Bisnis Keluarga

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

SUDAH bukan rahasia, di zaman sekarang, supaya tetap hidup kita sering kali harus bersedia menjual apa saja untuk mendapat duit. Ada yang menjual kue, ada yang menjual mobil, yang lain menjual badan, ada juga yang menjual binatang liar yang disekap dari hutan.

Para pengusaha yang sukses dengan mulut berbusa akan berkoar di media massa bahwa kunci sukses adalah berpikir di luar kotak: lakukan hal yang berbeda!

Tapi para penjual ludah ini lupa untuk mengutamakan nurani dan etika. Yang digembar-gemborkan adalah sukses dan keuntungan. Aku bukan pengusaha yang demikian. Aku tidak mau membuat makhluk apa pun menderita. Aku tidak akan menangkap binatang yang bebas merdeka di alam, untuk dimasukkan ke dalam kandang-kandang kecil. Aku justru ingin dari bisnisku ini, semua akan lebih sejahtera dan bahagia.

Dan aku selalu berusaha jujur: yang aku jual adalah barang yang bagus dan bermutu tinggi. Aku tidak akan menjual barang rongsokan, karena aku bangga akan produksiku ini. Aku juga selalu meminta pendapat suami dan anak-anakku, walau akulah yang harus membanting tulang dan menjadi pencari nafkah dalam keluarga.

Sejak suamiku diseruduk oleh mobil Colt dari depan, saat mengendarai sepeda motornya ke Sleman, aku memang harus mencari duit sendirian. Kedua tangannya hancur, padahal pekerjaan dia adalah juru tulis di sebuah perusahaan yang cukup besar di Yogya. Dia menjadi sangat pendiam dan selalu khawatir. Dari juru tulis, ia berganti profesi menjadi juru miris.

Tapi ada satu hal yang tak berubah: anunya masih berdiri tegak seperti biasa. Malah sekarang, makin aktif karena tak ada hiburan lainnya. Pagi sore siang malam, barangnya selalu siap. Spermanya membuncah ruah, dan hampir setiap tahun, aku hamil. Kontrasepsi apa pun yang aku coba, tidak mempan dan suamiku tidak doyan pakai kondom. Kita sudah mempunyai tiga anak. Yang bungsu baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu, karena kena diare dan kami tak punya duit untuk membawanya ke rumah sakit.

Kedua anakku sekarang begitu kurus, dan saling pandang dengan mata yang kelaparan. Kalau ini kubiarkan, lama-lama mereka mungkin akan saling memakan yang lain.

Yang parah, sekarang bayi keempat sudah bersemayam di perutku, dan terancam tak mendapat asupan yang layak. Inilah yang membuatku membuat keputusan untuk membuka bisnis keluarga. Aku memanggil suami dan anak-anakku untuk mendiskusikan bisnis baru ini:

“Baru-baru ini, saya bertemu dengan Bapak dan Ibu Suryo. Mereka tahu kalau ibu sekarang sedang mengandung tiga bulan. Mereka akan memberi kita uang yang cukup, juga bagi ibu untuk menjaga kesehatan sehingga bayi yang ibu lahirkan nanti akan sehat. Sesudah bayi ini berhenti menyusui, mereka akan membawanya untuk hidup bersama mereka di Kediri. Kita tidak diizinkan menengok bayi ini lagi.”

Pasutri kaya ini sudah menikah lebih dari sebelas tahun, tapi tetap tak punya momongan. Jadi, waktu saya bertemu dengan mereka melalui seorang teman, ide ini muncul: Kenapa tidak saya tawarkan saja bayi ini kepada mereka, sehingga sang bayi akan mendapat masa depan yang lebih cerah dan sang pasutri juga lebih berbahagia.

Pasutri tersebut menyambut baik ideku, tapi aku berkata bahwa aku harus mendapat persetujuan semua anggota keluargaku terlebih dulu. Sekali lagi, usaha ini adalah untuk kepentingan bersama. Semua harus bisa memetik manfaatnya, dan aku tidak mau melukai siapa pun. Suamiku segera menyetujui rencana ini.

