ada yang pernah mendengar dari lelaki itu, bukan? Apalagi batu itu telah memberi petanda dua tonjolan lucu dan celah cilik khas kepunyaan para perempuan.
Lelaki itu pun mengakhiri ritual memandikan sang batu. Bilasan terakhir ia siramkan. Lalu, dengan handuk ungu, ia keringkan sekujur batu. Ia meniup-niup bagian celah batu yang digenangi air. Setelah meneliti dengan seksama dan mendapati batu itu kering betul, lelaki itu membuka jendela dan mulutnya mulai komat-kamit sambil menebar bunga di sekujur batu.
“Wahai Batu, akan kuabadikan senyummu yang bercahaya,” begitu kata lelaki itu sambil mulai menggurat batu itu dengan pahat. Ia mengambil palu dan bekerja dengan khusyuk. Ia bahkan tak berani berlaku sembrono, misalnya merokok atau memutar musik yang tidak perlu. Kali ini, ia ingin berfokus. Fokus dan serius dengan suasana kudus.
SEKIAN menit berlalu. Dan mulai tampak bagian atas batu yang dibuat melingkar di satu sisi dan melingkar-memanjang di sisi lain. Tentu sudah gampang ditebak bahwa lingkaran macam itu pastilah calon wujud kepala. Lelaki itu membuat beberapa goresan halus pada lingkaran muka sang batu, seperti cetakan mata, hidung, dan bibir.
Ia tampak begitu teliti dan hati-hati. Ia menukar pahat besar dengan pahat yang lebih kecil. Sesekali pahat itu dipalu-palukannya dengan lembut. Begitu seterusnya, dengan kekhusyukan yang sama, dan jadilah berturut-turut mata, hidung, dan bibir. Ketiga organ itu tampak begitu tajam dan serasi. “Kubentuk hidung, alis, dan bibirmu khas Mesir, agar kau tampak seperti bidadari gurun pasir,” begitu kata lelaki itu ketika bagian kepala hampir rampung.
Kini batu itu memiliki wajah. Lelaki itu pun kembali menotolkan pahat ke batu, memukul dengan palu, dan sesekali mengusap debu sisa pahatan itu. Berkali-kali begitu. Maka, di bawah kepala batu itu, mulai tampak setapak leher. Leher jenjang. Ia usap-usap debu di leher itu dan ia termangu. Mungkin ia ingat, di leher macam itu banyak mata lelaki menjelma jadi bara api.
Setelah merampungkan bagian wajah dan leher, lelaki itu pindah ke bawah, ke bagian dada. Lelaki itu melemaskan jemarinya. Mengatur napasnya. Ia tahu, akan memasuki bagian gampang belaka: mencipta dua tonjolan. Namun ia tetap waspada. Ia mengusap lagi dua tonjolan bawaan sang batu. Seperti takdir yang menggumpal bagai sepasang susu. Pelan-pelan, lelaki itu meraba tonjolan itu, seolah sedang mencari denyut batu.
Lelaki itu lalu memejamkan mata. Ia mengatur napas dan memusatkan pikiran. Kembali ia menukar pahat dan palu. Menggores-gores pahat ke atas dan ke bawah. Kemudian memukul pahat dengan palu. Berkali-kali begitu. Dan jadilah susu yang menjulang utuh.
Lelaki itu memegang susu ciptaannya. Ia merasai teksturnya dan mencucup susu itu berkali-kali seperti ingin kembali menjadi bayi. Ia memasuki fantasi yang lucu dan sepi, kemudian memekik kecil setelah mendapati ujung bibirnya berdarah. Ia meratakan darahnya dari pucuk susu dan tersenyum ketika melihat darahnya menyatu ke sekujur susu patung itu.
Serampung bagian dada, dengan sedikit senyum, lelaki itu mengira tak ada lagi perkara sulit. Tapi tidak. Setelah dada, memang ia cukup lancar merampungkan bagian tangan, perut, dan punggung. Tapi tidak demikian ketika membikin bulatan bokong. Pekerjaannya tampak tersendat. Lelaki itu menimbang kemungkinan membikin bokong yang indah. Namun tetap mendapati bahwa bokong itu hanya bagian tubuh yang sukar ditampilkan keindahannya.
