Biografi Pohon Sidrah

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
KALAU kau percaya bahwa pohon sidrahhanya tumbuh di lapis langit ketujuh, kau salah besar, Musawir. Aku melihatnya di area gundukan tanah Dusun Palanggaran. Setiap matahari jatuh di kaki langit, serumpun pohon akan memijarkan cahaya hijaui yang lembut; meredupkan pendar ribuan kunang-kunang yang beterbangan di sekitarnya.
Setidakya begitulah yang dikatakan sahabatku, Lien, ketika kukatakan kepadanya tentang pohon sidrah yang dikisahkan Kiai Ahyar. Gadis bermata sipit itu menggeleng-geleng saat mendengar tuturku tentang perjumpaan sang Nabi dengan pohon itu tatkala mikraj menembus langit tertinggi. Aku sedikit tersinggung karena Lien tak bersikap takzim kepada guru ngajiku itu.
“Bukannya aku tak menghormati gurumu. Kalau kau mau, aku bisa menunjukkan di mana pohon itu berada.”

Tentu aku lebih percaya kepada Kiai Ahyar yang reputasinya sudah tak diragukan daripada kepada Lien meskipun ia tak pernah berdusta. Tetapi, tawarannya untuk menunjukkan lokasi pohon itu membuat keyakinanku sedikit goyah. Bila ia terbukti benar, robohlah kisah yang dituturkan Kiai Ahyar tentang persnggungan sang Junjungan dengan pohon terang-benderang di langit ketujuh.
“Pohon sidrah, sebagaimana ciri-ciri yang kau sebut, hanya bisa dilihat ketika hari mulai petang. Ia tampak seperti pohon biasa bila matahari masih bercokol di atas cakrawala.” 
Lalu pada hari itu juga, atas rasa penasaranku yang menggebu-gebu, kami berangkat menuju Dusun Palanggaran saat senja condong ke arah barat. Yang perlu kubawa hanyalah obor yang akan menjadi penerang jalan pulang.
Saat kami sampai di sana, hari nyaris petang. Palanggaran adalah dusun tak berpenghuni. Dulu, ketika aku masih kecil, ibuku pernah bercerita bahwa Ki Moko, leluhur kami, telah mengutuk warga Dusun Palanggaran atas tabiat kikir mereka. Masyarakat pelit itu kemudian meninggalkan dusun mereka, menjadi peminta-minta hingga tujuh turunan. Dusun itu menjadi senyap. Pesantren kecil Ki Moko kehilangan murid-muridnya. Di sana hanya tinggal Ki Moko dan istrinya. Sampai saat ini, tak seorang pun tahu di mana makam Ki Moko berada. Dan tak ada pula orang yang sudi memijak Dusun Palanggaran yang telah mati. Orang-orang menyebutnya “tanah yang dikutuk.”
“Kita akan segera sampai.”

Dari kejauhan kulihat cahaya hijau berpendar di atas area gundukan tanah. Hatiku berdebar kencang. Ini tak mungkin, batinku sembari meyakinkan diri bahwa apa yang bakal kulihat hanyalah sepotong mimpi. Saat kami sampai di hadapannya, aku tahu bahwa pohon itu benar-benat myata.

“Apakah aku tengah ada di surga?”

Baca juga:  Lelaki di Bawah Pohon Turi

Lien tertawa memandang wajah ketakjubanku. “Aku menemkannya dulu ketika emncari belalag bersama sepupuku. Aku tak menangkap serangga lincah itu seekorpun, ettapi aku mendapatkan pengganti yang jauh lebih memukau. Sejak saat itu aku seringkali ke sini. Memandangnya lama-lama membuat kesadaranku seoerti terhisap.”

Benar saja apa yang dikatakan Lien. Cahaya ohon itu menyeretku ke ambang anatra sadar dan tak sadar. Aku seperti memasuki dimensi lain, lapisan yang lebih spiritual daripada segala doa yang pernah kupanjatkan.
Sebenarnya pohon yang kini kusebut sidrah itu hanyalah serumpun bambu biasa. Rimbunan pohon itu tak terlalu tinggi. Aku tak bisa melihat apa yang ada di pusatnya karena rumpun bambu itu amat rapat. Ia tumbuh tepat di tengah lahan timbul yang cukup luas. Hanya ada rumpun itu, selebihnya hamparan rumput. 
Aku tak mau mukjizat ini kunikmati sendiri. Lalu kuceritakan semuanya kepada teman-temanku. Kuantar mereka ke tempat ini. Reaksinya speerti apa yang kurasakan. Ketika menatap pohon ajaib itu, mereka seperti kehilangan kata-kata untuk mengungkapkannya, lupa daratan, dan setelah itu, wajah mereka seperti habis diguyur air yang menyegarkan.
Bagaikan wabah mematikan, berita tentang pohon itu menyebar ke sejumlah dusun. Orang-orang mulai lupa bahwa Palanggaranpernah mereka sebut “tanah yang dikutuk.: Pada hari-hari dan bulan-bulan tertentu mereka berziarah ke pohon sidrah. Setelah menyambangi pohon itu, mereka –sebagaimana aku, Lien dan teman-temanku– merasa sangat spiritual. Ketakjuban, keterpukauan, dan rasa tersihir membuat orang-orang dari berbagai dusun mencawiskan doa-doa, memadahkan zikir dan salawat. Kini, Palanggaran bukan lagi dusun sepi yang hanya diriuhkan oleh angin dan kerisik daun-daun yang beterbangan oleh desis ular serta bising suara tonggeret.
“Lien, kau tahu apa yang dikatakan Kiai Ahyar seteah kuceritakan pohon itu kepada beliau??” Gadis berkulit keramik itu menggeleng, “Beliau bilang, pohon sidrah cuma ada di langit ketujuh.” Namun beliau tak pernah melarang orang-orang menziarahinya.
“Musa, meskipun itu bukan pohon sidrah, orang-orang menjadi sakaw dan merasa lebih baik setelah berjumpa dengan pohon itu. Bukankah itu pula yang dialami nabimu setelah bergumul dengan pohon sidrah?”
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Barangkali di dunia ini ada dua pohon sidrah atau lebih. Atau mungkin cuma satu sebagaimana yang dopercaya Kiai Ahyar.
***
Dari kegelapan jalan, Lien muncul. Melihatnya tergopoh-gopoh, aku meloncat dari lincak bambu yang kududuki. Tak sampai di depan rumahku, segera kususul ia dan ingin tahu apa yang terjadi.
“Astaga, Musa, apa kau tak tahu apa yang terjadi?” Itulah kalimat pertama yang diucapkannya ketika berhadapan denganku. Kuingat sebiji jangung menetes dari dahinya. Rambutnya yang legam lurus terurai agak berantakan disapu angin.
Rupanya pemerintah Hindia wilayah kami mendengar cerita tentang pohon sidrah; tentangorang-orang berbagai dusun yang menziarahinya. Selama ini, pemerintah Belanda melarang orang-orang berkumpul, berserikat. Menurut pikiran paranoid mereka, orang-orang yang berserikat biasanya merencanakan pemberontakan. Pemerintah kolonial tak menerima alasan orang-orang berserikat. Bagi mereka, segala perserikatan inlander adalah subversif.

