Bukan Kami

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Adikku sudah tertidur lelap beralaskan tikar pandan di atas dipan. Dengkurannya menandakan bahwa dia sudah sangat lelah setelah seharian mencari rumput untuk ternak pak Haji Bukhari tetangga sebelah yang dikenal sangat baik hati.

Ada empat ekor sapi dan enam ekor kambing yang setiap hari harus diberi makan. Dua minggu ke depan jumlah sapi akan bertambah karena sang betina sedang mengandung dan lima hari lagi kambing pun akan bertambah.

Rumput di tepi sungai di selatan dukuh kami adalah rumput yang baik untuk semua ternak. Buktinya ternak pak Haji Bukhari gemuk gemuk meskipun pemiliknya berperawakan tidak gemuk. Selepas membawa dua karung penuh rumput, biasanya uwak Haji, begitu kami memanggilnya, langsung memberi upah pada adikku. Senyum merekah ketika uwak Haji memberi upah yang lebih dari biasanya tadi pagi.

“Terima kasih uwak…..aku bisa beli beras buat emak,” kata adikku.

“Jangan lupa shalat Dhuha ya, Soleh” balas Uwak haji.

Kupandangi lima liter beras yang tadi pagi Soleh bawa untuk kami. Kami tidak akan memakannya dalam wujud nasi disebabkan pasti cepat habis. Kami biasanya membuat bubur sehingga cukup untuk banyak mulut di keluarga kami.

Air bubur terlihat sangat nikmat ketika kami makan. Makan nasi dengan lauk seperti keluarga Pak Ginu yang menjadi kepala seksi partai berwarna merah adalah angan-angan yang indah untuk keluarga ini. Ingin rasanya merasakan apa yang dirasakan oleh keluarga Ginu.

Mereka makan enak, uang banyak. Dua minggu sekali rumah pak Ginu selalu didatangi banyak orang. Pernah aku mencuri dengar kira-kira apa yang mereka bicarakan karena rasa ingin tahuku begitu besar. Banyak kata yang aku tidak paham, seperti “manifesto”, “ revolusioner”, dan “kamerad”.

Rapat demi rapat mereka lakukan dan jumlah mereka makin hari makin banyak. Tidak hanya laki-laki yang datang, tetapi wanita wanita pun banyak yang hadir. Sepulang dari rapat, mereka membawa bingkisan yang aku tidak tahu apa isinya.

Selesai membuat bubur nasi, aku menjerang air agar kami sekeluarga bisa membuat teh. Teh pahit tentunya. Harga gula sangatlah mahal. Ayahku yang bekerja sebagai buruh tani tak akan sanggup membeli.

Bagi kami sekeluarga, teh pahit terasa sangat nikmat, apalagi jika ayah, ibu, adikku meminumnya bersama sama. Hasil kebun berupa singkong dan pisang adalah rezeki dari Allah pada hamba-Nya yang sangat terhimpit oleh keadaan ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini. Uang hasil bayaran ayah terasa tak ada gunanya saat harga-harga membubung tinggi. Singkong yang kami makan tidak pernah digoreng, tapi direbus. Selain mahal, minyak goreng pun susah dicari.

***

“Kiai benar-benar menentang kami sebagai gerakan rakyat?” teriak seorang pemuda.

“Apa yang kalian maksud gerakan rakyat? Demi Allah aku dan kiai lain tidak akan mengubah pendirian. Kalian tidak mengakui Allah….kalian berada di jalan yang salah….” Jawab Kiai Tangannya yang terikat ke kursi disundut rokok oleh pemuda tersebut. Sang alim menahan sakit dengan terus menyebut

“Allah…..Allah….Allah.” Siksaan demi siksaan diterima olehnya dengan sabar.

Hingga suatu ketika semuanya terasa gelap. Semua rasa sakit itu hilang dan tidak ada lagi rasa sakit.

***

Kami terkejut malam itu. Ayah membawa banyak makanan dan minyak goreng. Tanpa banyak kata, ayah memberikannya ke ibu dan langsung keluar rumah. Ayah menghilang di kegelapan malam bersama orang-orang pak Ginu.

Teriakan-teriakan pekik itu sangat aku kenal. Teriakan-teriakan itu persis yang di teriakkan di rapat-rapat di rumah pak Ginu. Aku sangat khawatir pada ayah. Ibu pun demikian. Tapi, memang kami akui bahwa kami pun membutuhkan bahan-bahan pokok yang dibawa ayah. Serasa hujan sehari memupus kemarau sepanjang tahun.

Kami bahkan pernah tidak makan berhari-hari. Terakhir kali kami makan daging adalah saat Idul Adha. Orang-orang Masjid yang memberikannya atas perintah Uwak Kiai. Idul Adha adalah hari di mana kami bisa makan daging setahun sekali. Kerat demi kerat daging kami kunyah pelan-pelan sambil menikmatinya dengan perlahan. Kami melakukannya karena sadar hanya hari itulah kami bisa makan daging kambing .

