Buah Hati

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
MANCUNG hidungnya, tebal bibirnya, lebar dahinya, bentuk matanya, serta bulu-bulu alisnya yang legam dan tumbuh tak teratur serta nyaris bertaut, sungguh seperti pantulan cermin jika dihadapkan satu sama lain. Ingin kau ingkari kemiripan keduanya dan berharap tak seorang pun menyadari hal itu. Itu sebab, mengapa kau membatasi anakmu bermain dengan anak-anak tetangga di luar sana. Tidak jarang kau memarahi dan menyeretnya  pulang ketika anakmu yang baru berusia lima tahun itu diam-diam pergi ke rumah Le’ Saodah, tetangga sebelah, saat lepas dari pengawasanmu yang sedang sibuk memasak di dapur.
“Sudah berapa kali kubilang, jangan bermain jauh-jauh!” kau hempaskan tubuhnya ke kursi begitu sampai di rumah.
Anak itu bangkit segera. Tidak menangis meskipun kau cengkeram lengannya cukup keras, lalu kau imbuhi cubitan sebelum tubuhnya dihempaskan ke kursi. Ia memandangimu. Tepat di wajahmu. Tidak berkedip. Tidak bersuara. Bibirnya terkatup dan sedikit mengerucut. Alisnya bertaut. Di matanya tidak tercermin rasa takut. Meskipun mulutnya terkunci, sorot matanya memancarkan pemberontakan.
Kau pun terdiam. Kemarahanmu yang sebelumnya hendak meledak surut perlahan, seperti gelembung balon yang nyaris tak kuat menampung udara, kemudian udara dilepas pelan-pelan. Mengempis. Tiba-tiba kau merasa bodoh dengan peraturan yang kau buat sendiri. Kau sadar dia butuh teman bermain.
Entah sudah berapa kali kejadian serupa terulang. Ia seolah sengaja mencuri kelengahanmu setiap waktu untuk bergabung dengan anak-anak seusianya yang riuh bermain di halaman rumah Le’ Saodah, dan tak lama kemudian kau datang menyeretnya pulang sebelum ia sempat membaur dengan mereka.
Kau menghempaskan punggung ke sandaran kursi mengingat semuanya. Memang tak seharusnya kaulakukan itu. Menjadikan rumah sebagai penjara bagi anakmu. Namun kecemasan kadung mengakar dan mencengkeram hatimu. Mancung hidungnya, tebal bibirnya, lebar dahinya, bentuk matanya, serta bulu-bulu alisnya yang legam dan tumbuh tak teratur dan nyaris bertaut, sungguh kembar! Jangan sampai orang-orang menyadari hal itu. Bisa mengundang pertanyaan dan kecurigaan.
Tidak bisa kaubayangkan jika  kejadian itu terbongkar. Maha petaka! Suamimu pasti langsung melunasinya dengan nyawa.
Kau mendesah. Dadamu sesak. Kejadian menjelang pagi itu kembali berkelebat….
Selesai menjemur cucian, kau keringkan rambut panjangmu yang basah dengan menyisirnya sambil duduk-duduk di beranda. Pelan tanganmu menggerakkan sisir dari atas ke bawah, lalu butir-butir air yang menetes kau kibaskan begitu sisir sampai ke ujung rambut. Begitu terus. Diulang-ulang. Hingga sebuah suara sedikit mengejutkanmu.
“Ka’ Dulasim ada, Buk?”
Dagumu terangkat. Entah kapan datang, tiba-tiba saja lelaki itu sudah berdiri di depan beranda tanpa kausadari sebelumnya.
“Sudah berangkat ke sawah. Ada perlu apa, Le’?” meskipun usianya sedikit lebih tua darimu, namun karena suamimu lebih tua darinya, kau tetap memanggilnya ale’ (2) dan dia memanggilmu embuk (3).
“Mau pinjam obeng belimbing,”
“Sebentar, ku ambilkan,” kau masuk. Mencari barang yang dimaksud. Namun lama mengacak-acak kotak kayu penyimpanan segala macam kuncian di kolong ranjang,  tidak kau temukan. Kau cari di kotak lemari bawah,  juga tidak ada.
Akhirnya kau menyerah. Baru saja kau hendak keluar, bermaksud memberitahukan kalau obengnya tidak kau temukan, ternyata lelaki itu sudah berdiri di belakangmu begitu kau membalikkan badan, dan pintu rumahmu yang tadi kaubiarkan terbuka tertutup rapat. Kau terkejut. Dahimu mengerut.
Dua tindak kakimu mundur, memandanginya dengan tatapan tak suka. “Kenapa kau masuk kemari? Lancang!”
Lelaki di depanmu tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan sesuatu. Kakinya melangkah maju. Kembali kau mundur menjauh.
“Keluar! Atau aku akan berteriak!” seraya menuding pintu kau mengancam. Menyadari kemungkinan buruk akan terjadi.
