Boneka Terakhir Seli

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Seharusnya jam delapan pagi itu Seli duduk manis di ruang kelas taman kanak-kanak sebagaimana anak-anak seusianya, bukan memotong-motong boneka barbie dengan pisau seperti ibunya memotong bahan-bahan olahan kue. Ia sendirian di dalam kamar, tapi tidak sepenuhnya sendiri. Boneka-boneka barbie hadiah ibu dan bibinya berbaris acak di sisi tempat tidur dan meja belajar menemani Seli. Boneka-boneka itu memiliki wujud janggal. Tubuhnya terpenggal-penggal, tercerai-berai bagai daging sapi setelah dijegal tukang jagal. Seli masih memotong-motong boneka berpakaian merah muda itu, mengiris bagian lehernya yang alot khas benda plastik.

Ketika Seli berhasil memisahkan kepala boneka itu dari tubuhnya, terdengar bantingan benda keras dari kamar sebelah. Kamar ibunya. Seli tak menghiraukan suara riuh itu. Ia sudah terlampau biasa mendengarnya. Banyak suara lebih keras dan menggelegar daripada itu pernah ia dengar. Seli memindahkan boneka yang terbelah batang lehernya ke atas meja belajar. Disusunnya boneka itu bersama boneka-boneka lain yang juga cacat dan terbengkalai tubuhnya.

Gadis mungil berambut panjang terurai itu mengambil satu lagi boneka dari tempat tidurnya. Satu-satunya boneka bertubuh lengkap yang masih tersisa. Itu boneka yang kali pertama dan terakhir ibunya belikan untuk Seli. Boneka itu berambut kuning panjang terkuncir, mengenakan gaun putih, dan bersepatu manik-manik. Mata boneka itu terlihat mencolok, membulat besar dan memantulkan sinar saat terkena cahaya.

“Boneka ini mirip kamu, Seli. Bedanya ia berambut kuning, sedangkan rambutmu hitam legam,” kata ibunya suatu malam ketika menjelaskan perihal boneka itu. Seli menatap wajah ibunya.

“Berarti boneka ini mirip ibu juga, ya? Kan Seli mirip ibu. Tapi, mengapa rambut ibu tidak ada?”

Ibunya tercekat. Ia mendekap Seli dan membawakan dongeng tentang kuda poni sebagai pengantar tidur putrinya. Tidak lama kemudian Seli tertidur di pelukannya.

Di antara dongeng-dongeng dan pelbagai cerita yang ia kisahkan pada anaknya, ibu Seli tidak pernah menceritakan kisah tentang asal-muasal kebotakan rambutnya. Bahkan, sewaktu Seli menanyai dan membujuknya terus-menerus, ia tetap tak mau bercerita. Tak baik menceritakan bagian-bagian pahit kehidupan kepada anak-anak. Anak-anak adalah penyuka hal-hal manis. Itulah kenapa mereka menyukai permen dan gulali, dan membenci obat-obatan. Demikian pikirnya.

Kendati ia tak pernah bercerita soal itu kepada anaknya, bukan berarti ia telah melupakannya. Ia masih ingat betul sejarah ketiadaan rambut panjang terurai miliknya. Rambut yang sekarang hanya dapat ia kenang melalui sulur-sulur yang tumbuh di kepala anaknya. Ia mengingatnya, bahkan sampai bagian paling renik sekalipun. Ruang dan waktu beserta detail-detail kecil peristiwa itu terjadi masih rekat tertanam di memorinya. Dalam bilik memori yang menampung hal-hal yang selayaknya tak perlu diingat, namun malah paling awet menempel di ingatan.

Di kamar, pada suatu malam berudara dingin dan senyap, ketika Seli yang masih berusia dua tahun menangis meraung-raung di atas kasur, ia dan suaminya terlibat adu mulut. Adu mulut yang kesekian kali dengan pemercik api itu-itu juga-perihal ia yang merasa suaminya pelit membagi waktu untuk ia dan anaknya. Kali itu, percik-percik api tak berhenti pada sekadar adu mulut, tapi telah menjelma api besar yang membakar sukmanya dan suaminya. Waktu itu, belum ada boneka-boneka bertubuh ramping dan berambut indah.

“Jangan-jangan kau berselingkuh!” tuduhnya dengan mata mendelik.

Malam itu suaminya masih berseragam rapi, belum bersalin pakaian. Suaminya baru saja pulang. Ia tidak tahu apakah suaminya pulang dari kantor atau tempat lain. Yang jelas, waktu telah kelewat malam. Mendekati pergantian hari.

“Jangan asal omong kau!” bentak suaminya. Ia membalas bentakan itu dengan lebih keras. Tak jelas suara siapa yang paling keras malam itu. Apakah suaranya, suara suaminya, atau suara bayi mungilnya yang kian meronta-ronta.

Ia makin menuduh suaminya macam-macam.

“Sudah berapa banyak pelacur yang kau sewa, hah?” seusai ia berkata demikian, telapak kanan suaminya meluncur ke pipi kirinya. Pipinya panas dan perih. Seperti ketumpahan air mendidih. Ia tak membalas tamparan itu dan tak berkata apa-apa lagi. Tetapi api telanjur menyala besar di aliran darah suaminya. Suaminya mendorong ia ke tembok. Membuatnya terduduk. Dengan kasar lelaki kesetanan itu menjambak rambutnya, menyeretnya hingga ke luar kamar, lalu mencukur habis rambutnya dengan gunting yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.

