Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 1)

Karya . Dikliping tanggal 8 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

I

SUARAMU terdengar begitu lirih, lembut. Bahkan lebih halus daripada desau angin malam. Lebih mulus daripada geletar bulu kemoceng yang tertiup bibir tipismu itu saat menggugurkan debu dari rak bukumu, saban kali kau bertutur kata apa pun. Tidak saja kepadaku -lelaki yang kemudian menjadi pujaanmu. Tetapi juga kepada setiap pria di kota ini, memang kau lebih memilih bergaul dengan pria ketimbang sesama wanita.

Meski demikian, siapa pun, bukan saja aku -kekasihmu- tentulah, sanggup terkesiap dan bahkan bisa menghentikan jantung saat itu, ketika kudengar telah kau katakan; bahwa seluruh lelaki di kota ini telah mengalami impotensi.

Masih dengan kelembutan nada suaramu, saat kau ucapkan pengetahuanmu itu, ketika engkau mengajakku berpakansi dari pabrik ke pabrik di tepi pantai yang rusak itu, di jalanan yang tak keruan, berminyak, dan berdebu itu. Engkau mengenalkanku pada raksasa-raksasa buta yang berdentam, mengangkang, menyembur-nyemburkan racunnya ke segala penjuru kota, bahkan angkasa, langit, bumi dilaburinya dengan limbah segala limbah.

“Aku lelaki, Sayang. Bagaimana kau dengan tenangnya katakan itu? Dan engkau perempuan kekasihku, pengetahuanmu bisakah meyakinkan aku?” tanyaku selepas jantungku kembali kurasakan degubnya bersicepat, dalam pakansi bermotor kami yang merambat di sekeliling kota.

“Justru karena aku perempuan dan menjadi lebih tahu bagaimana rahasia-rahasia lelaki yang telah mafhum di kalangan kaum Adam itu, terus dirahasiakan dan dirahasiakan terus oleh mereka,” tedasmu, sekaligus menandaskan peluk eratmu di pinggangku.

Suaramu tetap begitu terdengar lembutnya, meski dilatari kendaraan-kendaraan berat, truk-truk tangki, derum mesin pabrik, raung sirene, teriakan mesin-mesin yang beradu besi dan baja, serta mobil-mobil yang menggilas aspal dengan kerasnya sembari terbatuk-batuk. Namun, nada dan tanda yang meluncur dari bibirmu bahwa; semua lelaki di kota ini mengidap impotensi, terdengar lebih keras daripada segala gemuruh itu di telingaku. Bahkan gelegarnya menggema sampai rongga dada dan anak gemanya memantul, menyusup pori-pori. Mula-mula kulitku merinding. Otakku mengeras lantaran sulit untuk mengerti, apalagi memercayai.

Dus, apa yang tak bisa kupercaya dan kuyakini bila itu datang darimu -perempuan yang kucintai lebih dari hidupku sendiri yang telah nyaris terjengkang ke dalam jurang mahadalam? Lalu, apakah cinta ada hubungannya dengan kota dan impotensi? Mengapa aku tak sampai hati mendebat, membantah, apalagi tak memercayai kata-katamu yang engkau sampaikan selembut itu, dan hanya bisa didengar oleh setiap yang berpendengaran baik? Jawabnya; karena aku sudah mengikis habis, mendepak keras untuk tak lagi mengucapkan kata cinta, justru karena cintaku padamu telah demikian mendarah menubuh dalam diriku. Oleh karena itu, pertanyaanku pun berulang-ulang kusampaikan padamu bukan lantaran aku tak percaya pengetahuanmu, Sayangku.

Di jalanan, ketika dengan keherananku, aku melihat kerumunan lelaki bersarung dan berpeci di kedai-kedai kopi, perempuan-perempuan berkerudung di toko, pasar, warung, dan teriakan remaja-remaja yang pulang sekolah, serta anak-anak badung yang mengaji di musala, kau malah balik bertanya; apakah dalam benakmu kau masih meyakini ini adalah sebuah kota?

“Ini bukanlah kota. Ini neraka,” tandasmu. “Aku tidak menyalahkan lelaki yang tak bisa ereksi dalam keadaan demikian -siksa hidup di neraka.”

