Bulan Berkabut

Karya . Dikliping tanggal 23 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SIANG itu, Komar dan adiknya, Isul, yang paling tahu tidak ada musik paling indah di siang hari kecuali suara gesekan batang-batang bambu dan gesekan alas kakinya dengan daun-daun bambu kering yang berserakan.
Sudah hampir seminggu ini Komar dan adik-adiknya hanya makan ditemani kecap dan kerupuk, dengan itu saja mereka sudah merasakan betapa nikmatnya menjadi orang tak punya. Minggu sebelum-sebelumnya hanya makan dengan garam, jika cabai belakang dapur berbuah baru mereka bisa makan dengan sedikit rasa pedas. Minggu sebelumnya lagi menu makannya memang sedikit lebih enak, dengan ikan asin, yang Ibu Komar dapat dari tetangga yang sedang berbaik hati memberinya tak sampai seperempat kilo ikan asin teri.
Komar tahu, Ibunya tadi memang pergi ke pasar, tapi bukan untuk membeli ikan laut atau ayam, tapi pergi menjual daun pisang. Sudah lebih dari seminggu ini Ibu Komar memang tidak bekerja sebagai pemukul batu yang biasa ia lakukan, karena batu hasil kerjanya minggu kemarin saja belum ada yang berminat untuk membeli, hujan deras yang turun tiap sore akhir-akhir ini membuat batu yang Ibu Komar tumpuk sedikit demi sedikit itu terbawa air hujan ke lembah. Bapak, kerja sebagai tukang ojek, hasilnya pun tak seberapa, di musim hujan seperti ini tak banyak tumpangan yang Bapak Komar dapat, bahkan kemarin lusa Bapak pulang dengan membawa uang lima ribu rupiah, Alkhamdulillah untuk tambahan beli beras, tapi tidak pernah terpikir digunakan membeli ayam potong untuk dimakan.
***
Ilustrasi oleh Joko Santoso
“Minggu-minggu ini kita sedang diuji kesabaran oleh Gusti Pangeran,” Ibu Komar menghela napas panjang.
“Semoga kita dapat melaluinya, ya, Cong,” lanjut Ibu Komasr sambil tersenyum pada anak-anaknya. Menguatkan.
“Ayo, makan dulu, ibu punya pepes tahu, Alhamdulillah hasil ibu jualan daun pisang tadi bisa belikan kalian tahu.” Senyum ibu, mengapa manis sekali? Seperti tidak menyimpan rasa menderita sedikit pun.
“tadi Isul sama Kak Komar cari burung ke hutan, Mbuk, tapi gak dapat satupun, meleset terus, padahal harusnya malam ini kita makan burung bakar atau goreng, Mbuk,” Isul mengadu pada ibunya. Dengan memasang muka sedih. Sedih karena bukan ayam goreng yang ada di piringnya seperti bayangannya tadi siang.tamanya
“Enggak apa-apa, besok kalau Kak Komar pulang dari sekolah, Isul bisa cari burung lagi sama Kak Komar,” Ibu tersenyum lagi.
Isul memajukan bibirnya, ia tahu Ibunya hanya menenangkan dia saja.
“Bapak kemana, Mbuk? Belum pulang ngojeknya?” Tanya Komar sambil melahap suapan pertamanya.
“Sudah kok, Bapak lagi ke masjid,” Ibu menggendong anak bungsunya yang baru berusia 17 bulan itu. Rohman. Pengasih. Sedang rewel minta digendong.
“Mbuk, Isul tahunya mau lagi ya?” Isul memohon, tahu pepes di piringnya beberapa detik yang lalu sudah lenyap.
“Plak!” Komar menepuk tangan Isul yang hendak mengambil tahu lagi.
“Kenapa sih? Sakit tahu, kak. Dasar!” Isul marah, membentak kakaknya, tidak terima diperlakukan seperti itu. Isul pergi menangis, melihat bulan,
Melihat bulan sama dengan melihat kepedihan, betapa tidak, pepes tahu buatan ibu malam ini menjadi harapan untuk bisa bernapas hingga esok. Bulan memohon pada Tuhan, tak ada suara, hanya bisikan hati, ular di halaman rumah berdesis sekali, bermain musik bersama puluhan jangkrik di dalam tanah-tanah berlubang. Lengkap pertunjukan teater malam ini. Isul terpejam di beranda, ingusnya menyentuh bibir dan mengering. Komar membopongnya ke kamar. Ternyata dari tahun ke tahun berat badan Isul tidak mengalami perubahan yang drastis. Komar masih kuat membopongnya.
***
“Mbuk…” Pagi yang masih berucap lemah pada bocah yang perawakan wajahnya seperti indungnya ini. Ada yang ingin ia katakan kepada ibunya.
“Iya, Mar. Maafkan ibu, ya, hari ini tidak ada uang seperak pun untuk kamu bawa ke sekolah,” Ibu Komar merasa bersalah, untuk yang kesekian kalinya ia tidak bisa memperlakukan anak sulungnya seperti anak-anak yang lain. Membawa uang jajan sebanyak yang diinginkan, membelikan apa yang anaknya mau, dan tidak mengganggu istirahat anaknya hanya untuk membantunya mencarikan daun-daun pisang untuk dijual ke pasar.
