Benda Gaib

Karya . Dikliping tanggal 4 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

KERIS itu menancap di tubuh Ayam Cemani yang hitam legam terselimut kain berwarna awan. Di ujung kelokannya yang nongol, terlihat bercak-bercak darah yang dibiarkan kering. Artinya, benda itu telah merenggut satu korban. Bulu romaku berdiri dari tadi, sejak Pak Ahmad mengatur napas, dan mengganti tasbihnya yang putus lantaran pergulatan di alam sana.

“Jangan sentuh!” Teriak Pak Ahmad padaku yang hendak menyingkap kain itu. Rupanya Ayam Cemani masih menyerap energi hitam. Pak Ahmad bilang, benda itu terkirim di sudut kamar mandi rumah kami, sehingga darah hitam Ayam Cemani mesti ditumpahkan di sana. Benda yang tak sengaja kusentuh itu sebenarnya terasa seperti sengatan tawon, tapi kutahan kesakitan itu agar mereka tak ikut terbawa cemas.

Aku tahu dalam keadaan seperti ini, aku seharusnya lebih banyak diam dan menyaksikan. Ini ritual ketiga yang dilakukan Pak Ahmad untuk mengusir roh jahat dan mencabut benda gaib yang bersemayam di rumahku.

Ritual pertama adalah mandi di sungai yang deras sambil menyebut nama Tuhan. Konon, itu dilakukan agar ‘yang bersemayam’ di tubuh kami lepas dan hanyut terbawa arus. Akan tetapi, ternyata tak berhasil. Bahkan hawa panas menjadi tumpah ruah. Maka, kami lanjutkan dengan ritual ke dua. Kali ini dua buah kelapa disiapkan sebagai mediasi. Lampu-lampu dipadamkan. Remang-remang kulihat bibir Pak Ahmad komat-kamit seperti sedang membaca sesuatu. Kemudian pandanganku beralih pada satu buah kelapa yang bergetar tiba-tiba. Pak Ahmad menarik napas panjang kemudian tersenyum buah delima. “Roh jahat itu telah berhasil diringkus.” kata Pak Ahmad puas.

Sudah banyak cara yang kami lakukan untuk menyelamatkan kakak dari maut, mulai dari tenaga medis profesional, herbal, dan pijat. Kurasa semua usaha itu hanyalah sesuatu yang percuma sebab penyakit kakak memang tidak wajar. Ia terus mengeluh sakit di bagian kepala dan perutnya, tapi dokter tak berhasil mengindikasi apa pun, sampai akhirnya Kakak benar-benar meregang nyawa. Tak putus di kakak, adikku juga mengalami hal-hal tak masuk akal seperti diganggu roh jahat. Adikku merasa ada ‘sesosok’ makhluk yang datang dari negeri lelembut yang memeluk dan melucuti tubuhnya setiap malam.

Jadi, sekarang kami memilih melakukan penanganan secara metafisik. Awalnya aku yang sudah menginjak umur 22 tahun setelah Januari mendatang, merasa ragu dengan ide tabu itu. Aku ingat, kakak adalah orang yang sangat baik hati dan dermawan.Dulu, waktu kecil kakak pernah tak sengaja mencolok mataku saat bermain perang-perangan. Lalu dia menjadi orang yang sering mengucapkan maaf saat mentraktirku makan dengan uang sakunya.

Sementara itu, adikku yang berumur 18 tahun adalah seorang feminin yang cerdas dan pandai bergaul. Bagiku, hampir mustahil kalau kakak dan adikku punya musuh, apalagi sampai nekat mengirim benda gaib semacam itu.

“Kalian yakin, tak ada orang yang pernah kalian sakiti?”Pertanyaan Pak Ahmad itu ditujukan kepada kami. Aku dan adikku menggeleng setelah menyelisik peristiwa di kepala kami, tapi Ayah dan Ibu seperti memintal sesuatu.

Beberapa bulan yang lalu, ayah diminta datang ke balai desa untuk menjelaskan laporan gugatan tanah Pak Awi. Tentu awalnya mereka tak mau memperkeruh keadaan hanya karena permasalahan kecil yang menjadi bumerang sendiri untuk Pak Awi.Ayah punya segala berkas kuat yang ditandatangani langsung oleh mendiang Pak Suroto yang menjual tanahnya untuk kami, sedangkan Pak Awi sebagai penggugat, mengira-ngira saja. Tapi pria berkelulusan SD itu merasa kuat dengan tuduhannya, sampai berani ditembuskan langsung ke kepala desa.

“Jadi, bagaimana masalahnya?” Seorang pria berkumis tebal menyambut kedagangan ayah. Dia adalah Pak Sukanta, kepala desa kami.

Ayah kemudian menjelaskan kronologi yang terjadi. Ternyata waktu itu ibu sedang memasak tumis kacang panjang favorit kami. Aroma cabai, bawang merah, merica, dan rempah-rempah yang digoreng, menjadi unggunan asap yang membakar mata dan penciumannya sehingga dibukalah jendela rumah agar aroma pedas itu  pergi.

Di sisi lain, pada waktu yang sama, Pak Awi baru pulang dari sawah, kerutan wajahnya menunjukkan kelelahan. Ia berjalan agak terhuyung membawa sekarung padi di samping rumah dan tak sengaja menyundul jendela kami yang terbuka.

Bletaaaakkk! Dug!

