Bubur Ibu

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

Kali ini Pram kembali terserang oleh perasaan ambivalen saat melirik wajah cantik di sebelahnya. Sementara mobil-mobil yang berjejalan di depan dan belakangnya benar-benar seperti kerumunan semut yang saling berdesakan menuju ke sumber kehidupannya. Dan sialnya, ia adalah salah satu dari semut-semut itu. Sumber kehidupannya adalah Bu’e, yang lebih memilih untuk menetap di kampung. Benarkah Bu’e adalah sumber kehidupannya? Lalu, kenapa ia lebih mendengarkan pendapat Yusti, istrinya, dibanding keluhan Bu’e? Ia begitu mencintai Yusti. Namun sekarang, ia jadi membenci Yusti begitu Srini memberi tahu bahwa di kampung, Bu’e sedang tergolek sakit. Seandainya Yusti mau sedikit mengalah….
    Yusti menggeliat dan membuka matanya saat suara pengendara mobil di belakangnya membunyikan klakson beberapa kali.
    “Sampai di mana, Mas?”
    “Indramayu.”
    “Masih macet?”
    “Sedikit….”
    Di kursi belakang, Bilqis dan Baim masih asyik bermain dengan gadget masing-masing.
    Mobil hanya bergerak maju dua meter untuk kemudian macet lagi. Yusti kembali memejamkan matanya. Ingatan Pram kembali surut ke belakang, menelusuri hari-hari saat Bu’e masih tinggal di rumahnya beberapa bulan silam.
    Bu’e memang tidak pernah bisa duduk diam sambil menikmati secangkir teh dan sepiring kue seperti orang-orang tua kebanyakan. Ia harus beberapa kali menitipkan pesan kepada Sumi, agar jangan pernah mengizinkan orang tua itu untuk ikut mencuci piring, mengepel lantai, atau mencuci baju.
    “Bu’e, aku sudah menggaji Sumi untuk semua pekerjaan itu. Jadi Bu’e tidak usah….” 
    “Tulang-tulang ini rasanya linu Pram, kalau cuma duduk-duduk saja. Kamu tahu, ‘kan….”
    “Tapi Bu’e, ini bukan masalah….”
Bu’e menepuk pundak Pram sambil tersenyum. Bu’e memang perempuan tangguh. Sejak Bapak  meninggal dunia sewaktu Pram masih SMA, Bu’e berusaha mengelola uang pensiun Bapak agar cukup sampai akhir bulan. Seberapa besar, sih, pensiunan seorang guru SMP? Namun, Bu’e berhasil membiayai kuliahnya sampai ia bisa lulus dari fakultas kedokteran. Sekaranglah saatnya Pram untuk membahagiakan Bu’e. Dengan mengajak Bu’e untuk tinggal bersama keluarganya di Jakarta, karena untuk pulang kampung ia selalu tidak ada waktu.
    Pram menekan klaksonnya kuat-kuat. Seorang pengendara sepeda motor yang menyeberang dengan tiba-tiba membuat Pram tersadar dari lamunan. Ia ingin memaki pemuda itu, namun Pram segera beristighfar panjang.
    “Masih jauh, Pa?” Bilqis mendekatkan kepalanya ke depan. Tampaknya ia mulai bosan.
    “Baru separuh perjalanan, Nak….” 
           Bilqis kembali terduduk dengan lemas. Dan Pram mulai tenggelam lagi dalam lamunannya.
    Pagi itu, Pram begitu terkejut. Sumi, asisten rumah tangganya bersusah payah memindahkan meja kerja usang yang selama ini sengaja disimpannya di gudang.
    “Apa yang akan kau lakukan dengan meja ini, Sum?” Pram berusaha membantu Sumi dengan mengangkat sisi meja yang lain.
    “Ini permintaan Ibu Sepuh, Pak Pram….”
    Pramono segera menemui Bu’e yang sedang sibuk di dapur. Dan ia lebih terkejut lagi melihat aneka penganan khas Jawa yang sedang dibuat Bu’e. Beberapa yang sudah matang berjajar rapi di meja. Ada opor telur, sayur rambak pedes, nasi ketan, dan bakmi. Sementara Bu’e sedang mengaduk sesuatu yang terlihat mengepul di sebuah panci besar.
    “Apa-apaan ini? Bu’e ingin membuatkan kami sarapan sebanyak ini?”
    “Bu’e ingin jualan bubur sayur, Le… seperti waktu kamu masih sekolah dulu.” Bu’e menjawab tanpa menoleh. Namun, dari suaranya, Pram tahu bahwa Bu’e sangat bahagia.
    “Tapi, ini Jakarta, Bu’e….”
    “Tetanggamu pasti senang dengan jajanan kampung seperti bubur sayur, ketan pendem, ketan kinca, bakmi….”
    Pram menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha menelan kembali kalimat yang akan diucapkannya. Bilqis dan Baim lebih memilih sarapan semangkuk bubur buatan neneknya. Sereal bercampur susu buatan Yusti yang biasanya disantap dengan lahap oleh kedua anaknya, tampak masih utuh.
    “Ibu sebaiknya istirahat dulu. Sudah sejak sebelum subuh kan Ibu sibuk di dapur?” Yusti memijit bahu ibu mertuanya perlahan, sebelum berangkat ke kantor.
    “Aku ndak capek, kok, Nak….”
