Boneka Kucing

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Paino duduk sedikit jongkok di mobil bak terbuka yang dipasangi kain terpal penutup bersama enam kawan. Mereka baru pulang dari proyek pembangunan gedung kantor di luar daerah. Sabtu malam ini jatah kawanan kuli bangunan yang masih satu desa itu pulang. Sebelumnya, selama enam hari, mereka tinggal di bangunan semipermanen di area proyek.

Malam ini, hujan turun cukup deras. Walau sudah ditutup terpal, tetap saja air masuk ke bak mobil. Pakaian mereka basah kuyup. Paino juga, meski sudah memakai jaket kulit, tetap saja basah tembus ke kulit. Pria 32 tahun itu duduk di pojokan sambil memeluk tas berisi pakaian kotor. Di sela-sela pakaian, ada sebuah boneka kucing seukuran bayi baru lahir. Mungkin boneka itu basah juga, walaupun sudah dibungkus plastik.

ìBapane, Imah belikan golek ya, yang bagus kayak punya Prapti dan Herni,î kata anak semata wayangnya, pekan lalu, sebelum ia berangkat ke proyek.

Paino berjanji membelikan boneka yang bagus saat pulang. Dia tidak ingin anaknya hanya melihat teman-temannya asyik bermain boneka. Karena itu, setelah mendapat honor setuan dari mandor, ia ambil selembar uang lima puluh ribu dan membeli boneka toko kecil di seberang jalan depan proyek kantornya. Ia melihat- lihat dulu dan akhirnya memilih boneka kucing duduk berwarna putih belang-belang hitam. Meskipun bulunya tidak terlalu lembut dan jahitannya tidak rapi, Paino cukup puas. Dengan uang selembar itu, masih ada kembalian, ia bisa membelikan boneka untuk anak kesayangannya.

Hujan turun deras seperti tak habis-habis. Kilat menyambar membelah langit. Beberapa kali ledakan guntur memecah keheningan, seolah menghantam rongga dada yang penuh asap rokok. Hujan seperti ini mengingatkan Paino pada cerita guru agama waktu ia duduk di bangku SD tentang Nabi Nuh. Hujan yang sangat deras mengguyur dan menjadi pertanda daratan akan menjadi lautan. Waktu itu Paino membayangkan sebesar apa kapal yang dibuat Nabi Nuh. Sebab, seluruh binatang bisa masuk ke dalamnya. Apakah sebesar lapangan bola di belakang balai desa atau mungkin sebesar kapal induk militer yang pernah ia lihat di majalah bekas di pengepul rongsok sebelah rumah?

Namun, ingatan tentang cerita itu tidak sekuat bayangan anak dan istrinya di rumah yang sudah menunggu. Ada rasa cemas tiba-tiba datang dalam hatinya. Tidak tahu mengapa.

***

Selepas lulus di SMP swasta di kota kecamatan, Paino tidak melanjutkan SMA. Ia memutuskan bekerja karena Biyung sudah tak sanggup membiayai sekolah. Bapaknya sudah lama meninggal sejak ia masih duduk di bangku SD karena terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira. Paino pun kerja serabutan alias kerja jika ada yang memerintah. Badan yang kekar, dengan kemampuan ototnya, ia sering diminta warga sekitar rumah untuk bekerja. Kadang menjadi kuli pengangkut pasir, kadang ngglondong, kadang membangun rumah.  Namun yang paling sering diminta menjadi kuli bangunan untuk mengerjakan proyek di kabupaten atau luar kota. Bahkan tak jarang ia pergi ke luar kota untuk menjadi kuli proyek besar seperti membangun apartemen, perkantoran, hingga jalan tol.

Lama membujang, usia 23 tahun ia menikah dengan Darni, gadis hitam manis berperawakan mungil yang rumahnya sekitar seratus meter dari rumah Paino. Keduanya dulu satu kelas di SD. Namun saat Paino sekolah SMP, tidak lagi bersamanya karena Darni tidak melanjutkan sekolah. Gadis itu memilih menjadi buruh bulu mata palsu di plasma di desanya.