Anak pertamaku sekarang berumur tujuh tahun. Yang kedua lima tahun. Hanya anak pertamaku yang menangis: “Apa ibu sudah tidak sayang dengan kami, jadi mau menjual kami?”

Aku menjelaskan panjang-lebar, kalau aku tidak ada niat menjual dia. Aku sangat sayang kepadanya. Justru karena rasa sayangku kepada semua orang, akhirnya keputusan ini kubuat, demi kebaikan dan kepentingan bersama. Dia bakal dapat makanan yang melimpah, enak dan sehat. Bahkan, akan mendapat baju baru serta pendidikannya bakal lebih terjamin.

Sebelum kontrak ditandatangani, Bapak dan Ibu Suryo datang untuk mengantarkan kami berdua melakukan cek kesehatan. Aku dan suami ternyata bebas dari berbagai macam penyakit yang bisa membahayakan sang bayi nantinya.

Akhirnya, kontrak pun ditandatangani. Segera sesudahnya, kiriman makanan bagi keluargaku mengalir. Aku sendiri mendapat kiriman khusus: susu, daging ayam, sayur, dan buah-buahan segar. Anak pertamaku yang tadinya sempat protes, sekarang menjadi sangat bahagia.

Betapa cerahnya hari-hari ini. Sesudah bayi itu lahir, aku menyusuinya sampai ia berusia enam bulan. Dan pasutri tersebut mendapatkan anak yang sangat tampan dan sehat, yang asal-usulnya jelas. Bukannya menyombong, aku dan suamiku memang termasuk cantik dan ganteng, dengan badan yang seimbang dan rambut yang lebat mengkilat dan kulit bersih, pertanda kami berdua sehat. Kami berdua juga cukup terpelajar. Bayangkan, pada awal tahun 1980-an ini, kami berdua sudah mendapat gelar sarjana. Padahal orang seumur kami masih banyak yang tidak lulus SMA.

Tentu saja, sangat berat berpisah dari seorang yang sudah menjadi bagian diriku. Tapi aku adalah pengusaha profesional dan tak perlu mengasihani diri sendiri dalam berbisnis. Profesionalisme tak mengenal sentimentalisme.

Sesudah itu, aku berusaha menjadi makin profesional dengan membuat kartu nama:

ADOPSI ANAK BIBIT DAN BOBOT ORANG TUA TERJAMIN

ANDALAH TINGGAL MEMBERI BEBETNYA

Suamiku makin punya rasa percaya diri, karena ia merasa diperlukan. Ia bersemangat menjaga badan dengan olahraga teratur dan makanan yang sehat, demi mempertahankan kesehatan spermanya. Ia makin kelihatan seksi dan hidup jadi bergairah.

Kedua anakku juga tambah bersemangat dan begitu inginnya agar aku cepat-cepat memproduksi barang dagangan selanjutnya. Betul juga, tak lama kemudian, benih anak kelima sudah bersemi. Tidak tanggung-tanggung, kali ini ada tiga pasangan yang memesan. Bagiku ini adalah kesempatan. Aku meminta mereka memberi penawaran harga, dan yang tertinggilah yang menang. Menyerahkan anak bukan hal yang mudah, tapi bisnis adalah bisnis. Apa pun yang kaulakukan tentu ada hal yang amat memberatkan, tapi kalau semua diuntungkan dan menjadi lebih bahagia dalam hal ini, maka keberatan dan kepedihan hati harus kuabaikan demi kebaikan bersama.

Semua anggota keluargaku ikut bergembira dengan kemajuan usaha kami ini. Meluncurlah anak kelima ke tangan penawar tertinggi. Begitu juga dengan anak keenam, ketujuh, dan seterusnya. Kami sekarang tak pernah hidup kekurangan.

Masalahnya, bisnis ini ternyata mulai ada saingannya. Bahkan ada yang memberi garansi: ada yang 3 bulan, 6 bulan, bahkan 9 bulan. Kalau tidak puas, bisa kembali.

