Biji Mata

Karya . Dikliping tanggal 30 Juni 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Koran Merapi

Selalu saja, aku tidak setuju dengan pengadilan massa, penghakiman massa, lebih jelasnya pembantaian oleh massa, bahkan untuk orang yang salah berat sekalipun. Menurutku, semua sudah ada jalurnya sendiri, sudah ada bagiannya sendiri-sendiri. Penghakiman massa hanya akan menyisakan kepiluan yang tiada tara. Penghakiman massa juga bisa jadi penyebab munculnya pengabadian dendam. Dendam akan selalu berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain. Selayaknya lingkaran setan tanpa ujung, dan akan selalu minta korban.
Seperti yang terjadi di Desa Ngluwih, desa yang tidak jauh dari desaku. Dua pekan yang lalu, di desa itu terjadi peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh massa terhadap pelaku pencuri sandal jepit milik warga sekitar. Ironis memang, pencuri sandal diamuk massa sampai menemui ajalnya. Polisi sedang mengusut siapa yang pertama memulai penghakiman itu, tapi tidak ada yang mengaku. Perkara massa memang sulit diuraikan. Padahal kabar yang selama ini beredar, desa itu dikenal dengan desa yang bersemboyang Desa Berhati. Kalau memang benar begitu, lalu dimana letak berhatinya?
Ketidaksukaanku dengan penghakiman massa bukan saja karena alasan itu, alasan lain yang membuatku tidak suka dengan penghakiman jenis begini, karena korban penghakiman massa ini biasanya dari golongan rakyat kecil yang kondisi hidupnya sangat memprihatinkan. Penghakiman itu tidak sebanding dengan kesalahan atau kejahatan yang mereka lakukan. Aku tidak pernah mendengar, kabar tentang orang yang melakukan kejahatan kategori berat, mati diamuk massa. Tidak ada seorang oknum teroris yang mati dibunuh massa. Tidak ada pelaku korupsi bermilyard-milyard mampus digebuki massa. Tidak ada orang kaya yang penjahat remuk dibantai massa. Meskipun begitu, kalau toh misalnya ada, tetap saja aku tidak menyetujuinya. Jiwa adalah jiwa. Semua jiwa pada dasarnya suci. Jiwa tidak tergantikan dengan apapun. Jiwa milik Tuhan yang Maha Suci.
Tapi, sejak tadi sore, setelah perbincanganku dengan ibuku di teras rumah, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tidak biasa sedang bergelora di tubuhku. Persisnya setelah ibuku bercerita mengenai biji-biji mata. Cerita ini sebenarnya sudah pernah diceritakan kepadaku kira-kira sebulan yang lalu. Cerita yang dulu tidak begitu aku hiraukan. Aku merasa cerita itu seperti kisah yang berlanjut, Aku menduga, yang kudengar sekarang ini adalah kisah lanjutan dari kisah dulu hingga kisah itu jadi lebih lengkap, karena kini aku mendengar bagian yang dulu belum aku ketahui..
“Kau masih ingat, ketika ibu cerita, ditemukan karung berisi seorang anak kecil yang sudah mati dengan kedua biji matanya hilang?” tanya ibu.
“Masih, Bu,” jawabku singkat.
“Peristiwa itu terulang lagi.”
“Maksud, Ibu?”
“Kemarin ditemukan karung berisi seorang anak kecil di bawah jembatan kereta itu lagi,” jawab ibuku.
“Berarti peristiwa yang hampir sama dengan peristiwa sebulan lalu.”
“Makanya tadi ibu bilang, peristiwa itu terulang lagi,”
“Ibu melihatnya, sendiri?”
“Ya. Ibu ada di sana.”
“Ibu mendekat?”
“Bahkan ibu yang membuka karung itu.”
“Ibu kenal dengan anak itu?” tanyaku.
“Tidak. Tapi ibu tahu, anak itu berasal dari desa Ngluwih.”
“Bagaimana keadaannya, Bu?”
“Dia masih hidup, tapi..”
“Tapi apa, Bu?” potongku penasaran.
“Keadaan matanya sama dengan yang dulu, dia sudah tidak bermata.”
“Maksud Ibu, kedua biji matanya hilang juga?”
“Ya. Ibu yakin kedua biji matanya diambil orang, karena sisa darah di kelopak mata belum sepenuhnya hilang,” jawab ibu sangat pelan.
“Biadab!”
“Sangat mengenaskan. Ibu tidak kuat melihatnya,” kata ibu dengan mata berkaca-kaca.
Selepas perbincanganku dengan ibu, pikiranku menerawang jauh, menembus batas sunyi. Sore itu, aku lalui dengan hati yang rapuh, serapuh udara sore kala itu. Sunyi itu kesunyian yang berbeda. Tidak seperti kesunyian yang ditimbulkan karena sebuah kematian, karena kematian adalah kewajaran. Kesunyian ini, kesunyian yang merintih. Buram.
Pikiranku terus saja mengembara, menembus batas waktu dan ruang, aku memikirkan tentang biji-biji mata yang berserakan. Aku memikirkan tentang pelaku pencukilan biji-biji mata itu, aku memikirkan tentang transaksi gelap, penjualan organ-organ tubuh manusia, dan tentu saja aku memikirkan tentang anak-anak yang menjadi korban penculikan dan pencukilan biji-biji matanya.
“Organ tubuh manusia yang banyak dicari orang dan paling lama bertahan hanya biji mata,” kata Dani, temanku calon dokter yang kutemui beberapa waktu kemudian.
***
Belum terjawab semua apa yang kupikirkan, Pagi itu, aku dikejutkan kabar yang disampaikan Parijo, temanku waktu SD. Katanya, telah ditemukan pelaku si pencukil biji-biji mata itu. Parijo tidak mengatakan bagaimana proses ditemukannya si pelaku. Dari informasi Parijo, pelaku itu bernama Drajat. seorang dokter muda asal desa Ngluwih. Rumah bagian dalam miliknya telah disulap menjadi sebuah laboratorium untuk menyimpan biji-biji mata yang berhasil diperolehnya. Di sana ditemukan bukti tujuh butir biji mata manusia. Ah, mengapa jumlahnya ganjil? Tiba-tiba aku seperti sedang berada di dunianya Seno Gumira.
***
Sebenarnya sudah tiga jam yang lalu aku berada di desa Ngluwih, bahkan sejam yang lalu aku sudah ada di rumah Drajat. Dan setengah jam yang lalu, di halaman rumah ini telah terjadi peristiwa besar, penghakiman Drajat oleh massa sampai dia menemui ajalnya. Entah kenapa, untuk kali ini aku diam saja saat peristiwa itu bergulir. Tidak ada sama sekali usaha dariku untuk penahanan penghakiman massa itu terjadi. Mungkin bisa lain ceritanya jika aku mau menahan penghakiman itu. Ah, tiba-tiba pikiranku kembali mengembara jauh, menembus batas waktu dan ruang, aku memikirkan tentang biji-biji mata yang berserakan, aku memikirkan tentang transaksi gelap, penjualan organ-organ tubuh manusia, dan tentu saja aku memikirkan tentang anak-anak yang menjadi korban penculikan dan pencukilan biji-biji matanya. Aku memikirkan tentang penderitaan yang tiada tara sakitnya. Uh, mungkinkah aku diam karena hal ini? Oh, maafkan aku Tuhan. Berikan aku kasih seperti kasih yang Engkau punya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Merapi” pada 29 Juni 2014