Beras Genggam

Karya . Dikliping tanggal 29 September 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
BERTAHUN-tahun kemudian, walau akhirnya kau tahu Kramat Ako bukan penduduk asli kampung kami, kebanggaan kami terhadapnya takkan berkurang sama sekali. Kata Wak Usman, ”Jangan menepuk air ke muka. Sejak zaman Paik Lidah, tak ada yang asli di kampung kita. Bahkan nenek-moyang kita, Linduang Bulan, berasal dari kaba, semacam cerita yang didendangkan oleh orang-orang kampung hulu.”
Cerita-cerita yang didendangkan itu, bagi orang-orang kampung hulu, juga cuma cerita pelipur lara. Artinya, kata Wak Usman, Linduang Bulan tidak benar-benar ada. Nenek-moyang kami tak lebih cuma dongeng, tidak nyata. Dalam pikiran kanak-kanak kami waktu itu, tentu saja hal itu tak masalah. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, setelah kami tak kanak-kanak lagi, hal ini jelas sangat mengganjal. Bagaimana, coba, sebuah kampung, sekelompok manusia, bisa muncul begitu saja?
BERAS GENGGAM
Dan sebenarnya, bukan hanya nenek-moyang yang tidak nyata. Banyak hal lain di kampung kami juga tak masuk akal atau tidak kami mengerti. Biasanya hal itu berkaitan dengan larangan, pantangan, berbagai adat dan kebiasaan, yang kami tak tahu kenapa sesuatu tidak boleh dilakukan dan sesuatu lain boleh atau malah harus dilakukan. Dalam hal inilah, kau tahu, seperti yang akan kami ceritakan, Kramat Ako sangat membantu kami. Sesuai namanya, ako dalam bahasa kami berarti ’akal’. Sedangkan kramat adalah kata yang kami gunakan untuk menyebut orang-orang sakti.
Tentu bukan hanya Kramat Ako orang sakti di kampung kami. Sejak puluhan atau ratusan tahun lalu, setiap zaman di kampung kami selalu ada orang-orang sakti. Kramat Gonok, Kramat Pago, Kramat Paku, adalah beberapa di antaranya. Menurut Wak Usman, orang-orang sakti ini didatangkan Tuhan seperti sesuai dengan kebutuhan kampung kami pada masa itu. Kramat Pago misalnya, ia didatangkan pada masa orang-orang Belanda ingin masuk menjajah kampung kami. Sesuai namanya, pago yang berarti ’pagar’, Kramat Pago bagai memagari kampung, membuat orang-orang Belanda tak berdaya, pontang-panting pergi dari kampung kami karena, selain tubuh Kramat Pago kebal tak mempan senjata, ia juga bisa dengan mudah membuat segerombol tentara Belanda terpelanting terpental jauh hanya dengan mengibaskan tangannya.
Berbagai larangan dan pantangan, hal-hal tak masuk akal itu, kami sadari pula kemudian, juga banyak berasal dari kampung hulu. Bahkan falsafah hidup kami, dune takoko jadi guru, juga berasal dari falsafah hidup orang-orang kampung hulu yang di kampung hulu berbunyi alam terkembang jadi guru. Dan Kramat Ako, dengan caranya sendiri, telah memperlihatkan pada kami bagaimana kami harus menggunakan akal, belajar dari alam, justru melalui berbagai larangan dan pantangan itu.
Pantangan menebang pohon di Bukik Coro misalnya, baru kami pahami setelah terjadi longsor yang menimbun tiga keluarga di hutan perbukitan itu. Orang-orang bilang itu dikarenakan makhluk halus penunggu hutan Coro marah, tetapi kata Kramat Ako jenis tanah di Bukik Coro adalah tanah yang mudah dikikis air, sehingga, bila pohon-pohon ditebang dan akar-akar pohon jadi hilang, tak ada lagi yang mengikat dan menahan tanah dalam posisi semula. Begitu pula larangan tak boleh bermain ke Lubu Lekok ketika bintang Buluk bersinar terang, setelah dijelaskan Kramat Ako kami lalu tahu tak ada sama sekali bili (bahasa kami untuk menyebut iblis) yang turun dari bintang memakan habis burung-burung lekok.
