Blowing in The Wind

Karya . Dikliping tanggal 28 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
KINI kau adalah sebuah suara yang keluar dari mulut seorang penyanyi kafe pada pukul tiga dini hari yang lelah: “How many roads must a man walk down before you call him a man?”

Kemudian kau terbentur ke lantai yang lembab dan dingin. Tak berkutik beberapa saat sebelum sepasang sepatu dari langkah yang terburu-buru menendangmu, menyebabkan kau terlempar ke kolong meja bernomor empat belas di mana seorang lelaki sedang memandang langit-langit cafe dengan tatapan yang berusaha menunjukkan –pada seekor cicak yang kebetulan berada tepat di hadapan sepasang matanya– betapa letihnya ia dini hari itu. Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Kau terbawa ke dalam paru-parunya. Selang beberapa detik, ia mengembuskan napas dengan kuat. Kau terlempar dan melekat di rambut seorang perempuan yang sedang merapikan rias wajah, rambut, dan busana. Ia mematut dirinya di hadapan cermin kecil. Memoles bibirnya dengan gincu merah, menambah tebal bedaknya, dan kemudian menyibakkan rambutnya.
Kau kembali terlempar. Terlempar masuk ke salah satu lubang ventilasi toilet yang ada di cafe itu. Kau terjatuh ke dalam tas seseorang. Seseorang yang ternyata sebentar lagi akan pergi meninggalkan cafe itu dan entah akan menuju ke mana. Barangkali ia akan pulang ke rumah, membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa setiap akan pulang dini hari. Membuka pintu dengan gelagat seorang pencuri . Masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Merebahkan diri lantas tidur dan ketika tertidur matahari telah condong  ke arah pantai. Atau bisa jadi, seseorang itu tidak akan pulang ke rumah. Ia hanya pergi dari cafe itu. Menyusuri jalan-jalan yang lengang. Kendaraan yang lewat satu-satu terkadang menawarkan tumpangan namun selalu ia jawab dengan menggelengkan kepala sebab ia sendiri tidak tahu akan ke mana.
Ia hanya ingin pergi dari cafe itu, melepaskan dirinya dari keramaian orang-orang yang justru semakin membuatnya merasa kesepian. Keluar dari toilet, ia sedikit berlari, dan tepat di pintu cafe itu ia tersandung. Tasnya terlempar sejangkauan lengan darinya. Seluruh isi tasnya berserakan. Termasuk kau yang kebetulan sedang berada di dalam sana. Kau terserak agak jauh –karena kau adalah sebuah suara yang keluar dari mulut seorang penyanyi cafe pada pukul tiga dini hari. Seorang penyanyi cafe yang ketika kau berada di luar cafe itu sedang melafalkan: “How many seas must a white dove sail  before she sleeps in the sand?”

Kau adalah sebuah suara yang kini sedang tergeletak di tengah jalan.

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sekitar empat puluh kilometer per jam. Kau belum beranjak ke mana-mana ketika mobil itu melintas menabrakmu. Membuatmu tersangkut di nomor polisi mobil itu. Kau membacanya. Bukan kendaraan dari kota ini. Kau tetap tersangkut di sana. Terbawa menyusiri jalan-jalan yang dijelajahinya. Hingga, pada sebuah pantai, mobil itu mendadak berhenti. Kau terlempar dan mendarat di hamparan pasir pantai yang basah. Kau melekat di sana. Si pengendara mobil itu keluar. Duduk tepat di sampingmu. Ia tidak tahu kau ada di sampingnya. Ia kemudian merebahkan dirinya. Tertelentang memandang langit dini hari yang bersih dari apapun, kecuali bayang-bayang kekasihnya dan kenangan yang diputar ulang dalam pandangannya. Ia sedang berusaha mengingat kapan terakhir kali ia dan kekasihnya mengunjungi pantai ini. Ia sedang berusaha mengingat apakah yang mereka lakukan ketika mengunjungi pantai ini terakhir kali. Apakah ia dan kekasihnya membuat rumah pasir yang sangat besar atau biasa saja? Apakah rumah pasir itu ia bentengi dengan batu-batu karang atau membiarkan ombak yang bergerak ke tepian meluluhlantakkannya?
Ia sedang berusaha mengingat apakah ketika mengunjungi pantai ini terakhir kali mereka  sempat tertawa dan berbahagia? Ataukah semua ingatannya itu palsu? Ingatan palsu yang ia ciptakan sendiri demi membantah kenyataan bahwa selembar foto yang kini ada di genggamannya menampilkan sesuatu yang lain. Sebuah foto lelaki  yang memotret dirinya sendiri untuk dikirimkan pada kekasihnya yang jauh dan bahkan tak pernah ia temui sama sekali. Angin berembus agak kencang, membawamu menjauh drai lelaki yang sedang ditikam ingatan fiktif itu sehingga kau tidak bisa tahu bahwa kau sedang melagukan pelan-pelan lirik ini: “Yes, how many times can a man turn his head pretending he just doesn’t see?” 