Lelaki itu pun memutuskan untuk menutup bokong patung itu. Keputusan ini diambilnya demi keindahan dan kesantunan, sebab dengan bokong telanjang pasti membeber pula bagian paling rawan organ perempuan. Bagian itu agak riskan. Dan lagi, seperti Saudara tahu, bagian ini—kalau ia tak berhati-hati—tentu bahaya bagi bocah belum akil balig dan sekelompok kaum picik. Lelaki itu akhirnya membikin selendang kepang yang menggantung di ujung bokong patung itu.
Namun, ketika bagian selempang penutup bokong rampung dan lelaki itu harus berganti ke bagian depan, yakni bagian yang lazim diukir sebagai organ intim, sebagian syaraf lelaki itu menegang. Berlebih-lebihan ia mengayunkan dan memukulkan palu. Bagian batu sekitar itu rompal beberapa kepal. Untung ia tergolong pematung cekatan. Rompalan batu itu ia samarkan seperti lipatan kain cekung ke dalam. Maka, jadilah sang patung, berwujud perempuan ¾ telanjang dengan bagian bokong dan organ rawan yang aman.
Kini lelaki itu tinggal menggarap bagian kaki. Sebagaimana umumnya kaki, ini pasti bagian sepele saja. Anehnya, ketika tengah menggarap betis, ia memasuki semacam suasana mistis. Mungkin ia terbawa cerita tua tentang sepasang betis manis yang mengilhami bandit macam Ken Arok nekat meracik siasat licik yang kini menjadi pedoman bagi para politisi tengik.
Tapi sekali lagi, ia bukan golongan pematung kacangan, Saudara. Ia cukup fasih—kendati sebenarnya cukup letih—merampungkan sepasang kaki sang patung. Hasilnya, kaki indah dengan betis memesona, persis kaki bidadari yang membeku belaka.
Nah, begitulah urutannya, Saudara. Sang patung pun rampung. Dan tampak demikian hidup. Berkali-kali lelaki itu menatap patung itu, lalu tersenyum seolah mengenang sesuatu. Ditatapnya sang patung lekat-lekat. Tiba-tiba, entah dapat bisikan dari mana, ia meniup bagian atas patung itu seolah hendak menyusupkan nyawa ke ubun batu.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah adegan yang sungguh susah diterima akal sehat. Lelaki itu tetap bersikeras meniup ubun-ubun patung itu. Berkali-kali ia meniup begitu, tak putus-putusnya, sampai tubuh lelaki itu menjadi merah, merah marun, kemudian menjadi jingga, lalu menguning, memutih, dan pelan-pelan menjadi bening, bertambah bening, bertambah bening lagi, hingga yang tampak hanyalah jeans dan kaus oblong yang melorot ke lantai. Tapi, cerita ini tak berhenti di sini.
Setelah tubuh lelaki itu tembus pandang dan menghilang dari pandangan—seperti yang saudara ketahui bersama—justru sekeliling kampung menjadi gempar. Beberapa tetangga ngotot malam-malam mendengar lelaki itu bernyanyi meniru gaya Robin Gibb The Bee Gees: I started a joke, which started the whole world crying… I started to cry, which started the whole world laughing…* Mereka yakin nyanyian itu berasal dari sang patung ciptaan lelaki itu. Bahkan beberapa dari mereka bilang si lelaki telah menyatu, manunggal dengan batu.
Perihal yang demikian itu, terus terang aku ragu, Saudara. Sebagai bayangan lelaki itu, aku tak berani bersaksi soal yang begitu, sebab diriku pun pelan-pelan lenyap terisap lampu, bersama raibnya tubuh si lelaki. Kuceritakan ini pada Saudara sekalian, agar Saudara tak terbawa terlalu jauh oleh cerita warga yang kian kecanduan wabah sinetron misteri itu.
Tapi, seperti lampu yang mengisap wujudku, bukankah Saudara juga tak mampu mendengar suaraku?(*)
Surabaya, 2013
A. Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, dan tinggal di Surabaya.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan A. Muttaqin
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo”