Bertemu Batu

Karya . Dikliping tanggal 20 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Bulat sudah tekad lelaki itu pergi ke pegunungan, menembus belantara pohon. Dia sudah jenuh bertemu laut, lelah berjemur di pantai. Sudah dua tahun dia menggali pasir, lalu berbaring membenamkan tubuhnya di lubang galian, hanya sebatas leher dan kepala yang tampak.

Selalu begitu ia lakukan, setiap matahari sore setinggi pinggang batang kelapa. Ia akan pulang jika matahari terbenam, mengibas-ibaskan pasir yang melumuri tubuh. Badannya akan terasa hangat, ngilu dan kesemutan berkurang, dan berharap tidur akan lelap ini malam. Tapi, laki-laki itu tak kunjung sembuh dari sakit yang bertahun-tahun ia derita, yang membuat badannya sering loyo tak bertenaga. Padahal ia sudah dengan tertib dan tekun menjalankan anjuran teman-temannya untuk membenamkan diri di pasir pantai yang hangat saban sore.

“Sudah banyak yang berhasil,” rajuk rekan-rekan lelaki itu. “Aliran darah akan lancar, bebas stroke, jantung membaik, diabetes lenyap, otot-otot kaki menguat, badan tak lagi pegal-pegal.”

Setelah dua tahun ia ikuti saran itu, tubuhnya memang terasa enteng, tetapi kadar gula darahnya selalu tinggi dan tak pernah stabil. Dokter menganjurkan agar menjaga asupan makanan dan rajin berolahraga. Sudah ia lakukan semua itu, tetapi cek laboratorium yang mengukur kadar gula darah selama tiga bulan (HbAlc) menyodorkan angka 7,5 pertanda ia masih menderita diabetes melitus. Semestinya kurang dari 5,7.

Laki-laki itu mulai putus asa, yakin ia tak akan sembuh dari penyakit kronis diabetes. Terbayang orang-orang yang ginjalnya rusak karena gula darah tinggi, pembuluh darah rusak, stroke, gagal jantung, mata rabun, kaki luka busuk diamputasi, dan akhimya mati pelan-pelan.

Namun ia tetap menghabiskan waktu di pantai setiap sore hingga senja tiba. Ia ingin mati di atas pasir saja. Sering ia di pantai sampai pagi, berbaring memandang planet dan bintang-bintang, membayangkan rohnya nanti apakah bisa mencapai angkasa raya bertabur bintang itu?

Lelaki itu pun jadi banyak tahu peristiwa yang teijadi di tepi laut. Sudah sangat sering ia bercakap-cakap dengan para nelayan yang kini lebih kerap mengantar turis bule menyelam dibandingkan menangkap ikan. Ia acap menyaksikan upacara membuang abu jenazah ngaben ke tengah laut. Ia juga bertemu orang-orang yang melangsungkan upacara nyegara-gunung, pergi ke laut dan gunung usai menyelenggarakan upacara adat dan keagamaan. Beberapa yang diajaknya bercakap-cakap menganjurkan agar lelaki itu jangan banya mencari kesembuhan di laut, sepantasnya juga ke gunung.

“Kami melangsungkan nyegara-gunung demi keseimbangan, agar bahagia dan tenteram,” alasan orang-orang yang melangsungkan ritual itu.

Sejak itu ia mulai berniat pergi ke pegunungan. “Masuk akal juga kata mereka, aku harus nyegara-gunung, pergi ke samudra dan juga ke gunung-gunung,” kata hati lelaki itu. “Siapa tahu aku benar-benar bisa sembuh.”

Lelaki itu pun meninggalkan pantai, pergi ke pegunungan Batukaru, berpuluh kilometer dari rumahnya, menembus belantara. Ia menjadi pencinta alam, menggendong ransel, membawa bekal makanan, dan sering tidur dekat hutan. Paling sering ia tidur di tepi sungai beratap tenda seperti seorang pramuka. Ia merasa segar, semakin ringan badan, kian enteng kaki melangkah. Tapi, penyakit kronis diabetes melitus yang dideritanya tak jua kunjung sembuh. Sudah dua kali ia cek laboratorium, kadar HbAlc-nya tak pernah turun dari 7,5.

Lelaki itu mulai putus asa. Kadang muncul hasratnya mati di tengah hutan saja, ketika suatu hari ia memastikan pergi ke belantara pohon untuk tidak lagi balik ke rumah. Ia telusuri jalan setapak dengan rimbunan perdu di kiri kanan, seperti seorang pengelana yang membuang diri menghabiskan hari tanpa tujuan. Sinar matahari sore ia rasa lebih redup dari biasanya. Tujuh kupu-kupu ungu yang terbang mengitari pohon buni dengan buah merah ranum menyambutnya.

Laki-laki itu terpana menyaksikan kupu-kupu itu terbang rendah berputar sebelum beriringan menjauh, memberi pertanda agar laki-laki itu mengikuti mereka. Jika lelaki itu melangkah bergegas, kupu-kupu itu juga mempercepat gerakan melaju ke depan.

Sampai di sebuah tempat dengan beluikar semakin rapat padat, kupu-kupu itu berputar merendah, seperti hendak menyampaikan sesuatu. Laki-laki itu mendekat, dan ia sampai di tepi mata air dengan serakan batu-batu besar, seluas kurang dari setengah lapangan sepak bola. Di atas sebuah batu pipih selebar tempat tidur, dengan pohon sukun rindang di sampingnya, kupu-kupu itu terbang berputar.

Kepada seorang perempuan tua yang sedang memikul kayu bakar, laki-laki itu bertanya. “Apa nama tempat ini, Nek?”

Si nenek mencoba menegakkan tubuhnya yang bungkuk. “Ini Desa Batu Hyang, Nak. Tapi kami biasa menyebutnya Batuyang. Kalau di situ, setelah lewat sungai, Desa Penatahan,” ujar si nenek menunjuk dengan mengangkat dagunya yang keriput ke arah timur.

Kupu-kupu itu terbang mengitari batu, seakan menyarankan agar lelaki itu mendekat. Laki-laki itu meletakkan ranselnya, dan berbaring di atas batu. Matahari hampir terbenam. Laki-laki itu merasakan kesejukan, tidur pulas sampai pagi. Tujuh ekor kupu-kupu hinggap di ujung batu, seakan menjaga laki-laki itu.

Sejak ia tidur di atas batu itulah ia merasa tubuhnya selalu bugar. Berkali-kali kemudian ia datang dan berbaring di atas batu itu. Sudah dua kali ia cek darah dan hasilnya mencengangkan. Kadar HbAlc darahnya 5,2 pertanda kini ia normal, tidak lagi mengidap diabetes. Ia berhenti minum obat dan tidak lagi menyuntikkan insulin ke tubuhnya, gula darahnya stabil.

Laki-laki itu sangat gembira. Ia ingin memindahkan batu itu ke rumahnya sehingga ia tak perlu sering pergi jauh ke bawah pohon sukun itu. Kepada kepala desa ia sampaikan hasrat itu.

“Oooo silakan, tidiik apa-apa,” ujar kepala desa yang seluruh rambut, janggut, dan kumisnya beruban.

Lelaki itu menukar batu itu dengan seratus bibit pohon alpukat madu dengan daging buah yang lembut dan lezat untuk warga desa. Butuh waktu sehari memindahkan batu itu ke jalan utama desa sebelum diangkut truk.

Ia menempatkan batu itu di pekarangan rumahnya di batas kota. Setiap hari ia tidur di atas batu itu. Kepada rekan-rekan ia bercerita kalau ia punya batu yang bisa menurunkan kadar gula darah. Banyak yang datang, dan berbaring di atas batu itu. Mereka kemudian mengaku tubuh menjadi lebih ringan, pegal hilang, dan badan lebih segar.

Berita ten tang batu pipih yang bisa menyembuhkan diabetes itu pun pelan-pelan merayap menyebar. Banyak yang semula tidak percaya, kemudian takjub setelah mengetahui kadar gula darah mereka berangsur turun dan stabil.

