Bocah Yang Melawan Mitos

Karya . Dikliping tanggal 20 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
DAUN kamboja bergetar dalam lesapan angin sore, meoreh lagu sepi di sekitar gundukan tanah yang membujur ke utara. Di sisi timur gundukan ada sisa asap kemenyan mengepul dari sabut kelapa, sedang puluhan kelopak bunga bertebar memenuhi gundukan itu seakan menjangkau kaki batu kijing dengan syahadah luka.
“Ibu…ibu… jangan tinggalkan Fahri, ibu. Fahri masih mau ke sekolah bersama Ibu.”
Tangis anakku yang masih berumur lima tahun memecah dada sore dari gendonganku. Ia meronta-ronta ingin turun dan membongkar kuburan ibundanya, air matanya terlampau dingin membasahi lengan kananku. Aku hanya bisa berdiri bisu, tidak menangis dan tidak tersenyum, di sekitar sudah tak ada lagi sanak keluarga dan para pelayat, mereka sudah pulang, yang ada hanya Lasmani, tetangga sebelah, teman akrab istriku yang hanya bisa berdiri, tertunduk diam di samping pusara.
Beberapa kali ia membujuk Fahri untuk digendong tapi Fahri tidak mau, tangisnya histeris semakin keras menyesaki sore hari yang merendah di Pemakaman Astra, jantungku berdegup sesaat setelah hidung menghirup aroma kemenyan dari lenggokan asap. Asap yang mengantarkan bayangan wajah mendiang istriku, Sumina. Aku hanya membisu, tidak menangis tapi tidak tersenyum.
Tangis Fahri melengking menyayat langit sore Pemakaman Asta begitu kulangkahkan kaki, berbalik menuju jalan pulang, dadaku bergetar mendengar teriakan tangis Fahri yang terus memanggil-manggil mendiang ibundanya. Air matanya begitu dingin dan teramat basah, suaranya seperti ringkih dan sekarat karena terlalu lama menangis dan meronta. Lasmani melangkah gontai mengikutiku dari belakang. Di tengah jalan tiba-tiba ayah datang bermaksud menghibur Fahri dengan menggantinya dari gendonganku, sepasang mata ayah sembab dan basah, keriput wajahnya terlihat gemetar, ayah berusaha dengan banyak cara membujuk Fahri agar terdiam.
Di tengah lengkingan tangis Fahri, ayah berkata: “kamu tidak usah menangis cong, Ibumu suatu saat pasti datang.”
Air mata ayah menetes jatuh menyatu dengan air mata Fahri, bibirnya pucat dan ia dekap Fahri dengan erat, aku menatapnya dan sakit tapi aku tidka menangis dan tidak tersenyum.
“Ahmad! Ayo pulang, di rumah kita pelayat sangat banyak, mungkin mereka ingin bertemu dneganmu,” ucap ayah sedikit terisak melangkahkan kakinya di sela rimbun ilalang.
Sambil melangkah pulang, peristiwa kematian Sumina menyeret ingatanku kepada 15 MAret 1986. Kala itu umurku masih empat tahun, ibuku meninggal. Aku menangis histeris sebagaimana Fahri anakku, aku meronta-ronta hendak memukul orang-orang yang telah mengubur jenazah ibu di Pemakaman Raas yang dipenuhi barisan pohon akasia. Aku menjerit sekuat suara memanggil nama ibu, walau pada akhirnya hempa, hanya dijawab selisih angin yang menggeriap pada daunan. Ya, hampir serupa dengan peristiwa ini, yang beda kalau sekarang aku menggendong anakku dengan teramat sayang ketika ia memanggil nama mendiang ibundanya, sedang dulu ayah mencambuk tubuhku dengan seutas rotan ketika aku memanggil nama ibu. Pyarrr!

“Dasar anak kurang ajar! Kau yang telah membunuh ibumu, beberapa hari yang lalu kau sering menoreh tanah dengan ranting, meski aku selalu melarangmu tapi kau tidak peduli. Kau tahu tidak, menoreh tanah bisa menyebabkan kematian seorang Ibu, begitu kata tetua,” ucap ayah menggelegar.
Matanya terbelalak, giginya bergemeretak seperti berbicara pada anak dewasa, padahal umurku kala itu baru empat tahun. Aku hanya bisa menjerit lebih keras dan berguling-guling di tanah. Terakhir yang kuingat, ayah diringkus dua orang lelaki dusun yang entah siapa namanya. Ayah dikira stres dan sakit jiwa.
“Menoreh tanah dengan ranting bisa menyebabkan kematian seorang Ibu.” Ya itulah kalimat yang terus lekat di kepalaku sampai kini.
