Bukit Montorra – Riwayat Hujan – Pesan Celurit – Menunggu Hari Kelahiran – Kuli Garam

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Bukit Montorra

Senja cucup mata kepodang
labuh lirih di rusuk dalupang
bagai kebat batik sakera
menerima sarung celurit
di malam bercalit,

duhai palasa, ceppo, cetteng
yang disunggi para wanita
sambil turuni lembah
dengan sarung selutut
betis bergesek jari ilalang
wadahilah segala kenangan,

apung angin merampung macapat
di carang kering
bercadar hening
turuti huruf-huruf hijai
menjelma puisi menantang matahari,

ingat dengan hati batumu
akulah pendaki pertama
yang tiba sebelum senja
dalam repihan duri langay
dengan hati berbalut cindai.

Bungduwak, 06.18

Riwayat Hujan

Aku bertamu ke ladangmu
dalam rupa bunga
padamu kuhatur wangi
sebelum aku kering dan pergi
atas nama cinta kepada matahari.

Gaptim, 2018

Pesan Celurit

Diamlah untuk warna putih
sebab asah kilau mataku
bakal tenggelam ke lambung waktu,

makna kulitmu untai kembang srigading
mekar ke arah bulan
terbayang lezat di lidahku yang tajam
umpama ranum zaitun
melambai tangan ke pinggang jakun
tapi aku tak semudah sangkamu
tak asal tebas, tak asal terabas
bila kau diam untuk warna putih
sambil kau bersuci
membasuh apa yang kau anggap tahi.

Sumenep, 06.18

Menunggu Hari Kelahiran

Di tempat tidur ini…
damar kambang menjilat bayangan bulan
sebias cahaya dalam matamu
melukis ladang musim kunang-kunang
semoga ia mata bayi kita
selalu cahaya selalu cerah
meluruskan garis hujan ke bibir bunga,

wangi jelantah surut dalam perut angin
bersekutu sepasang kelapa
bertulis huruf jawa, di hulu bantal
tertancap lidi berkundai bunga
dan di situlah doa-doa kita tumpah
harapan kita pendar nyala
di sela lagu jarum jam
yang mematah suara keheningan.

Dikkodik, 06.18

Kuli Garam

Peluh getah tubuhku
melukis peta di lembah dada
petunjuk bagi derap kaki
ke mana senyum mesti kucari,

sepasang musim menawarkan warna langit
dan bunga angin
keduanya mengapung dalam derak tulang
mewartakan cinta yang tak berbayang
dan hidup yang bersandar pada banyak kemungkinan,

serasa pada dua keranjang
yang bertumpu di ujung pikulan
anak dan istri sebagai garam
kupikul di bahu kanan
melintasi tepi tambak yang lengang
seraya kunikmati asin kehidupan.

Gaptim, 06.18

A Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988, merupakan Guru Bahasa Indonesia di MTS Al-Huda II Gapura dan aktif di Komunitas Semenjak. Karya-karyanya dimuat di berbagai media nasional. Kumpulan
puisinya dapat dinikmati di antologi komunal Ketam Ladam Rumah Ingatan (Antologi penyair muda Madura 2016). Penulis pernah meraih Juara I Lomba Cipta Puisi Hari Bumi Tingkat Nasional FAM 2017.

 

[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 1 Juli 2018

Beri Nilai-Bintang!