Bayangan Pohon – Anak dan Ayah – Di Rumah Penyair – Kartu Katalog – Pesan – Ajalmu Jauh di Pulau – Jarak antara Bermimpi dan Terjaga

Karya . Dikliping tanggal 28 Februari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Bayangan Pohon

             Pohon yang suka dihinggapi angin pagi itu sedang memandangi
bayangannya yang memanjang di tepi jalan di belakang komplek sebuah
sekolah, ketika sebuah mobil antar-jemput berhenti dan berteduh di sana.
             Lelaki itu menatap anaknya yang tiba-tiba bercahaya yang berjalan bergegas ke gerbang sekolah dan merasa dirinya menjadi bayang-bayang
dari sesuatu yang tumbuh tinggi antara dia dan anaknya.

Anak dan Ayah

             Ia terbangun tengah malam, mengambil air minum, dan terganggu
oleh tangisan seorang anak yang terpisah dari ayahnya yang tadi ia temui
dalam mimpinya.
             Ia bertemu dengan ayah yang mencari anaknya dalam mimpinya
sebelum ia terbangun di pagi hari, lalu bergegas mandi dan berangkat
kerja ke kantor dengan kendaraan umum.
             Pada jam istirahat makan siang, ia bercerita dan bertanya kepadaku
bagaimana caranya mempertemukan anak dan ayah yang ia temui dalam
dua mimpi yang berbeda malam tadi.

Di Rumah Penyair

                                                    : sdd
             Ada beberapa kata yang mengambang gelisah di ruang tengah
rumahmu. Malam itu, aku membaca pengantarmu untuk buku puisimu,
dan berpura-pura tidak melihat mereka.
             “Dia sedang berusaha menyelesaikan Puisi itu lagi,” kata salah satu
kata di antara mereka. Sepertinya itu kata mungkin.
             “Dia sedang menyunting masa lalunya yang rumit,” ujar kata lain.
Aku tak yakin, apakah kata itu harus atau mustahil.

Kartu Katalog

             Kartu katalog buku itu ingin sekali berjumpa denganmu. Ia ingin
membacamu, memandangi sampulmu, atau terselip di antara halaman-
halamanmu. “Mungkin di situlah sebenarnya tempatku,” katanya
kepadaku yang siang itu tak berhasil juga menemuimu.
             Tapi, “Buku itu sudah lama tidak ada lagi di sini,” kata penjaga
perpustakaan itu. Aku tak sampai hati mengabarkan cerita itu kepadanya.
Aku tak mau nanti dia merasa telah mendustai aku.

Pesan

             Tolong sampaikan, aku dulu juga cair dan mengalir seperti engkau,
bisik batu sungai kepada arus yang terburu-buru itu.
             Di muara, arus itu tak tahu kepada siapa pesan dari batu sungai tadi harus ia sampaikan. “Apakah kepada laut yang asing ini?”

Ajalmu Jauh di Pulau

                                                    : Chairil
Angin, air, pulau, kau, dan jauh pacarmu
Terang, laut, bulan, kau, dan manis cintamu
Perahu, jalan, ole-ole, kau, dan leher gadismu
Waktu, sampai, iseng, kau, dan rapuh tahunmu
Dia, peluk, pangku. Aku, kau, dan sendiri ajalku
Hasan Aspahani

Jarak antara Bermimpi dan Terjaga

                                                    : untuk D
Seperti malam turun merasuk ke hutan
Seperti seseorang dari kanvas Jeihan
Seperti gunung dilembabkan hujan
Seperti uraian embun bangku taman
Seperti laut menyembunyikan bunyi angin
Seperti pendahuluan azan di masjid desa
Seperti diam madu pada jantung bunga
Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, 9 Maret 1971. Buku puisinya antara lain Mahna Hauri (2012).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasan Aspahani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 28 Februari 2016