Buahbatu Kembali – Menuju Bakauheni

Karya . Dikliping tanggal 12 Februari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Buahbatu Kembali

Sesuatu yang pernah terjadi
di jalan ini mengingatkan aku
pada kepahitan dan kerinduan belaka
Rencana yang kabur seketika,
kesaksian para penyair yang
berencana dan membacakan
puisi Malam Gasibu
Lazuardi telah menghilang
tetapi membekas lukanya.
Buroq, Laz, jean, Peri.
Atau nyanyian-nyanyian.
Atau pemaknaan Wanggi.
Memaknai senyuman yang 
selalu membekas, pad ataman
telanjang dan puisi yang polos.
Bagai melihat mahasiswi seni tari.
Mesti membawa kegelisahan
yang patut dituliskan bersama

Menuju Bakauheni

Tak ada yang melahirkan duka, meski kita
selalu mencoba memahami. Ataupun berpura-pura.
Kita selalu memahami apa arti sepi, seakan
kita merasa ramai. Dalam ruang yang lebih
dalam. Kita memasuki terbitnya ketakutan
di dalam gelas-gelas putih yang meneguk
penistaan terhadap kepalsuan kita. Apabila
kita semakin emmahami kesedihan tumbuh
dari kegembiraan semata, lalu berpura-pura.
Kegembiraan hanya milik orang berdusta
dari kenyataan bahwa kita sekali pernah
hidup bagai kapal-kapal ~


Irham Kusumapenulis adalah pengelola perpustakaan yang bernama Selola di Kabupaten Bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irham Kusuma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 12 Februari 2017