Burung lekok, di kampung kami, adalah semacam burung bangau. Kenapa kami namakan lekok karena pada musim tertentu burung ini selalu datang beramai-ramai ke Lubu Lekok. Lubu Lekok adalah rawa dangkal di sebelah utara kampung kami, di pinggir Sungai Tangari. Saat bintang Buluk bersinar terang, itu pulalah saat air akan naik dari sungai dan Lubu Lekok akan tergenang. Ikan-ikan juga akan berenang naik, sampai ke Lubu Lekok, dan itu adalah sumber makanan anak-anak burung lekok ketika nanti telur-telur mereka menetas. Jadi, bila saat itu, ketika bintang Buluk bersinar terang itu—jelas Kramat Ako—kami bermain-main ke Lubu Lekok, maka yang sebenarnya terjadi adalah ikan-ikan akan tak naik dari sungai. Dan artinya, calon-calon anak-anak burung lekok akan tak punya sumber makanan. Inilah sebab burung-burung lekok lalu menghilang, bukan karena ada bili turun dari bintang.
Bintang-bintang, memang, harus kami katakan, adalah salah satu sumber pelajaran alam penting yang diberikan Kramat Ako. Setelah bintang Buluk menandakan air masih akan tergenang di rawa-rawa itu misalnya, ada bintang Goge yang muncul di ufuk barat saat senja sampai lepas Magrib. Bintang bergugus segi enam itu memberi tanda inilah saat ideal buat menyemai. Bila kami lalai, padi akan tak dapat waktu yang cukup memperoleh air. Karena, 20 hari setelah kemunculan gugus bintang Goge, air akan segera surut.
Tetapi, seperti sudah akan kami ceritakan, di kampung kami tak hanya ada Wak Usman, Wak Raitan, atau Wak Rapani, orang-orang atau tokoh-tokoh yang mengikuk (menuruti, percaya pada) Kramat Ako. Melainkan juga ada Wak Janewo, tokoh yang, bersama keluarganya, turun-temurun, entah sejak kapan, seperti tak suka atau bahkan benci pada Kramat Ako.
Tak ada yang tahu pasti apa sebab Wak Janewo tak suka pada Kramat Ako. Tetapi Wak Rapani, yang usianya sudah hampir 80 tahun—seusia dengan Kramat Ako—pernah bilang mungkin semua berawal dari teguran Kramat Ako pada Nyik Jamain, ayah Wak Janewo, dulu sekali, saat Nyik Jamain masih hidup, tak boleh mengolah tanah menggunakan traktor. Kata Wak Rapani, ini berkaitan dengan pantangan atau larangan lain di kampung kami yang disebut dulak tana.
Dulak tana adalah keharusan menggunakan tajak, semacam cangkul kecil, untuk membalik tanah. Nyik Jamain yang keturunan terpandang, hidup berkecukupan, punya banyak tanah, menganggap adalah bodoh tetap menggunakan tajak pada saat mampu membeli traktor. Kami sendiri yakin, kau pasti akan sependapat dengan Nyik Jamain. Tetapi, Kramat Ako bilang: tanah garapan kampung kami adalah jenis tanah bok (bahasa Krmat Ako untuk menyebut tanah gambut) yang bila dibalik atau diolah terlalu dalam akan membuat tanah jadi asam. Dan Kramat Ako benar belaka. Bukan hanya hasil yang tahun demi tahun terus menyusut, tetapi juga banyak tanah Nyik Jamain yang akhirnya tak lagi bisa ditanam.
Peristiwa yang agak jelas kami ingat, mungkin karena saat itu kami sudah remaja dan Nyik Jamain sudah meninggal, adalah ketika Wak Janewo mendatangi Kramat Ako tak terima ditegur karena golek api. Di sepanjang jalan pulang dan berpapasan dengan kami yang bermain-main di pinggir Tangari, kami mendengar bagaimana Wak Janewo meredong-redong (mengumpat-umpat, memaki-maki). Dan kami ingat pula, itulah saat kami pertama tahu (tepatnya pertama tertarik, pertama peduli) bahwa Kramat Ako bukan orang kampung kami. Umpatan ”tak usali (asli)” dan ”tau apo (tahu apa) golek api” menyembur meletus-letus dari mulut Wak Janewo.
Golek api adalah larangan tak boleh membuat unggun di ladang. Saat itu, mungkin karena cepat dimatikan—Kramat Ako sendiri yang bergegas memadamkan api—memang tak ada sesuatu yang terjadi. Tetapi, di saat lain, ketika Wak Janewo kembali melanggar golek api, lama, sampai berhari-hari, api tak bisa dipadamkan. Ladang Wak Janewo di Lubu Tingkek, sampai jauh ke pinggir hutan Rimbo Sekejam, hangus hitam mengabu-arang. Dan yang amat membuat susah, kabut-asap bagai mengepung kampung, membuat kami hampir-hampir tak bisa bernapas. Kata Kramat Ako: api sukar dimatikan dan kabut-asap jadi tebal karena jenis tanah bok bisa memendam sisa pembakaran. Hal yang baru saat itulah kami paham, dan mengerti, maksud pantangan golek api. Dan agak jelas juga, peristiwa itu pulalah yang membuat kami mulai merasa kagum, bangga pada Kramat Ako. Dan ya, benar, saat itu pulalah kami mulai bertanya-tanya.
