Begitu Banyak Bulan Berlalu

Karya . Dikliping tanggal 9 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
NYI Saminah memandangi kalender yang baru dipasangnya sore tadi, lalu menghela napas. “Begitu banyak bulan berlalu. Tahun sudah berganti lagi. Masih belum ada tanggal yang harus dilingkari…”        Februari. Musim penghujan menebal bersama cuaca lembap yang menusuk tubuh. Udara dingin mengusap tubuh perempuan tua itu. Nyi Saminah beranjak dari tempatnya dan melihat anak semata wayangnya, Dulkarip, sedang mengasah batang-batang bambu untuk dijadikan kandang ayam di halaman belakang.
“SEHARUSNYA kamu sudah bikin rumah untuk keluargamu, bukan buat kandang ayam,” Nyi Saminah hampir saja mengucapkan kalimat itu, tetapi diurungkannya. Ia hanya diam memandangi anaknya.
Dulkarip telah berusia 29 tahun, tapi belum tampak tanda-tanda ia akan menikah. Ia masih seperti anak-anak muda yang merasa bebas, bisa melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan rumah tangga.
Nyi Saminah selalu merasa malu terhadap orang-orang sekitar sebab pemuda lain seusia Dulkarip sudah menikah, bahkan sebagian sudah punya anak. Seolah tinggal Dulkarip yang belum mendapat pasangan.
“Mak, jodoh itu seperti kematian, termasuk rahasia Tuhan. Ada yang cepat, ada yang lama. Kalau mak jalan keliling kampung, pasti banyak yang seumuranku belum menikah,” kata Dulkarip, pada suatu kali.
“Tapi, mungkin kamu harus sering-sering ke pasar, biar dapat kenalan. Kalau di rumah terus, kamu jadi tidak kenal orang-orang.”
“Jodoh itu di tangan Tuhan. Aku akan memintanya langsung kepada Tuhan. Sabar, Mak, jangan dengarkan apa yang dibicarakan orang.”
**
Pecundang” karya Yana Husnah Ruhyana
BEGITU banyak bulan berlalu. Setiap malam, ketika tidur di atas ranjang yang berderit, Nyi Saminah tak henti-henti berdoa agar Dulkarip cepat dapat jodoh. Namun, ia juga tak ingin Dulkarip menikah hanya karena seperti diburu waktu. Ia ingat masa lalunya sendiri, ketika dirinya berusia 30 tahun, yang merasa cemas tidak bisa berumahtangga.
“Sudahlah, yang penting menikah dulu, Minah, buat menghapus status perawan tua di masyarakat. Perkara sebulan bercerai, ya itu urusan gampang.” kata orangtua Nyi Saminah, waktu itu.
Memang, status perawan tua seperti aib yang sangat dihindari. Oleh karena itu, tawaran dari juragan minyak wangi kreditan untuk menjadikannya istri kedua pun diterimanya begitu saja. Dari pernikahan itu, lahirlah Dulkarip. Tapi, kemudian, Nyi Saminah harus membebaskannya sendiri sebab, tiba-tiba, sang suami meninggalkannya begitu saja.
Jadi Nyi Saminah tahu betul rasanya tertekan karena tak kunjung menikah. Orangtuanya uring-uringan setiap hari. Memberinya beban dari hari ke hari.
Sekarang ia pun tahu, Dulkarip hanya pura-pura tabah, pura-pura tenang, padahal menanggung beban serupa dirinya pada masa lalu. Apalagi, biaya menikah, dari hari ke hari, semakin mahal. Warga mulai terbiasa dengan pesta pernikahan yang mewah seperti yang sering mereka lihat di televisi. Para gadis akan mencari calon yang bisa membuatkan resepsi di gedung megah. Kalau tidak cepat mengumpulkan biaya dan menikah, Dulkarip bisa semakin kesulitan.
Semakin memikirkan hal itu, Nyi Saminah semakin sedih. Tapi, ia yakin, masih ada perempuan yang mau dengan anaknya meski kelak pesta pernikahannya tidak semewah orang lain. Soalnya, harta Dulkarip hanyalah ayam-ayam bangkok yang dipelihara di halaman belakang. Kalau semua itu dijual, paling maksimal dapat dua sampai tiga juta.
Ah. Tiba-tiba malam datang kembali, hari pun berlalu lagi. Nyi Saminah berbaring, memejamkan mata…
**
BERBULAN-BULAN kemudian, segalanya telah berubah. kalender di ruang depan rumah kecil itu menampakkan lingkaran-lingkaran merah pada beberapa tanggalnya.
Pernikahan itu direncanakan begitu sederhana. Dulkarip telah menjual sebagian ternak ayamnya sebagai tambahan biaya walimah dan pembelian maskawin. Mungkin ia memang beruntung. Ia mendapat pasangan seorang gadis, anak pemilik toko pakan ayam.
“Saya memang cari mantu peternak ayam bangkok,” kata calon mertua Dulkarip, saat itu. Ia hanya tersenyum. Jalan itu kini terbuka, benar-benar terbuka.
Pemuda itu jadi sering melingkari kalender. Entah itu tanggal pertemuan pertama dengan calon istrinya, tanggal melamar, sampai penentuan tanggal pernikahan. Ia beruntung, jodoh itu datang  tak jauh dari kegemarannya memelihara ayam. Berawal dari kebiasaannya membeli pakan ayam di kios yang baru dibuka, Dulkarip jatuh hati kepada gadis yang suka menjaga kios itu.
Tak dinyana, Dulkarip juga mudah akrab dengan ayah sang gadis. Keduanya kadang duduk membicarakan pasaran ayam hari ini, tentang ayam yang bagus untuk diadu dan berharga mahal. Akhirnya, kecocokan itu melahirkan jalan keluar tentang masalah Dulkarip selama ini.
“Menikahlah dengan Siti, anak saya,” kata orangtua gadis itu kepada Dulkarip.
Hari pun tiba. Tenda sudah dipasang. Banyak tetangga yang membantu, mulai dari urusan dapur sampai dekorasi. Undangan sudah disebar sejak pekan lalu.
Pagi ini, tepat beberapa jam sebelum pesta pernikahan digelar, Dulkarip menyempatkan pergi sendirian ke kompleks pemakaman desa yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Berbeda dengan rumahnya yang sedang ramai, kini dirasakannya suasana makam yang sepi, cericit burung, aroma bunga kamboja… 
Ia lantas berhenti di sebuah makam yang dipenuhi tumpukan daun kamboja kering. Makam yang sebenarnya masih baru.
Dulkarip mengusap nisan itu. Ia seperti ingin menangis…
“Mak…” katanya lirih.
Kini, ia benar-benar tahu, memang sudah begitu banyak bulan berlalu.***
Sungging Raga, penulis kelahiran Situbondo, Jawa Timur, 25 April 1987
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 7 Juni 2015