Bohong

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SISOL hanya terdiam dan menunduk. Walau sesekali membalas tatapan Sidar, sekilas saja. Dalam sekilas itu, Sisol melihat wajah Sidar menegang. Keringatnya keluar membuat kulit hitamnya berkilap. Hidungnya mendengus seperti cerobong asap pabrik kayu. Udara disedot dan dimuntahkan cepat-cepat. Berkali-kali.

Mata Sidar menyala. Urat-uratnya memerah seperti cacing bercabang. Sesekali kelopaknya berkedip membasuhkan air mata. Namun air mata itu hanya berkilau sebentar lalu menguap. Tatapnya meruncing dan melesat menusuk mata Sisol yang ada di depannya.

Dari tatapan Sidar, Sisol tahu kalau ada rasa geram, sakit, luka, kecewa, sedih, marah di hati suaminya. Untuk kesekian kali, Sisol membohongi suaminya. Dia bingung mau berkata apa pada Sidar.

“Maafkan aku kang,” Sisol membuka percakapan. Sidar terdiam.

“Aku tak bermaksud membohongimu,” kata Sisol tertunduk. Sidar masih membisu.

“Aku menyesal kang,” air matanya mulai menetes.

Sidar belum juga bersuara. Laki-laki itu masih berusaha untuk meredam amarahnya. Dia tak ingin memuntahkan serapah kepada perempuan yang dinikahi tiga tahun lalu. Jangan sampai tangannya terbang ke pipi yang biasa ia cubit-cubit gemas tiap pagi dan malam.

Awalnya Sidar sangat marah mengetahui dengan matanya sendiri, istrinya berboncengan sambil memeluk mesra laki-laki lain. Satpam dari pabrik tempat Sisol bekerja. Sidar tahu saat dia diajak ke kota oleh tetangganya naik mobil tadi siang.

Memang, sejak Sidar jatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira dua tahun lalu, sebagai laki-laki dia tidak bisa apa-apa lagi. Lumpuh. Sidar hanya bisa keliling rumah dan halaman dengan kursi roda. Sidar tak bisa lagi memberi nafkah lahir batin. Sejak saat itu, istrinya yang kerja cari uang sebagai buruh pabrik bulu mata palsu di kota ini.

Sidar itu suami kedua Sisol. Dulu Sisol cerai dengan suami pertamanya juga karena main serong. Sidar bersedia jadi istri Sisol dengan harapan bisa mengubah tabiat perempuan itu. Ternyata nihil. Sejak istrinya bekerja, dia sudah dua kali dibohongi istrinya. Watak asli istrinya muncul, serong.

Dan hari ini, untuk kali ketiga, Sidar dibohongi istrinya. Modus dan orangnya masih sama. Sidar sangat marah, tapi tidak boleh marah. Kalau dia sampai menalak dan mengusir istrinya, dia akan sendiri di rumah sampai mati.

“Aku memaafkanmu. Tapi ini yang terakhir,” kata Sidar lirih.

“Terima kasih kang,” tangisan Sisol meledak.

Dia lalu bersimpuh di depan suaminya. Tangan Sidar diciumnya. Dalam batin, ia memantapkan untuk tidak main serong dan bohong lagi. Atas nama tuhan, setia pada suaminya, apa pun yang terjadi.

Sidar hanya tersenyum menitikkan air mata. Tangan kirinya mengelus rambut Sisol. Dia tahu, sangat mungkin dia akan dibohongi lagi. Mungkin akan memafkan lagi, tapi Sidar sudah memikirkan cara untuk membuat istrinya jera.

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga 2018

*) Ryan Rachman, lahir di Kebumen 1985. Tinggal di kaki Gunung Slamet, Bumisari, Bojongsari, Purbalingga. Bergiat di Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa)-e


[1] Disalin dari karya Ryan Rachman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 14 Oktober 2018