Bulu Baribayan

Karya . Dikliping tanggal 27 Oktober 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
KAMAR kecil itu terletak di sudut paling belakang rumahku. Ukurannya hanya 3×2 meter. Tak ada jendela dan ventilasi. Kalau siang hampir tak ada cahaya yang masuk. Penerangan malam hari hanya lampu 5 watt, itu pun sering lupa dinyalakan. Setelah kamar itu, tak ada ruangan lain. Jadi dalam setahun hampir tak ada orang yang melewati kamar itu. Bagiku itu bukan kamar, melainkan kubus tripleks. Beberapa waktu belakangan ini, akulah satu-satunya manusia yang tiap hari keluar masuk di situ.
”Aku tak sudi lagi memberi makan iblis itu!” teriak ibuku lima tahun lalu. Airmatanya berderai setelah keluar dari kamar itu. Piring seng dilemparkannya sembarang. Nasi berhamburan di mana-mana. Kupeluk ibuku. Aku tahu ibu menangis bukan karena membenci Datu yang tergolek tak berdaya di dalam sana. Ibu mungkin merasa sudah terlalu lelah dengan semua ini, dengan kehidupan kami, dengan gunjingan orang-orang sekampung tentang Datu.
Seluruh tubuh Datu lumpuh, satu-satunya yang menghalangi Datu dengan malaikat maut hanyalah kepalanya yang masih sehat dan tak terlihat tua. Kulit mukanya masih kencang seperti pria berumur 40-an. Namun bicaranya tak jelas. Seperti orang menggerutu. Hal ini tentu membuat mantri di kampung kami hanya bisa geleng-geleng kepala. Sang mantri tak bisa menjelaskan penyakit apa yang diderita Datu. Dan itu adalah hari ayahku memanggil mantri.
BULU BARIYABAN
Sejak ayah meninggal, kami hanya tinggal berdua di rumah ini. Ibu menggantikan ayah mengurus Datu yang telah sakit sejak almarhum kakekku masih hidup. Pada mulanya ibu sangat telaten memenuhi segala keperluan Datu. Ia tak pernah minta bantuan kepadaku, anaknya sekaligus Datu.
”Aku ingin berbakti dan membantu ibu,” kataku memohon izin untuk mengurus Datu.
Aku kasihan melihat ibu. Pagi buta ia sudah bangun dan memasak untuk kami. Sebelum berangkat ke sawah, ibu terlebih dahulu memberi makan Datu. Setelah seharian di sawah, sepulangnya pada sore hari ibu masih saja harus memandikan Datu. Dan tak jarang pada malam buta ibu harus membuang kotoran Datu.
Aku pernah mendengar dari pengajian di surau bahwa membantu ibu adalah hal yang mesti dilaksanakan oleh seorang anak. Atas dasar itulah aku menawarkan diri pada ibu untuk mengurus Datu. 
”Akan tiba saatnya nak, akan tiba…,” hanya itu jawaban ibu. Pada hari berbeda ibu pernah menjelaskan padaku bahwa jika saat itu tiba, bukan hanya aku yang akan mengurus Datu. Kata ibu, kalau aku sudah berkeluarga, anakku nanti akan menggantikan aku mengurus Datu apabila aku sudah tiada.
Namun belum lagi aku menikah, kondisi Datu memburuk. Tangan dan kakinya yang telah lumpuh mulai bernanah. Kulit tubuhnya mengelupas seperti ular berganti kulit. Ibu tak lagi memandikan Datu karena jangankan digosok, dipegang saja daging tubuh Datu akan lengket dan luluh. Bau busuk pun mulai menyebar ke seluruh ruangan. 
Rupanya rasa kemanusiaan ibuku dikalahkan perasaan emosi akan warisan ”busuk” yang ditinggalkan suaminya. Ibu segukukan dalam dekapanku setelah menyebut Datuku iblis. Aku tahu ibu mulai kelelahan dan jenuh melakoni ini semua. Saatnya sekarang giliranku membaktikan diri kepada ibu. ”Mulai sekarang aku yang akan mengurus Datu bu,” janjiku kepada ibu.
Setelah kejadian itu aku langsung ke pasar membeli satu sak semen. Hari itu juga tubuh Datu yang telah membusuk kulumuri dengan semen. Wajah Datu terlihat tidak senang. Namun ia tak berdaya untuk mencegahnya. ”Supaya bau busuk tubuh piyan tidak tercium,” kataku sambil mengolesi semen di tangannya. ”Jadi ulun bisa memberi makan piyan dengan leluasa. Dari ujung kaki sampai leher tak kusisakan sedikit pun. Sejak itu, aku tiap hari keluar masuk kubus tripleks itu.
Tubuh ringkih itu hanya bisa meringkuk tak berdaya di sudut ruangan. Lengannya yang kurus mendekap erat anak bungsu dan isterinya yang tersedu. Di antara mereka bertiga, hanya lelaki kurus itu tak menangis. Bukan karena tak ingin menangis, tapi karena kesedihan yang telah melampaui batas yang membuatnya tak lagi mengeluarkan air mata.
Ia memang pernah mendengar bahwa tentara Jepang akan mengambil pemuda-pemuda tanggung untuk mereka latih kemiliteran. Kabarnya pemuda-pemuda pribumi itu akan dikirim untuk berperang melawan musuh yang hebat di tempat antah berantah. Namun lelaki itu tak menyangka perekrutan pemuda pribumi juga dilakukan di kampungnya. Mungkin Jepang sudah kekurangan orang melawan negara yang katanya adidaya tersebut.
