Buku Latihan Tidur – Minggu Biru – Jalan Kecantikan – Punggungmu – Pemeluk Agama – Meja Makan – Anak Pencuri – Perjamuan Mutakhir

Karya . Dikliping tanggal 9 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Buku Latihan Tidur

Malam-malam ia suka bermain kata
bersama buku latihan tidur. Buku latihan tidur
memintanya terpejam dan tersenyum
sambil membayangkan bahwa di ujung tidur
ada sungai kecil yang merdu. Buku latihan tidur
kemudian mengucapkan sebuah kalimat dan ia balas
dengan kalimatnya sendiri. Begitu seterusnya
sampai buku latihan tidur mengantuk
dan tak sanggup berkata-kata lagi.
Gantungkan cita-citamu setinggi gunung.
Gantungkan terbangmu pada sayap burung-burung.
Rajin pangkal pandai.
Jatuh pangkal bangun.
Anak kucing lari-lari.
Anak hujan mencari kopi.
Hujan menghasilkan banjir.
Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.
Mandilah sebelum dingin tiba.
Cantiklah sebelum lipstik tiba.
Mataharimu terbit dari timur.
Matahariku terbit dari matamu.
Buanglah sampah pada tempatnya.
Buanglah benci ke tempat sampah.
Surga ada di telapak kaki ibu.
Kaki ibu mengandung pegal-pegal kakiku.
Apa agamamu?
Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu.
Tuhan, aku sayang kamu.
Sayangku padamu terbuat dari hati yang sering mati.
Tuhan tidak tidur.
Tuhan menciptakan tidur.
Buku latihan tidur pun tertidur, kata-kata
tertidur, dan ia minta selamat kepada tidur.
Tidur: alamat pulang paling pasti ketika kata-kata
kehabisan isi dan tak tahu lagi ke mana akan
membawamu pergi. Tidur: mati sunyi di riuh hari.
Di subuh yang kosong buku latihan tidur
mendapatinya sudah menjadi kepompong.
(jokpin, 2015)

Minggu Biru

Di Minggu pagi yang biru
ia muncul di depan rumah,
meniup lampu yang masih menyala di beranda
dan menjamah kucing
yang tidur total di depan pintu.
”Semalam kudengar ngeongmu
dalam sajak gelap yang diobrak-abrik insomnia.
Kini aku menemukanmu
sedang nyenyak di luar kata.”
Ia membuka payung,
membuka hatinya yang suwung,
dan berjalan menyusuri lorong di tengah hujan,
kucingnya yang biru
lelap dalam dekapan.
”Ini kucingku,” katanya kepada anjing bin asu
yang melolong di tikungan.
Ia bangun di pagi yang biru
dan mendapatkan lampu di beranda sudah mati,
kucingnya sudah pergi,
hujan baru saja berhenti.
Hanya ada anjing bin asu sedang singgah tiduran
di depan pintu dan berkata,
”Kupikir kamu yang tadi
membawa kucing tidur itu.”
(jokpin, 2015)

Jalan Kecantikan

Kau telah menemukan jalanmu:
jalan berliku dan berbatu-batu
menuju mata airmu di celah bukit itu.
Malam meremangredupkan cahaya.
Sunyi meninabobokan suara.
Kecantikanmu terbuat dari mata
yang tak hangus oleh air mata,
bibir yang mampu mengatasi gincu,
kaki yang lebih kenangan dari sepatu,
hati yang melampaui hati-hati.
Kau kecantikan yang bergerak
di jalan-jalan yang tak ada dalam peta.
Kau kecantikan yang bernyanyi
di hari-hari yang hilang mimpi.
Kau kecantikan yang bangkit dari mati.
(jokpin, 2015)