Rumah lelaki itu pun sepanjang hari sesak pengunjung. Mereka kadang harus menunggu berhari-hari menanti giliran untuk bisa berbaring di atas batu itu. Banyak yang mesti berbaring berkali-kali dalam sekian pekan, sebelum tubuh merasa bugar. Tapi tak sedikit yang tidak sabar, malas mengulang datang sehingga menganggap batu itu tak mengandung khasiat apa pun. Mereka berujar, semua kehebatan dan kesaktian batu itu bohong belaka. Hoaks.

Namun, yang sembuh senantiasa berpromosi itu batu sungguh berkhasiat Mereka berkabar kepada kerabat, mengajak orang-orang menjaga kesehatan agar terhindar dari diabetes, dengan bertemu batu. Mereka berkumpul di rumah lelaki itu, bertukar cerita, dan bergiliran berbaring di atas batu. Semua sepakat atas pandangan seorang rekan yang menjelaskan. Batuyang itu artinya batu yang melimpahkan kasih sayang.

Karena banyak yang datang dan lama menunggu giliran, lelaki itu kemudian memotong-motong sebagian batu itu menjadi seukuran tegel. Potongan itu ia bungkus kain putih, dimasukkan ke dalam kemasan menjadi kasur tipis, dibingkai potongan papan, dijadikan alas tidur dipan. Kini tersedia lima dipan beralas batu. Mereka yang berbaring di dipan itu mengaku nyaman, segar, dan bugar.

Makin banyak orang berkunjung untuk berbaring di atas batu. Lelaki itu kemudian memperbanyak dipan dengan kasur-kasur tipis berisi potongan batu selebar tegel. Ia menempatkan dipan-dipan itu di kamar-kamar. Rumah lelaki itu pun kini menjadi sebuah klinik tempat merawat penderita diabetes. Tidak ada dokter dan perawat di rumah itu, masing-masing mengurus diri sendiri.

Hampir semua penderita diabetes yang datang ke rumah lelaki itu berusia 50 tahun ke atas adalah orang-orang dengan ekonomi mapan. Mereka kemudian berbincang-bincang, mengapa mereka tidak membangun saja rumah sakit khusus untuk diabetes melitus, dan memanfaatkan batu Batuyang itu untuk menyembuhkan?

“Kita bisa urunan modal, mulai dengan beberapa kamar saja,” ujar seorang pemilik rumah makan yang istrinya sembuh dari diabetes setelah berbaring beberapa kali di atas batu.

“Untuk membangun kamar-kamar, serahkan sama saya,” usul pengusaha pengembang permukiman.

“Saya punya banyak teman dokter dan perawat untuk mem bantu,” ujar pemilik showroom mobil. “Ada sahabat saya di departemen kesehatan untuk mengurus izin.”

“Kita bangun rumah sakit yang dasarnya dari batu-batu Batuyang,” seorang penekun spiritual mengajukan saran.

“Ubinnya dari batu saja,” sahut yang lain.

“Tembok pekarangan juga dari batu,” ujar seorang pensiunan.

“Dinding-dinding kamar dari batu. Semua dari Batuyang,” keinginan pemilik toko bangunan.

Lelaki itu pun pergi ke Batuyang hendak mengumpulkan dan mengangkut batu-batu. Tak terasa hampir lima tahun ia tidak pernah mengunjungi desa ini. Dia menyaksikan pohon alpukat madu yang ia hadiahkan sebagai penukar batu sudah ada yang berbuah di halaman warga. Jalan ke sungai tempat ia berbaring dan kemah di atas batu sudah diperlebar kendati belum dikeraskan.

Laki-laki itu tersentak kaget tak percaya setiba di tepi sungai. Tak satu pun batu tampak, hanya menyisakan kawasan gersang dengan kerikil terserak. Pohon sukun itu tidak ada lagi. Dataran yang dulu disesaki batu-batu besar kini rata seperti pantai yang habis diterjang tsunami. Ke mana kupu-kupu ungu itu pergi?