“Teriak saja. Teriak  yang keras! Biar semua orang tahu! Tidak hanya namaku yang tercemar, tapi nama Embuk juga!” bibirnya menyeringai penuh kemenangan.
Kembali kau mundur dengan lutut gemetar. Namun tubuhmu tertahan di tepi ranjang. Tak berkutik. Ia melangkah maju perlahan. Tatapannnya menyusuri tubuhmu yang hanya terbalut sarung separuh dada dengan mata penuh  napsu. Kau seperti ikan mati di depan mulut kucing lapar.
Pagi yang celaka!
Kau tutup wajahmu dengan telapak tangan, berusaha mengusir bayangan kejadian itu. Sudah satu jam yang lalu Le’ Saodah meninggalkan rumahmu, setelah menyampaikan maksud kedatangannya agar kau bisa hadir dalam acara rokat salera  di rumahnya, nanti sore. Dan kau masih dicekal bimbang; hadir atau tidak.
***
Rokat salera sudah dimulai ketika kau menginjakkan kaki di halaman rumah Le’ Saodah dengan langkah ragu-ragu. Menggandeng lengan anakmu yang sore itu bermata kejora begitu tahu akan diajak keluar. Rambutnya yang berminyak kau sisir belah. Bedak bayi yang kaupoleskan secara tidak merata di wajahnya menutupi sebagian alis. Wajahnya menggemaskan meskipun kau sempat dibuat kesal karena hanya mau mengenakan baju koko putih yang dibelikan lebaran kemarin–baju kesukaannya.
Di beranda, Munati, anak Le’ Saodah berdiri diam dikelilingi para kerabat dan sebagian tetangga dekat. Le’ Saodah memegangi pundak Munati agar tidak banyak bergerak. Nye Mukayya, sesepuh kampung yang sering diundang untuk ritual-ritual sakral menusukkan kue sarabih(4) ke seruas bambu yang didirikan di samping Munati dan setinggi tubuh anak itu.
Susunan sarabih yang ditusukkan sudah setinggi pinggang Munati. Setiap hendak menusukkan satu sarabih, Nye Mukayya mengiringinya dengan mantra-mantra lirih namun masih terdengar cukup jelas.
“Padha roba ana’-embuk, ta’ etemmmo bidhana se kaduwa’. Sarabih satenggi ana’, malar moga ta’ kala settong dari kaduwana…”
Aroma dupa meruap dari sabut kelapa yang mengepulkan asap di dekat kaki Munati. Berbaur dengan wangi bedak kembang di sampingnya. Ada senampan uang recehan di dekat bedak kembang; uang seratusan, limaratusan, dan seribuan.
Wajah Munati, anak perempuan berambut ikal kering, memang sangat mirip dengan Le’ Saodah. Ibu-anak  itu seperti satu sosok dalam rentang waktu yang berbeda. Wajah Munati tak ubahnya Le’ Saodah di waktu kecil, dan wajah Le’ Saodah seolah menjadi gambaran Munati suatu hari nanti. Keduanya sangat mirip. Bulat wajahnya, morka’ matanya, pesek hidungnya, tipis bibirnya, dan ikal rambutnya.
Kemiripan antara orangtua-anak kalau tidak di-rokat katanya bisa mengundang petaka. Salah satu di antara keduanya tidak akan berumur panjang. Badha se kala settong, demikian orang-orang meyakini. Itu sebab, mengapa rokat salera dilakukan; tepat pada tanggal dan bulan kelahiran salah satu dari keduanya.
Rokat selera (1) terus berlangsung. Setelah tusukan serabih sejajar kepala Munati, kue-kue itu disuruh pegang pada Le’ Saodah. Lalu kedua tangan Nye Mukayya mengambil tumpukan uang recehan di dekat bedak kembang. Uang recehan itu disusun satu per satu. Dibutuhkan keahlian dalam menyusun uang-uang tersebut agar tidak roboh.
Hatimu semakin kacau. Kau berharap rokat salera segera selesai, dan kau bisa meninggalkan tempat itu secepatnya. Membawa anakmu pulang.
Ketakutan akan terjadi hal-hal buruk semakin berakar kuat di dadamu. Kau takut, kalau sampai kemiripan wajah anakmu dengannya tidak di-rokat sebagaimana yang dilakukan pada Munati, anakmu yang akan kalah; berumur pendek. Kau tidak ingin hal itu terjadi.
Sejak menikah dengan Dulasim, tiga belas tahun lebih kau menunggu benih tumbuh di rahimmu dengan kesabaran yang terus terkikis seiring waktu. Berbagai jamu penyubur kau minum. Ke berbagai tempat yang dianggap keramat kau kunjungi agar benih segera tumbih di rahimmu. Hingga kecurigaan itu melongsorkan harapanmu perlahan; suamimu mandul seperti yang dikatakan orang-orang, mewarisi nasib salah satu pamannya yang tidak pernah memiliki putra.