Meski upahnya hanya segenggam garam, selama ini ia tak pernah mencoba mangkir dari kerja paksa yang diterapkan Nippon. Selain takut disiksa jika ketahuan, ia hanya ingin agar Jepang tahu bahwa ia penurut. Dengan begitu para Nippon itu takkan mengambil paksa anak-anaknya. Namun beberapa saat tadi apa yang ia lakukan ternyata tak berpengaruh banyak. Nippon tetap mengambil paksa anaknya.
Lelaki itu berusaha menghalangi lima orang Nippon yang akan membawa anak sulungnya. Namun laras senapan bayonet segera bersarang di dadanya. Tepat di ulu hati. Isteri dan si bungsu hanya bisa merangkulnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya meringkuk di sudut ruangan. 
Setelah mengatur nafas menahan perih ulu hati bekas hantaman laras bayonet tadi, lelaki itu kemudian berdiri perlahan. ”Timah, hapus hapus air matamu isteriku. Aku bersumpah bahwa keluarga kita tak akan disentuh oleh siapa pun juga. Tidak oleh tentara Nippon, garong atau bahkan iblis sekalipun,” katanya bergetar.
”Beberapa bulan lagi mungkin si bungsu yang akan mereka jemput,” kata sang isteri sambil mendekap erat anak bungsunya yang sudah menjadi pemuda tanggung.
”Demi apa pun juga, anak kita tak akan bisa mereka jemput,” kali ini lebih mantap lelaki itu berujar.
Besoknya lelaki itu langsung menghilang dari kampung. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi. Sang isteri pun tak pernah berbicara mengenai kepergian suaminya kepada para tetangga. Santer tersiar kabar dari orang-orang pedalaman Kalimantan bahwa lelaki itu melanglang pegunungan Meratus. Keluar masuk goa dan menjelajahi belantara yang belum pernah diinjak manusia.
Setelah enam bulan berlalu, tiba-tiba lelaki itu pulang. Penampilannya kali ini jauh berbeda daripada saat meninggalkan rumah. Kalau dulu ia adalah lelaki ringkih, sekarang lebih besar dan berisi. Rambutnya panjang awut-awutan. Kulitnya yang dulunya legam berubah menjadi hitam kehijauan. Matanya yang dulu sayu sekarang tajam dan ada kegelapan dalam sorotannya.
Seminggu setelah kepulangannya tujuh orang tentara Jepang datang ke kampung untuk menjemput anak bungsunya. Dengan berani lelaki itu berkacak pinggang di depan pintu rumahnya. Lantang pria itu menantang para Nippon yang datang. Demi melihat lelaki itu, seketika para tentara Jepang itu lari pontang-panting ketakutan. Tentara Jepang tak pernah lagi datang.
Kejadian itu membuat orang-kampung yakin bahwa lelaki itu menemukan bulu hantu Bariyaban di pegunungan Meratus. Manusia yang memakai bulu hantu Bariyaban dipercaya apabila sedang marah maka akan terlihat seperti makhluk besar dengan taring dan bulu hitam menyeramkan.
Aku pernah mendengar cerita tentang lelaki yang menjelajahi pegunungan Meratus itu dari ayahku. Cerita itu tak bisa hilang begitu saja dari ingatanku karena menurut ayah, lelaki pemakai bulu Bariyaban itu adalah Datuku dan anak bungsunya adalah kakekku sendiri. Sekarang aku sedang berada di hadapan lelaki itu. Namun sekarang ia tak lebih dari mayat hidup. Seluruh tubuhnya dilapisi semen. Dan aku sedang menyuapinya.
Suapan terakhir maka sepiring nasi dan sepotong ikan asin habis. Saat akan menyuapi, Datu menggeleng pelan. Dalam keremangan kamar itu, aku mendengar Datu berbicara tak jelas. Tak lebih dari gerutuan singkat. Aku pun mendekatkan telinga ke mulutnya.
”Aku ingin mati cu…,” kali ini terdengar lebih jelas.
”Bukalah mulutmu!” kata Datu makin jelas terdengar.
Seperti dihipnotis, aku segera membuka mulut. Dan ”Cuih!” Datu meludahkan air liurnya tepat ke mulutku. Aku terkejut tak menduga dengan apa yang dilakukan Datu. Saat ludah itu masuk ke mulutku, lidahku merasa ada sesuatu yang lembut tercampur dengan ludah liur Datu. Sesuatu seperti kapas akan tetapi lebih panjang. Bulu!… sehelai bulu dalam mulutku! Entah bagaimana bulu itu langsung masuk ke sela-sela gigiku.
Seketika aku merasa seluruh bulu di tubuhku berdiri. Tanganku membesar. Kuku-kukuku memanjang dan badanku serasa memenuhi kubus tripleks ini. Aku merasa berani, merasa digdaya. Dalam perasaan yang wah itu sempat kulirik wajah Datuku yang terpejam dan tak bernapas.
***
Keterangan:
Datu: Kakek Buyut
Ulun: Aku halus
Piyan: Kamu Halus, Sampeyan
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zaidinoor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 26 Oktober 2014