Berguru Kepalang Ajar – Tafsir Dua Pejuang – Berhitung Setebal Iqra

Karya . Dikliping tanggal 18 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Berguru Kepalang Ajar

: ke negeri singa

1/
kutuju batu penjuru
batu terpungut dari babel itu
beranak tinggi dipercik peniru
kamilah terpendam pukau
yang silap-silap berguru kalbu

2/
hingga di bugis street
kutebus tubuhku berdada singa
seharga dua sesat pikiran
berendam amuk perasaan
jatuh semuka
seperti tandan semangsa

3/
dari little india peluh inang
subuh mengumpul-ngumpul remah
sebelum senja disusun jadi siasat kaum papa
sim salabim tiga tukang sulap
menujumnya sewaktu-waktu gelap-gelap
dijelmalah semacam rejeki
senilai terbeli nasib di pekan negeri

4/
ke orchad, semeja interniran
mendongak-dongak kepalan
terungkit bagai duli kehormatan
tapi matanya sehina lapar
bagai kaum gemar bercemar
penjual siapa saja demi apa saja

5/
sampai di sentosa anakku terpulau cerita
demensia batu moyang
dikupak seharga remah
besarlah ia kelak tak tahu amarah
selempar batu ke seberang
laut moyangnya terjerang

Medan, September 2015

Tafsir Dua Pejuang

kau jelmakan tangga
untuk menyebut semangat dikebut
merekat serpih patah tulang belikat
pintas lenguh pikirku menempuh.
bukan, bukan kataku, hanya penggoda
benihku petarung hendak disesat

lalu jubah bertabal nama itu
tersebut marwah kau berikan
sungkup ke luka panjang moyang
upah perih tubuh tabahku berkurban
buuukan, buuukan gagapku. hanya pesolek
kelak rupa laluku lesap

kau kembang ranjang sepetak itu
menyebut-nyebut tujuan amin
hentian keluh mengaduh
buuuukaaaaan, buuuukaaaan hardikku. hanya semimpi
pasti merayuku senyap

Medan, September 2015

Berhitung Setebal Iqra

aku hendak faham sepanjang apa aksara mengikat ruh
selembar kata kutempuh, sekejap kau cemas
belum kusebut soal khatam cinta semakna
kau bilang aku pasti tertawan sekat paling rahasia
pucuk yang tak faham persembunyian ikhlas

akupun jadi enggan menghubungkan niat kepada tanda baca
seperti memanjangkan tali seutas dengan ketabahan mudah retas
katamu pula surga terbuka bukan sebab panjangnya kusambung suara
tapi setipis-tipis perut menapis ingin sampai angin tak mampu mendesis
kalau mau tercurah Amin

tapi aku bukan berhajat mengguruimu Tuan!

Medan, Januari 2015

Bresman Marpaung lahir di Pematang Siantar, 15 April 1968. Kini tinggal di Medan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bresman Marpaung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 17 Oktober 2015