Setelah duduk di bangku SMA aku baru kalau itu disebut mitos, kepercayaan nenek moyang yang secara ilmiah tidak masuk akanl, akan tetapi mitos dan akal sama-sama punya kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan meski keduanya berlawanan. Dalam sejarah penjajahan, kolonial bisa merampas segalanya drai arkyat, kecuali hanya mitos yang tidak dapat dilenyapkan. Mitos itulah yang menggerakkan rakyat dan kolonial takut kepadanya. Kolonial lebih ngeri bila mendengar kabar seorang serdadu mati bersimbah darah di bawah pohon besar, daripada mendengar serdadu yang tubuhnya luluh lantak karena dibom. Karena mitos itulah kolonial perlahan menyingkir dari bumi Madura.
Mitos telah turut mencampuri perjalanan hidupku dari sejak kecil. Pada hari-hari senggang saat ibu dna ayah pergi ke ladang, aku erbiasa bermain pasir di halaman, dari sepuluh temanku hanya aku dan Karim yang suka menoreh ranting ke tanah membentuk oretan absurd, kadang berupa leliuk garis kadnag berupa gambar. Kebiasaan itu tak jarang mendapat keaman dari para orang tua dusun karena menoreh tanah bisa membuat ibu mati. Aku dan Karim tak hirau akan itu, tanganku terlampau lincah menjalankan mata ranting pada punggung tanah membentuk garis liuk, lengkung dan datar hingga kadang aku dan Karim tertawa cekikikan ketika hasil akhir oretan berbentuk gambar burung, gajah, sapi, dll.
Selain tetua dusun, ayah dan ibu juga melarangku menoreh ranting di tanah. Alasannya sama, bis amenyebabkan ibu mati. Aku dan Karim menganggapnya tak masuk akal hingga aku dengannnya tak berhenti melakukan hobi yang unik itu, entah secara kebetulan atau memang sungguh karena kelakuanku, di Senin pagi yang temaram karena selimut gerimis tiba-tiba ibuku merasa sesak di dadanya dan emninggal begitu saja.
Sejak itu aku percaya akan kebenaran mitos itu, dan aku semakin percaya ketika ibu Karim juga meninggal tepat di hari ketujuh dari kematian ibuku. Sejak saat itu aku berhenti menoreh tanah meski seandainya mau nakal lebih enak dilanjutkan menoreh karena ibu sudah terlanjur meninggal. Alasan yang lebih mendasar mengapa aku berhenti menoreh tanah, karena ayah terus menyalahkanku sebagai penyebab utama kematian ibu. O, betapa aku telah menukar nyawa ibu dengan ranting kering.
***
SEBELUM gundukan tanah mengambil Sumina dariku, seperti biasa di sore yang senggang aku menemani fahri bermain di halaman rumah ketika Sumina sibuk di dapur. Angin dusun menelusup seperti jemari bidadari menggetarkan tangkai-tangkai kembang di halaman. Angin itu sesekali sedikit kencang menyebabkan siul sundari semakin nyaring di ekor beberapa merpati yang melintas-lintas pada raut langit dusun yang berhias kabut putih, angin itu pula sempat menjatuhkan raning-ranting mangga yang legam mengering tepat jatuh menimpa tangkai kembang. Biasanya Fahri sigap mengambil ranting itu dan kemudian menorehkannya pada tanah dengan sangat riang.
“Ayo! Fahri teruslah menggambar seperti yang diajarkan Bu Guru di TK, ayo!” pintaku tak kalah riang meski kala itu aku ingat mitos bahwa menoreh di tanah dnegan ranting bisa menyebabkan kematian seorang ibu.
Tapi  apa peduli dnegan mitos, anakku riang dan aku tak kalah riangnya. Aktivitas itu Fahri lakukan hampir setiap sore bersamaku hingga ia teramat pandai melukis Micky Mouse memegang es krim di punggung tanah sebagaimana yang diajarkan ibu guru di sekolahnya.
Beberapa minggu kemudian aku semakin berapi-api menyuruh Fahri menoreh tanah. Kala itu Fahri sudah mulai terbiasa bermain keluar rumah sendirian. Tak jarang ia mengunjungi tapak dandang(1)yang berjarak seratus meter di timur rumah. Sepulang bermain ia kerap bercerita tentang keadaan di jalan bercabang empat itu, di sana ia pernah memungut jajan genna(2) di atas ancak lalu memakannya dengan lahap. Setiba di rumah wajahnya sangat sumringah dan tak henti menyimpul senyum dari bibirnya yang tipis, ia sangat suka bercerita tentang jalan bercabang empat itu smabil lompat-lompat, sebagian rambutnya menjuntai ke dahinya yang berburai keringat. Setelah aku memberi ranting kering dan menyuruhnya menoreh di tappak dandang, Fahri semakin riang dan sering mengajak teman-temannya ke jalan yang dipercaya angker itu. Aku hanya tersenyum seraya mengingat kata-kata tetua dusun bahwa kalau menoreh tanah di tapak dandang akan cepat mematikan ibu. Ah mitos!