***

Pagi itu dukuh kami gempar. Kentongan dipukul tanda ada yang meninggal. Semua warga dukuh sudah berkumpul di rumah yang sangat kami kenal, rumah Uwak Haji. Soleh menarik tanganku untuk mengikutinya. Hatiku bertanya-tanya siapakah yang meninggal. Banyak orang bergegas menuju ke rumah Uwak.

Kerumunan orang sudah mulai bertambah banyak. Para pemuda Ansor berjaga-jaga di sekitar rumah kiai. Di antara pemuda Ansor ada kawanku, Miftah, kawan saat kami ngaji bersama Uwak Haji saat kami kecil.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku pada Miftah.

“Uwak…. Beliau ditemukan sudah meninggal di penggilingan padi. Aku yakin ini adalah perbuatan mereka,” jawab Miftah dengan berkaca-kaca.

Aku tak kuasa menahan tangisku. Uwak adalah guru kami.Uwak sudah banyak menolong keluarga kami. Rumah yang kami tempati pun sebenarnya adalah milik Uwak. Kami boleh menempatinya tanpa membayar sedikit pun. Ingin rasanya menjerit keras, namun aku tahan dan untuk terakhir kalinya aku ingin melihat jenazah Uwak. Aku dan Soleh berusaha masuk rumah, tapi kami ditahan oleh para pemuda Ansor.

Nyai, istri uwak mendekati kami. Aku langsung mencium tangan Nyai yang saat itu terlihat sangat sedih. Aku memapah Nyai sampai teras rumah karena Nyai berjalan begitu lunglai. Dari dalam rumah, dua orang wanita seumuranku mendekati kami dan mengganti papahanku dengan tangan mereka. Hanya tiga langkah berselang lalu Nyai jatuh pingsan.

Beruntung tubuh Nyai sudah di pegang erat. Air mataku mengalir deras melihat keadaan Nyai. Di ruangan tengah tubuh Nyai di baringkan sambil kakinya dipijat-pijat. Aku kaget saat tanganku di tarik seseorang. Ternyata Soleh yang menarikku.

Kami masuk ke ruangan di mana uwak dulu mengajari kami membaca Al Quran. Ada sepuluh pemuda Ansor yang membaca ayat suci Alquran dan di situlah jenazah Uwak terbaring di atas tandu Jenazah. Aku dan Soleh sudah tidak bisa lagi melihat wajah uwak karena sudah ditutup kain penutup jenazah bertuliskan huruf-huruf Arab.

***

Seminggu telah berlalu. Masa berkabung masih menyelimuti dukuh ini. Dari siaran radio tetangga dikabarkan bahwa baru saja terjadi huru-hara di Ibu Kota. Tujuh Jendral TNI diculik dan dibunuh. Keadaan makin mencekam. Partai merah ini mulai menjadi-jadi. Aku sangat takut dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

Aku khawatir pada ayahku dan keluargaku. Kemarin aku mendengar bahwa kelompok yang menamakan dirinya pemuda rakyat telah menganiaya seorang Ketua pemuda Ansor di kampung sebelah hingga tewas. Kontan saja hal ini makin membuat keadaan semakin menakutkan. Saat malam tiba semuanya mematikan lampu dan warga tidak berani keluar.

Mereka mengunci rumah rapat-rapat dan tidak mau menerima tamu malam-malam. Mereka takut pintu rumah digedor oleh pemuda rakyat. Penculikan dan penganiayaan yang berakhir kematian atau hilang tanpa kabar telah membuat siapa pun takut.

Kami tidak tahu harus bagaimana dan kepada siapa kami meminta perlindungan. Mendukung partai Merah berarti menentang keyakinan kami sebagai orang Islam. Menentang mereka alamat kami akan di teror habis-habisan.

Aparat tidak bisa menjangkau dukuh kami yang jauh dari pusat kota markas mereka. Yang berkuasa di dukuh pedalaman seperti dukuh kami adalah pemuda rakyat. Harapan terakhir kami adalah pemuda Ansor yang jelas menentang partai merah. Di manakah kalian wahai pemuda Ansor?

***

“Murni….Murni……!!” teriak seseorang yang sangat aku kenal .

Aku beranjak keluar dan melihat Miftah seorang diri dengan napas yang terengah-engah. Di tangan kirinya ada sebuah golok besar. Itu adalah senjata pemuda Ansor melawan partai Merah.

“Ada apa Miftah?” tanyaku.

“Murni, keadaan mulai berubah. Tentara mulai melakukan operasi menumpas Partai Merah. Kami sebagai penentang Partai Merah bahu-membahu melakukan operasi ini. Aku ingin menyampaikan bahwa di dalam daftar nama pengikut rapat Partai Merah terdapat nama ayahmu…….. sebelum terjadi penangkapan, lebih baik kau sekeluarga pergi dari dukuh ini. Aku takut kalian terkena amuk massa…..” ucap Miftah yang masih terengah-engah.

Aku sangat terkejut. Aku tahu saat seperti ini akan terjadi. Namun, tidak secepat ini. Aku bahkan belum bicara apa pun dengan ayahku karena mulai saat ayah ikut rapat pak Ginu, ayah jarang berada di rumah. Ayah hanya pulang dan menaruh bungkusan di meja dapur lalu pergi lagi.

