Bulan Menangis di Atas Nisan

Karya . Dikliping tanggal 3 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Ia terus-menerus meremas tanah gundukan di hadapannya. Tak sedikit pun gadis itu menggeser posisi. Berjatuhan air matanya di atas pusara. Tubuh gadis itu gemetar saat mengusap berulang-ulang batu nisan itu. Orangorang yang lewat di dekat pemakaman itu akan menggelengkan kepala sambil lalu mengumpat, ìDasar orang gila!î Bulan nama gadis itu.

Ia selalu terlihat di pusara orang tuanya sejak matahari baru merangkak di permukaan langit hingga tenggelam di ujung barat. Sepanjang hari Bulan menangis sampai mengering air matanya. Terguncang batin gadis delapan belas tahun itu.

Tinggal seorang diri di bawah kaki Bukit Garincang, satu-satunya bukit di kampung itu. Kehilangan telah mencekik hidup Bulan. Tidak ada cara lain bagi Bulan selain menunggui orang tuanya di pemakaman itu. Gadis itu tahu, tak mungkin orang tuanya merespons setiap pengaduannya.

Setidaknya batin Bulan sambil terus mengeluarkan air mata, orang tuanya tahu anak gadis mereka sangat merindukan orang tua. Ibu Bulan meninggal bukan tidak beralasan. Entah bagaimana segala macam penyakit tiba-tiba menyerang tubuh perempuan tua itu.

Tentu itu terjadi setelah ia mendapat kabar suaminya tewas di ladang jagung. Leher suaminya digorok. Matanya melotot. Seseorang mengabarkan kematian mengerikan itu kepada Maimunah, ibu Bulan. Wajah orang itu pucat. Napasnya tersengal-sengal.

Maimunah tak percaya begitu saja. Ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Tidak mungkin kematian suaminya tak wajar seperti itu. Toh setahu Maimunah tak pernah suaminya memiliki musuh. Tidak masuk akal bagi Maimunah suaminya dibunuh secara keji.

Mendadak wajah Maimunah pucat setelah seseorang datang lagi mengabarkan hal yang sama; suaminya benar tewas di ladang jagung. Jantung Maimunah hampir lepas dari tangkai ketika dengan mata kepalanya melihat tubuh suaminya dipenuhi darah.

Ia memekik. Berteriak. Sesekali memaki, sambil lalu bertanya siapa melakukan semua itu. Tidak ada jawaban. Orang-orang bungkam. Anak buah Pak Lurah berbisik-bisik ke telinga Maimunah.

Ia juga menepuk-nepuk pundah Maimunah menandakan tanda bela sungkawa. Lima belas menit berlalu. Maimunah meminta orang-orang menggotong mayat suaminya ke rumah. Perempuan itu menolak autopsi.

Maimunah menerimanya sebagai suratan nasib. Pak Lurah memandang dari balik pohon jagung. Tak ikut mengurus kematian suami Maimunah. Ia mengangguk-angguk dengan bibir tersenyum.

Ia sudah mengutus anak buahnya seraya menitip pesan tak bisa mengurus karena ada urusan penting di kelurahan. Pak Lurah pulang. Sesungguhnya tidak butuh penyelidik untuk membuktikan siapa pembunuh suami Maimunah.

Perempuan itu sudah memastikan siapa saja yang terlibat pembantaian terhadap suaminya. Ia sengaja membiarkan dalang kematian suaminya karena menganggap sia-sia melawan orang itu. Tak mungkin menang.

“Apalah daya orang miskin seperti saya ini,” rutuk Maimunah. Gerimis tipis jatuh satu demi satu dari langit yang ditutupi iring-iringan awan di atas pemakaman.

Jasad suami Maimunah dimasukkan ke liang lahat. Tumpah air matanya. Anak gadis Mainumah, Bulan, berumur sepuluh tahun saat itu. Ia memeluk ibunya. Gadis itu menangis. Sejak tadi Maimunah tidak melihat Pak Lurah.

Genap sudah dugaan di dada Maimunah. Orang-orang meninggalkan pemakaman. Tinggal Maimunah dan anak gadisnya. Keduanya bersimpuh di dekat pusara lelaki yang selama ini jadi tulang punggung keluarga.

Maimunah memegang ujung nisan suaminya dengan tangan bergetar hebat. Seminggu sebelum meninggal, suami Maimunah kerap didatangi tiga orang suruhan Pak Lurah serta dua orang asing, berkepala pelontos, berkacamata hitam.

Hampir setiap hari mereka bertamu ke gubuk di bawah kaki Bukit Garincang itu. Maimunah mendengar sayup-sayup pembicaraan mereka. Pembicaraan itu bermuara pada keinginan mereka agar suami Maimunah menjual lima petak sawahnya.

Darkum, suami Maimumah, santun menyampaikan tak akan pernah menjual sawah itu. Tanah sangkol 1] tidak boleh dijual. Jika tetap ngotot menjual, terlebih lagi sawah itu akan disulap jadi tambak udang, Darkum sangat yakin akan dikutuk leluhur.

Lagipula, kata Darkum, ajege tanah ajege nak poto 2]. Wajah mereka dipenuhi percikan api. Mereka saling pandang. Darkum menghela napas.

Maimunah keluar membawa kopi. Mereka memaksakan sesungging senyum mekar dari bibir. Maimunah balas tersenyum. Darkum menyilakan mereka meminum kopi lezat buatan istrinya. “Darkum, kau jangan terlalu percaya takhayyul.

Mana ada kutuk leluhur.” Lelaki berjenggot tipis, orang suruhan Pak Lurah, memandang ke wajah Darkum. Lelaki itu meneguk kopinya. “Hanya kamu satu-satunya orang yang belum mau melepas tanah di kampung ini. Semua sudah kami beli.