II

KAMI bersepakat untuk mempercepat waktu. Bahkan dendam dan kesumat terang-terangan kulayangkan pada-Nya yang telah menenggelamkan puluhan tahun jalan hidup dan kehidupan kami. Tuhan, bagi kami, telah menggunting waktu kebersamaan kami cukup lama dan lalu menyambung kembali dalam beberapa minggu, dan hari ini ketika menyempatkan pakansi untuk pertama kali. Pakansi yang sesungguhnya belum saatnya bagi sejoli yang berbagi hati. Akan tetapi, percepatan waktu tersebab kesumat oleh karena lenyapnya waktu lalu, menyebabkan kalimat-kalimat, pertanyaan-pertanyaan, ucapan, kesimpulan pun kami dorong dengan pepatah ikan sepat ikan gabus- lebih cepat lebih bagus.

“Ya, bukankah kita tak boleh kalah oleh waktu, Sayangku?” kupandangi binar tajam matamu siang itu di sebuah kedai singup dekat alun-alun—yang sudah bubrah diganti oleh pancangan besi-besi beton dan semen, aku meyakinkannya, sebagaimana untuk menguatkan keyakinanku sendiri pula. “Meski demikian tak berarti kita lantas meniadakan Tuhan. Malah aku bersyukur kau disemayamkan-Nya dalam diriku selama ini, kemudian diterbitkannya kembali puluhan tahun mendatang, pada saat ini.”

“Sungguh Tuhan Mahabaik,” katamu. “Meski kita hampir setengah abad, nyatanya kita telah diremajakannya kembali dengan segenap kasih sayang dan cinta yang tak kurang suatu pun.”

“Ya. Tak kurang sesuatu pun. Kendati kita telah hampir separo abad,” tandasku.

“Rupanya begini rasanya telah dilahirkan kembali. Hidup untuk bahagia dan membebaskan diri dari rasa takut.”

“Persisnya, membebaskan rasa takut dari kehidupan di neraka dunia. Begitu bukan maksudmu?”

“Sembarang,” jawabmu.

Lalu, kami tertawa sambil menghabiskan nasi iga sapi bakar, ayam keprek, jus sirsak, dan segelas tuak buatku. Menu bebas dan bahagia di kehidupan dunia. Lantas berlanjut dengan kelakuan remaja berbagi rasa pedas, aroma keringat yang panas dengan ciuman sampai gusi berdarah, dan pelukan hingga napas sesak -menu bebas dan bahagia di kehidupan neraka dunia dan akhirat.

“Kau belum jelaskan bagaimana kau tahu semua lelaki mengalami impotensi,” pintaku. “Lalu, kenapa hal itu kau katakan padaku, lelaki yang baru dilahirkan kembali oleh Tuhan untuk menemukan cintanya padamu.”

“Heheheehe…aku senang, aku bangga dengan pertanyaan lugumu, Sayang. Itu artinya kamu kurang pengalaman. Eh, maksudku kamu tidak banyak memperhatikan perempuan lain selain diriku,” katamu dengan tawa kecil yang terkesan jengah, makin memperlihatkan gairah hidup remajamu.

“Ayo katakanlah. Apa itu artinya hanya aku yang kau pandang lelaki perkasa? Jika seluruh pria impoten, bagaimana telah lahir anak-anak yang setiap hari kulihat mengaji dan main petasan itu? Apa mereka dilahirkan dari rahim malaikat tanpa sumbangan lelaki?” pintaku sembari melempari tulang iga ke kolam.

“Sudah kukatakan, aku ini perempuan, Sayang. Perasaanku lembut. Aku bisa merasakan kehidupan kaum perempuan di kota ini, eh di neraka ini. Dan lagi, mestinya aku balik tanya padamu; apa hubungannya impotensi dengan jumlah anak-anak yang terus lahir dan bertambah? Impotensi tidak menghalangi angka kelahiran anak-anak, Sayang. Tuhan sudah mengatur itu.”

“Maksudmu, kau mau melibatkan Tuhan untuk memberi terang sesuatu persoalan darimu yang tak kupahami ini?”