Namun, kejadian buruk pagi itu telah mengubah kehidupanmu. Seolah ada anugerah dalam musibah. Kau hamil, dan suamimu sangat bahagia mendapatkan kenyataan itu tanpa rasa curiga sedikitpun!
***
Rokat selera diakhiri dengan pembagian sarabih yang tadi ditusuk ke seruas bambu setinggi  Munati. Masing-masing yang hadir mendapatkan satu, termasuk kau dan anakmu. Lalu disusul dengan pembagian uang recehan. Dibagi rata tanpa sisa.
“Ini anakmu? Sudah besar ya? Lucu lagi!” seorang ibu mencowel pipi anakmu dengan gemas. Mulutnya sambil mengunyah sarabih.
“Dia sebaya dengan Munati. Hanya terpaut tiga hari,” Le’ Saodah menyela, “saat Buk Mar melahirkan, aku yang membantu dukunnya mengambilkan ini-itu. Padahal perutku sudah besar dan tidak bisa bergerak cepat,” ia pun tertawa renyah.
“O, jadi sebaya? Untung tidak mirip wajah ibunya, jadi tidak perlu di-rokat seperti Munati,”
“Iya. Sama ayahnya juga tidak mirip kayaknya,” Le’ Saodah kembali menyahut. Kalimatnya ringan, namun bagimu sungguh seperti sengatan lebah.
“Kalau dengan ayah-ibunya tidak mirip, lalu mirip dengan siapa?” ibu yang lain ikut menyela. Disusul tatapan beberapa pasang mata ke wajah anakmu dan wajahmu secara bergantian. Bisa kaupastikan, di kepala mereka juga ada gambaran wajah suamimu yang dibanding-bandingkan dengan wajah anakmu.
“Iya, ya, tidak mirip,” timpal seorang ibu lagi. Membenarkan.
Yang lain mengamini.
Udara tarasa semakin panas bagimu. Keringat meleleh di dahi, leher, dan telapak tangan.
“Dia mirip kakeknya,” kau berusaha menuntaskan pertanyaan di benak mereka.
Pada saat itu, seseorang  muncul dari lubang pintu dengan senampan pisang di tangannya. Ia mengenakan baju koko putih bersulam emas di kerah dan dadanya.
Deg! Dadamu seperti berhenti berdetak, tepat saat matamu dan orang itu beradu sebentar. Ekor matanya sempat menatap anakmu yang duduk di pangkuanmu. Sekilas. Ia terlihat gugup sejenak.
“Bu, aku mau pisang!” anakmu menunjuk.
“Hus!” cepat kau turunkan tangan anakmu. Itu pisang khusus untuk Nye Mukayya.
“Kau mau pisang ? sebentar,” lelaki yang mendengar permintaan anakmu buru-buru masuk lagi setelah  meletakkan nampan di depan Le’ Saodah.
Hanya sebentar, lelaki itu keluar lagi dengan dua buah pisang di tangannya. Anakmu bangkit segera menuju lelaki itu yang  tengah  menjulurkan pisang. Pisang tidak segera dilepas dari tangan lelaki itu, hingga tangan mereka tertahan di udara.
“Mengcapkan sakalangkong (5), bisa?”
Anakmu mengangguk, “Sakalangkong, Nom!”
“Wah, anak pintar. Bajunya sama lagi! Sama-sama putih!” celetuk seorang ibu.
Kau tercekat. Masih dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Selama ini, kau berusaha mati-matian agar keduanya tidak saling bertemu.
“Iya ya,” sahut yang lain.
“Wajahnya juga mirip!” seru yang lain lagi.
Dunia seperti runtuh menimpa kepalamu. Kau tidak tahu ibu yang mana yang melontarkan kalimat itu. Yang pasti, seruannya cukup untuk memancing yang lain memerhatikan wajah anakmu dan lelaki itu.
Segera kau bangkit dan menyeret tangan anakmu. Meninggalkan beranda rumah Le’ Saodah tanpa pamit. Kau tidak ingin orang-orang mulai berpikiran macam-macam.
Kau bisa merasaka tatapan-tatapan heran mengikuti langkah kepergianmu. Terutama tatapan Le’ Saodah yang tentu menatap kepergianmu dengan curiga, kenapa wajah anakmu bisa mirip sekali dengan suaminya. ***
Madura, Juli 2013 

Catatan:
1) rokat salera: tradisi selamatan karena miripnya wajah anak dan salah satu orangtua.
2) ale’: adik (Madura)
3) embuk: kakak perempuan (Madura)
4) sarabih: kue asin berbahan tepung beras dan kelapa parut yang dibentuk bundar lalu dipanggang.
5) sakalangkong: terima kasih.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya “pembaca Femina” a/n Muna Masyari
[2] Pernah termuat di situs www.femina.co.id –namun bukan merupakan karya yang terbit di Majalah Femina Cetak