Bekas Bek

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Belum lagi tiga puluh menit, ia sudah seperti sepak bola Hungaria setelah selesainya era Para Penyihir Magyar. Ia mirip Brian Clough tanpa Peter Taylor.

IA pulang dari lapangan lebih cepat dari yang direncanakannya.

Saat menyepakati ajakan bocah-bocah itu, ia pikir akan meladeni mereka barang setengah jam. Nyatanya, belum lagi genap dua puluh menit dari saat ia dengan gembira menancapkan gawang kecil itu, ia sudah berada di jalan, menuju pulang, dengan langkah gontai, terseok, sempoyongan. Betisnya kejang, dengkulnya linu, pahanya ngilu, mata berkabut, kepala berdenyut. Dan, rasa pahit di mulut. Cuih! Sejak muntah di belakang gawang, ia belum berkumur dan minum.

Dalam langkahnya yang huyung, ia kepikiran pertanyaaan yang menakutkannya: apakah sepak bola telah benar-benar meninggalkannya? Jika sepak bola telah benar-benar menguap dari tubuhnya, masihkah ia seorang bek –sedikitnya, seorang bek yang buruk?

Sejak sebelum pulang, ia sudah memikirkan comeback kecilnya. Ini kepulangan yang istimewa, tak seperti kepulangan pada lima tahun terakhir –kepulangan rutin seorang buruh pabrik, yang begitu sampai rumah langsung kepikiran balik. Ia sudah pamit dengan atasannya untuk seterusnya. Pabrik itu, dengan gaji bulanan dan THR di pengujung Ramadan, mungkin menjanjikan masa depan. Tapi ia ingin masa depan yang berbeda. Dan, tentu saja, ia juga menginginkan masa lalu paling berharga yang hilang ditelan hari-hari kerja dan jam-jam lembur: main sepak bola.

Ia tahu sepak bola tak akan pernah kembali kepadanya seperti dulu, tapi setidaknya ia ingin merawat yang masih tersisa, sebisanya. Ia berencana menuliskannya. Di kepalanya ada cerita yang telah ngendon bertahuntahun dan kini tak lagi bisa ditunda untuk digarap. Ia ingin memulainya dengan menjenguk lapangan itu. Tempat ia pernah tumbuh. Tempat ia pernah punya mimpi. Menjadi pemain sepak bola. Persisnya, seorang bek.

’’Lapangan. Jam setengah empat!” begitu pesannya pada Muslim, temannya, sesampai di rumah. ’’Aku mau comeback,” lanjutnya, dengan tanda lidah menjulur di ujungnya. Muslim menyanggupinya. ’’Bola ada,” tambahnya.

Nahas, ia tak menemukan lapangan yang dicari. Yang ada hanya sebuah tanah telantar dengan alang-alang nyaris sepinggang. Entah kapan sepak bola terakhir dimainkan di tempat itu. Tak ada tanda-tanda yang tersisa untuk menyebut tanah kosong itu sebagai lapangan, kecuali kenangan atasnya. Di sebuah tonggak yang bisa diduga sebagai sisa gawang, seekor sapi dicencang, tengah memamah biak. Dan Muslim ingkar janji. Ia tak muncul. Bolanya juga.

Ketika comeback sang bek sepertinya akan tertunda, serombongan bocah datang dengan bola aus di kempitan.

’’Ikut main, Om,” yang paling besar di antara mereka menawarinya. ’’Pemainnya kurang satu.”

’’Main di mana?” lagaknya enggan. Ia tunjuk lapangan yang sudah bekas itu. ’’Gawangnya juga nggak ada.”

Terlihat tak peduli, bocah itu hanya menunjukkan sepasang ranting yang dipegang, juga menunjuk ke kejauhan lapangan di mana seorang bocah lain tengah menancapkan sepasang ranting yang dipasang sejajar dengan jarak empat tapak kaki.