Kau malah tertawa dan selepas mengusap bibirmu dengan tisu, lantas beranjak memiting batang leherku dan berlanjut kembali menciumku kuatkuat dan berlama-lama.

“Sabar, Sayang..” bisikmu.

III

Selama kuasa pitingan tubuhmu yang terhitung besar dan di bawah sapuan ciuman bibirmu yang bagaikan tarian itu, aku seperti dihinggapi suatu ilusi. Tepatnya diserbu ingatan dan pengetahuanku tentang seorang perempuan muda yang kenyataannya entah pernah kudapatkan dari mana. Yang jelas, berasal dari wilayah yang mirip neraka juga tak jauh dari tempatku.

Bidadari yang Tersesat di Neraka bagian 1

Berlatar sebuah tempat dengan pabrik-pabrik besar dengan bau amoniak yang menyeruak di tebaran angin saban sore dan malam hari. Perempuan itu bernama Seledri -artinya obat darah tinggi. Tinggi semampai, putih, cantik, matanya bening dengan bulu-bulu mata yang lentik, hidungnya mancung dengan ujungnya senantiasa memerah. Menjelang lulus sekolah, dalam sebuah arak-arakan karnaval, si obat darah tinggi itu menyihir ribuan penonton lelaki dan perempuan, dari anak-anak sampai kakek nenek. Seledri benar-benar menjadi bidadari -berselendang, bersayap, berbinar-binar, tetapi di jalanan dengan euforia warga sebuah negara yang konon kabarnya telah merdeka.

Semua orang mengusut tanya; anak siapa? Punya siapa? Rumahnya mana? Tingginya berapa? Ukuran BH-nya berapa? Jawaban secukupnya, si obat darah tinggi itu anak seorang janda. Keluarganya broken home. Hidup hanya dari uang pensiunan kakeknya. Sekolahnya juga berbekal belas kasih siapa saja. Sayangnya, kemudian hamil sebelum lulus sekolah. Pelakunya banyak. Anaknya lahir tanpa tahu siapa bapaknya. Lalu, seorang karyawan pabrik berjasa menikahinya dan mengaku orok itu anaknya sendiri. Tak lama selepas anak malang itu lahir, si obat darah tinggi menggugat cerai karyawan pabrik itu dengan alasan impotensi.

Selang sejenak peristiwa berganti. Emaknya, si janda itu, giliran atas dasar suka sama suka akhirnya kawin dengan seorang karyawan pabrik juga. Itungitung, biar di rumah itu ada lelaki, karena satu-satunya lelaki, anak si janda itu, malah jadi maling dan kerap digebuki orang kampung. Maka perkawinan janda dengan karyawan pabrik itu jadi pergunjingan. Konon katanya perkawinan itu hanya untuk bersenang-senang. Konon juga untuk supaya keluarga itu bisa terus makan. Mungkin salah satu benar. Mungkin juga keduanya tidak salah. Namun, si janda itu selalu menepisnya dengan kalimat yang tegas, gamblang, dan keras. “Apanya yang untuk senang-senang, lha wong impoten siang dan malam!” Meski demikian, si janda itu tak bisa atau tepatnya berpusing ria manakala hendak meminta cerai darinya. Tersebab, si obat darah tinggi itu hamil untuk kali kedua. Pelakunya ya jelas si impoten itu juga -lelaki yang sungguh telah dibuat malu dan membuat malu dirinya sendiri, meski sekaligus demi membantah kasak-kusuk busuk kelelakiannya. Dia kabur pindah kerja ke pabrik lain.

Siang itu, aku agak sulit membedakan diisap bibir kekasihku ataukah disapu kecupan bidadari. Antara sadar dan tidak, larut oleh ilusi, antara berkumpar bayang kekasihku atau kemolekan si obat darah tinggi di kepalaku, kukatakan pada kekasihku, “Engkaulah bidadariku, belahan jiwaku. Dalam beberapa saat kau bawa aku terbang dalam nikmat surgawi tak kenal waktu.”

(bersambung)

Ngimbang, 27 September 2018

S. JAI Novelis


[1] Disalin dari karya S. Jai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 7 Oktober 2018