Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 2-Habis)

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

IV
Di kota yang tidak pernah tidur, bising, sibuk, ingar bingar suara logam baja, besi dan tembaga, mesin dan putaran bahan bakar membakar udara ini, kau kisahkan bagaimana pada akhirnya engkau memilih bergerombol dengan pria yang membuatmu kemudian mengerti bagaimana mereka menyimpan rahasia demi rahasia. Bukan saja pada perempuan lain atau pada anak-anak mereka sendiri, tetapi juga kepada sesama lelaki mana pun, kawan-kawan sekerja mereka pula, atasan dan bawahan. Lantas, bagaimana engkau tahu bila itu suatu rahasia? Jawabmu, lantaran istri merekalah yang tak pernah bisa menyimpannya–rahasia itu.

“Katakanlah, apa maksudmu, Sayang?”

“Benarkah engkau belum tahu? Berjanjilah bila telah kuberi tahu kau tak menggodanya,” pintamu.

“Ya, aku janji. Hanya engkau satu-satunya perempuan yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan godaanku. Kau tak perlu menggodaku, aku sudah tergoda kecantikanmu, wahai bidadariku.”

“Ketahuilah, dan perhatikanlah. Betapa istri-istri, perempuan-perempuan di sini, genit, ganjen, dan jalang bertingkah polah memburu perhatian tidak saja pada lelaki, tetapi juga pada perempuan. Itu lantaran dia tak mendapatkan apa yang dibutuhkan di rumah.”

Sekonyong-konyong aku ngakak. Meski aku tak menganggapmu bodoh. Menurutku, itu simpulanmu yang terburu nafsu. Aku sempat menimbang itu bersumber pada kebencianmu pada sesama kaum hawa. Timbangan yang sungguh sejenak mengabaikan butiran permata indah di hatimu, pancaran kecantikanmu yang sebenarnya betapa engkau benar-benar tak memiliki kebencian terhadap segala ciptaan Tuhan, apalagi pada manusia khalifah di bumi ini. Khalifah tak pernah dipilah yang impoten ataukah tidak, terlebih untuk dijadikan dasar kebenciannya.

“Itu tidaklah cukup, Sayang. Apakah aku harus menerima pendapatmu? Tapi, baiklah, atas nama segala cintaku, aku bisa mengerti itu. Tapi, kau juga harus setuju dengan buah pikirku.”

“Ya, tentu saja. Tapi, aku perempuan, jadi lebih tahu mendalam tentang solah bowo keseharian perempuan, istri-istri dari lelaki yang tidak pernah punya waktu untuk bercinta. Sekali lagi, yang tidak punya waktu bercinta. Coba bayangkan bila itu berlangsung berpuluh tahun lamanya.”

“Kalau ini sepenuhnya bisa kuterima: perampokan atas waktu darinya yang terus berkelindan menyebabkan jati diri lelaki tak fungsi. Zaman telah menyulap kaum lelaki kehilangan banyak hal, Sayang. Bukan saja oleh sebab stres, gaya hidup, obat-obatan, merokok, tetapi juga suasana —kebisingan, kesibukan, teror polusi udara dan suara tanpa jeda, pagi, siang, sore, malam.”

Betul. Kupikir semua itu sudah ada dalam buku panduan hidup bahagia, dan penjelasan yang klise. Terang dianggit oleh para dokter kebugaran yang belum pernah hidup di tengah kota selaknat ini. Kekasihku, cobalah engkau bayangkan bagaimana seorang lelaki yang terganggu dengan dengung nyamuk dan umpatan cicak atau derit engsel pintu yang disenggol tikus, bisa bercinta manakala di atas atap rumahnya gelegar batuk dari mulut pabrik serta getar mesin di jalan-jalan muka rumahnya.

“Tidak perlu kubayangkan,” katamu.

“Tidak pula aku memilih seperti sebagian besar perempuan di sini. Aku hidup dan berjalan dengan cintaku sendiri. Tuhan Mahabaik. Aku punya kesibukan. Aku mencintai pekerjaanku. Pada saat perempuan-perempuan di kota ini menghabiskan waktu dengan menunggu suami-suami mereka yang sudah tak punya waktu untuk pulang dari tempat kerja, aku hampir punya cukup waktu untuk berbagi cinta denganmu, kekasihku. Bercerita. Jalan-jalan. Berbagi pengetahuan. Makan bersama. Pelukan dan ciuman.”

“Ya, terima kasih, Sayang. Kita akan segera menikah dan bercinta. Kita akan segera bercinta dan menikah.”