Mereka tak takut kutuk leluhur. Lagipula kami bayar dengan harga sangat tinggi,” timpal anak buah Pak Lurah. “Saya tidak tergiur uang. Saya lebih memikirkan anak-cucu di kemudian hari.

Uang bisa habis sekejap, tapi tanah tak akan pernah habis sampai tujuh turunan sekalipun, bahkan lebih.î Darkum tegas bicara. Mereka pamit pulang. Gusar mereka melangkah. Tak sedikit pun memandang Darkum. Sejak itu Darkum kerap diancam orang misterius.

Tengah malam rumah Darkum dilempari batu. Tidak hanya itu. Seseorang berpesan agar Darkum lebih waspada sebab nyawa lelaki itu dalam bahaya. Darkum tenang-tenang saja. Tak terlihat ketakutan melingkar di wajah Darkum.

Bagi Darkum, tak seorang pun bisa mengubah kematian seseorang. Kematian tak bisa dimajukan, pun tak bisa dimundurkan. Kalaupun harus mati karena mempertahankan tanahnya, tidak jadi soal bagi dia. Darkum sama sekali tidak gentar menghadapi teror itu.

Bahkan ia pernah menantang agar mereka menghadapinya secara jantan, tidak bermain pengecut. “Apa tidak sebaiknya kita jual saja sawah itu?” tanya Maimunah.

Ia khawatir orang-orang itu benar akan menghabisi Darkum. “Lebih baik mati ketimbang menjual tanah. Tanah itu warisan turun-temurun. Tanah sangkol tak boleh dijual, ingat itu!”

***

Bulan Menangis di Atas NisanEntah karena terlalu memikirkan kematian suaminya yang dibantai secara keji dan mengerikan, Maimunah pun sakit-sakitan. Mungkin Maimunah juga memikirkan sawahnya itu. Orang-orang itu tetap mengincar tanah itu. Selalu setiap hari mereka datang membujuk Maimunah. Jawaban Maimunah selalu sama, tak akan pernah menjual tanah itu.

Ketika Bulan, anak gadisnya, menginjak usia delapan belas tahun, Izrail menjemput Maimunah. Perempuan tua itu dikubur di dekat makam suaminya. Bulan sebatang kara. Pembeli tanah memanfaatkan kesempatan itu. Mereka sangat berhasrat memiliki tanah itu.

Mereka menemui Bulan, selalu mengatakan akan menanggung hidup dan pendidikan gadis itu jika mau melepas tanahnya. Sekalipun terbilang gadis bau kencur, cara berpikir Bulan terbilang matang. Ia menolak tawaran itu.

Tak akan menjual tanah itu apa pun yang terjadi dan sampai kapan pun. Bulan mendengar desas-desus yang hangat dibicarakan warga kampung tentang kematian ayahnya yang tak lain karena mempertahankan tanah sangkol.

Karena itulah, Bulan akan bersikap sebagaimana sang ayah. Karena tinggal seorang diri, Bulan lebih banyak menghabiskan waktu di pemakaman. Bulan berada di antara makam sang ayah dan ibunya. Sebelah kanan makam ayahnya, sebelah kiri makam ibunya.

Tangan kanannya meremas-remas tanah makam sang ayah, sedangkan tangan kiri menggenggam tanah makam sang ibu. Bulan menangis di antara dua nisan itu. Tak pernah reda tangisnya. Tangisnya menyayat.

Tangis seorang gadis yang teraniaya. Secara bergantian ia selalu mengecup ujung nisan kedua orang tuanya. Bunga-bunga tertabur di atas pusara mereka. Tampak tiga orang lelaki berdiri di belakangnya. Berdehem-dehem mereka.

Bulan membalikkan badan. Gadis itu membiarkan air mata meleleh melalui pipi tirusnya. Mereka bersimpuh. Tiga orang mendongakkan wajah ke langit dan mengangkat tangan. Bibir mereka komat-kamit.

Tak lama kemudian mereka menepuk pundak Bulan, mengucap agar Bulan tegar menghadapi hidup. “Bulan, apa kamu masih ngotot tak mau jual tanahmu? Selain harga tinggi yang kami tawarkan, kami juga akan bangunkan rumah bagus buat kamu.

Kami juga sanggup menanggup biaya hidup kamu. Bahkan Pak Lurah siap menyekolahkanmu sampai pendidikan tertinggi yang kamu mau.

Bagaimana?” “Tidak akan. Sudah saya katakan tak akan pernah menjual tanah itu. Saya siap mati di tangan kalian sebagaimana ayah saya yang tewas di tangan kalian.” Mereka tergagap. Mereka menelan ludah. “Kamu lahir dan besar di kampung ini.

Kenapa kamu justru jadi kaki tangan investor asing? Mestinya kamu jadi pelindung bagi tanah-tanah yang akan dijarah investor busuk itu. Apa perlu saya ajarkan betapa penting menjaga tanah? Sampaikan salam saya juga pada Pak Lurah!”

Bulan berkata lantang di depan wajah lelaki itu. Ia tidak dapat berkata apa-apa, kecuali menahan sesak di dada. Bulan kembali bersimpuh di antara dua pusara orang tuanya. Ia pandangi dua nisan itu sambil lalu terus menguras air mata. (28)

Pulau Garam, Januari 2018

Catatan:
1] Sangkol: warisan
2] Ajege tanah ajege nak poto: menjaga tanah menjaga anak-cucu

Zainul Muttaqin lahir di Garincang, Batang-batang Laok, Batang-Batang, Sumenep, Madura, 18 November 1991. Cerpen alumnus Studi Tadris Bahasa Inggris STAIN Pamekasan itu dimuat pelbagai media.


[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 2 Desember 2018