– Siapa sebetulnya Kramat Ako?
+ Dulu ia bernama Jumali. Seorang pintar, sekolah tinggi di kota, puluhan tahun lalu datang kemari, kata orang ia ”meneliti”, lalu memutuskan menetap di kampung kita.
– Kenapa memutuskan menetap?
+ Karena ia senang pada kampung kita. Karena semua apa yang ada membuatnya suka. Katanya, ”Apa-apa yang ada di sini semua masuk akal.”
Masuk akal! Jangankan kami para remaja, orang-orang dewasa atau orang tua-tua pun, bahkan, kala itu konon tercengang. Masuk akal, justru hal itulah di kampung kami paling mengganjal. Tetapi, Kramat Ako yang menjelma dari Jumali, hari demi hari, terus memperlihatkan bagaimana alam, bagaimana semua yang tak masuk akal itu, ternyata, telah sejak lama menuntun kami.
Setelah gugus bintang Goge, Kramat Ako menunjuk gugus bintang Betigo, juga di ufuk barat, yang terdiri dari tiga bintang berderet membentuk garis lurus. Kualitas terang tiga bintang ini menandakan akan berapa lama berlangsungnya musim kering. Dari situ, selain mengerti kapan membereskan dami di sawah, kami juga tahu apa palawija yang cocok pada musim itu. Dan begitulah terus, selain durian dan duku yang musimnya tetap, panennya berurutan, dan hasilnya untuk tabungan, palawija dan padi menghidupi kami sepanjang tahun. Tetapi, seperti masih sedang kami ceritakan, tidak begitu halnya dengan Wak Janewo.
Selain banyak tanah Wak Janewo yang tak lagi bisa ditanam, terpengaruh orang-orang kampung hilir yang mengganti durian dan duku dengan sawit, ia juga mengolah sawah dengan cara berbeda. Mirip-mirip Nyik Jamain, Wak Janewo menganggap adalah bodoh panen tetap sekali pada saat bisa dibuat tiga kali. Lalu datanglah apa yang ia sebut padi unggul, pupuk kimia, obat-obat pemusnah hama. Tetapi, kata Kramat Ako: tanah butuh istirahat, alam memerlukan waktu memulihkan keseimbangan. Dengan demikian, padi lokal akan lebih sehat; akan lebih tahan. Dan maka, bertahun-tahun kemudian, seperti akhirnya masih kami ceritakan, kau lihatlah semua kini: pada masa kabut-asap makin menggila, sawah-sawah Wak Janewo ranggas—tak ada hasilnya.
Tetapi tentu, seperti kini kau sangat tahu, kami punya hal-hal itu. Hal-hal berkaitan dengan larangan, pantangan, berbagai adat dan kebiasaan. Setelah bertahun-tahun, kami yakin, hampir semua sudah kami ceritakan. Tetapi yang ini, bore gonggom, apakah juga sudah kami ceritakan atau belum, kami ragu.
Bore gonggom, bila disebut dalam bahasamu beras genggam, adalah kebiasaan kami mengumpulkan beras segenggam demi segenggam dari seorang demi seorang dari rumah demi rumah, sampai terkumpul banyak, lalu memberikan kepada keluarga yang kemalangan atau tertimpa bencana. Harus kami katakan, kata segenggam maknanya tidaklah benar-benar segenggam. Bagi mereka yang cukup mampu, segenggam bisa berarti seliter dan, bagi mereka yang sangat mampu, segenggam bisa berarti sekarung. Maka begitulah, setelah terkumpul lebih 16 karung, kami pun lalu mengantarkan ke keluarga Wak Janewo.
Dengan bore gonggom ini, semua akan kembali sama. Keluarga yang kemalangan dan yang tidak kemalangan akan sama tetap mempunyai beras. Tetapi begitulah, Wak Janewo benar-benar keturunan Nyik Jamain. Bukannya disimpan sebagai cadangan, karung-karung beras itu ia naikkan ke gerobak, lalu menjualnya ke kota.
Bertahun-tahun ke depan, walau kau sangat tahu Wak Janewo penduduk asli kampung kami, tak seorang pun pernah mengingatnya lagi. Kata Wak Usman, yang kelak jadi bido (semacam ujar-ujar) kampung kami, ”Harta-benda hilang, itu bukan bernama hilang. Sanak-saudara hilang, itu tak pernah disebut hilang. Akal-budi hilang, itulah sebenar-benar hilang.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gus tf Sakai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 28 September 2014