Oh, apakah ada prosesi pernikahan di neraka ini? Adakah waktu untuk itu di kota yang seluruhnya bersibuk ria dengan kesibukan tak terkira? Apakah yakin kita membutuhkannya? Kau bidadari yang punya suami. Sementara aku lelaki perkasa yang punya istri. Pada saat yang sama tidaklah memungkinkan waktu benar-benar diberikan sepenuhnya kepada kita. Tuhan menganugerahkan waktu sedikit yang tak tentu dan sungguh mahabaik diperbolehkan buat kita untuk berbagi kasih, sayang, rindu, dan cinta. “Tuhan Mahabaik, telah melahirkan kita kembali. Sekalipun di kota yang menyerupai neraka. Dia akan menjaga renjana dan memberi waktu bercinta.”

Ngaco kamu!

V
“Manusia adalah neraka bagi orang lain,” seseorang yang mengaku sahabatku dan kulupa namanya membisikkannya padaku ujaran Sartre itu hingga lumutan di pikiran dan jiwaku. Setiap lelaki adalah jahanam bagi perempuan. Pun, seorang istri adalah petaka bagi suaminya. Tentulah yang paling lantang meneriakkan panji ini adalah mereka yang berwaham “perkawinan hanyalah pelembagaan dari kegiatan cabul”. Begitulah, hidupku sendiri telah nyaris terjengkang ke dalam jurang mahadalam, sebelum perjumpaanku kembali dengan engkau, bidadariku, atas budi baik Tuhan. Perjumpaan dengan seorang perempuan penganut “Tuhan Mahabaik”. Kaulah seorang istri dari seorang lelaki yang sebagian besar dirampok waktunya dan sisanya untuk berdoa agar tak memiliki kesombongan —lelaki biasa sebagaimana terbesar yang ada di neraka ini.

Aku batal bunuh diri dengan minum sebotol Sprite 390 mililiter dengan sekaplet Bodrex berisi sepuluh tablet, selepas putus asa dari saban hari selama bertahun-tahun menenggak obat amlodipine 10 miligram setelah terserang hipertensi hebat akibat memelihara rasa takut hidup di bawah bayang kuasa istriku. Begitulah, ketika itu, di bawah rembulan sempurna, aku yang takut dan terus ditakut-takuti dengan kesengsaraan hidup di neraka kelak pada suatu masa justru berbuah bibit keinginan untuk cepat pergi ke alam yang berbeda sekadar membuktikan kata-kata istriku yang juga belum pernah singgah di sana.

Ketahuilah juitaku, memang engkau benar adanya. Aku sungguh perkasa. Dalam suasana gempuran rasa takut dan ditakut-takuti api neraka, aku benar-benar lelaki sejati yang tak hilang fungsi. Tak ada kamus impotensi dalam hidupku, bahkan hingga menjelang keinginan matiku, sampai kemudian Tuhan melahirkanku kembali dalam perjumpaan denganmu. Singkat kata, aku perkasa bukan lantaran memang aku perkasa, tetapi aku perkasa tersebab tak ada yang hilang dari kekuatanku hanya karena takut, ditakut-takuti siksa neraka, depresi, apalagi oleh obat-obatan anti tekanan darah tinggi. Akan tetapi harus kuakui, dengung nyamuk, nyanyian cecak, cericit tikus, omelan tokek, serta ulah kucing yang menggeser engsel pintu hingga berderit adalah musuh bebuyutan kejantananku.

“Tahukah kau, wahai kekasihku…”

Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 2-Habis)“Apa?”

“Aku sudah hampir tahu jarak pekik kematianku. Namun, suaramu yang terdengar sangat lirih, lembut, bahkan lebih halus dari desau angin malam itu sungguh melipatkan gairah hidupku kembali, Sayang.”

Hemmm…boleh juga rayuanmu,” katamu. “Tak ada perempuan yang nggak suka dirayu. Tidakkah kau perlu bertanya mengapa aku jatuh hati dan ingin selalu hidup bersamamu?”

“Apa?”

“Karena engkaulah yang sanggup membebaskan rasa takut buatku untuk hidup di neraka ini. Kita sudah tak bisa memilih ketika Tuhan memberi pilihan hidup untuk hidup lebih elok di tempat ini atau keluar dari tempat ini. Aku tak peduli ini kota ataukah neraka. Aku hanya peduli pada kebahagiaanku dan lenyapnya rasa takut hidup di neraka kota ini. Kau telah membebaskanku dan aku juga membebaskanmu. Inilah hidup yang sebenar-benarnya hidup. Perjumpaan yang menghidupkan kembali dari kematian dan melahirkan lagi harapan-harapan. Bukankah kita menjadi percaya pada masa depan, sebagaimana hasrat kita untuk hidup bersama entah kelak di suatu masa dengan menunggu izin dan takdir Tuhan yang Mahabaik ini?”

