Bola Mati

Karya . Dikliping tanggal 8 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SUDAH sering aku pergi ke pemakaman kota untuk menengok makam ibu. Tapi baru kali ini kulihat banyak kerumunan orang menangis di depan gundukan tanah. Kucoba lebih mendekat. Tak tampak ada papan penanda makam.
”Siapa yang meninggal?” Aku pun bertanya kepada seorang perempuan yang lama menangis. Sambil terus mengusap air mata dengan tangannya, ia menjawab singkat, ”Bola,” 
”Maksudnya?” kataku heran.
”Iya, bola mati terkena sanksi,” sahutnya. Sekarang, aku bukan saja heran tapi juga bingung.
”Bola mati bukannya ditangisi tapi ditendang,” pikiranku masih diselimuti kebingungan. Aku mencoba bertanya kepada seorang pria yang sedang duduk termenung di bangku kayu, bawah Pohon Kamboja.
”Mas, siapa yang meninggal?” Aku menanyakan pertanyaan yang sama. 
Dan jawaban yang kuterima pun sama, 
”Bola,” jawabnya acuh tak acuh.
Aku yang tak habis pikir dengan kejadian ini langsung memutuskan pergi dari situ. Kaki terus kulangkahkan. Menuju ke halte bus. Dimana aku akan menunggu bus yang akan membawaku
pulang ke rumah.
”Masnya suka bola?” tanya petugas halte. Rupanya, ia melihat aku memakai topi klub sepakbola kesayanganku.
”Iya, Masnya juga suka bola,” Aku balik bertanya. Bukan luncuran jawaban dari mulutnya yang kudapat tapi raut muka kesedihan yang tersirat.
”Dulu, sekarang bola sudah mati,” jawab si penjaga halte sedih.
”Memangnya bola sakit apa?” tanyaku.
”Bolanya tak sakit tapi yang mengurusi bola sedang sakit hati,” jawabnya.
Aku cuma tersenyum simpul. Kulihat bus yang akan kunaiki sudah datang. Aku segera naik. Tak banyak penumpang di dalamnya. Tak banyak pula pembicaraan yang kudengar keluar dari mulut mereka. Tampak keheningan yang kurasakan. Seraut wajah tua seorang penumpang wanita terus memandangiku. Matanya menyiratkan kesedihan.
Aku tak tahu apa yang membuatnya sedih. Karena itulah, aku mencoba bertanya, ”Apa saya ada salah dengan Ibu?” Perempuan yang kupanggil ibu itu terkejut, sampai hampir saja membuatnya terjatuh dari kursi. Beruntung, orang yang duduk di sampingnya memegangi tubuh si perempuan. Lalu ia segera membetulkan letak duduknya.
”Tak ada, anak muda,” ”Ibu hanya teringat putra kesayangan ibu yang dulu suka bermain bola,””Tapi setelah tahu ada sanksi, ia tak mau main menendang bola,”
”Katanya, percuma jadi pemain bola, sudah tak lagi menjanjikan,” Ibu itu bercerita panjang lebar. Aku terenyuh mendengar ceritanya. 
”Sebegitu pentingnya bermain bola,” pikiranku menerawang ke masamasa dimana ketika bola masih hidup di tengah masyarakat. Membuatku jatuh hati kepadanya. Bola sudah kuanggap sebagai kekasih abadi. Di dalamnya, ada beragam kenangan suka dan duka yang aku dapatkan.
Napas panjang kuhirup. Kucoba menenangkan pikiran. Bus sudah sampai di tempat yang kutuju. Aku
turun. Berjalan sebentar menuju ke stadion bola. Aku masih belum percaya sepenuhnya kalau bola mati. Masih mengira itu cuma kebohongan sesaat atau mimpi di siang bolong. Tapi ternyata tak begitu.
Ketika kulihat stadion bola yang biasanya penuh sesak, hari ini tampak begitu sepi, aku mulai sedikit percaya. Lalu kulongok ke tengah lapangan dari tribun penonton. Cuma ada hamparan rumput hijau. Tak ada para pemain satupun di sana. Tak kulihat pula penjual jajanan yang biasa berkeliling di dalam stadion. 