Kau adalah sebuah suara yang melayang-layang diterjang angin laut.
Bergerak semakin jauh drai tongkang dan perahu nelayan yang seakan berkedip mengucapkan selamat jalan. Angin itu terus membawamu menyusuri atap demi atap, membentur tiang demi tiang, kemudian menghempaskanmu di depan pintu lobi sebuah hotel bintang empat. Kau mengerti namun tetap saja ingin bertanya ketika seorang lelaki menuntun seorang perempuan muda mentah dengan wajah sayu dengan mata yang seakan menyimpan segala kesediahn di dunia menuju meja reception. Kau sungguh-sungguh mengerti namun tak bisa membendung pertanyaan mengapa begitu mudah bagi seseorang untuk merasa punya hak terhadap diri orang lain? Mengapa begitu mudah kesedihan berubah menjadi semacam barang yang bisa diberi harga?
Kau masih ingin melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang sungguh telah kau mengerti jawabannya itu seandainya tidak ada petugas public area yang sedang meneteng vacuum cleaner dan berdiri di hadapanmu, menyalakan perangkat kerjanya, dan tanpa sengaja mengisapmu ke dalam tabung yang dipenuhi debu dan barangkali juga ampas keringat orang-orang yang mesti tetap terjaga dan menghabiskan waktu tidurnya demi keinginan-keinginan kecil, seperti: membayar kamar sewa kontrakan, menebus televisi yang tergadai, melunasi kredit kendaraan, membeli obat demam, atau bahkan menghadiahkan sehelai rok bermotif kembang untuk seorang perempuan.
Di dalam tabung yang dipenuhi debu dan hal-hal lain yang bisa saja luput dari pengamatanmu itu kau merasa betapa dunia yang sedemikian luasnya akan bermakna lain bagi mereka yang dihimpit ketiadaan kuasa atas dirinya sendiri. Betapa kegemerlapan kota-kota hanya cara manusia menghadapi kegagapannya atas kegelapan yang bisa tiba-tiba datang dari segala sisi menyelimuti kehidupan ini. Kau tidak tahu ke mana petugas yang mengisapmu dengan vacuum cleaner itu akan membawamu, tetapi melalui sebuah celah di antara selang dan tabung perangkat kerjanya itu kau  lamat-lamat mendengar sebuah lagu mengalun: “How many years can people exist, before they’re allowed to be free?”

Kau kini tak tahu ke mana kau akan terus melayang setelah ellaki itu membuka tutup tabung vacuum cleaner dan menuangkanmu ke selokan di basement hotel bintang empat itu. Yang kau tahu hanya betapa tengik aroma air di selokan itu. Yang kau tahu hanya air itu akan terus mengalir menuju sungai-sungai, muara-muara. Kau ingin menghindar dari serangan aroma tengik dan segala sampah itu tapi apa yang kau lakukan hanya semakin memperjelas bahwa kau tak berdaya. Kau hanya sebuah suara. Sebuah suara yang dengan alasan tertentu, suatu kali, akan mampu menjawab pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari ibumu yang nyaris gila; istrimu yang mendekam di penjara; dan anakmu yang dua malam yang lalu mengiris nadi, dengan sebuah kalimat sakti: “The answer is blowing in the wind…” ***
(Padang, 2015)
Untuk Heru Joni Putra

Catatan: Sebuah variasi atas lirik lagu “Blowing in the Wind,” Bob Dylan..

Karta Kusumah, tinggal di Padang. Bekerja di Komunitas Seni Nan Tumpah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Karta Kusumah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 26 Juli 2015