Dua tahun menikah, anak pertama lahir. Paino memberi nama Fatimah, dengan harapan, kelak, menjadi gadis berhati mulia, cantik luardalam seperti putri Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Nama itu sebenarnya bukan dia yang memberikan, melainkan atas saran Ustaz Ngalimin. Di rumah, Paino biasa memanggilnya Imah. Saat ini gadis kecilnya baru masuk TK di dusun tetangga.

Paino sangat menyayangi anaknya. Selain istrinya, Imah menjadi pelepas lelah setelah hampir seminggu bekerja berat di proyek. Melihat tingkah polah gadis berponi dan pipi gembil itu, Paino selalu tertawa lepas dan gemas. Dan segala letih pun lepas ke awan. Pernah suatu petang, Paino dipanggil-panggil anaknya untuk menemani bermain riasmerias. Imah menaburkan bedak rata di seluruh wajahnya. Lalu memoles bibir merah merona dengan lipstik dan mleber hingga ke pipi. Kontan, Darni mencak-mencak melihat sang anak mengacak-acak peralatan dandannya. Paino hanya tertawa lebar melihat anak dan istrinya itu.

Paino sangat berharap, anaknya bisa tumbuh besar menjadi perempuan saleh. Menjadi kebanggaan saat ia tua nanti dan selalu mendoakan ia dan istrinya bila sudah berada di kuburan. Karena itu, saban sore, istrinya selalu mengantar Imah ngaji di kediaman Ustaz Ngalimin. Paino sadar betul, ia tidak bisa mengajari anaknya mengaji dengan baik karena pengetahuannya tentang agama mung-mungan.

***

Malam makin larut. Mobil coak yang Paino naiki bersama saudara senasib-seperjuangan sudah masuk ke wilayah perbatasan kecamatan. Dari mana mereka tahu? Bisa ketahuan saat mobil berjalan bergoyang ke sana-kemari. Supir tidak berani memacu dengan kecepatan tinggi. Selain hujan sangat deras, jalanan gelap serta penuh batu karena aspal sudah hancur sejak lama lantaran sering dilewati truk pengangkut pasir yang ditambang di bukit seberang.

Mobil berjalan lebih pelan dengan gigi rendah karena sudah masuk desa tempat Paino tinggal. Ya, rumah Paino memang berada di salah satu lereng bukit di desa ini bersama belasan rumah warga lain. Paling tujuh kilometer lagi sampai di permukiman. Namun karena kondisi jalan dan cuaca ekstrem, perjalanan pun menjadi lama.

Sambil menggigil, Paino terus mendekap tas berisi boneka untuk anaknya. Ada rasa yang tidak biasa berkecamuk di hatinya. Bayangan anak dan istrinya selalu berputar di kepala dengan rambut yang basah tersiram hujan. Dia ingin segera cepat sampai di rumah.

Tiba-tiba, kurang-lebih dua kilometer menjelang permukiman, para penumpang mendengar suara gemuruh keras. ìLongsor! Longsor!î teriak mereka sambil menunjuk ke sisi bukit yang longsor.

Beratus-ratus kubik tanah bercampur batu runtuh dan mengubur mobil dan semua yang naik. Paino tetap erat mendekap boneka untuk anak gadisnya. Hujan makin deras.

Sementara itu, di rumah, Darni memeluk erat Imah dalam selimut hangat. Hujan deras tak membuat mereka terjaga. Keduanya sangat lelap. Imah bermimpi sang ayah pulang membawa boneka kucing untuknya. (28)

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga

Catatan
Golek: boneka
Setuan: pembayaran honor buruh bangunan setiap hari sabtu
Biyung: ibu
Ngglondong: buruh tebang dan angkut kayu
Mleber: melebar
Mung-mungan: satu-satunya, hanya itu saja
Coak: bak terbuka

Ryan Rachman, lahir di Kebumen, 12 Januari 1985. Kini, tinggal di RT 18 RW 9 Bumisari, Bojongsari, Purbalingga, dan bergiat di Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga.


[1] Disalin dari karya Ryan Rachman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 6 Januari 2019