Lama sekali laki-laki itu termangu sebelum mendatangi kepala desa, yang tampilannya tak banyak berubah, dengan rambut, janggut, dan kumis masih seputih dulu. Penuh semangat kepala desa bercerita, ada orang-orang kaya dari kota mengangkut batu-batu itu.

“Semuanya?”

“Semua, mereka hanya menyisakan kerikil.”

“Untuk apa?”

Bertemu Batu“Kata mereka buat membangun rumah sakit turis bule di Nusa Dua. Mereka bilang batu-batu itu bertuah, bisa memperlancar aliran darah jika dipakai alas tidur. Kata mereka, sudah banyak yang membuktikan sakit gula darah dan sakit jantung bisa sembuh berkat tidur beralas batu Batuyang.”

“Bapak percaya omongan mereka?”

“Mereka orang baik-baik. Buktinya mereka menanggung pembangunan balai desa kami dan menyumbang untuk perbaikan pura. Membangun rumah sakit itu mereka mempekerjakan tukang-tukang Batuyang. Tahun depan rumah sakit itu diresmikan. Banyak pemuda dari desa ini dijanjikan bekerja di rumah sakit itu,” ujar kepala desa manggut-manggut tak kuasa menyembunyikan bangga dan girang.

“Apa lagi janji mereka?”

“Mereka akan membangun Vila di Batuyang karena desa ini cocok untuk wisata alam.”

“Ada lagi?”

“Mereka berniat mengembangkan wisata-agro di sini. Turis bisa memetik sepuas hati buah-buahan di kebun, dan menyeruput kopi yang mereka sangrai dan giling sendiri.”

“Lagi?”

“Orang-orang Batuyang akan menjadi karyawan di vila-vila itu.”

“Lagi?”

“Mereka akan mengalirkan air bersih ke rumah-rumah, bikin jamban.”

“Ada lagi?”

Kepala desa itu diam sejenak. “O ya, mereka menjanjikan seragam dan sepatu gratis buat anak sekolah.”

“Lagi?”

“Saya lupa saking banyaknya,” ujar kepala desa itu tersenyum.

Laki-laki itu pulang dengan perasaan kacau. Ia menyesal tak sekali pun datang ke Batuyang sejak kesembuhan ia dapatkan. Ia tidak pernah menceritakan kepada warga Batuyang, berkat bertemu batu ia sehat dan bugar. Baru kini ia sadari, ia lupa menyampaikan terima kasih. Selama ini ia merahasiakan kepada warga desa, batu-batu di tepi sungai itu bertuah menyembuhkan penyakit. Ia lalai berpamitan dari Batuyang sehingga menerima karma buruk.

Tapi, laki-laki itu juga tak kuasa menyembunyikan kekesalannya pada industri turisme. Ia sangat dongkol ketika lewat di depan balai desa sumbangan pemilik rumah sakit internasional untuk turis itu.

“Huh, tahunya cuma turis… bule…. Mengapa pariwisata harus jadi panglima?” gerutu laki-laki itu sepanjang perjalanan pulang.

Gde Aryantha Soethama, banyak menulis buku tentang Bali daerah di mana ia lahir dan hidup sampai sekarang. Bukunya berupa antologi cerpen, laporan perjalanan, dan sejumlah kumpulan esai. Pengalamannya dalam dunia jurnalistik ia tuliskan dalam buku Menjadi Wartawan Desa (1985), Wawancara Jurnalistik (1986), dan Koran Kampus (1986). Buku kumpulan cerpennya Mandi Api memenangkan Khatulistiwa Literary Award tahun 2006.

Hazim Muhammad Zarkasyi Hakim, lahir di Bandung, 27 Agustus 1993. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung. Hazim dikenal sebagai seniman drawing, mural, patung, seni lukis cat minyak. Sampai kini tinggal di Bandung.


[1] Disalin dari karya Gde Aryantha Soethama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 18 November 2018