Tanpa bilang ya, ia sabet ranting dari tangan si bocah. ’’Sini, aku yang pasang.”

Setelah gawang kecilnya berdiri, dengan congkak ia teriak, ’’Kalian maju! Aku bek!” Untuk sepak bola gawang kecil, orang terakhir di depan gawang adalah bek. Dan ia tersenyum menyadari telah mengatakan kalimat khas itu. Itu kalimat yang dulu sering diucapkannya. Dulu sekali. Comeback itu pun terjadi.

Tak sampai dua puluh menit kemudian ia sudah ada di jalan menuju pulang. Setelah kebobolan banyak sekali. Setelah muntah beberapa kali.

***

IA sudah mengira badannya akan hancur-hancuran, namun tak disangkanya akan sehancur itu. Belum lagi tiga puluh menit, ia sudah seperti sepak bola Hungaria setelah selesainya era Para Penyihir Magyar. Ia mirip Brian Clough tanpa Peter Taylor –dan Nottingham Forest tanpa keduanya. Ia sama remuknya dengan sepak bola Indonesia. Ia lebih menyedihkan dari lapangan yang sudah jadi bekas itu. Jelas sudah, ia kini hanya bekas bek, tak ubah sepotong papan lapuk yang kita sebut sebagai bekas meja.

’’Ah, pemain bola macam apa jam segini sudah pulang?” teriak sebuah suara.

Menyangka itu teriakan pikirannya sendiri, ia abai dan terus berlalu. Namun, teriakan itu ternyata berulang.

’’Oi, pemain macam apa yang jam segini sudah pulang!” Kali ini lebih keras, yang kemudian disusul penyebutan namanya: Is. Ia pun terpaksa menoleh.

Sudut mata kanannya kemudian menemukan seseorang tengah duduk di kursi di beranda sebuah rumah, di sisi seberang jalan. Rumah yang segera saja dia kenali. Juga, wajah yang diakrabi. Meski telah lama tak jumpa.

’’Cak Bal!” serunya dengan gembira.

Itu Jabal, satu-satunya bek desa ini yang dianggapnya lebih baik darinya. Sebelum mengenal Iwan Karo Karo, Pietro Vierchowod, dan bek kesayangannya, Trifon Ivanov, Jabal adalah bek pertama yang diidolakannya. Dia senior yang pertama-tama mempercayainya bermain sebagai bek ketika kebanyakan orang mendorongnya untuk maju, mengingat badannya yang kerempeng dan perawakannya yang tak sangar.

Jika Van Basten menganggap Cruijff adalah orang yang paling berjasa menjadikannya seorang striker, baginya Jabal-lah orang yang paling berjasa menjadikannya sebagai bek. Sebelum merantau ke Malaysia, Jabal adalah mentor langsungnya di lapangan.

’’Sini, Is, mampir!”

Dengan bergegas Is menyeberang. Namun langkahnya tertahan begitu ia menyaksikan pemandangan aneh. Dari kursinya, Jabal tampak bersemangat hendak bangkit. Namun, semangat itu terlihat tak diimbangi gerakannya. Cara bangkitnya tak biasa, seakan pantatnya menempel di kursi. Atau, seakan salah satu kakinya tak ada lagi. Ada sebuah kruk di sisi kursi. Tangan Jabal menggapai-gapai.

Tak mau melihat yang lebih mengejutkan lagi, Is berlari –dengan sisa tenaganya. Tapi ia sedikit terlambat. Jabal, bek legendaris yang sering dipanggil Jagal karena kesangarannya, telah berdiri dari kursi dengan lengan kanan bertopang tungkai kruk. Ia bersarung. Namun, dengan memperhatikan sisi bagian kanan sarung yang berkibar-kibar oleh tiupan angin sore, tak sulit menerka di balik sarung itu hanya terdapat satu tungkai.

’’Gemuk sekali kamu!” sambut Jabal dengan gembira. ’’Sudah jadi tauke ya?”

