Berlatih Solmisasi – Tiga Larik dari Musim Gugur

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Berlatih Solmisasi

/do/
Seperti kau yang ingin
menuntaskan cemas,
ia pun berhasrat
menunaikan gegas
perjalanan yang dimulai
dengan pertanyaan sendiri
: mau dan mampukah kau
berjalan sampai batas paling nyeri?
/re/
Hanya kau, katanya, yang harus
menjawab seluruh perjalanan
dengan sepenuh kesanggupan.
Ia hanya beringsut – menjauh sedikit
pada sebuah sudut agar kau semakin
mengerti
: hidup tak cukup dijalani
dengan bersungut-sungut.
/mi/
Jika kau – lagi-lagi – berhenti
dan memikirkan untuk kembali
pada awal perjalanan ini,
ia
justru menyesali keputusannya
untuk bermimpi. Menaruh harapan
sejauh-jauhnya ke sebuah ujung
yang akan membuatnya bertarung
dengan siapa pun.
termasuk dengan dirinya sendiri.
/fa/
Kau inginkan fajar yang lain.
Fajar dengan seekor kucing meringkuk
di atas keset di depan pintu
dan tak mengganggu seekor burung coklat
yang baru turun dari ranting jambu.
Ia tahu, namun tak bisa menjanjikan
hal semacam itu setiap pagi.
Dengan kecupan penuh ragu di dahimu
ia ingin buktikan – selalu ada cara berbeda
untuk memulai hari denganmu.
/so/
Perjalanan ini tidak ditentukan
oleh pertanyaan: siapa memulai
dan mengakhiri? Juga bukan dengan
– mengapa dimulai dan diakhiri?
Seperti seseorang berlatih solmisasi
dari kunci nada paling rendah,
sampai pada suaranya terasa tak sampai lagi,
tapi ia tidak berhenti.
Ia selalu melatih pita suaranya
agar semakin merdu bernyanyi.
Nanti.
/la/
”Jangan tanyakan berapa lama
kau harus bertahan,” katanya.
Ia terdengar seperti suara
manja di tengah pertempuran.
”Jangan pula tanyakan kapan
aku harus berhenti,” pintanya.
Ia seperti nyeri. Bertubi-tubi.
/ti/
Pada akhirnya, yang kau bisa
hanya mengetuk dan bernyanyi,
bukan lagi mengutuk dan bermimpi.
2016

Sst… Kau Tahu? Ada Harimau Bersembunyi dalam Lagu Naik Naik ke Puncak Gunung

Ia pandai mengelindankan
belang hitam dan bayang pohonan.
Ia baurkan bau bangkai rusa
pada mulutnya dengan wangi
teratai dan lantana.
Ia samarkan degup jantungnya
pada suara gugup kanak yang
menyanyi di depan kelasnya.
Sesekali, ia menyeringai,
memperlihatkan taring
yang tajam sempurna,
hingga kau dengar tak ada
nada panjang pada kata cemara
setelah kiri-kanan yang kedua.
2016

Bagaimana Menghilangkan Kota dalam Lagu Sepasang Mata Bola

Aku adalah kabut malam itu.
Juga sedikit rasa basah di kerah
lehermu. Aku juga angin yang seolah
merebut seluruh peluk kenangan
dan meredam suara-suara penasaran.
Kutitipkan gigil di ujung bedil.
Sedikit rasa kesal di kantung celanamu
yang kumal. Tanganmu berulang kali
masuk hanya untuk memastikan –
masih ada harapan meski sekepal.
Kutiupkan sejumput ngilu maut
pada dingin besi kereta itu. Kau
beberapa kali menoleh ke jendela,
seperti menyangka ada saatnya
sinar kebebasan menembus dan
menebus perjalanan ini – seperti
malaikat kudus menukar anak
Ibrahim di semak belukar. Aku
dengar kau bersenandung –
Sepasang Mata Bola, dan baru
sampai larik ”dari balik jendela…”
Kusaksikan matamu berkaca-kaca.
2016

Ini tentang Gadis yang Tak Menangis dalam Lagu Halo Halo Bandung

Ia merelakan saputangan dan kenangan
mengabu hari itu, seperti diliarkannya
harapan untuk tetap hidup, walau di Yogya
atau Surabaya.
Meski kembali ingin ia susuri Cicadas
hingga Cimindi, tak akan ada beda antara
menangis keras atau merintih seorang diri.
Ia segerakan berjalan dan berjalan
ke bukit kecil di selatan Garut. Seperti
ia samarkan segala yang kelihatan sebagai
bunyi lirih dari dalam perut.
Sampai di Tasikmalaya, yang ia dengar
hanya – ada satu kata telah hilang
dari judul berita.
2016

Beberapa Pertanyaan untuk Pemuda Pejuang dalam Lagu Keroncong Dinda Bestari

Tidakkah peluru mengajarimu
kepastian sekaligus kesia-siaan?
Kau bisa saja membuat lubang
di dada seseorang atau sekadar
mengalihkan perhatian. Meski kau
dengar juga – ada yang akan mengaduh.
Saputangan atau selendang sutera
akan membebat lukamu. Lupakah
kau selipkan itu? Kau tak bisa berlari
lebih jauh dari kenangan. Walau
berulang kali maju mendekati mati,
atau menjauh dari kesepianmu sendiri.
Lebih gemuruh mana perang atau
yang ingin segera meledak di dadamu
itu? Kau begitu kuat menahan
hasrat menyebut namanya. Tapi –
selalu ada panggilan yang ingin kau
sematkan dan kau selamatkan dari
mimpi buruk di medan perang.
Jika kita tak bisa bertemu, maukah kau
terus menderapkan langkah dengan
gagah pada hidup yang terasa berat
sebelah? Sebab rindu adalah kisah
untuk para pemburu, sedang cinta
tak pernah jadi mangsa bagi sesiapa.
2016

Tiga Larik dari Musim Gugur

Seperti dedaunan itu, aku akan melayang
dan jatuh. Masa depanku hanya sebuah padang
dengan lembab udara dan bau jamur.
Pokok-pokok kesepian itu tegak dan hitam.
Mempertegas betapa hidup adalah kehilangan
Pada suara-suara para penghibur.
Seperti jalan yang memisah dari hutan,
kau pergi dengan tulus. Air mata hanya tanda
dan terang bagi mereka yang ingin kembali.
2016
Dedy Tri Riyadi. Lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di Jakarta. Buku kumpulan puisinya antara lain Liburan Penyair (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernh tersiar di surat kabar “Kompas” edisi 3 September 2016