Usahaku jadi merosot. Pada 1990, aku melahirkan anak keduabelas. Tapi pemesannya masih saja tak menyetujui harga yang kuajukan. Mereka terus menawar, dan bahkan minta garansi.

Aku pun bertindak cepat: segera kutawarkan garansi yang cukup tinggi. Tidak tanggung-tanggung: 3 tahun! Kalau mereka tidak puas dengan anak ini, bisa kembali.

Akhirnya mereka setuju dan menandatangani kontrak. Aku yakin akan mutu yang aku hasilkan, karena sebelumnya tidak ada pasangan yang mengeluh dengan hasil produksiku. Setelah anak keduabelas laku, aku bersiap untuk memproduksi anak yang ketigabelas. Tapi ada masalah lain: pada tahun 1995 umurku sudah 42. Tak banyak pasutri yang sudi mendapatkan bayi dari perempuan berusia di atas 40. Apalagi angka 13 dianggap sebagai angka sial. Beberapa pasutri tertarik dengan bayi ini dan menanyakan harga banderolnya. Tapi, setelah ia lahir, tetap tidak ada yang mau mengambil walaupun sudah kubanting harga dan kuobral ke mana-mana.

Aku bukan orang yang suka menyia-nyiakan. Aku juga bukan orang yang semena-mena seperti para pedagang yang membuang monyet atau anjing yang dianggap tidak mendatangkan untung atau tidak laku dijual.

Etika bagiku adalah nomor satu. Anak yang tidak laku ini akan tetap kupelihara dan sayangi.

Satu setengah tahun berikut, anak keduabelas dikembalikan menjelang si bocah berulang tahun ke-3. Pasutri yang membelinya berkata, anak itu ternyata tak secantik dan secerdas yang mereka kira. Ya sudah, aku menerima anak ini sepenuh hati, karena bagaimanapun bisnis ini untuk kebaikan semua. Jadi, tak ada sejumput jiwa pun yang akan aku korbankan atau lukai.

Tahun berikut, anak yang kesebelas juga dikembalikan, karena dia dipakai buat memancing saja. Mereka percaya, dengan mengambil anak, mereka akan mendapatkan anak sendiri. Betul juga, beberapa tahun setelah membeli anak dariku, sang istri hamil. Jadi, mereka tak butuh anakku itu lagi.

Suamiku mulai marah: “Seharusnya jangan pakai garansi. Bagaimana kalau nanti anaknya kembali semua? Bisa bangkrut kita! Anak kita yang pertama sudah kuliah di universitas swasta yang ternama. Anak kedua akan mulai kuliah tahun depan. Bagaimana kita bisa membayar uang kuliah mereka, kalau tiba-tiba dibebani tambahan anak lagi?”

Aku balik menyemprotnya.

Etika. Itu motoku. Aku tidak berpura-pura jadi moralis seperti para koruptor itu, lalu menjual ludah untuk menipu atau menganiaya orang banyak. Aku menjual anak dan bekerja keras untuk ini, demi kebaikan semua orang.

Ketika anak yang kesepuluh juga dikembalikan dengan berbagai alasan, suamiku mulai mengancam akan meninggalkanku.

Aku sendiri tidak mengerti bagaimana suamiku bisa begitu tega. Bukankah anak-anak ini juga hasil karyanya, bagian dari dirinya? Apa yang harus aku lakukan sekarang supaya keluarga ini utuh dan bahagia kembali? Apakah semua ini salah? Apakah seharusnya aku tidak memulai bisnis ini sama sekali?

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan tiba-tiba saja tangisku meledak.

Saat itu, ada sentuhan yang begitu lembut pada bahuku. Anak pertamaku: “Bu, jangan khawatir. Bukankah ini bisnis keluarga? Jadi, ini bukan tanggung jawab ibu saja. Biarlah aku yang melanjutkan bisnis ibu, untuk membiayai adik-adikku,” katanya sambil mengelus perutnya.

Soe Tjen Marching, dosen di SOAS-University of London.


[1] Disalin dari karya Soe Tjen Marching
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 13 – 14 Oktober 2018