“Bangsat! Siapa yang membuka jendela sembarang?” Teriaknya dengan nada kasar. Ternyata desas-desus yang mengatakan kalau Pak Awi orang yang keras adalah benar. Bahkan sebagai orang yang lebih tua, ia sampai berani memasuki rumah dan mengomel ngalor ngidul. Kami cukup mendengarkan dan tak mau memperpanjang masalah, sehingga di sela-sela rentetan emosi yang dilemparkan. Kami terus meminta maaf, akhirnya ocehan itu sampai pada, “Kalau bukan karena bapakku, kau tidak akan punya rumah barang cuma satu jengkal, lagi pula kau sudah mengambil tanah hakku di samping rumahmu, aku tuntut kau nanti.”

Awalnya kami mengira kalau itu gertakan saja, ternyata pria berkulit hitam gelap itu serius melapor ke Pak Sukanta. Bapak kepala desa mulai mengelus kumisnya. “Apa ada yang bisa dijadikan barang bukti, seperti surat kepemilikan tanah?”

Ayah kemudian menunjukkan semuanya, sementara Pak Awi duduk menahan malu. Tatapannya tajam mengiris mata ayah. Ia menahan dendam yang bergolak di hatinya. Dendam yang mungkin lebih besar dan berbahaya dari taring sebuah bukti yang menggugurkan gugatannya.

“Sudah selesai,” kata Pak Ahmad kemudian, “orang yang berbuat seperti ini merasa dirinya dizalimi sehingga ia berusaha membalas, tetapi biarkan. Setelah perkara selesai, biasanya orang itu akan sakit, lalu menerima risiko yang diterima pengirim semestinya, benda gaib berupa keris berkelamin wanita itu, juga mungkin warisan dan pelaku bisa mengirim sendiri, sebab ia sudah lama menjadi benda gaib yang diisi kekuatan kanuragan oleh tuannya. Kalau beli dan meminta bantuan dukun untuk mengirim, mungkin harganya bisa mencapai Rp30 juta.”

Kemudian benda gaib yang sekarang ‘kosong’ itu, akhirnya kami simpan di lemari. Kata Pak Ahmad, keris itu sekarang hanya benda biasa yang bisa digunakan sebagai pajangan. Tak ada kekuatan gaib di dalamnya. Beberapa hari kemudian, setelah kejadian itu, Pak Awi meninggal dunia. Tak ada yang tau penyebab kematiannya. Yang jelas, kami menjadi semakin yakin kalau selama ini memang dialah yang mengirim benda gaib ke rumah kami.

Akhirnya kami hidup tenang. Adikku tak lagi mengalami hal buruk apa pun. Tapi akhir-akhir ini, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Setiap terlelap di malam hari. Aku selalu bermimpi duduk di sebuah batu besar, dengan seorang perempuan yang tiba-tiba datang. Bajunya putih tipis dengan rambut berurai sebatas bahu, aku tak ingat detail wajahnya. Tapi dia punya senyum yang manis.Kadang perempuan berkaki jenjang itu suka berlaku manja padaku. Mencium tanganku layaknya seorang istri pada suaminya dan menggigit jariku tiba-tiba. Saat itulah aku terbangun.

Bekas gigitannya masih terasa ketika ibu teriak di kamarnya. Aku langsung berlari ke sana. Rupanya ayah tak sadarkan diri di ranjang, matanya terbelalak dengan mulut berbusa. Setelah kuperiksa denyut nadinya dengan penuh kegamangan, ayah ternyata sudah tidak ada di dunia. Suasana duka menyelimuti rumah kami. Tapi anehnya hanya aku yang tidak menangis, aku merasa puas dengan kematian ayahku sendiri. Gigitan halus perempuan itu masih terasa di telunjuk tangan kiriku sampai sekarang.

Malam berikutnya aku bermimpi lebih panjang dengan perempuan jelita itu. Lagi-lagi ia tersenyum memandang dengan tatapan yang berarti. Ia menghampiriku yang kuyup diguyur hujan. Daun-daun mendesir di bawah langit dan angin mengibaskan rambutnya yang kelam. O, perempuan berwajah merah jambu, ia telah sampai di samping telingaku untuk berbisik setelah beberapa kali menghitung langkah tanpa jejak.

“Perjalananmu masih panjang. Kalau mau, aku akan membantumu mengakhiri semuanya,” ujarnya dengan suara berbisik.

Aku tak mengerti maksudnya, tapi dia memang perempuan yang cantik, aku sudah menyimpan hati kepadanya sejak pertama bertemu, bahkan sekadar dalam mimpi. Beberapa kali ia melirik jariku seperti sebelumnya.

“Ada apa dengan jariku?” Tanyaku kemudian.

“Aku ingin menggigitnya lagi demi menuntaskan sebuah janji.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, kita akan menikah setelah aku menggigit dua jarimu lagi.”

Lalu ia menyentuh lenganku dengan ayunan yang halus dan menggigit kelingkingku. Kemudian beralih ke jari manis dan ia kembali tersenyum. Lagi-lagi aku terbangun setelah itu. Bedanya kali ini, terbangun dengan menyentuh leher ibuku yang sudah tak benyawa. Aku mundur beberapa langkah dengan perasan kalut dan tak sengaja menginjak sesuatu, ia adalah jasad adikku yang juga tak bernyawa. Mereka semua tewas dan tak ada kesedihan sedikit pun. Yang kutahu, kuku-kuku jari kiriku telah penuh bercak-bercak darah yang dibiarkan kering di dekat bekas sengatan keris yang panas itu. (M-2)


[1] Disalin dari karya Asqo L Fatir
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 3 Maret 2019