Samar kami berdua mendengar suara tembakan dan teriakan. Bergegas Miftah pamit dan aku pun mencari Soleh dan ibu. Aku sangat takut. Di rumah tidak aku temukan Soleh. Ibu pun tidak ada di kamar. Tidak ada di dapur. Aku beranjak ke sungai dengan berdoa agar aku tidak terlambat.

Aku berlari secepatnya menggunakan jalan pintas. Sepintas aku melihat tentara yang sedang mengepung rumah pak Ginu. Rasa penasaran menyelimuti hati karena baru kali ini melihat tentara berseragam.

Aku melihat Soleh melambai-lambai ke arahku. Jarakku dengannya kira-kira seratus langkah. Aku berusaha berlari mendekati adikku satu-satunya itu, tetapi kakiku tidak kuat diajak berlari lagi. Soleh melambai-lambai memintaku agar cepat ke arahnya.

Ketika aku hanya berjarak sepuluh langkah, terlihat wajah Soleh tidak seperti biasanya. Jelas terlihat dia habis menangis. Matanya merah diiringi sesenggukan dan kakinya penuh lumpur sawah.

“Ada apa Soleh? Kau lihat ayah dan ibu? Kenapa kau menangis?” tanyaku.

Suara tembakan terdengar lebih dekat. Soleh meraih tanganku dan mengajaknya berlari ke suatu tempat. Tapi, arah lari kami bukan ke rumah kami. Aku menurut saja pada Soleh. Aku yakin ada hal yang Soleh yakin aku harus ke sana.

Teriakan terdengar lagi setelah gelegar suara bedil tentara. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan biasa yang orang sering lalui. Soleh mengambil jalanan tidak melalui pematang sawah. Kami menginjak-injak sawah yang masih basah hingga kaki kami kadang tenggelam satu dua jengkal ke dalam lumpur sawah.

Soleh mengajak aku memutar menuju lapangan bola. Di situ puluhan tentara dengan bedil tengah sibuk mengumpulkan banyak sekali orang yang terikat dibantu ratusan pemuda Ansor bersenjata tajam. Soleh menarikku dan menundukkan badan dan bergegas memutar lagi dan menuju sebelah selatan lapangan dan masuk jalan kecil.

Kami melewati rumah-rumah penduduk di mana kami saksikan anak-anak kecil menangis. Hampir di tiap rumah kami lihat anak-anak dua tahun beserta kakaknya seumuran Soleh menangis.

“Ibu…..Bapak……jangan pergiiiiii…..” teriak mereka.

Sampai aku di depan penggilingan padi dukuh sebelah. Terkejut aku melihat pemandangan yang sangat aku khawatirkan akan terjadi. Soleh menunjuk jarinya pada dua sosok yang kami sangat kenal. Kedua orang tersebut kini terikat dan dijaga oleh dua orang tentara dan empat pemuda Ansor.

Aku tak kuat menahan diri. Aku tak bisa berdiam diri saat orang yang aku sayangi mengalami hal seperti ini. Kakiku mendadak kuat dan aku berlari menuju barisan orang yang terikat.

“Ibu….ayah…….” aku langsung memeluk mereka.

Dua orang tentara terlihat tidak suka dan menyuruh aku menjauh dari mereka. Melihat aku dan Soleh.

“Murni…Soleh lebih baik kalian jangan ke sini. Keadaan bisa tambah buruk……” kata Miftah.

“Tidak….aku hanya punya mereka… jangan tangkap mereka…..lepaskan…… bukan orang tua kami yang harusnya diikat…..lepaskan…” teriak aku.

Soleh menangis sambil memeluk ibu dan ayah. Aku berusaha membuka ikatan ayah dan ibu. Tindakanku ternyata membuat seorang tentara marah. Ikatan ayah terhubung pada ikatan ibu lalu ke orang di belakangnya.

“Hentikan itu! Atau kau pun kami tangkap….” ancam seorang tentara.

“Bukan kami yang harus kau tangkap……..bukan kami…….bukan kamiiiii…….” teriakku.

Miftah menarik aku dan Soleh menjauh dari kedua orang tua kami. Ayah dan ibu menangis menatap kami. Mulut mereka bergetar seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Aku dan Soleh tidak peduli apa yang terjadi di sekitar kami. Saat itu kami hanya menatap wajah ayah dan ibu. Tangisan anak-anak lain pun tidak terbilang jumlahnya.

“Jaga Soleh baik-baik Murni…….” ucap ayah.

Aku mengangguk perlahan. Soleh makin kencang menangis saat para tentara membawa semua yang terikat naik truk tentara. Bukan kami yang seharusnya menderita seperti ini. Bukan kami. ■

Andriono Kurniawan adalah seorang guru SMA Islam NFBS, pegiat literasi dari Rumah Dunia Serang Banten, penulis esai dan cerpen, wakil Indonesia dalam program IREX 2007 USA, wakil Indonesia dalam pertukaran guru Indonesia- Korsel 2018, tinggal di Cinangka Serang Banten hingga sekarang.

[1] Disalin dari karya Andriono Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 08 Juli 2018