Bukan Bidadari Surga

Karya . Dikliping tanggal 21 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
MENAPAK tanah nyata, lalu menyusuri jalanan berliku. Berapa kali terjatuh, ia dengan ketegaran wanita teraniaya, tetap berusaha meneruskan langkah. Terseok. 
Akhirnya sampai di sebuah kota yang memaksanya harus tinggal. Menetap di kota yang bukan tanah kelahirannya, tapi masih ada darah leluhur jauh. Jauh bila dikalkulasi hitungan genetik.
Bunga, wanita itu, terusir dari rumah yang telah ia tinggali bertahun-tahun, justru oleh bapak kandungnya sendiri. Beruntung dalam kekalapan sang bapak yang marah mengetahui putri semata wayangnya mengandung –tanpa jelas siapa laki-laki yang sudah menghamiliki– Bunga masih bisa menghirup udara. Selamat dari tebasan golok sang bapak. Terseok ia meninggalkan rumah yang sudah membesarkannya dengan beribu kenangan manis, disertai derai air mata. Ia pergi dengan luka yang ia sendiri tidak tahu letak kesalahannya di mana.
Malam itu kembali ia mengingat peristiwa menyakitkan yang tidak mungkin terhapus waktu. Peristiwa itu bukan hanya membekas, juga meninggalkan satu nyawa yang tertanam di rahimnya. Gelap dan gemuruh suara hujan membuatnya ketakutan, apa lagi rumah dalam suasana sepi. Ibu sudah lama meninggal, hanya dirinya dan bapaknya, yang katanya malam itu pergi ronda. 
Dalam bayang malam, ia mendengar suara pintu depan berderit seperti ada yang membukanya. Mungkin bapaknya. Karena hanya bapak yang membawa kunci rumah tempatnya tinggal selama ini. Benar, tidak berapa lama Bunga itu mendengar langkah kaki terseok memasuki rumah. Bunga bergegas ke luar kama sambil membawa senter. Derasnya hujan membuat listrik mati mendadak. Dan Bunga membuatkan secangkir teh hangat. Dibantu cahaya senter, Bunga berjalan ke dapur, mencari korek api dan lilin yang masih tersisa. Tapi usahanya mendapatkan lilin sia-sia. Justru secara mendadak ia merasa ada sepasang tangan yang menariknya, lalu membungkamm mulutnya dengan lipatan sapu tangan, membopongnya memasuki kamar, hingga tidak mampu lagi ia berteriak, apa lagi meronta. Kejadian itu begitu cepat, saat dengan paksa sesosok orang yang ia tidak bisa mengenali wajahnya itu memerkosanya dalam gelap dan pekatnya malam.
Paginya, saat matahari menyapa dari sela-sela jendela kamar, ia masih saja terisak. Juga saat bapaknya memasuki kamar yang tidak lag terkunci, minta dibuatkan secangkir teh seperti kebiasaannya kalau pagi, ia masih belum beranjak. Mendapati putrinya terisak di pojok kamar, laki-laki separuh baya itu menegu.
“Kenapa kau, Nduk? Sakit?”
Bunga tergagap, mencoba menghapus air matanya yang terus saja mengalir tidak ada hentinya.
“Kangen Simbok, Pak.”
“Wong sudah almarhum kok ya masih dikangeni. Sana, Bapak dibuatkan teh!”
Karena tidak ingin membantah, ia pun bergegas ke dapur, masih dengan sisa-sisa tangisnya, tersedu-sedu. Berkecamuk pikirannya. Siapakah yang sudah memerkosanya semalam? Bapaknyakah? Atau laki-laki lain? Lalu siapakah laki-laki itu? Dari sosoknya yang ia lihat dalam gelap, ia mengenali bukan sebagai bapaknya, tapi orang lain. Tapi siapa yang bisa memasuki rumah dalam kondisi rumah terkunci dari luar? Dan hanya bapaknya yang memegang kuncinya.
Saat bapaknya mengetahui hamil, kemarahan yang justru ia dapatkan, bukan simpati. Bapak juga tidak menanyakan siapa laki-laki yang sudah menghamili. Justru mengusir. Bila tidak keburu pergi, bapak akan membunuhnya. Karena takut kemarahan bapaknya yang tengah kalap, Bunga buru-buru meninggalkan rumah, pergi begitu saja tanpa tujuan. Akhirnya, ia terdampar di sebuah tempat yang ia tidak tahu daerahnya. Ia berjalan jauh dari hari ke hari.
Tujuh hari Bunga berjalan terseok mencari tempat aman. Sedikit uang yang ia bawa akhirnya habis di hari ketujuh, dan ia terdampar di sebuah tempat. Yang ia tau, dirinya sudah jauh meninggalkan rumah, meninggalkan tanah kelahiran. 
Wanita berkulit kuning dengan hidung sedikit pesek, berumur sekitar 18 tahun itu mengistirahatkan diri di sebuah musala. Ingin terlelap sebentar. Ia berpikir, Tuhan tentu akan menjaga. Makaia pun terlelap cukup lama sampai seorang ibu setengah baya membangunkan. Ia tergagap, menatap wajah ibu tidak berkedip, seperti bermimpi. 
