Berjalan di Atas Kaca

Karya . Dikliping tanggal 9 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
“CERITAKAN padaku tentang keajaiban,” remaja usia dua belas tahun itu berkata dengan nada memohon pada pamannya di suatu siang yang gerah. Di emperan depan sang paman bersandar di dinding dan mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusan. Bekas pelaut itu menghela napas. Wajahnya mendadak serius. Dinyalakannya rokok sambil mengepulkan asap seakan lupa dengan siapa ia bersama, lalu bercerita: 
Kelamin dan biji pelir menciut seakan hilang dilahap ikan, rata dengan badan akibat kedinginan dan lama terendam. Kepala rasanya begitu berat. Sepanjang hari matahari tak henti-henti memanggang. Leher menjuntai, bersandar pada jeriken tempat tangan terikat. Bola mata perih akibat ditepuk air laut. Angin kencang menerpa tak tahu ampun. Harapan terulur seperti benang layang-layang dilepas. 
Cuaca sangat buruk. Arus menyeret sementara gelombang menghantam setinggi pohon. Antara sadar dan terjaga kulihat diri dalam sebuah sampan. Semacam sampan yang biasa kita pakai memancing ikan. Tampaknya seperti di bawah kolong jembatan. Cahaya lampu kelap-kelip. Sepertinya aku memasuki kota yang belum pernah kukenal. Tetapi aku menepi saja. Rasanya di pinggiran kali yang lebar. Terdengar gemericik air – obrolan orang berkerumun seperti di pasar ikan. Hidungku mencium wangi sate yang diiris sebesar kotak korek api. Kulihat nasi hangat dari beras tumbuk terbaru yang dibawa dari gunung. Terlihat wajah ceria dan senyuman Bunda. Kutatap wajah ibu menunggu, memanggilku. Sebelah tangannya menjinjing serantang makanan. Disuguhinya nasi saat aku menepi. Ada sayur-sayuran dari kacang panjang dan bunga turi yang dimasak asam, lengkap sambal kesukaanku. Ada irisan bawang, kecap, cabe yang dipotong kecil-kecil dan jeruk nipis. Daging yang masih berasap karena hangat kurendam air laut sebelum kutarik dari tusuknya. Kulahap sedikit-sedikit. Ibu memandangku sambil tersenyum. Dikasihnya aku serantang air minum. Kuteguk sampai habis. Bisa kau bayangkan bagaimana kenyangnya terasa. Jidatku keringatan karena melahap makanan dengan nikmat. 
Malam itu hari keempat. Kubuka mata yang berat. “Maha Suci Allah….” kataku dalam hati. Mungkin mimpi. Tapi sepertinya bukan. Kulihat di mana-mana bintang beredar bagai kelap-kelip lampu yang kulihat di kolong jembatan itu. Di mana-mana air. Lautan luas. Kutelan air liur sebagaimana menghisap manisan dan sisa pepaya yang tersangkut di mulut. Kupandang samudera, seakan-akan apa yang terjadi benar-benar peristiwa sungguhan. Kacang panjang dan bunga turi sepertinya masih tersangkut di gigi. 
Bagas, Arlan dan Parno terkulai tak berdaya. Kepala dan leher kami lemas seperti belut pingsan. Belum ada tanda-tanda akan terlihat perahu, atau kapal yang membantu. Hidup telah ditakdirkan. Maut kita bawa ke mana-mana. Bila ditakdirkan mati maka kuterima. Di mana hendak berlari? Bagaimana menghindari ajal? Ke mana meminta perlindungan dalam samudera seluas itu jika tak berserah diri kepada-Nya? Di mana pula kita tak berserah diri? 
Kami akhirnya berempat. Sore yang murung perahu yang kami tumpangi tak tertolong. Badan perahu tenggelam seperti bekas kaleng minuman terinjak sepatu. Suasana sangat histeris. Lautan tak berjarak dari langit. Para penumpang berhamburan menyelamatkan diri bagai abu tertiup dari asbak. Empat jeriken dan seutas tali sepertinya sedang menanti saat seluruh isi kapal tercebur ke laut. Kami melompat menuju jeriken-jeriken lalu mengikat tangan masing-masing pada tiap jeriken yang mendekati kami. Kami mengikrarkan janji – akan tetap bersama dalam keadaan bagaimanapun. Hidup atau mati tetap bersama. Kami tak hendak berpisah. Meski mati ingin jasad kami dalam keadaan terapung. 