Hari berlalu dengan puluhan ranting kering yang tamat di tangan Fahri, mungkin ia sudah menghasilkan puluhan gambar dan garis-garis yang terpacak di senyap tanah tapak dangdang. Mungkin ia juga telah berkali-kali menerima omelan dari para tetua dusun yang melarangnya dengan beragam cara, bahkan Sumina sendiri sudah bersikeras melarang Fahri dengan ancaman, hanya saja Fahri sering dapat pembelaan dariku untuk menjadi anak-anak yang melawan mitos.
Sekitar sebulan sejak Fahri menoreh ranting di tapak dangdang, pada dini hari yang lengang Sumina istriku merasakan sakit dada, napasnya tersengal-sengal, matanya terbelalak, keringatnya tumpah dan sekujur tubuhnya dingin. Ia tidur ke dadaku smabil memeluk hingga pada akhirnya kurasakan pegangan tangannya melemah dan terlepas. Saat kuraba dadanya, ternyata jantungnya sudah tak berdetak, istriku meninggal. Saat ibundanya meninggal, Fahri masih tertidur pulas di sampingku. Aku pun teringat ranting-ranting yang ditorehkan Fahri ke tanah. Aku tidka menangis dan tidak tersenyum. Malam mengantarkan sayup sungkawa melalui angin yang berdesir lirih.
***
SUDAH sepuluh hari Fahri tidak mau pergi ke sekolah, hari ini ia berdiri di beranda sambil menopangkan dagunya ke langkan. Matanya menatap kosong.
“Fahri, kau tidak usah menangis. Salahmu sendiri menoreh ranting ke tanah, sehingga ibundamu meninggal,” tegasku agak sombong meniru ayah dulu yang biasa menyalahkanku setelah ibu meninggal.
“Bapak mungkin tidak tahu, setiap kali Bapak memberi Fahri ranting dan menyuruh menoreh tanah di tapak dangdang, hal itu tidak pernah Fahri lakukan. Ranting-ranting itu Fahri buang. Jadi tidak mungkin karena itu, yang pernah ibu ceritakan pada Fahri beliau selalu sakit dada karena tak sanggup mendengar kabar tetangga, katanya bapak sering jalan-jalan dengan Bi Lasmani,” ucap fahri membuat aku terperanjat dan membisu. Tak lama kemudian ayahku –kakek si fahri– keluar dari balik pintu.
“Ahmad! Tidak benar kalau kematian seorang Ibu disebabkan karena anaknya menoreh ranting ke tanah, dulu aku sering menyalahimu begitu saat Ibumu meninggal. Padahal itu hanya sandiwaraku demi menutupi aib keluarga bahwa sesungguhnya ibumu dadanya sesak karena tak sanggup memikirkan utangku setelah hartaku habis di meja judi.”
Aku hanya mengernyitkan dahi mendengar perkataan Fahri dan ayah. Padahal sebenarnya aku adalah orang yang paling percaya kepada mitos itu, hanya saja dalam bercerita aku pura-pura anti mitos. Saking terlampau percaya pada mitos itu aku tega menyuruh Fahri menoreh ranting ke tanah agar Sumina cepat mati, agar aku bisa beristri lagi, menikahi Lasmani, itulah sebabnya saat Sumina meninggal aku tidak menangis tapi juga tidak tertawa, dan aku harus merahasiakan maksud busukku ini kepada siapapun.  (k)
Dik-kodik, 25 Desember 2014
A Warits Rovi, lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, aktif di komunitas Semenjak. pembina sastra Sanggar 7 Kejora, pengajar snei rupa Sanggar Seni Lukis Decoration of Al-Huda, guru Bahasa Indonesia MTs Al-Huda II Gapura.
Tinggal di Jalan Raya Batang-Batang, Ponpes Al-Huda gapura Timur, Gapura, Sumenep, Madura

Catatan: 
(1) Jalan-jalan bercabang empat yang dalam kepercayaan orang Madura dianggap angker
(2) Aneka jajan pada sesajen
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah dimuat di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 18 Januari 2015