“Simbook!” panggilnya setengah sadar. Ia mengira wanita setengah baya itu simbok-nya yang sudah lama meninggal. Barusan ia bermimpi bertemu simbok. Saat membuka mata, di dekatnya ada wanita setengah baya tengah memandanginya penuh kasih.
“Nduk, kenapa tidur di musala? Genduk ini siapa? Dari mana, kok Ibu belum pernah melihat sebelumnya?”
“Saya… sayaaaa….” Bunga menunduk, tidak melanjutkan kalimatnya. Malu juga bingung akan menerangkan bila ia diusir bapaknya. Tapi kalau ia tidak berterus terang, berarti tidak jujur. Simbok pernah berpesan, jika bertemu orang baik, sebaiknya berterus terang saja segala kesulitan, Tuhan akan memermudahnya, menolong lewat orang tersebut. Dan Bunga percaya ibu-ibu setengah baya itu memang utusan Tuhan untuk menyelamatkannya. Berceritalah Bunga.
Bukan simpati yang ia dapat dari wanita setengah tuha itu, justru diminta segera pergi meninggalkan musala cepat-cepat sebelum warga berdatangan menunaikan salat Azar.
“Pergi cepat dari sini, wanita nakal! Orangtuamu sendiri mengusirmu, tidak bisa menerimamu. Apa lagi aku!”
Dengan raut sedih, BUnga mengambil buntalannya, bergegas meninggalkan musala. Ia mengira ibu itu akan menolong, memberi tumpangan, juga sekdar makanan buat mengisi perut yang keroncongan. Sejak pagi ia belum makan. Tapi ibu lembut itu justru mengusirnya setelah ia tahu siapa dirinya.
“Tuhan, pada siapa aku harus minta pertolongan jika tidak pada-Mu?”
Gontai, Bunga letih menyusuri jalanan yang mulai sepi. Tertaih ia menepi ketika sebuah mobil tua melewatinya, asapnya mengepul membuatny terbatuk-batuk. Mobil yang melaju pelan itu berhenti 100 meter di depannya. Pengemudinya laki-laki setengah baya, melongokkan kepala. Dilihatnya seorang wanita berjalan sendirian. Timbul iba. Laki-laki cukup umur itu memundurkan mobilnya mendekati Bunga.
“Mau, ke mana?” tanyanya ramah.
Laki-laki itu keluar dari mobil. Bunga menatapnya. Bingung. Tidak bisa menjawab pertanyaan, karena ia tidak tahu dirinya akan ke mana?
“Boleh saya antar? Jalanan mulai sepi, takutnya ada orang jahat nanti.”
Bunga semakin bingung. Lalu mengeluarkan air mata.
“Lho, kok malah menangis?”
Laki-laki itu menjadi bingung. Sebelum kebingungan itu berkelanjutan, pria itu memersilahkan Bunga masuk mobilnya, setengah memaksa, karena ia cuma berdiri mematung sambil terus menatapnya, bingung.
“Oalah, Nduk. Nelangsa sekali hidupmu. Wes sekarang kamu sama aku saja, aku jadikan istri simpananku mau? Aku sudah punya istri, dan aku mencintai istriku. Tidak mungkin juga aku mengenalkan kamu padanya, istriku pasti tidak mau terima segala macam alasan. Kamu bisa mengerti?” kata laki-laki itu setelah mendengar cerita bunga.
Bunga mengangguk. Ada senyum yang terasa menggembirakan. Menjadi istri simpanan lebih baik daripada hidup tanpa teman sama sekali.
“Saya akan dinikah?’ tanya wanita itu setengah tidak percaya.
“Iya, aku nikahi secara agama. Kamu maukan?”
***
BUNGA tidak lagi menyusuri jalan. Menetap di kota yang tidak ia tahu sebelumnya. Jadi istri simpanan Bardoyo setelah nikah siri. Lebih dari cukup. Dibelikan rumah di perumahan sederhana, diberi modal membuka warung kecil-kecilan. Bardoyo jarang mengunjungi. Sekali sebulan. Bunga masih merasa malu bila berdekatan dengan suaminya itu. Merasa dirinya kotor, bukan bidadari surga, seperti istri pertama Bardoyo. Tapi Bunga selalu beusaha menyenangkan hati suaminya, membalas budi segala kebaikannya. Termasuk ketika harus menyerahkan anak yang dilahirkannya untuk diasuh istri pertama Bardoyo, yang menginginkan punya anak laki-laki.
“nanti kita akan punya anak lagi,” hibur suaminya, dan bunga cuma mengangguk.
Bunga menikmati hari-hari sepi. Ia ternyata juga tidak pernah lagi dikarunia anak, sampai bertahun-tahun. Ia sendirian di rumah kecilnya, hany sesekali Barodyo datang mengunjungi sambil membawa foto anaknya yang sudah semakin besar. Bunga hanya bisa mendekap foto itu sambil berlinang air mata. Wajah dalam foto itu mirip sekali dengan wajah bapak kandungnya. Semakin kerinduan itu membuncah, beradu seribu gejolak kebencian yang tiba-tiba muncul, kepada entah. (k)
[] Yogya, Agustus 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Theresia Hardiyanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 18 September 2015