Menawarkan minuman dan makanan kecil. Tak ada pula penonton lainnya. Cuma aku seorang diri,
Duduk di salah satu bangku tribun stadion. Aku berharap ada pertandingan bola hari ini, entah itu tarkam atau kompetisi resmi, bisa segera dimulai. Mata dan pikiran ini rindu kembali dihibur tontonan bola. Tapi tak juga kunjung dimulai. Aku mulai bosan menunggu. Segera, aku keluar dari
stadion.
Di luar, tampak sepi. Tak ada petugas parkir yang biasa menagih uang parkir para suporter. Tak kulihat ayah dan para penjual merchandise yang lain sibuk menawarkan daganannya. Aku kembali berjalan menuju halte bus. Belum ingin pulang ke rumah. Hari masih sore dan sinar matahari belum kunjung meredup. Aku ingin mengunjungi pemakaman kota sekali lagi.
Tiba kembali di pemakaman kota, aku melihat suasana sudah sepi. Tak ada lagi kerumunan banyak orang seperti beberapa waktu lalu. Cuma ada seorang juru kunci yang sedang merawat sejumlah makam di situ. Aku mendekatinya. Ia tampak tersenyum ramah.
”Ada apa Mas kembali ke sini?” tanyanya.
”Cuma ziarah makam bola,” jawabku. 
Si juru kunci makam tampak keheranan. 
”Maaf, Mas. Tak ada makam bola di sini. Adanya juga makam manusia,” katanya. Aku sedikit terkejut. 
”Bukannya tadi siang ada banyak kerumunan orang mengitari makam bola di sini,” terangku. Si juru kuci makam mengangguk pelan.
”Mungkin yang Mas lihat itu gelaran teatrikal bentuk protes atas jatuhnya sanksi pada bola negeri ini,” sahutnya. 
Sekarang, aku pun baru paham sepenuhnya. Mereka yang bertreatikal sudah berhasil mengecohku.
Aku lalu putuskan segera pulang ke rumah. Tiba di rumah, aku sudah disambut ayah.
”Kamu sudah makan?” tanya ayah langsung, tanpa basa-basi. Aku menggeleng. 
”Makanlah dulu sana,” kata ayah.
Bergegas, aku menuju ke meja makan. Kulihat lauk pauk hari ini begitu lengkap. Ada tempe goreng, telur, paha ayam dan berbagai macam sayuran. Kuambil piring nasi dan lauk tempe. Sayur lodeh yang kupilih sebagai kuah makanku. Aku makan dengan lahap. Tak pedulikan ayah yang memperhatikanku. 
”Kamu sudah kenyang?” tanya ayah selesai aku makan. Aku mengangguk. 
”Makanlah sepuasmu karena ini makanan terenak yang bisa Ayah bawakan hari ini,” ujar ayah sambil menampakan raut muka sedih. Aku terkejut mendengarnya.
”Maksud Ayah?” tanyaku.
”Ayah sudah tak lagi jualan marchandise klub,” jawab ayah sedih.
”Apa yang terjadi, Yah?” tanyaku lagi. 
”Omzet penjualan terus menurun karena tak ada aktivitas bola di stadion beberapa hari ini,” jawab ayah sambil berdiri meninggalkan meja makan, menuju kamarnya. Pintu kamar ditutupnya pelan-pelan. 
Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam termenung. Selama ini, ayah menjadi tulang punggung keluarga setelah ibu tiada. Dari hasil berjualan merchandise klub di luar stadion, ayah bisa menghidupi aku dan adikku. Tapi sekarang, ayah tak berjualan lagi. Entah ayah mau bekerja apa nanti. 
Bola mati bukan lagi bahasa kiasan bagiku sekarang. Itu sudah merupakan bahasa kenyataan yang sedang aku hadapi. Berat memang meninggalkan bola, cinta pertamaku. Tapi harus aku lakukan demi kehidupan yang lebih baik. ❑ – g
Mei 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari Karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 7 Juni 2015