Tapi, Komar bersyukur bisa dilahirkan dari rahim seorang wanita yang sangat cantik tapi kuat itu, Komar bersyukur dilahirkan dengan keadaan sederhana, Komar bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang lebih mementingkan kasih sayang dan cinta dibandingkan materi yang digunakan orang kaya untuk hura-hura. Komar, betapa apa yang harus aku lakukan agar aku bisa memelukmu dengan doa yang tak berkesudahan?
Komar memeluk ibunya, erat. Semakin erat semakin ingin ia katakan kepada ibunya, bahwa Komar tidak menginginkan salah satu pun dari apa yang orang kaya beri kepada anak-anaknya. Tidak satu pun.
“Aku ingin bertanya sama, Mbuk,” pelan-pelan Komar melonggarkan pelukannya. Awan pagi berarak ke arah timur, embun-embun segar dipandang mata, desis ular dan suara jangkrik tadi malam sudah tak lagi terdengar. Ya, ini hari baru untuk Komar dan ibu.
***
Bapak menghela napas, dihembuskannya dengan cepat, tidak pernah bapak semarah ini, apalagi kepada Komar, anak sulungnya yang disayanginya karena tidak pernah menuntut banyak hal, tapi hari ini, hampir-hampir bapak menampar pipi Komar.
Bapak baru pulang dari masjid usai menunaikan salat Isya,  peci hitamnya belum sempat dibuka, tapi hampir terjatuh akibat tak kuasa menahan marah. Lama terdiam, Komar tidak pernah melihat Bapak semurka ini, mengetahui Komar untuk berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja, jika Komar memilih bekerja untuk membantu pekerjaan Ibu di rumah mencari uang mungkin keadaannya tidak akan seperti ini, masalahnya, Komar berani meminta izin kepada Bapak untuk pergi merantau, ke Jakarta. Komar, usiamu baru 12 tahun.
Tadi pagi, sebelum Komar berangkat ke sekolah, ia sudah meminta pendapat ibunya, meskipun awalnya Ibu sempat marah dan tidak mengizinkan, Komar mencoba meyakinkan ibunya dan Ibu memutuskan untuk menyuruh Komar meminta izin Bapak.
“Maafkan Komar, Pak, Komar hanya tidak ingin memberatkan Bapak dan Mbuk, jika Komar tetap melanjutkan sekolah, Komar takut tambah menyusahkan Mbuk dan Bapak nantinya dengan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, iya sekarang Komar baru kelas satu SMP, belum banyak iuran, tapi, nanti bagaimana?” Komar menarik napas sejenak.
“Apalagi sebentar lagi Isul harus sekolah, Pak, Komar rasa memang sudah cukup Komar bersekolah, Komar janji akan cari uang yang banyak untuk Bapak dan Mbuk, untuk masa depan Isul dan Rohman juga, Pak, biarkan Isul dan Rohman saja yang nantinya sekolah tinggi,” Suaranya melemah, ia tertunduk, tak melihat Bapaknya menangis, melihat ke langit-langit rumah, mencoba membendung air mata agar tak terjatuh dan melemahkan anaknya.
“Itu pun jika Bapak mengizinkan.” Komar berharap ada jawaban yang menentramkan hatinya.
Isul sudah tidur sejak tadi, rupanya agak demam karena mandi hujan sebelum Bapak datang dari ngojek. Ada ibu, berdiri di balik pintu melihat Komar dan Bapak, tidak berani menghampiri, ah, itulah ibu, perasa. Ibu sempat menjerit ketika Bapak hampir menampar Komar, hanya hampir, menjadi hampir karena Bapak mendengar jeritan Ibu. Bapak tahu ibu melihat. Bapak tidak tega.
“Mar, dulu bapak menyekolahkan kamu supaya kamu bisa jadi anak pintar, supaya kamu tidak usah bekerja terlalu keras seperti Mbuk dan Bapak ketika dewasa nanti, supaya kamu menjadi berharga, kamu tahu? Bapak dan Mbuk ini orang bodoh, tidak bersekolah, tidak punya ilmu, makanya kami dipertemukan lalu menikah,” Suara Bapak tetap tegas meskipun tadi sempat berlinang air mata.
“Kalau, kalau Bapakmu ini pintar, tentu tidak akan menikah dengan Mbukmu, dan tidak akan menjadi tukang ojek seperti sekarang, begitu juga Mbukmu, Mar, kalau Mbukmu itu anak orang berada, Mbukmu  juga tidak akan menikah dengan orang bodoh seperti bapakmu ini dan hidup melarat, ngerti kamu?” suara Bapak masih meninggi, namun lebih pelan terdengar.
Ular berdesis semakin ramai, jangkrik pun sama, seperti mengiring kemarahan Bapak dan Komar, kalian ular dan jangkrik, tega-teganya berbahagia di atas kesedihan orang lain. Bulan pun sama masih benderang di tahtanya.
***
Bulan malam ini berkabut, sama juga di mata Komar, tak lagi bersinar, Bapak meninggalkannya, di teras masjid,  baru dua hari yang lalu ia bersedih karena dimarahi bapaknya. Namun kini Komar tahu, apapun yang terjadi, Komar harus tetap melanjutkan sekolah demi ibu, dan adik-adiknya. Untuk Bapak, yang tenang di sana. Bulan berkabut malam ini, pak. [] -x
Bangkalan Madura, 2015
Catatan:
[1] padang: ketapel
[2] tak iyeh: iya kan?
[3] embuk: ibu
[4] cong: panggilan untuk anak laki-laki
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fajariyah Rahmi Dara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 21 Juni 2015