Sejak malam kelam itu, rambutnya tak pernah lagi tumbuh. Dan suaminya tak pernah lagi pulang ke rumah.

Ia merawat Seli seorang diri. Ia berdagang kue kecil-kecilan dengan bantuan modal adik perempuannya ketika telah tiga bulan lamanya suaminya tak jua pulang. Usaha itu berjalan lancar. Paling tidak dengan usaha kecil itu ia sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama Seli. Adiknya sangat baik kepadanya dan Seli. Ia kerap diberikan adiknya uang dan makanan-makanan, sementara Seli kerap dibelikan boneka. Sejak kedua orang tuanya tiada, ia dan adiknya tumbuh sebagai perempuan mandiri. Bedanya, adiknya masih perawan hingga lulus kuliah dan memperoleh pekerjaan bagus di suatu perusahaan periklanan. Sementara ia terpaksa meninggalkan kuliahnya dan menikah dengan lelaki yang telah menghamilinya.

Seli sangat menyukai boneka-boneka pemberian bibinya. Seli tidak punya teman main selain boneka-boneka. Karena kesukaan Seli itu, ia membelikan Seli sebuah boneka pada suatu akhir pekan ketika hasil jualannya lumayan banyak. Boneka satu-satunya yang ia belikan untuk Seli. Di antara banyak boneka, Seli paling suka boneka itu. Seli selalu meletakkan boneka cantik itu di samping bantalnya ketika tidur. Dan boneka itulah yang kini berada di genggaman Seli dan sedang ia timbang-timbang. Apakah boneka itu harus ia potong juga seperti boneka-boneka lain atau ia biarkan saja.

Suara benda pecah kembali merambat dari kamar sebelah menuju telinga Seli. Seli telah sangat akrab dengan suara itu. Tepatnya sejak sekitar satu minggu lalu.

Seli tak mengenal penanggalan dan nama hari, namun ia ingat waktu itu malam hari, ketika dunia begitu sunyi dan jendela-jendela serta pintu rumah tertutup rapat. Seorang lelaki datang dan mengeluyur masuk ke rumahnya. Seli tak mengenal lelaki bersetelan lengkap dan membawa tas kecil itu. Ketika lelaki itu memeluk dan menciumnya pun, ia merasa mendapatkan sentuhan yang sangat asing. Sentuhan yang seolah-olah berasal dari planet lain. Tak lama, ibunya muncul dari kamar. Lelaki itu berlari dan berlutut meminta maaf kepada ibunya. Tetapi ibu Seli bergeming. Bahkan kala lelaki itu menyembah-nyembah dan mencium kakinya, ibu Seli tak bereaksi apa pun. Ibu Seli justru pergi menuju ke dapur, meninggalkan lelaki itu dalam posisi menunduk seperti orang sujud. Sekembalinya dari dapur, ibu Seli mengacungkan sebilah pisau, dan serta-merta menyabetkan pisau itu ke leher belakang lelaki itu. Darah memuncrat dari batang leher. Kepala lelaki itu jatuh menyamping. Menghasilkan bunyi gedebuk. Seli menyaksikan kejadian itu dengan ngeri. Tubuhnya bergidik.

Pada hari-hari setelah malam itu, ibu Seli gemar memecahkan dan membanting barang-barang. Berapa banyak barang yang sudah ibunya rusak dan pecahkan, Seli tidak tahu. Ia tidak lagi bercengkerama dan bermain bersama ibunya sejak saat itu. Ia cuma main bersama boneka-boneka. Namun Seli bosan dengan boneka yang tak bisa berbicara dan bergerak. Karena bosan, Seli bereksperimen terhadap boneka-bonekanya. Sejak tiga hari belakangan, ia suka memotong-motong bonekanya dengan pisau yang pernah digunakan ibunya membunuh seorang lelaki asing. Saat memotong, ia meniru gerakan perlahan tapi pasti ibunya sewaktu memotong bahan-bahan olahan kue. Mengiris dengan gerakan berulang, lalu menghentakkan pisau di irisan terakhir.

Bibinya belum berkunjung lagi ke rumah Seli sejak ibunya menggorok lelaki yang tak Seli kenal. Lelaki yang ibu Seli simpan di kamar sebelah. Seli pernah iseng mengintip kamar ibunya dan menemukan mayat lelaki itu teronggok di atas kasur. Hanya Seli yang tahu ibunya telah serupa orang gila. Berteriak-teriak dan membanting apa saja. Tetangga-tetangga pun tak tahu. Boneka-boneka pun tak tahu. Termasuk boneka pemberian ibunya, yang tiba-tiba telah Seli sabet dengan pisau, persis seperti ibunya menyabetkan pisau ke leher seorang lelaki pada malam penuh darah.

Bekasi, Agustus 2018

Erwin Setia lahir pada 1998. Pembaca puisi dan prosa. Kini bermukim di Bekasi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media.


[1] Disalin dari karya Erwin Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 20 – 21 Oktober 2018