’’Tokek barangkali,” sahut Is dengan tawa.

’’Duduk,” Jabal mempersilakan. Ia duduk di dipan samping kursi yang diduduki Jabal. Dengan mencuri-curi, pandangannya coba menembus sarung, mencari tahu setak lengkap apa kaki yang ada di baliknya.

’’Kapan pulang dari Jogja?”

’’Baru tadi,” jawab Is, ’’Sampean?”

’’Dari mana? Aku sudah lama tak ke mana-mana.”

’’Dari mana lagi? Malaysia…”

’’Oh, itu… Kira-kira satu setengah tahun lalu.”

Tak ada pertanyaan lain yang menggantung di kepala Is kecuali, ’’Apa yang terjadi dengan kakimu, Cak?” Tapi, mulutnya macet. Beruntung Jabal tahu yang mesti dikatakan.

’’Aku pulang setelah kecelakaan itu.” Dan Jabal cerita perihal hilangnya kaki kanannya. Ia jatuh dari lantai tiga bangunan yang sedang digarapnya. Lutut kanannya remuk menghantam beton. Engkel kaki kiri meleset. Rusuk kanan patah. Koma enam hari. Amputasi.

Pening kepala Is yang baru saja reda kambuh lagi. Kisah hilangnya kaki Jabal sangat baik untuk memenuhi keingintahuannya. Tapi kenangannya atas kaki Jabal, betapa kuatnya kaki itu saat masih muda. Betapa menakutkannya bagi lawan-lawan yang pernah menghadapinya, membuatnya tak ingin mendapat cerita yang lebih lengkap lagi. Paling tidak, jangan saat ini.

’’Bapakmu tak pernah cerita?” tanya Jabal.

’’Bapak tahu?”

’’Dia orang pertama yang menolongku.’’

Is pura-pura mengangguk. Ia ingin ubah arah pembicaraan, namun tak ada bahan. Beruntung, sekali lagi Jabal menyelamatkannya. ’’Eh, katanya kamu mau kawin?”

Itu jenis pertanyaan yang tidak disukainya. Namun, untuk kali ini, alangkah menyenangkannya ditanya seperti itu. ’’Ah, kata siapa?” jawabnya, dengan tawa.

’’Dibikinkan kopi ya, Is?’’

’’Tak usah repot, Cak.” Satu-satunya keinginannya adalah segera pergi dari tempat itu.

’’Ah, aku lupa,” Is pura-pura menempelak keningnya. ’’Tadi aku ditelepon Bapak diminta cepat pulang. Penting katanya. Makanya, ini balik awal, haha …. ” Is tertawa di ujungnya. ’’Lagi pula sudah sore. Kapan-kapan aku pasti main lagi.’’

Is berucap salam dan bergegas pulang. Perutnya kembali mual. Ia berjuang sangat keras untuk tak muntah lagi.

***

’’Dari mana?” tanya suara dari dalam rumah. Itu bapaknya, satu-satunya orang yang ada di rumah. Is menjawab dengan mencopot sepatu dan melepas kausnya.

’’Ada yang main bola, apa?”

’’Cuma anak-anak.’’

’’Sudah lama sepi itu lapangan.’’

Tak ada sahutan dari Is.

’’Makanlah. Nasinya sudah matang.’’

Is baru ingat, seharian perutnya belum terisi nasi. Isi perut yang dimuntahkannya beberapa kali tadi adalah bakso yang ia beli dalam perjalanan pulang, ketika berganti bus di Terminal Bojonegoro.

Masuk ke rumah, tatapan Is disergap oleh pertandingan sepak bola di TV. Tatap mata bapaknya yang tak berkedip memandang ke layar kaca, dan punggung parobayanya yang awalnya diam lalu terguncang hebat begitu sebuah peluang tercipta tapi gagal. ’’Celaka!” cetus orang tua itu. Kepalan tangan kanannya menghantam telapak tangan kirinya.