Punggungmu

Ibu kota Jakarta adalah punggungmu.
Punggung yang sabar menanggung beban
kerjamu,
bangun pagimu,
pulang malammu,
perjalanan macetmu,
pegal-pegalmu,
masuk anginmu,
ingin ini ingin itumu,
kenapa begini kenapa begitumu,
aku kudu piyemu,
tunjangan kesepianmu,
jaminan kewarasanmu,
surga sementaramu,
yang berhenti di ngantuk matamu.
Mata yang masih bisa bilang
”selamat pulang, pejuang”
walau perjuanganmu gugur di tempat tidur.
Punggungmu terbungkuk-bungkuk
menggendong kursi kehormatanmu.
Kursi kerjamu.
Kursi makanmu.
Kursi mimpimu.
Kursi mabukmu.
Kursi ibadahmu.
Kursi panasmu.
Kursi yang berganti-ganti kaki.
Kursi saktimu.
Kursi yang diduduki banyak orang.
Kursi sakitmu.
Kursi yang sabar menanggung bebanmu.
Bila aku bersandar di punggungmu
dan menyimak suara tubuhmu,
aku bisa mendengar gemuruh hujan
diiringi tiga letusan petir.
Tiga letusan petir yang, jika diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia,
berbunyi, ”Bubar, bubaarr, bubaaarrr.”
(jokpin, 2015)

Pemeluk Agama

Dalam doaku yang khusyuk
Tuhan bertanya kepadaku,
hambaNya yang serius ini,
”Halo, kamu seorang pemeluk agama?”
”Sungguh, saya pemeluk teguh, Tuhan.”
”Lho, Teguh si tukang bakso itu
hidupnya lebih oke dari kamu,
gak perlu kamu peluk-peluk.
Benar kamu pemeluk agama?”
”Sungguh, saya pemeluk agama, Tuhan.”
”Tapi Aku lihat kamu gak pernah
memeluk. Kamu malah menyegel,
membakar, merusak, menjual
agama. Teguh si tukang bakso itu
malah sudah pandai memeluk.
Benar kamu seorang pemeluk?”
”Sungguh, saya belum memeluk, Tuhan.”
Tuhan memelukku dan berkata,
”Doamu tak akan cukup. Pergilah
dan wartakanlah pelukanKu.
Agama sedang kedinginan dan kesepian.
Dia merindukan pelukanmu.”
(jokpin, 2015)

Meja Makan

Tubuhmu yang pulang
terbujur di atas meja makan.
Tubuh kenangan yang telah
mengarungi laut,
merambah hutan.
Aku bersama dua temanku:
piring yang lapar,
gelas yang dahaga.
”Berilah kami susu
(suara sunyi) malam ini
dan kobarkanlah kopi kami.”
Gelas ternganga
mendengar kecipak ombak
dalam dadamu.
Piring terpana
mendengar gemercik sungai
dalam perutmu.
Dan bulan lahir kembar
di biru matamu.
Saya sajak tengah malam
yang diutus untuk melahap
tiga potong kata aduh
yang menggigil di bibirmu.
(jokpin, 2014/2015)

Anak Pencuri

Pada hari ulang tahunnya saya datang
ke rumahnya dan hanya ditemui oleh anaknya.
”Selamat malam. Saya mencari bapakmu.”
”Maaf, ayah sedang sibuk mencuri.”
Ia suguhkan secangkir kopi. Harum kopinya
mengandung bau keringat bapaknya.
”Apakah ini kopi curian bapakmu?”
”Justru kopi yang suka mencuri jam tidur ayah.”
Lama saya tunggu, bapaknya tak kunjung datang.
”Jam berapa bapakmu pulang mencuri?”
”Jadwal mencuri ayah tidak pasti.
Kalau sedang mencuri, ayah sulit dicari.”
Jangan-jangan ia sedang gentayangan di kamar:
mencuri kesedihanmu, kesedihan kita
dan menyerahkannya kepada kata-kata.
”Maaf, saya lapar. Saya pamit pulang.
Sampaikan selamat ulang tahun untuk bapakmu.
Semoga bapakmu tidak hilang dicuri hujan.”
Ketika saya bergegas menuju pulang,
anak pencuri itu sudah menjadi derai hujan.
(jokpin, 2015)

Perjamuan Mutakhir

Ia duduk di depan meja yang dikelilingi
dua belas piring lapar. Ia membuka kitab
dan menemukan menu baru
di antara ayat-ayat makanan.
”Maaf, menu yang tuan pesan
sedang habis,” cetus imam rumah makan.
Ia menutup kitab, lalu berkata,
”Biarlah piring-piring ini berlalu
dari hadapanku. Sesungguhnya
tubuhku pun kian habis dimakan makanan.”
(jokpin, 2015)

Joko Pinurbo adalah anggota Forum Permenungan Tunggal, tinggal di Yogyakarta. Buku puisinya antara lain Baju Bulan (2013) dan Surat Kopi (2014)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Pinurbo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 9 Agustus 2015