Batu-batu di Bukit Montorra – Telaga Pemandian Dewi Gelintang – Soto Buatan Ibu – Pohon Jati di Kebun Nenek

Karya . Dikliping tanggal 27 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Batu-batu di Bukit Montorra

suhu menjilami jantungku
dengan harum laru
dan kemarau masih menjadi ibu
yang mengasuh anak-anaknya
dengan angin dari timur,
tandaskan wangi gula ke datar kulit
serasa jemari musim menggores segaris alit.
diamku adalah bahasa kaum penyabar
yang rela tak diajak bicara oleh puluhan burung
yang kerap mengasah paruh di batang jagung.
dan mataku, mata purba tak beralis
tak berkedip, merahasiakan setiap pandangan
ke dalam hati yang lengang
:bahwa di sini pernah kusaksikan
leluhurmu menjerit kesakitan
di depan tangan-tangan kasar tentara Jepang.
Bungduwak, 19.11.16

Telaga Pemandian Dewi Gelintang

rambutmukah semanggi lembut
yang melumat air dengan daun menyelam?
barangkali akan mencedok sisa harum tubuh
pangeran
yang pernah membasuh wajahnya di sini
sebelum peperangan dimulai
ketika sepasang ikan saling menunggu
di celah dua batu yang berjauhan
dengan sirip patah oleh cabik kerinduan.
demikiankah engkau dan pangeran
selalu jadi sepasang ikan?
bercinta di kedalaman, semasih air bening
dan puluhan capung berputar-putar
lalu membaca puisi dari lengang daun semanggi
tentang cintamu yang tersimpan dalam telaga ini
menjadi lumpur yang abadi
dan bisa melekat di setiap kaki.
Gaptim, 2016

Soto Buatan Ibu

lumatan bumbu di cobek batu
rempah hibat berpuluh rindu
yang kupetik di batang tubuhmu.
pisau yang mengiris lontong
memasukkan cerita ke lambung mangkuk
tentang cinta yang tertakar
tentang bungkus daun yang rela terkapar.
lalu kecap, sambal, sohun dan jeruk nipis
datang melengkapi hidangan ini
membawaku masuk kembali
ke dalam rahimmu yang sunyi
dan menikmati selera kehidupan
yang tak terduakan.
Gapura, 2016

Pohon Jati di Kebun Nenek

aku tua dalam diam
menapis angin sepasang musim
yang menyentuh kulit
seperti menyabun ratusan cerita
yang tertampung menjadi kusta.
kurontokkan kembang-kembang tua
sebagai persembahan kepada tanah
yang dengan tekun menjaga akar
mengajari belukar
di bahu batu-batu kekar
karena hanya dengan persembahan
segala petaka akan dipatahkan,
petaka hama yang berumah daun
melanun kulit dan jantung,
petaka tanganmu
yang membawa mesin kayu
dan merobohkan banyak tubuh
sebelum yang lain tumbuh.
Bungduwak, 21.11.16

Gerbang Masjid Jamik Sumenep

angin menjilat dindingmu
dan menyesap sisa telapak tangan arsitek Cina
yang menyusun batu-batu ke dalam tubuhmu
berabad-abad yang lalu.
dindingmu yang berparam kapur
beralit cat kuning dan hijau
selalu menyentuhkan bibir basahnya ke setiap orang
mengecup hati yang kering
mematah batu dan beling.
Sumenep, 2016
A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Karya juga terhimpun dalam antologi pribadi dan bersama. AW Rovi Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura Sumenep. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 27 November 2016