Sejak pulang setahun lalu dari Malaysia dan memutuskan tak balik lagi ke Negeri Jiran itu, orang tua tersebut tinggal sendirian di rumah. Istri dan anak sulungnya masih di Malaysia, anak keduanya (yang kini pulang) tinggal dan bekerja di Jogja, anak ketiganya belum lama lulus dan coba-coba kerja di luar Jawa, sementara anak keempatnya belum selesai kuliahnya di Malang. Ia masak sendiri, belanja ke pasar sendiri, beli garam dan merica sendiri, menawar ikan dan tanya harga telur sendiri, bikin sambal sendiri.

Setelah 20 menit penuh penyiksaan di lapangan bola, Is jelas lapar. Namun, pahit di mulutnya, juga linu di sendinya, membuatnya memilih berbelok ke kamar mandi dulu. Mukanya ia basuh berulang-ulang agar warna pucatnya hilang. Juga agar bayangan kaki Jabal yang tinggal satu, pergi. Dikumurnya mulutnya kuatkuat, agar rasa pahitnya hilang.

’’Mana sama mana, Pak?” tanyanya basa-basi, dengan tangan menyangga sepiring nasi .

’’Persija-Persipura.’’

Ia menjejeri bapaknya menonton. ’’Berapa-berapa?”

’’Remuk Persija! Setengah jam, jebol dua. Padahal tuan rumah.”

Is menyuap nasi dengan mata ke layar kaca. Ia seharusnya memikirkan obrolan lain, tapi ia bilang: ’’Tadi aku ketemu Cak Jabal.”

’’Oh ya, dia sering tanya kamu kalau ketemu aku.”

’’Kok bisa Cak Jabal…”

Is sangat menyesali kalimat itu. Cuci muka tadi rupanya sama sekali tak membantu.

’’Kasihan dia,” celetuk bapaknya.

’’Ya, kasihan. Ia bek. Bek bagus. Lalu kehilangan satu kaki,” Is menyahut dengan berat hati.

’’Dia terpaksa melakukannya.’’

Is terpasak dengan kata terakhir bapaknya. Suapan di ambang mulut dikembalikan ke piring. ’’Bunuh diri?”

’’Tidak. Cuma mau cari asuransi.’’

Piring diletakkannya di meja. Ia sudah tak lapar lagi.

’’Ia melakukannya setidaknya dua kali. Keluarganya terlalu menuntut, padahal gajinya tak seberapa.’’

Siaran langsung di TV seperti berhenti seketika. Ia menatap bibir bapaknya, menanti kalimat selanjutnya.

’’Sebelumnya, untuk tambahan membangun rumah, ia sudah mematahkan jarinya. Tiba-tiba mertuanya sakit berat, sementara anak sulungnya mau masuk pondok. Ia bingung. Ia lompat dari lantai tiga. Niatnya yang penting masuk rumah sakit. Tapi ia tak tahu kalau di lantai satu masih ada perancah yang terpasang. Ia terpelanting, dan mendarat dengan cara tak semestinya.”

Is membayangkan tempurung lutut Jabal yang pecah.

’’Ya, begitulah. Asuransi dapat gede. Mertuanya sembuh, anaknya masuk pondok bagus, tapi kakinya tinggal satu.”

Is memungut piring dengan nasi masih tersisa, bangkit, dan berjalan menuju dapur. Tanpa suara. Sebelum berhasil meletakkan piring di tempat cucian, ia memuntahkan kembali makanan yang belum lagi masuk ke lambungnya. Semuanya. Tak tersisa. ***

MAHFUD IKHWAN

Cerpenis kelahiran Lamongan. Novelnya, Dawuk, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Sebelumnya, novelnya yang lain, Kambing dan Hujan, menjadi pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2014.

[1] Disalin dari karya Mahfud Ikhwan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 8 Juli 2018