    Sehari… dua hari, dagangan Bu’e tampak banyak bersisa. Namun, hari kelima, sudah banyak yang mulai tahu kalau ibunya Dokter Pramono berjualan bubur sayur di depan rumah  tiap pagi. Bahkan, beberapa penghuni kampung sebelah perumahan juga mulai berdatangan untuk membeli. Genap dua minggu, mulai ada bisik-bisik kurang mengenakkan dari ibu-ibu kompleks. Di pedagang sayur keliling yang biasanya mangkal di pertigaan dekat taman, juga di pos satpam dekat pintu gerbang. Bagi lingkungan perumahan semi cluster seperti di tempat Pram tinggal, perempuan tua yang menjual bubur sayur di depan rumah merupakan hal yang luar biasa. Aneh dan sedikit… ajaib.
    Dan bisik-bisik itu pun sampailah ke telinga Yusti, lewat embusan napas terengah dari mulut Sumi.
    “Kamu dengar sendiri?”
    “Iya, Bu. Waktu itu saya keluar menemui Mang Ujang karena kelupaan tidak membeli kelapa titipan Ibu Sepuh.”
    “Apa katanya?”
    “Wah, kasihan, ya, ibunya Dokter Pram… sudah tua masih harus jualan bubur. Padahal, anak dan menantunya….”
    “Terus apa lagi kata mereka?”
    “Waktu saya datang, tiba-tiba Bu Danu menggantung kalimatnya, Bu.”
“ Lalu….”
“Lalu Bu Yana bilang,  ‘Ssst… ssst… ada pembantunya datang,’ begitu….”
Pram hanya terdiam saat mendengar pembicaraan antara Sumi dan istrinya. Tetapi, malam harinya, mereka terjebak dalam perdebatan yang tak kunjung usai. Dan akhirnya, Pram disudutkan oleh dua pilihan yang diberikan Yusti. Bu’e menghentikan kegiatannya berjualan bubur sayur, atau Pram harus mengembalikan Bu’e ke kampung.
Pram tidak pernah tega untuk mengutarakan permintaan istrinya itu. Sampai akhirnya Yusti mengambil langkah sendiri. Dikuncinya semua peralatan masaknya di dalam gudang, kecuali panci kecil dan beberapa teflon yang sehari-hari digunakan Sumi untuk memasak. Kepada Sumi, Yusti memberikan peraturan baru. Yakni, tidak boleh belanja bahan makanan apa pun selain yang diperintahkannya. Sumi menurut. Namun, Bilqis dan Baim mulai protes. Mereka kangen bubur buatan neneknya. Yusti tak peduli.
Beberapa hari kemudian, Pram menjumpai Bu’e sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Pram mendekat. Dari raut muka anaknya, Bu’e  tahu bahwa ia tak perlu menunggu Pram untuk bertanya.
“Aku sudah menyuruh Srini untuk menjemput.”
“Tapi kenapa Bu’e?”
“Bu’e hanya menyusahkanmu saja di sini….”
Pram tersadar oleh tepukan halus di bahunya.
“Kita berhenti untuk istirahat dulu ya, Pa….” 
Yusti menyuruh kedua anaknya untuk bangun.
Di Kebumen, mereka beristirahat sejenak. Namun, pikiran Pram mulai tak tenang. Ia begitu takut kejadian dua tahun silam akan kembali terulang. Saat ia pulang, ada bendera kuning di sudut kampung. Pak Lik Pawiro, bapaknya Srini, meninggal dunia. Bagaimana kalau itu terjadi pada Bu’e? Suara Srini, sepupunya, waktu menelepon kemarin masih terngiang-ngiang di telinganya.
“Budhe kritis, Mas. Pokoknya Mas harus pulang sekarang….” 
Pulang… pulang… kata-kata itu terus-menerus memenuhi gendang telinganya. Saat ia mencari tiket pesawat, sudah habis. Juga saat ia mencari tiket kereta api, sudah habis terjual. Seolah semua penghuni Jakarta sedang bergerak ke satu arah yang sama. Ke timur. Pram pun rela berguncang-guncang 40 jam lebih di dalam mobilnya. Tapi, seandainya nanti di rumahnya sudah banyak orang dan…. Ah, Pram memejamkan mata, berusaha menghilangkan bayangan itu. Ia merutuki Srini yang telepon genggamnya tidak aktif.
Hari sudah pagi. Tinggal satu belokan lagi dan rumah beratap limasan dengan pagar tanaman teh-tehan itu pun mulai tampak. Di depan rumah ada meja panjang dengan aneka masakan Jawa di atasnya. Bu’e tampak sedang duduk di lincak dari bambu.
Pram, Yusti, dan kedua anaknya segera turun dari mobil untuk menyalami wanita tua itu.
“Bu’e…  apa artinya semua ini?”
“Kata Srini, kamu hanya mau pulang kalau Bu’e sakit. Jadi….”
“Ya Allah….”
“Bu’e bahagia dengan cara Bu’e sendiri. Bu’e juga tahu, kamu sudah bahagia dengan kehidupanmu sendiri. Bubur ini Bu’e gratiskan saat Lebaran. Bu’e hanya ingin beramal Le….”
Tiba-tiba Bilqis dan Baim sudah merengek kepada neneknya sambil membawa mangkuk.
“Buburnya mana, Nek? Bilqis dan Baim kangen bubur buatan Nenek….”
Diam-diam Pram mengusap sudut matanya.(f)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”