Gelombang datang mengayun. Kami pasrah, berusaha menolong diri. Tampak sosok istri seorang kawan tertimpa gelombang. Ia hendak menolong bayinya. Tapi ibu muda itu tak tertolong, hilang menit itu juga. Sempat kami lihat bayinya tergeletak di papan. Papan dari mana tak tahu. Siapa yang menyimpan pun tak tahu. Bayi itu terapung bagai busa, seperti ada yang mengangkat. Lama ia terayun diombang-ambing gelombang. Aku berdoa buat bayi itu. Dan tiba-tiba gelap menghadang. Ia lenyap dari pandangan. Tangisan anak lainnya terngiang hilang tertimbun ombak. Aku teringat ibu, ayah, wajah istri dan anak-anak saat rumah kutinggalkan. Aku berdoa buat mereka. Teringat pesan ayah agar mengisap jempol bila mendapat musibah di lautan. Kulakukan dari hari ke hari. Kuisap jempol untuk menahan diri dari haus dan lapar. Anehnya, meski sangat lapar aku sedikit terbantu. Meski sangat haus agaknya bisa bertahan. Kita memang tak boleh takabur. Hidup tak cuma di lidah dan di perut. Kusuapi jiwa dengan apa yang dapat membuat bertahan. Namun sampai kapan terseret arus? Adakah diriku akan mati dengan cara itu? Apakah hidupku berakhir pada jeriken? Aku rela menerima segalanya bila ditakdirkan. Siapa sanggup menolak? 
Parno membangunkanku dan kawan-kawan yang lain. 
“Lihat!”, katanya. Matanya berbinar. 
“Lampu-lampu,” tangannya menunjuk gelombang yang membukit. 
“Lampu-lampu?” tanyaku. 
“Kita sudah sampai,” katanya, tersenyum senang. 
“Sampai ke mana?” Bagas menanyakan. 
“Sudah buta kau?!” ia membentak. 
”Apakah kalian tidak lihat pulau sebesar itu?” 
“Tidak, kawan,” jawabku. 
“Mana mata kalian? Sialan! Kita sudah dekat, sudah sampai. Itu pulau. Pohon-pohon. Kapal-kapal. Gunung. Tunggu apa lagi. Ayo, kita berenang.” 
“Berenang?” tanya Arlan, heran. 
“Berenang ke pulau itu, monyet.” 
“Bukan pulau, Parno. Kita di tengah samudera. Lihat gelombang yang menggunung itu,” bantah Arlan. 
“Sudah gila kalian. Kalian bilang gelombang itu pulau,” ia terheran-heran. 
“Biar aku sendiri yang pergi.” 
“Ke mana?” tanyaku. 
“Kenapa tanya?” ia terburu-buru hendak melepas tali dari jeriken. 
“Tak ada pulau!” kata Bagas mengingatkan. 
“Diam, bangsat! Nanti kau kubunuh!” katanya mengancam. 
Kami terdiam, tak lagi berkata-kata. Hanya mata kami saling memandang – melihat saja apa yang ia lakukan. “Jangan ada yang menahanku,” katanya seraya mengeluarkan belati. 
“Siapa-siapa yang menahanku akan kubunuh,” lalu ia memotong tali yang menyatukan tangannya dengan jeriken. Dikasihkannya aku belati sebelum ia berenang. Tampak seonggak tubuh terhadang ombak melawan arus. Kilauan cahaya dari deburan air hilang bersamaan dengan lumatnya teriakan histeris. 
***
Malam bergeser. Hari berlalu. Kapal atau perahu yang diharapkan untuk memberi bantuan seakan cuma khayalan. Memang, pernah kusaksikan ada orang-orang menjaring ikan di malam buta. Kurasa mereka penghuni laut dan tak menggubris kami. Untuk bertahan aku masih mengisap jempol tangan dan kaki – mencoba tegar dalam kepasrahan. Subuh sebelumnya aku bermimpi mengunyah pisang bakar dan meneguk secangkir kopi. Mimpi-mimpi aneh. Laut sarat keanehan. Kadang-kadang terlihat kota penuh lampu. 
Sering hidung kami mencium aroma ayam dan bebek panggang. Terkadang terdengar orang-orang mengobrol, dengusan ternak, suara kokok ayam dan kicauan burung. Bagas semakin payah. Aku juga. Arlan sama. Tapi Bagas gelisah sekali. 
“Aku mau sendirian,” katanya suatu pagi. 
“Kenapa berubah pikiran? Kita sudah berikrar hidup atau mati tetap bersama,” Arlan menanggapi. 
“Ah!” Suaranya mendesis. “Kau sendiri lihat bagaimana nasib Parno,” kataku memperingatkan. 
“Memang. Tapi kalian punya rencana buruk terhadapku,” sahutnya dan membuang muka. 
“Rencana apa?” Arlan bertanya. 
“Kalian kira aku tidak tahu itikad busuk kalian. Jangan berpura-pura,” lanjutnya. 
“Berpura-pura apa?” tanyaku. 
“Kalian pikir aku tidak tahu? Diam-diam kalian bersekongkol mau memakanku, kan?” 
“Wah, Bagas…” kata Arlan. 
“Ingat, kawan….” 
“Ingat apa?” 