“Ya, aku ingin menikahimu kelak meskipun hanya sehari, Sayang. Aku ingin bercinta denganmu sepanjang waktu.”

Hehehe…kamu tidak sedang mabuk, bukan?”

“Tidak, aku sadar sesadarnya. Aku lelaki perkasa dan eksotis yang sedang majenun kecantikanmu, keindahanmu. Perempuan yang memberiku hidup. Engkau tahu bukan, aku memilih menjemput kebahagiaan hidup bersamamu dengan segala keperkasaanku, pada saat sebagian besar lelaki di kota ini menyerahkan waktunya dengan menyeruput kopi menjaring wifi di kedai-kedai, menenggak tuak, melarikan diri dari impotensi. Sementara lelaki lainnya menjadikan berdoa dengan khidmat di tempat-tempat ibadat sebagai tembok terakhir ratapan ketidakmampuannya menjadi lelaki sejati.”

“Hei..hati-hati engkau bicara, Sayang. Tuhan Mahabaik, tak sepatutnya engkau berkata begitu.”

“Biarlah. Tentu Tuhan mengerti. Karena hanya di kota inilah seluruh lelaki dan perempuannya bergantung pada tiupan angin. Ke barat ikut ke barat ke timur ikut ke timur. Mendukung sana. Mendukung sini. Lalu tukar guling dukungan. Dan agama hanyalah tembok ratapan, karena telah tahu dirinya telah dijaga hidup mereka dengan membuatkan mainan-mainan, agar impotensinya diakui eksistensinya.”

“Sialan, kamu! Kita pergi sekarang. Kau benar-benar perlu minum es degan. Biar kepalamu dingin dan mabukmu hilang.”

VI
Karena engkau dan aku sama-sama pemabuk, lantas engkau mengajakku menikah dan bercinta. Bercinta dan menikah. Dan pernikahan kami adalah pernikahan warisan Jean Paul dan Rabiah si Tuhan Mahabaik —yang berpasrah sepenuh jiwa raga pada cinta yang kalis dan senantiasa melantunkan doa lirihnya, “Wahai, Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembahMu karena gairah nikmat di surga, maka tutuplah pintu surga selamanya bagiku. Tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau semata-mata, maka jangan larang daku menatap keindahanMu Yang Abadi.” Maka, engkau telah mengenalkanku pada cinta yang sebenar-benarnya cinta, hidup yang sebenar-benarnya hidup, tanpa berhujah apa pun kecuali atas nama kebebasan dan pembebasan. Engkau tidak pernah sama sekali mempersoalkan harta benda, surga atau neraka, tubuh atau jiwa, di istana atau belantara, di rumah atau di luar rumah, apalagi cuma perihal keperkasaan dan ketidakperkasaan.

Ya, cinta saja. Titik. Tidak ada nomor satu dan tidak ada nomor dua di antara kita. Begitulah, maka selepas upacara pernikahan kami dengan penghulu dewa-dewa dengan saksi seluruh isi semesta dan dirayakan seisi jagat, engkau dan aku pun bercinta dengan segenap rasa khidmat serta khusyuk. Kami bercinta sepuas-puasnya. Bahkan, tiada hari tanpa bercinta. Di mana saja. Kapan saja. Dendam rindu dan kesumat waktu menyatu dalam gairah gelora nafsu. Pagi. Siang. Sore. Malam. Di hotel. Di dapur. Di kamar mandi. Di kebun. Di karpet. Di kloset. Di wastafel. Kau memiting. Aku membelit. Kau mencium. Aku melumat. Kau ditindih, aku menindih. Aroma tubuh dan keringat kami sama. Kami pun jadi makin tahu polah tingkah kami dalam keadaan demikian menjadi satu saling memasuki.

Kudengar kau mengejang dan terus membisikkan lembut suaramu.

“Muntahkan, Sayang. Muntahkan. Ayo. Muntahkan. Kau sedang mabuk. Minum lagi es degannya!!”

Telingaku berdengung. Berdenging. Bising. Sulit membedakan bisikmu antara “muntahkan” ataukah “muncratkan”. Kota ini benar-benar tak pernah tidur. Di siang hari berang penuh amarah. Di malam hari sumuk dikipas-kipasi amuk. Neraka mana lebih jahanam dari sekarang? Bahkan untuk muntah pun aku tak pernah bisa di hadapanmu. Hanya dekapan kasih sayangmu senantiasa menghiburku dengan kata-katamu. Sudahlah, Sayang, aku tak pernah kecewa padamu. Cinta bagiku tidak pernah sesempurna bersamamu. Tuhan Mahabaik. (*)

Ngimbang, 27 September 2018

S. JAI Novelis.


[1] Disalin dari karya S. Jai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 14 Oktober 2018