“Malam ini mereka akan meneang pohon sidrah!”

“Jangan panik, Lien.”

“Aku tak mau pohonku dirusak!”

“Bagaimana dengan para peziarah?”

“Mereka tak berkutik! Takkan ada yang mau isi kepalanya luluh lantak dihantam peluru. Ihat itu!” Lien menunjuk pada barisan serdadu Belanda yang diterangi suluh.

Kami mengikuti mereka diam-diam. Tentu kami juga tak bisa berbuat apa-apa. Itu menunjukkan bahwa kami masih lebih mencintai nyawa kami ketimbang pohon keramat itu.

Di Palanggaran, orang-orang segera menghentikan akitivitas ziarah ketika serdadu Belanda datang. Para peziarah menepi, berdiri, dan menyaksikan apa yang akan dilakukan serdadu Belanda. Mereka tahu apa yang akan terjadi, tetapi membiarkan segalanya terjadi.

“Kita serahkan smeuanya kepada Allah,” tukjas seorang di antara mereka.

Langit tak menampakkan bulan, tak ada cericit kelelawar. Pohon itu masih memendarkan cahaya hijau yang melenakan. Mungkin karena sihir pohon itulah para peziarah tak dibakar amarah ketika aktivitas mereka tengah diganggu para penjajah itu.

Dari barisan para peziarah, tiba-tiba terdengar sebuah suara mengalunkan kasidah Burdah. Lantunan syair Al-Busyiri itu terdengar lembut. Lalu suara-suara yang lain mengikutinya.

Lien tampak berkaca-kaca. Jantungnya yang sedari tadi berpacu perlahan-lahan menjadi tenang. Tak ada amarah sebagaimana para  peziarah. Malam telah dibuaikan oleh koor para peziarah. Yang tersisa hanyalah rasa haru. Sebentar lagi pohon itu akan lenyap di hadapan kami.

“Tian, bila ini kehendak-Mu, biarlah aku rela menerima segalanya,” isak Lien dengan suara nyaris tak terdengar. Setetes air matanya jatuh, meresap ke dalam bajunya yang merah.

Seorang pemimpin barisan emmberi isyarat kepada para serdadu. Mereka siaga dengan bayonet dan senapan; berjaga-jaga bila ada peziarah yang hendak menyerang. Tetapi kuyakin itu takkan terjadi.

Seorang serdadu maju beberapa langkah, mengacungkan sehunus parang dan menebas sebatang bambu seukuran lengan bocah dengan gerakan cepat. Bukannya jatuh, potongan bambu itu melesat, membumbung ke langit. Penebas itu mendongak. Mulutnya menganga takjub melihat bambu yang melesat ke atas. Pada ketinggian tertentu, patahan bambu itu berhenti membumbung dan secepat kilat meluncur ke bawah, menancap ke mulut si penebang. Parangnya lepas dari genggaman, tangannya terentang. Ia jatuh berlutut dnegan kepala menegadah. Dari mulutnya yang tertancap, darah menyembur.

Para peziarah hanya bergumam, barisan serdadu kocar-kacir tunggang langgang. Lien tak berkata apa-apa. Ia hanya tak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Tetapi aku tahu, ia merasa doanya telah dikabulkan.

Dari celah bambu yang ditebang, bisa kuintip sisi dalam rumpun pohon. Di tengah-tengahnya ada setimbun makam. Nisannya batu berlumutan. Di atas pusaranya, cahaya hijau bergulung-gulung. Wangi kesturi menguar dari dalam rumpun sidrah.

Makam Ki Moko. Entah kenapa, hanya itulah yang terlintas dalam pikiranku.***

Jogjakarta, 10 November 2014

Royyan Julian adalah mahasiswa S-2 Program Studi Ilmu Sastra di Universitas Gadjah Mada. Bukunya, Sepotong Rindu dari Langit Plelades (2011) memenangkan lomba kumpulan cerpen LeutikaPrio. Naskah novelnya, Te Amo, masuk nominasi Lomba Menulis Novel Populer Bentang Pustaka 2013

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Royyan Julian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 17 Mei 2015