“Ingat Tuhan…” Bagas tak menggubris. Aku menggeleng. 
“Jangan lupa,” kataku. 
“Hidup dan mati ditentukan oleh-Nya. Kita tak akan pernah bisa berlari. Dalam kapal emas yang penuh intan dan berlian pun tidak. Kalau ditakdirkan mati, mati.” 
“Lepaskan!” teriaknya. 
“Kalian penjahat. Kok tega-teganya mau memakan daging teman sendiri.” 
“Bagaimana mungkin kami berpikir memakanmu?!” tanya Arlan. 
“Percayalah,” kataku, berusaha meyakinkan. 
“Kita sudah berjanji sehidup semati.” 
“Lepaskan aku,” tangannya mendorong tubuhku. 
“Aku tidak percaya pada kalian.” 
“Mau ke mana?” tanyaku. 
“Lepaskan. Biarkan aku sendirian. Aku akan berenang.” 
“Kau lihat sendiri gelombang itu. Ke mana hendak menghindar? Ini samudera, sobat. Tak bisa dilawan dengan nafsu. Alam tak tertaklukkan.” 
“Lepaskan aku…. Kalian membawa sial.” 
“Kau sadar, nggak apa yang kau ucapkan?” tanya Arlan. 
“Sadar apa? Lepaskan aku.” 
“Pikirkanlah….” 
“Tolong…. Bantu aku,” pintanya. 
“Tolong. Tolonglah aku….” 
“Sulit kami lakukan,” kataku menanggapi. 
“Terus terang, aku sangat tersiksa bersama kalian. Tolong… Lepaskan aku.” 
“Kalau itu maumu,” hatiku sedih seperti tercabik-cabik. 
Aku tak tega memotong tali yang menyatukan jeriken dan tangannya. Tapi ia terus mengiba. Ajaib. Setelah dilepas tubuh Bagas terangkat ke udara. Seperti manusia terbang dalam film-film horror; naik beberapa meter di atas permukaan air. Mata kami takjub beberapa saat. Kakinya tidak menyentuh air – seperti seseorang yang dapat terbang. Tak lama berselang tubuhnya berputar makin cepat seperti gasing. Beberapa saat kemudian tubuh yang berputar merendah lalu naik beberapa meter sebelum akhirnya tercebur ke dalam air. Semacam jangkar yang dibuang, atau beton yang terlempar ke laut — tak kelihatan lagi. Hening… 
*** 
“Di serambi ini,” lelaki itu menepuk bahu bocah yang duduk di samping. 
“Kita berada dalam lautan itu, Nak – dalam keadaan tangan terikat. Batang leher lunglai, bersandar pada jeriken. Tiap saat menunggu panggilan. Hidup seperti dedaunan yang bertuliskan nama-nama. Bukan soal kapan daun gugur sebab mati bisa kapan saja. Bagaimana mengisi hidup dan memahami wajah yang terpantul di kaca. Tiap saat bisa saja manusia berubah haluan seperti halnya Arlan yang berpikir mengunyah dagingku. Bila pernah bertanya siapa yang menyimpan rasa pada buah-buahan. Bila memikirkan siapa memasukkan aroma pada benda-benda…. “ 
“Mau kopi, Paman?” tanya bocah itu. Pamannya tak menggubris. 
“Bukan samudera. Juga bukan daratan dan udara,” ujarnya. 
“Semua itu hanya ruang. Tetap saja kita akan menjadi mayat seperti tiga temanku. Kita tak pernah tau bagaimana meninggal, hanya punya pilihan menata hidup – bukan menata kematian. Kita dalam perjalanan memilih lorong untuk terus melangkah di atas cermin tak berkesudahan – memantulkan segala yang dirajut dengan tangan, kaki, hati dan pikiran.” 
“Ibu sudah membuatkanmu kopi….” Ia mengenang aroma sate dan wangi kopi yang pernah dirasainya dalam mimpi. . 
N. Marewo dilahirkan di Bima, Pulau Sumbawa pada 1966. Hobinya bepergian ke banyak belahan dunia seperti Amerika Serikat, Meksiko, Afrika Utara, Turki, negara-negara di Asia dan Eropa. Salah satu kumpulan cerpennya yang sudah dibukukan berjudul Lalat-Lalat dan Burung-Burung Bangkai. Novel-novelnya yang sudah diterbitkan berjudul Lambo, Satu Hari di Yogya, Jangan Menangis Bangsaku, Pulang, Budak, Filmbuehne am Steinplatz dan Legian Kuta. Karya-karya yang tercuat dari keunikan proses pencariannya pernah diulas Dr. Mathias Diederich dari Frankfurt University di jurnal internasional yang diterbitkan The German Association for Asian Studies (DGA – Deutsche Gesellschaft fur Asiankunde) dan melabelnya sebagai penulis benua Asia yang fenomenal.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya N. Marewo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” 7 Juni 2015